Dimana penyemangatmu?

Categories: Serius Dikit By: citcitcuit

“Cha, mana? Kok ga update lagi blog-nya?”

Teguran dari sang teman, erwin, diatas seakan membangunkanku dari ‘penerbangan’ menyenangkan bersama lamunan.

Ya, selama 1 bulan ini, aku seakan berada di awang-awang. Terbelenggu dengan rutinitas yang seakan-akan tidak ada habisnya. Aku ingin menginjak bumi, aku ingin bisa melenggang tanpa beban, aku ingin berjalan, berlari dan bermain dengan imajinasiku. Imajinasi yang liar tanpa batas, imajinasi yang bebas tanpa kekangan.

Tapi dimana aku bisa menemukan hal itu?

Selain di SURGA, ternyata aku bisa menemukan itu dalam pekerjaanku.
Pekerjaan yang sangat menyenangkan dengan orang-orang yang mengasyikan.
Pekerjaan yang menantang kreativitas.
Pekerjaan yang menuntutku berimajinasi dengan sebebas-bebasnya.

Tapi, bukankah pekerjaan itu sumber beban?

Ya, pekerjaan memang bisa menimbulkan beban. Beban yang akan terasa ringan jika dilakukan dengan ikhlas. Menurutku, kuncinya ada di SEMANGAT. Semangat yang bisa membuat kita tersenyum kembali saat beban itu menghampiri.

Lalu, dimana penyemangatmu?

Masing-masing orang memiliki penyemangat yang berbeda-beda. Mulai dari sahabat, pacar atau bahkan sesuatu yang tidak bernyawa, seperti rokok & minuman. Buatku, penyemangat itu ada pada sebuah kalimat. Kalimat sederhana yang membuatku berpikir, merenung & merasa bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh yang maha Kuasa. Seperti yang menempel pada monitor di meja kerjaku ini:

monitor1

“Yeah, Write!”
“Looks on the Bright Side”
“Have a nice day”
“Live Love Laugh”
“There aren’t many people out there like me, so I’m proud to be myself”

Aku Punya Rumput yang Indah

Categories: Serius Dikit By: citcitcuit

I envy you!
Kira-kira inilah kalimat yang keluar dari mulut perempuan berkawat gigi ini begitu mendengar sang sahabat yang ingin pergi ke NYC mengikuti sang suami. (does he American? Oh No!!! Her husband is Indonesian. Gosh, Lucky you!)

Yes, aku iri padanya. Aku iri karena dia bisa pergi ke Amerika bersama sang suami yang bekerja disana. Aku iri membayangkan dirinya bisa merasakan salju, memakai baju dingin berlapis-lapis di musim dingin tanpa terlihat norak dan memakai baju setipis2nya di musim panas tanpa takut di-siul2in pemuda yg suka nongkrong di pinggir jalan.

1 minggu dia pergi, rasa iri itu belum bisa hilang. Melihat status update-nya di twitter membuatku tambah “panas”. Gimana engga? Coba liat beberapa status update-nya berikut ini:

status nisa1

status nisa2

status nisa4

Buat perempuan bertubuh mungil yang bercita-cita bisa sekolah di Aussie dan tinggal di US ini, status update diatas cukup membuat sedih. Sempet merasa Tuhan ga adil lohhh… (duh, lebay banget sih gue).

Anyway, akhirnya gue jujur kalau gue iri sama dia. And u know what? Dia cuma bilang kalau gue ga perlu merasa iri. Dia sih ga bilang apa penyebabnya. Tapi, status update-nya di twitter setelahnya membuat gue akhirnya menyadarinya sendiri.

status nisa5

status nisa6

Yes, sesungguhnya apa yang kita rasakan terhadap seseorang belum tentu dia rasakan. Mungkin kita yang di Indonesia berpikir; wah, cuaca lagi bersahabat, asiknya dia bisa jalan-jalan di Central Park, sebuah taman diantara gedung2 bertingkat yg terkenal indah itu. But u know what? She miss Jakarta. Kota yang terkenal dengan udaranya yang kotor & sangat macet itu.

