4 L (Lu Lagi Lu Lagi)

Categories: Lumayanlah (setengah serius setengah engga) By: citcitcuit

Di dunia nyata, kata “Lu Lagi Lu Lagi” yang disingkat 4L mungkin lebih pas diucapkan dalam benak awak kendaraan umum untuk seseorang yang selalu naik kendaraannya selama bertahun-tahun. Saking seringnya, sang awak kendaraan mungkin sudah hapal pakaian, tempat tujuan sampai kebiasaan bayarnya.

Kalau di dunia online, kata “Lu Lagi Lu Lagi” biasa diucapkan dalam benak admin sebuah akun brand/event/activity yang menyelenggarakan kuis. Seperti diriku misalnya. Semakin banyak kuis online yang saya (dan tim social media di think.web) manage, makin sering saya melihat akun-akun yang sama mengikuti kuis tersebut.

Saya tidak melarang mereka ikutan, saya justru senang. Asal memang kreatif dan mengikuti aturan kuis yang telah ditentukan. :)

Saya pernah menemui seseorang yang sanggup membuat saya ‘menghela napas’ dan bergumam “Lu Lagi Lu Lagi”. Sebut saja si A, Dia tergolong ‘rajin’ mengikuti kuis-kuis yang diselenggarakan oleh brand/event/activity yang saya (dan tim social media di think.web) manage. Sayangnya si A kurang kreatif & kurang mengikuti rules yang sudah ditentukan, sehingga tidak menang. Misalkan kuis berjalan di Facebook, tapi si A jawabnya di twitter. Tapi si A tampaknya tidak peduli. Entah karena ‘kurang’ cerdas, atau memang malas baca peraturan. Dia bahkan sempat tidak terima ketika bukan dia yang memenangkan kuis tersebut & mengirimkan message bahwa dia butuh hadiah tersebut untuk berobat.

Tidak hanya itu, “Lu Lagi Lu Lagi” juga berlaku untuk anak remaja (bukan ABG yah saya nulisnya), yang ‘ga bisa diam’ kalo ikutan kuis. Mereka adalah kelompok usia yang berjasa membuat sebuah kuis ramai, tapi sayangnya malas membaca. Dikit-dikit, tanya! pengumuman pemenang telat sedikit, ramai! Pemenang yang (menurut mereka) biasa aja, ga terima! *Doh*

But anyway, hal-hal seperti ini justru membuat saya belajar. Belajar mengelus dada, belajar tertawa, belajar mengerti adik-adik dengan me-respon mereka dengan baik. Untuk yang belajar merespon itu saya pelajari dari jeng tika. Perempuan yang kini tampil cantik tanpa kacamata dan rambut lurus itu mempunyai trik-trik unik dalam me-respon remaja-remaja yang ‘ga bisa diam’. Hehehe… Thanks kakak! Mungkin saya harus lebih sering bergaul sama yang lebih muda ya. :D

Harimaumu

Categories: Online Media Social Networking By: Anantya

“Mulutmu Harimaumu”

Kata bijak diatas berlaku untuk kehidupan sehari-hari. Tapi ketika kita memasuki sebuah kehidupan di “ranah online”, apakah kata bijak yang sama masih berlaku? Nampaknya sih iya, sejauh yang dilakukan didalam ranah itu adalah berkomunikasi dengan banyak orang. Walau tidak lagi menggunakan mulut untuk bertutur kata, kita menggunakan tulisan untuk menguntai arti. Mungkin sepertinya lebih pas kalau;

“Tulisanmu Harimaumu”

Jadi kata bijak ini berlaku untuk siapapun yang akan masuk ke dalam ranah online.  Tua-muda, artis-non artis, brand-bukan brand, siapapun! Yang berniat mencelupkan kaki ke dalam ranah ini sepertinya harus mengingat kata bijak yang satu itu. Beberapa korban sudah berjatuhan lantaran kurang memberikan perhatian pada kekuatan sebuah tulisan;

1. Simak kejatuhan motivator handal Mario Teguh di ranah maya, seperti yang dilansir kompasiana. Karena sebuah tulisan yang kontroversial, sang motivator akhirnya memutuskan untuk menutup kisah @marioteguhMTGW.  Alasan Mario Teguh menanggapi masalah ini: tulisan kontroversial tersebut diungkapkan oleh moderator, bukan dirinya.

