4 L (Lu Lagi Lu Lagi)
Di dunia nyata, kata “Lu Lagi Lu Lagi” yang disingkat 4L mungkin lebih pas diucapkan dalam benak awak kendaraan umum untuk seseorang yang selalu naik kendaraannya selama bertahun-tahun. Saking seringnya, sang awak kendaraan mungkin sudah hapal pakaian, tempat tujuan sampai kebiasaan bayarnya.
Kalau di dunia online, kata “Lu Lagi Lu Lagi” biasa diucapkan dalam benak admin sebuah akun brand/event/activity yang menyelenggarakan kuis. Seperti diriku misalnya. Semakin banyak kuis online yang saya (dan tim social media di think.web) manage, makin sering saya melihat akun-akun yang sama mengikuti kuis tersebut.
Saya tidak melarang mereka ikutan, saya justru senang. Asal memang kreatif dan mengikuti aturan kuis yang telah ditentukan.
Saya pernah menemui seseorang yang sanggup membuat saya ‘menghela napas’ dan bergumam “Lu Lagi Lu Lagi”. Sebut saja si A, Dia tergolong ‘rajin’ mengikuti kuis-kuis yang diselenggarakan oleh brand/event/activity yang saya (dan tim social media di think.web) manage. Sayangnya si A kurang kreatif & kurang mengikuti rules yang sudah ditentukan, sehingga tidak menang. Misalkan kuis berjalan di Facebook, tapi si A jawabnya di twitter. Tapi si A tampaknya tidak peduli. Entah karena ‘kurang’ cerdas, atau memang malas baca peraturan. Dia bahkan sempat tidak terima ketika bukan dia yang memenangkan kuis tersebut & mengirimkan message bahwa dia butuh hadiah tersebut untuk berobat.
Tidak hanya itu, “Lu Lagi Lu Lagi” juga berlaku untuk anak remaja (bukan ABG yah saya nulisnya), yang ‘ga bisa diam’ kalo ikutan kuis. Mereka adalah kelompok usia yang berjasa membuat sebuah kuis ramai, tapi sayangnya malas membaca. Dikit-dikit, tanya! pengumuman pemenang telat sedikit, ramai! Pemenang yang (menurut mereka) biasa aja, ga terima! *Doh*
But anyway, hal-hal seperti ini justru membuat saya belajar. Belajar mengelus dada, belajar tertawa, belajar mengerti adik-adik dengan me-respon mereka dengan baik. Untuk yang belajar merespon itu saya pelajari dari jeng tika. Perempuan yang kini tampil cantik tanpa kacamata dan rambut lurus itu mempunyai trik-trik unik dalam me-respon remaja-remaja yang ‘ga bisa diam’. Hehehe… Thanks kakak! Mungkin saya harus lebih sering bergaul sama yang lebih muda ya.



Beberapa waktu lalu kami menghadiri conference bernama “