Mulai dari situ, gw berpikir. Kalau semua orang merasa “rumput tetangga lebih indah”, tidak ada yang bisa memperindah rumputnya sendiri. So, gw membalikkan badan, melihat baik-baik keadaan rumput gw sendiri, lalu berkata dengan lantang dalam hati: “AKU PUNYA RUMPUT YANG INDAH”

The Art of ‘Kerokan’

Categories: Bla bla bla By: stefani

Gw baru menyadari kalo hal yang begitu simpel pun ada aturannya.

Malam ini gw diminta untuk mengeroki bapak yang lagi sakit masuk angin. “Mengeroki”, “kerokan” berasal dari kata dasar “kerok” (gak tau apakah aktivitas ini sudah masuk ke kamus besar bahasa Indonesia). Kerok itu bisa berarti aktivitas seperti menggaruk ke permukaan sebuah benda. Tapi kalo ditambahn akhiran -an, jadi ‘Kerokan’ adalah aktivitas dengan mengosok kulit yang sebelumnya diolesi oleh balsem dengan uang logam atau sesuatu yang berbentuk bundar dan dari logam.

Nah, konon orang dulu percaya bahwa dengan kerokan menyembuhkan orang yang kena penyakit Masuk Angin. Jadi ketika kulit dikerok, kulit akan membuang angin dalam tubuh dengan tanda ‘merah’ di kulit dari hasil kerokan itu.

Nah, gw sih gak gitu percaya ya.. menurut gw, dimana-mana, kl mengerok kulit sama benda logam, atau benda apapun pasti hasilnya merah. Kulit manusia kan ga setebel kulit badak. Jadi bukan berarti itu ‘angin’ keluar. Well.. aniwei, bapak dan ibu gw sayangnya termasuk orang ‘dulu’ itu.

Back to kerokan, jadi malam ini gw diminta untuk kerokin bapak. Ya sudah, setelah membersihkan diri sehabis pulang kerja, gw pun melaksanakan titah si empunya rumah. Secara dulu gw dulu pernah dikerokin – sebelum menyadari minum obat udah cukup – gw tentu tau dong caranya kerokan.

Kita tinggal membutuhkan balsem, uang logam dan kulit hehe.. ini maksudnya orang yang mo dikerokin. So, how difficult is that. But i guessed i was wrong…

So, bapak merequest dikerokin dari leher sampai pinggang. *sigh.. long way to go*. Dengan pede, gw pun memulai. Oles, oles balsam, lalu kerok dibagian yang ada balsamnya.. terus kerok sampai keluar garis merah. Pokoknya githu..

Eh, belum apa-apa, bapak komentar, “Kalo dileher, jangan melebar, tapi memanjang dong..” – gw hanya menjawab ‘he-eh’ aja. Lalu lanjut lagi dengan aktivitas oles, kerok-kerok sampai merah. Dikit dikit bapak nengok ke belakang mencoba melihat hasil kerokan gw. Apa sih, kaya perlu dinilai segala. Lanjut ke punggung.. lagi-lagi bapak komentar “Jangan jarang-jarang…yang rapet” – lagi-lagi gw hanya komentar “iya” aja dan kembali gw meneruskan kegiatan oles dan kerok ini.

Setelah sampai setengah punggung, bapak melihat ke cermin yang ada di kamar. Yup! Benar sekali saudara-saudara, dia komentar lagi “Kalo ngerok itu searah sama tulang rusuk,biar singkron kiri dan kanan..” Katanya sih maksudnya ngikutin jalur tulang rusuk biar kelihatan rapih.– lha itu bukannya udah ya? Gw melihat hasil kerokan gw. Ke kiri, ke kanan, lalu menatap dari jauh layaknya menilai lukisan, kayanya ga ada yang salah kok.. emang sih agak berantakan dikit, tp kan tadi beliau yang minta rapet rapet antara garis merah ke garis berikutnya. Lagian mengerok kulit kan ga sama kaya gambar diatas kertas yang bisa lurus.. ya kan.