2. Atau ketika salah satu selebriti cantik “ngamuk-ngamuk” dan akhirnya menutup akun dirinya di Twitter.

3.  Hingga kasus baru yang dilakukan oleh sebuah brand biskuit. Melansir status kontroversial di halaman facebook page, menyulut perbincangan seru di twitter dan juga menarik sebuah media online untuk melakukan pembahasan. Akhirnya sama halnya seperti Mario Teguh dan sang selebriti cantik, brand tersebut menghapus posting dan membuat pengakuan: Kami tidak pernah menulis status apapun yang berhubungan dengan video asusila para artis yang sedang hangat dibicarakan seperti pada status yang tertulis pada tanggal 9 Juni 2010. Kami sedang menyelidiki hal tersebut kepada Social Media Agency kami selaku admin account facebook tersebut.

Ketiga kasus diatas memperlihatkan betapa sebuah status, yang panjangnya hanya beberapa kalimat bisa memiliki “buntut” yang sangat panjang.  Buat saya, ada dua hal menarik yang bisa jadi pembahasan menarik;

Yang pertama, menarik untuk dianalisa bagaimana media dan tekanan sosial menjadi bumbu pemicu dalam pengambilan keputusan akhir terhadap sebuah masalah serta mem”blow up” problem proportion dalam sebuah masalah. Mario Teguh dan si artis cantik mendapatkan tekanan sosial bertubi-tubi dari sesama follower. Ketika tekanan berlangsung, media kemudian menyambar isu dan membuatnya satu hingga dua derajat lebih parah. Hasilnya? Isu semakin berkembang dan tekanan sosial juga semakin besar. Pada kasus terakhir yang menimpa brand biskuit (yang dicontohkan pada nomer 3), misalnya, pada saat status dirilis hanya berhasil menarik komentar dari 56 fans (padahal brand biskuit ini sudah punya lebih dari 9.000 fans, ini berarti hanya 0,6% dari fans yang memberi respond) sebelum akhirnya di”blow up” oleh media dan mendapat tekanan sosial dari Twitter dan sesama pengguna facebook lainnya (dan juga menambah panjang deret komentar status). Mungkin ketika pembicaraan di twitter atau blow up oleh media tidak terjadi, status itu masih ada di facebook page brand dan akan tertumpuk oleh 1001 status lain yang dikeluarkan secara berkala oleh brand.

Yang kedua, menarik untuk dianalisa juga, bahwa hampir ketiganya memilih cara yang sama untuk mengakhiri persoalan yang mereka alami. Baik Mario Teguh, sang artis cantik dan juga brand biskuit memilih untuk melakukan penghapusan (account atau status) serta melakukan klarifikasi penjernihan nama baik.  Memberikan pengakuan merupakan salah satu jalan yang baik untuk menyudahi masalah dan “keep moving forward”, tapi apakah menutup account merupakan solusi terbaik? Simak brand biskuit yang menghapus status tapi tidak menutup account. Ternyata, kesalahan yang dilakukan oleh brand biskuit pada penulisan statusnya tidak mengurungkan niat user untuk bergabung menjadi fans produk tersebut. Selang satu hari setelah insiden status, tercatat fans produk ini meningkat lebih dari 500 orang.

Jadi?  Ketika kita “bersuara” di social media beri perhatian lebih pada content dan context, minta maaf dan ambil langkah strategis bila kebetulan salah ngomong, dan do keep the medium open. At the end there are still people who like you, and perhaps like you even more because you are being honest for your mistakes.

Ketika Social Media Ada [dimana-mana]

Categories: Marketing Social Media Marketing Social Networking facebook By: Anantya

Bicara soal social media, seperti bicara soal sebuah tanah yang hak gunanya dimiliki oleh banyak orang. Saking mudah penggunaannya, peminatnya lebih menjamur daripada rusunami. Mulai dari iklan handphone yang menjual habis  fungsi twitter-an, facebook-an dan chatting, sampai brand-brand yang berlomba masuk dan eksis di facebook.

    Beberapa bahkan rajin mencantumkan url social media mereka di dalam iklan-iklan yang tayang di TV ataupun media cetak.  Belum habis eksis di tayangan iklan, brand juga sudah merasa perlu untuk mengikutsertakan url social media mereka di kemasan produk, sebuah kepentingan yang bahkan belum ada setahun yang lalu.

    Sebuah kepentingan yang tercipta karena tuntutan pengguna. Belum lama ini saya melihat sebuah minuman merek mancanegara yang mencantumkan logo Facebook di kemasannya. Ternyata yang dilakukan si minuman ini adalah melakukan sebuah aktivitas yang berbasis konsumen, memberikan kekuasaan lebih pada konsumen untuk membuat jenis minuman mereka sendiri. Jenis minuman yang paling diminati secara online kemudian di”wujudkan” nyata dan didistribusikan ke seluruh negeri. Salah satu cara cerdas melakukan test market, sebelum melakukan produksi barang baru.

    Itu tadi contoh kasus merek mancanegara, terus apakabar merek lokal? Kita tidak usah bahas merek-merek lokal terkenal ya. Karena kebetulan saya bertemu dengan merek yang baru kemarin saya ketahui keberadaannya, dan merek kecil ini pun sudah “melek” social media.

    Mari kita kenalan dengan “Kree-oks”

    Ada yang tau merek apa ini?
    [belum tau?]

    Gimana kalau saya kasih tambahan embel-embel chip dibelakangnya?
    [udah bisa tebak dong, jenis produknya]

    Ya ternyata si “Kree-oks” ini atau kriuk kalau sambil makan produknya adalah camilan sehat kripik buah kering yang diproduksi di Indonesia dan dikemas oleh sebuah CV di Bandung. Kemasannya sederhana, bersahaja, cenderung polos. Tapi dibalik kebersahajaannya itu, ternyata “Kree-oks” termasuk salah satu panganan yang cukup maju karena dia diam-diam menampilkan eksistensinya di salah satu Social Media.

    Coba cek di sudut kiri atas dibawah bendera Indonesia yang menjulur. Dengan sedikit malu-malu, Kree-oks menampilkan logo Facebook dan keterangan Kreeoks Chips. Walau belum merupakan affinity URL, namun mereka yang memiliki rasa penasaran berlebih macam saya, dapat dengan mudah melakukan proses search di facebook dengan mengetikkan Kreeoks Chips dan dalam hitungan detik akan bertemu dengan facebook groups Kreeoks Chips.

    Penggunaan facebook oleh Kree-oks chip juga memperlihatkan bahwa social media selain untuk mendukung brand engagement juga dapat dipergunakan untuk step pengembangan bisnis. Ketika masuk ke group Kreeoks Chip, tujuan pengembangan bisnis dan promosi produk adalah dua hal yang paling terasa. Walau belum maksimal, tapi apa yang dilakukan Kree-oks menurut saya adalah sebuah langkah besar dalam memanfaatkan teknologi untuk berpromosi dan mengembangkan bisnis.

    PS: Thanks to Mega yang sudah mengenalkan saya pada Kreeoks Chip.

    HOT TOPIC: Social Media Metrics

    Categories: Analytics Analytics Opinion Social Media Measurement facebook social media twitter By: Anantya

    I’m used to measure and see the user habitual in website for almost 4 years now. Thanks to all the tools that has come my way [Google Analytics, Omniture, Coremetrics] it’s all has been a peachy experiment for me. That is until this Social Media thingy come storming like a hurricane.

    Measuring how they affecting the overall site performance is a piece of cake, but really dwelling into Social Media performance and see how the user habit towards it is still a mind boggling, time consuming and snooze-fest activity to do.

    Sure enough two of Indonesia’s highest use Social Media has it’s own analytics. One within the channel, and the other one scattered like a bread crumb that Gretel left like you can see here. But those two type of analytics is not on top of their game yet.

    Facebook for example. Yes, the sought after Social Media is smart enough to prepare a simple analytics for Page owner and Apps developer. But is it user friendly enough, is it accurate enough, is it cover all the important stuff? To regular joe perhaps all that single metrics being displayed are sufficient enough.

    But when you talk to they who accustomed with analytics for more than a year, single metrics is just not enough. People would start wondering and ask: WHAT IF.

    What if “i cross the daily active user with gender/age and cities”
    What if “i cross new fans with specific post”
    What if “i wanted to know the demographic of the abandoned fans”
    and on and on and on…

    Not to mention the need to make a tailored analytics based on our very own or our client needs. To make a good fitted dress a.k.a good online campaign report we need a comprehensive tools. I don’t want to have to hand-sewn all of my custom dresses :)

    PS: Dear Analytics God, let Facebook, Twitter and other aspiring new social media out there hear that i need a comprehensive tools to sewn a good report. Amin.