Setelah kerokan sampai pinggang, selesai lah sudah. Dan seperti orang yang habis ditato, bapak bercermin untuk melihat hasil kerokan gw. “Ih.. kamu kerokinnya ga sampai ujung ” Arrghhh…cape dehh. Emang harus rapih sempurna yah? kaya mo dipamerin a la tato aja. Pusing deh…Baru tau kerokan ada rules and regulationnya.

Pas ibu pulang dari latihan koor, ibu melihat hasil kerokan di punggung bapak. Senyum terkulum tercetak di bibirnya. Huh..kayanya sih senyum mencela seperti “Ini anak ngerokin apa ngerokin sih?” Agak sebel tapi jadi lucu juga kalo diinget. Betapa hal yang sederhana pun butuh aturan , dan nilai estetis. Kalau kata anak design kantor gw teori Golden Ratio. Itu bukan ya? Aiihhh… lebay banget. Tapi melihat ketidakpuasan dari wajah bapak, sepertinya orangtua gw sangat menganggap penting rapihnya hasil kerokan itu. Ha.. ha..ha.. OMG.

But, that’s the Art of ‘Kerokan’. Ada yang mo dikerokin?

xxoo ;)

ShareThis

Koyo, air panas dan dinding

Categories: Lumayanlah (setengah serius setengah engga) By: citcitcuit

Setiap traveller pasti punya ‘senjata’ sendiri untuk menghilangkan rasa sakit atau pegal di kakinya. Mulai dari balsem, lotion panas sampai alat pijit elektronik yang harganya semahal tiket pesawat ke Singapur (P-P). Tapi buat gue, senjata itu cuma ada tiga, koyo, air panas dan dinding.

Kenapa koyo?
Karena gue percaya kalau rasa sakit/pegal itu hanya pada titik2 tertentu. Jadi, daripada harus tersiksa dengan panasnya balsem atau lotion di tempat yang sesungguhnya tidak sakit, lebih baik fokus di satu titik.

Kenapa air panas?
Karena waktu kecil gue pernah diajak ke tempat pemandian air panas sama orang tua gue. Mereka bilang, air panas itu berkhasiat untuk menghilangkan pegal-pegal dan mengobati reumatik. Sampai sekarang, gue masih percaya itu.

Untuk menghilangkan pegal di kaki, gue rendam kaki hingga lutut dengan air panas.
Untuk menghilangkan pegal di badan, gue ‘hujani’ dengan air panas dari shower ber-tekanan tinggi.

Buat temen-temen yang satu apartemen sama gue waktu di Singapur, sekarang kalian tahu apa yang menyebabkan gue lama di kamar mandi kan? :D sorry guys!

Kenapa dinding?
Karena waktu SMA, gue ikut ekskul Merpati Putih. Disitu gue diajarkan beberapa teknik peregangan setelah melakukan pemanasan yang cukup melelahkan (lari sekian kilometer). Salah satunya adalah menaikkan kaki keatas dengan posisi tidur. Untuk teknik terakhir ini, biasanya gue menggunakan alat bantu yaitu dinding. Waktunya ga ditentuin sih. Pokoknya sampai loe merasa kaki loe ga ada rasa, loe turunin deh. Lalu tidur telentang dan rasakan aliran darah mengalir ke kaki loe dengan derasnya. Buat yang ga tahan sama ‘kesemutan’, jangan coba2 gerakan ini!

Buat temen2 yang pernah nginep bareng dan satu kamar sama gue, sekarang kalian tahu kan kenapa gue memilih tempat tidur di pojok alias sebelah dinding?

Anyway, mumpung masih suasana tahun baru, gue ucapin Selamat Tahun Baru yah teman-teman… Semoga tahun ini kita bisa lebih baik dari tahun kemarin (standard sih, tapi memang ini kan intinya? :) )

What’s next?

Categories: Bla bla bla Food for Brain Food for Soul By: stefani

This is really pathetic… you know when I read this ‘Daily Bread’ blog. Ha, pathetic with my position as content provider but never able to blogging. Crap! LOL *laughing myself*

I named it as ‘Daily Bread’ so that I can do some updates daily… haha… yeah, daily once a year… lol…shame on me. What a heck, I hope now it’s a start… a good start to fill this empty blog.