    Aside from the long path that Facebook team have to ride, their effort on gradually upgrading their service needs a big salute. One of the progress is they are willingly to share more single metrics and start to cross it with several metrics. You can enjoy them at http://www.facebook.com/insights/. Yet, I still have that: WHAT IF moment in my head.

    As an analyst I was dying to have a sufficient tools to expand my analytics mojo, and to spot the exact behavior of my user. I truly wish that Facebook and other Social Media channel out there would gives analytics part a good focus and gradually improve them. Until then, i guess it’s back to the long hour and snooze-fest data collecting method.

    PS: Dear Analytics God, let Facebook, Twitter and other aspiring new social media out there hear this whole prayer. Amin.

    - Photos taken from here -

    Apps. Economy

    Categories: Application Applications Economy Facebook Application facebook By: Ramya Prajna S

    Beberapa waktu lalu kami menghadiri conference bernama “Inside Social Apps. 2010“. Sebuah conference yang berlangsung di San Francisco, tepat sehari sebelum f8 berlangsung. Event ini membahas segala sesuatu perkembangan dan kemungkinan yang berjalan dalam dunia aplikasi. Aplikasi yang dimaksud disini adalah web & mobile apps. Lebih spesifik lagi pada Facebook Apps. dan iPhone Apps.

    Di industri iPhone Apps. ada fakta yang sangat menarik: Dari 10 Apps. terbaik di iPhone, 8 adalah game apps. dan 7 apps. adalah dari Brand.

    Di Facebook kita tahu sendiri bahwa apps. merupakan ‘roda’ mereka untuk membuat Facebook menjadi tetap berjalan. Mulai dari apps. default seperti Photo gallery, Notes, Wall, sampai dengan yang game seperti Farmville, Restaurant City dan yang sekarang sedang saya coba main My Empire.

    Application sebenarnya adalah sama seperti feature pada sebuah website. Hanya saja dia berdiri sendiri untuk menjadi aplikasi pada platform tertentu seperti Facebook atau pun pada mobile seperti di iPhone, Android, Blackberry dan lainnya.
    Dengan demikian developing apps. yang sama dengan developing web feature/module. Memang bahasa yang digunakan ada yang berbeda, misalnya iPhone menggunakan Cocoa (CMIIW), tapi ada juga yang bahasanya tidak terlalu jauh berbeda. Hanya membutuhkan sedikit adjustment.

    Application Economy adalah sebuah pertumbuhan ekonomi yang berbasis pada pembuatan penggunaan aplikasi.
    Ekonomi dibidang digital atau online media semakin tumbuh subur sekarang. Gampangnya orang Indonesia bisa hidup dengan menjadi developer, entah itu developer untuk system, web, software, atau lainnya. Dengan dasar yang sama seorang developer web atau software kedepan juga punya pilihan untuk menjadi developer aplikasi.

    Di bidang mobile, developer Blackberry sudah mulai bertumbuh. Baik dalam bentuk perusahaan maupun perorangan. Beberapa ada juga yang mulai masuk ke iPhone, dan sebentar lagi Android juga pasti ikut.
    Pada Facebook Apps. juga sudah mulai bermunculan beberapa, walaupun masih sangat sedikit. Tidak seimbang dengan jumlah penggunanya. Indonesia jadinya hanya seperti pengguna pasif karena FB developer nya tidak tumbuh, pemasang iklan di Social Ads. juga masih sedikit.

    Mudah-mudahan semakin banyak yang melihat peluang ini, sehingga Apps. Economy menjadi salah satu yang menyuburkan pertumbuhan ekonomi di industri digital Indonesia.

    Change: The Search Habit

    Categories: Random Thought Social Networking facebook By: Anantya

    Memperhatikan sebuah perubahan terjadi merupakan pekerjaan yang menyenangkan. Bayangkan antisipasi, bayangkan harapan, bayangkan kemajuan. Keisengan saya memperhatikan perubahan itu jugalah yang membersitkan sebuah senyum di wajah saya, setelah seharian lelah bermain kejar-kejaran dengan deadline.

    Alkisah, ketika saya sedang iseng mempergunakan kenyamanan WIFI ditengah sebuah cafe di bilangan Jakarta Selatan. Ketika mata sudah agak lelah memperhatikan status dan update-an foto di Facebook [for the record gue ga mainan ya, Facebook itu bagian dari kerja gue sehari-hari. SUWER], gue melakukan aktivitas yang anehnya tiba-tiba gue lakukan pakai insting. I’m searching!

    Dan baru setelah aktifitas instingtif ini gue lakukan untuk kesekian puluh kalinya, gue baru menyadari satu hal: Facebook is my new search engine!  Yang menarik, hasil search yang ditawarkan datang semeriah munculnya pelangi sehabis hujan.

    Nih contohnya, gue coba untuk search salah salah satu film yang mau gue tonton: the newest Shrek movie di Facebook.  Karena lupa sudah sudah Shrek yang keberapa gue cuma mengetik kata kunci Shrek. Tidak ada awalan dan tidak ada hasilnya. Hasilnya? Fenomenal!!!

    Berlebihan? Nda juga kook. Coba deh banding hasil di google dengan hasil search di Facebook, and i think you’ll get my point.

    Ini hasil search gue di Google dengan  kata kunci Shrek:

    Seperti yang bisa dilihat, hasil pencariannya secara normal menawarkan what’s on Shrek, link ke official sitenya, review dari imdb untuk shrek than 2001, review lagi dari imdb untuk Shrek than 2002, hasil dari wikipedia, amazon, youtube. [menguap] Hum berguna but…nothing seems new.

    Sekarang coba kita lihat apa hasil search gue di Facebook:

    Ini alasan kenapa guess suka hasilnya. Amazingly it refer me to a Shrek page, dimana guess bisa ikutan Ogre Resistance (I don’t know what that is…I haven’t seen the movie, but It definitely make me want to see the movie).  And several other Shrek related Facebook Page.

    The fun is yet to begin because after I see this pages, I also get referrence from my friends that has previously watched the movie. All I got to do is refer to my movie-fanatic fellow to count on how good is the film actually is [if the review is so-so, i opt for DVD session instead]. The Searching journey has got a bit better with this kind of referrence.

    And if I still need the old fashion result, I can always see what Big have to offer :) Neat huh??? Proses pencarian di search engine has just got to a new level. Sekarang yang perlu dilakukan adalah menunggu orang lain untuk menyadari hal yang sudah gue sadari, atau melakukan gerakan “penyadaran”.

    To end my amuzement, and put the last big smile on my face. I just found out that Google feels it’s highly important to make their brand exist on facebook. Lookey down bellow. Google merasa penting untuk menempatkan Facebook Social Ads to advertise Google Chrome! Ok, I know it’s a browser and it’s not the search engine. But nontheles LOL, I still would not search on Chrome if I happen to open Facebook the whole day [not that I actually do it...psttt don't tell anybody!] and do my little searching there? Will in the near future Google advertise itself within Facebook?

    *Opening Chrome – to open facebook – to do my little searching for another life-changing writing material*

    Back From a Hiatus

    Categories: Personal Anan By: Anantya

    Gue merasa seperti beruang besar yang tertidur disaat musim dingin….selama lebih dari 6 bulan absen menorehkan ketikan qwerty ke dalam blog brain. Tapi seperti layaknya semua jenis hibernasi yang terjadi, pasti ada akhirnya.

    Mudah-mudahan sekarang adalah hari terakhir masa “hibernasi” gue. Mudah-mudahan juga tangan gue setuju untuk bermain lagi diatas keyboard Mac yang sudah agak dekil itu. Mudah-mudahan kepala gue masih mau diajak berkeliling jagad maya, duduk manis disebelah pak kusir.

    *flexing her finger, charging her Mac, and seriously thinking of going to the eyedoctor in the weekend ~ this blurry vision is so 70’s*

    Perempuan 2.0

    Categories: Serius Dikit By: citcitcuit

    Pagi-pagi sblm brangkat ke kantor, aku melihat bocah-bocah perempuan memakai pakaian adat jalan beriringan di sisi jalan. Sang guru yang membimbingnya berada di bagian depan & belakang. Sayang tidak ada suara-suara nyanyian “Ibu Kita Kartini” mengiringi mereka. Entah karena kelelahan menggunakan pakaian adat sambil berjalan kaki atau memang tidak hapal.

    Apapun itu, aku salut pada mereka yang sudah ‘merayakan’ hari besar secara kecil-kecilan bagi perempuan di Indonesia.