In 3 days… year in calendar will change into 2010. Another year comes and goes. And everybody will think about new resolution about their life. Resolution, why always comes along in New Year? Why not per month, per 3 month, or six months? Or it is just a habit or tradition so the coming new year will not such so empty.

Self revelation is what I do when it comes to New Year. Am I happy with my life now? What have I achieve, what have I loss? Am I in the right track in my purpose of life?  And after it takes long consideration, I’ve come to the next question: What’s next?

Yeah… what’s next? It is simple question but turns out it is difficult to answer. I want to do this and that in next year, but is that the purpose of my life? Is that the right path to achieve happiness in my life? Off course all the ultimate purpose of life is living a happy life, but in what kind of happiness that make me happy?

That brings me back to my self revelation. It’s just circle cycle in my head, and I must dig deeper than just want to this and that. Some friends say making other person happy will make you happy. Help others, help you. Well, that is correct. That also the purpose of mine, but then again, we can not satisfy everyone. I am just human and selfishly I do too want to be happy without thinking about others first but hey…, I am trying.

This revelation comes to the BIG question that I always avoid this time. Yup, what do I want in live? What is my purpose in this life? Ha! Crap!  I should finish reading ‘Dunia Sophie’ back then in college.

All this time, I always try to embrace what comes in my life, but at the end, at least until now, I feel I haven’t achieve anything … yet.  Not that I don’t gratitude what I have now, and not that I barely achieve anything (geez, I am not that loser), but what I want to say is dreams can not just taken away. Some say you have to be realistic, or say: “Pleaseee, you can’t spend all the rest of life just to catch the dreams.” Ouch… reality bites. Indeed true, but that’s not gonna stop my mind to wander. I don’t want to be the one who said, ‘What if” because that would be sucks.

“What if” is negative I assume, the repentance that should can be avoided if we made the right decision? Then again, who can predict if what we are chose in life is the right one? I believe many people chose because it is best for them not based on what’s right or wrong.

So what is my resolution in coming New Year? I asked my self again. When I think about it, after long revelation, I remember the movie “Yes Man” and the background story from the writer who wrote the book. Come across to my self to do this. How refreshing if I can say ‘Yes’ to all. Where will it take me? Actually I have other resolution in coming 2010, but that’s a secret I keep to myself.

Anyway, this posting just a bla bla bla thing in my head today, so don’t too serious to read it. I bet you are all have great life.

This is my first posting in English in this company blog, comments, critics are welcomed. But hey don’t too harsh, I am sensitive person. :D

Happy New Year 2010 everyone!

Xoxo ;)

ShareThis

2009 yg bawa Hoki

Categories: Uncategorized By: chicha

Diakhir tahun 2008, gw buat daftar resolusi tahun 2009, walaupun lbh mirip impian/cita2 sih. Anyway, isinya kurang lebih sprti dibawah ini:

1. Pake kawat Gigi
2. Ga pernah tinggal solat
3. Semakin dewasa dlm berfikir dan bertindak
4. Berlibur ke luar kota
5. Punya paspor

2 hari berikutnya, udah tahun 2009. Saatnya menjalankan rencana.
Bulan pertama, gw berhasil mewujudkan point pertama, yaitu pakai kawat gigi. Meskipun pakai acara nyicil segala. D

Bulan ke-2, ke-3, ke-4, ke-5 gw berhasil mewujudkan point ke-2. Alhamdulillahh…

Bulan ke-6 gw ditantang sama point ke-3. Sang pacar yg sudah mendampingi slma 3 tahun lebih, mengejutkan gw dgn sebuah kebenaran yg membuat hati gw tertusuk. Gue ga berhasil mewujudkan point ke-3. Dalam hal ini gue ga bisa berfikir dan bertindak secara dewasa.