    Akupun juga tidak mau kalah. Meski tidak menggunakan pakaian adat ke kantor, aku juga ingin merayakan hari kartini. Namun, dengan cara yang berbeda.

    Caraku merayakan hari Kartini adalah dengan mengajak perempuan-perempuan Indonesia untuk menjadi perempuan 2.0 (baca: two point o).

    Perempuan 2.0 adalah perempuan yang melek teknologi & dunia maya. Dia tidak harus memiliki handphone yang canggih atau komputer dengan processor terbaru, tapi dia tahu bagaimana caranya mengoperasikan komputer dan berkelana di dunia maya.

    Menurutku, dunia maya saat ini hampir mirip dengan dunia nyata. Banyak kejujuran terungkap disana, meski banyak juga kebohongan yang tersembunyi disana.

    Coba saja kamu ketik nama lengkap seseorang yang baru kamu kenal di google dan lihatlah hasilnya. Sederetan akun pribadinya di jejaring sosial pasti akan muncul. Facebook, twitter & friendster adalah 3 media yg biasanya terlihat di deretan atas. Buka akun mereka, lalu lakukan apa yang kamu mau. Cek relationship statusnya, liat foto2nya, liat siapa teman-temannya, atau lihat status update-nya. Temukan kejujuran & kebohongan disana.

    Perempuan 2.0 adalah perempuan yang tidak langsung percaya dengan lelaki yang baru dikenal sebelum melihat akunnya di media sosial.

    Perempuan 2.0 adalah perempuan yang cerdas menganalisa kebohongan/kejujuran yang ada di dunia maya.

    Tidak susah bukan?

    Selamat hari Kartini, perempuan 2.0!

    I Miss ‘JavaJazz’ Moment

    Categories: Lumayanlah (setengah serius setengah engga) By: citcitcuit

    Musik Jazz bisa dibilang ‘ga baru’ di telingaku. Saat masih kuliah dulu, aku seringkali mendatangi Fakultas Ekonomi yang memakan waktu 15 menit jalan kaki dari fakultas ku untuk mendengarkan musik Jazz. Aku juga pernah sengaja mendatangi mall di bilangan Pondok Indah untuk menikmati live music Jazz. Tapi, entah kenapa, aku tidak pernah mendatangi JCC untuk JavaJazz yang konon sudah diselenggarakan selama 4 tahun disana. Bahkan seorang Jamie Cullum & Jason Mraz pun tak mampu mendorong kakiku melangkah ke JCC.

    Namun, tahun ini, takdir berkata lain. Lain dari yang aku harapkan. Sangat luar biasa! Aku tidak hanya bisa datang ke JavaJazz, tapi menjadi bagian dari JavaJazz. Menonton (dari media pit lagi! Gosh, I’m so lucky), me-report, foto-foto, makan-makan, kenal-kenalan, mondar-mandir, sampai ditanya-tanyain orang.

    Meskipun 4 hari 3 malam ga pulang ke rumah (thanks to tika yg mengijinkanku tidur di kasurnya), kurang tidur & pegal-pegal (maklum, JavaJazz tahun ini diselenggarakan di JIExpo Kemayoran yang luas bangeeetttt), tapi pengalaman baru di JavaJazz ini membuatku kecanduan. Beberapa hari setelah acara selesai, aku merasakan kerinduan. Rindu dengan suasanya, rindu dengan pekerjaannya, rindu dengan teman-teman yang bekerja bersama. ooohh, I miss the moment!

    Semoga tahun depan, takdir masih berpihak kepadaku. amiinn…

    javajazz

    Diary of A Perfect Woman

    Categories: Bla bla bla By: stefani

    Prolog.

    Alarm ponsel berbunyi. Aku terbangun menekan tombol ‘snooze’ dan kembali tidur. Sepuluh menit kemudian alarm kembali berbunyi dan memaksaku untuk bangun dan pergi bekerja. Sial! Rutukku dalam hati. Another Monday.Same sh*t different day! Ujarku meyumpah sambil mengambil handuk dengan malas.

    Aku basuh seluruh muka, sampai belakang telinga.  Aku guyur air dingin dari bak mandi ke seluruh tubuh sampai pada bagian-bagian tersembunyi di lipatan-lipatan daerah kewanitaanku. Aku cermati seluruh tubuhku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tidak ada yang kendur..semua masih sempurna, ujarku dalam hati. Sekali lagi kuguyur tubuh telanjangku dengan air dingin dengan harapan bisa menghapuskan kegilaanku akhir pekan kemarin. Saatnya kembali menjadi gadis normal, ujarku dalam hati sambil mengenakan busana kantor tertutup, sepatu pantopel dan menyapa ibu dan bapak. “Selamat pagi semua!” ujarku dengan senyuman template.

    Jumat.

    Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00. Ponsel berulang kali meneriakan lagu  Tata Young “Sexy, Naughty, Bitchy”. Sudah banyak orang menungguku. Damn!Atasanku yang cerewet tidak henti-hentinya memberikan pekerjaan yang membuat bokongku tidak bisa lepas dari tempat duduk. Sial!Sial!Sial! Hanya itu kosakata yang kugunakan selama hari ini. Setelah mencibir, menyumpah dan merutuk dalam hati, aku keluar kantor pukul 19.00. This is it!

    Rokok.Tequilla.Laki-laki. Betapa sempurna hidup ini. Upps. Aku ralat. Rokok.alkohol.laki-laki.uang.seks!Hmm…Inilah hidup sempurna.ujarku ketika meraih orgasme malam itu. Alarm ponsel membangunkan diriku. Perlu sedikit nikotin dan kafein untuk mengembalikan kesadaran diriku. Rokok.Kopi.Uang. Tanpa seks. Inilah yang terhebat! Aku langsung menuju kamar mandi hotel dan membersihkan semua bekas di tubuhku dari kegilaan semalam. Aku berpakaian dan menatap sosok laki-laki telanjang yang tidur. Laki-laki bodoh!ujarku sambil meraih sebuah dompet yang tergeletak di tempat tidur. Aku mengambil semua uang yang ada didalamnya dan selembar cek atas nama diriku kemudian keluar kamar.

    Sabtu.

    Another day. Another problem another trouble. Kembali ke rumah dengan pakaian hari Jumat. Mengaku selalu lembur di kantor. Orangtua percaya dan tidak masalah asal uang mengalir terus. Oke.Aku perlu rokok dan kopi. Coret..kini aku perlu secangkir chamomile tea untuk menyegarkan otakku. Memasak, mengepel, membersihkan rumah. Aku sempurna sebagai anak perempuan yang tahu pekerjaan rumah. Hari cepat sekali berlalu. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00. Pacar mengapel seperti malam minggu sebelum-sebelumnya. Kami menonton, makan, dan sedikit bercumbu. Dia meminta seks. Aku menolaknya. Aku ingin melakukannya jika aku sudah menikah, ujarku beralasan. Dia mengeluh karena tidak bisa menahan birahi. Aku melengos dan meninggalkannya. Kami bertengkar dan ia meminta maaf. Lalu aku kemudian memberikannya ciuman panas sebagai pengganti. Kemudian ia pulang.

    Orangtua sudah tidur sejak tadi. Mereka percaya padaku. Mereka tidak tahu aku sudah pulang dan kembali pergi dijemput dengan sebuah mobil ‘mentereng’. Ia tampan mapan dan gampang. Kami mengobrol di apartemennya. Istrinya sedang ke luar kota untuk kepentingan bisnis katanya. Ok jawabku. Rokok.Alkohol.Birahi.Seks.Orgasme.Inilah kesempurnaan, ujarku dalam hati. Aku terbangun dalam keadaan telanjang dan saldo tabungan dollar yang bertambah dua kali lipat. Sebaiknya aku bergegas! Ujarku. Aku bangun, mandi dan memakai pakaian semalam dan bergegas pergi.

    Epilog.

    “Maafkan aku Tuhan karena aku sudah berdosa” ujarku dalam bilik pengakuan dosa. Keluar dari bilik pengakuan, aku mengikuti misa. Selesai pengakuan dosa dan misa, aku tersenyum pada semua teman-teman dan menyapa mereka. “Selamat pagi semua!” ujarku dengan senyum template. (St.)

    Malam-malam sambil cari ide buat Semincil..wakakaka.. menemukan cerpen yang pernah gue tulis zaman dahulu kala. Daripada memenuhi memori laptop gue tanpa guna, akhirnya gue memutuskan untuk memajangnya disini.

    Bisalah jadi bacaan iseng buat elo kalo lagi ga ada kerjaan. *gue bilang kalo lho.. tau kok pasti pada sibuk semua wekekeke*

    Enjoy!

    ShareThis