Tuhan memang Adil. Rasa sedih yg gue alami ternyata tidak berkepanjangan. Walaupun gw ga bisa mewujudkan resolusi ke-3, gw dibukakan jalan untuk mewujudkan resolusi ke-4. Yup! Untuk yang pertama kalinya, gw mendapatkan kesempatan untuk pergi ke luar kota dengan gratis. Alias dibayarin kantor. Mulai dari tiket pesawat, hotel hingga transportasi. Dalam 3 bulan, gw melintasi pulau Jawa hingga nyebrang ke Bali. (paling sering Surabaya siiihhh… hehe) Anyway, thanks to our client! Foto2 Work+Vacation

Last but not least adalah punya paspor. Walaupun waktu itu gw ga tau bakal pergi ke luar negeri bagian mana. D

Eh ternyata eh ternyata, kantor memberikan bonus pergi ke Singapur. Beeehhh… senangnya bukan main. Seandainya si boss kasih tau by telpon, mungkin gw udah jejingkrakan, goyang-goyang, loncat-loncat, guling-guling. ups, sorry agak lebay! Hehe.. Anyway, akhirnya, gw punya alasan yg kuat untuk membuat paspor. Terima kasih Think.Web & Management.

Terima kasih untuk pengalaman yg ga bakal terlupa di Singapur. Mulai dari merasakan cepatnya kereta bawah tanah (MRT), bus yg HANYA berhenti di halte, eksotisnya Singapore Zoo, uniknya museum of toys, museum design & science centre, kerennya Esplanade & Merlion, mahalnya barang2 & makanan di Chinatown, gemerlapnya ClarkQ, bersihnya jalanan dan tertibnya orang-orang sama peraturan. Semua itu ga (atau belum yah?) gw dapat disini, di IndonesiaKU tercinta. Foto2 Think.Web goes to Singapore

Tadinya gw ga gitu percaya sama hoki-hokian atau segala sesuatu yang orang Cina biasa bilang yah… tapi apa yg terjadi di tahun 2009 membuat gue percaya bahwa angka 9 adalah angka yg bawa hoki. (yg bilang angka 9 bawa hoki itu cina kan? Iya kan ciiinnn?)

Nerdzz Dayz

Categories: Uncategorized By: Jeffry Nerdzz attitude at office wkwkwk

Horee Theme baru

Categories: Uncategorized By: stefani

Asik.. akhirnya theme blog pilihan gw di-synch ke blog gw juga..makasih buat Jeffry. Hehe..Semoga semakin bersemangat buat nge-blog.

ShareThis

Nerdzz Dayz

Categories: Uncategorized By: Jeffry

My Body is … (teruskan kalimatnya, tapi ga boleh negatif)

Categories: Uncategorized By: stefani

“Stef, kok loe bisa gak gemuk sih?” tanya seorang teman. “Iya nih.. makannya banyak kok tetep segitu aja..” balas yang lain.  Yeah..terima kasih teman-teman, i take that as compliment. Agak heran juga sih model kaya gw dibilang gemuk. Hehe.. belum liat gw dengan ‘birthday suit’ gw sih. Kadang-kadang gw pikir apa gw cacingan ya? tapi itu kan seharusnya perut gw membuncit *melihat ke arah perut yang buncit* (uoops..?!) tapi gw coba menganalisa kenapa sih banyak cewek yang merasa tidak puas dengan berat tubuhnya?Merasa tubuh orang laen lebih kurus, lebih putih, lebih tinggi, lebih eksotis, lebih imut-imut, lebih mulus, dan sejuta alasan lain.. Kenapa gak kita beranggapan seperti itu untuk tubuh kita sendiri.Gw sendiri sering juga begitu .. merasa ‘rumput tetangga lebih hijau’ tapi kalo dipikir.. kok ribet banget ya.. bagaimana caranya agar  mind set ky githu bisa diputer. Pas gw lagi gak ada kerjaan, dan browsing for any ideas, sebuah artikel di salah satu web menarik perhatian. Artikel itu minta kita meneruskan kalimat: “My body is.. (but no negative statement). Cool! Gw jadi terdorong mencari hal positif dari tubuh gw. Ini menurut gw cara bagus untuk mengeluarkan sisi positif tentang tubuh kita. Besides it is our own right!”My body is hell energic and strong. What i am proud of my body is it’s not get easily sick and tough - it is really kick ass. Love my body” . How bout you?Kl ini diterapkan dalam urusan pekerjaan, i wonder apakah itu bisa nge-push semangat untuk menjadi lebih baik?

ShareThis