Hasil Pertandingan Game ke 4 Indonesian Basketball League 2008 adalah hal yang saya tunggu-tunggu hari ini. Pinginnya sih nonton di TV, tapi saya bingung kalo di First Media yang belum ada Digital Box TV One tuh channel berapa ya. Plus siang tadi memang ada acara.
Kenapa penasaran, soalnya Final Four kali ini team yang bertanding mewakili 2 kota yg sejak jaman saya kuliah dulu selalu bertarung dengan sengit. Satria Muda Britama Jakarta vs Garuda Panasia Bandung.
Entah kenapa perseteruan tim Jakarta-Bandung selalu menjadi hal seru. Sebenarnyakan beberapa tahun lalu Final Four juga bersifat kedaerahan. Aspac Texmaco Jakarta vs Bhinneka Solo sempat menjadi langganan Final Four untuk beberapa tahun.
Terus terang saya sudah tidak terlalu mengikuti hasil-hasil pertandingan selama musim berjalan. Tapi ketika saya dengar mengenai Final nya, langsung saja jadi hal yang menarik. Lebih menarik lagi karena sebagian besar tim Garuda Panasia Bandung adalah bekas dari SM Britama Jakarta. Malah bintang Garuda, Denny Sumargo, sebelumnya adalah bintang Satria Muda.
2 Game pertama yang berlangsung di Jakarta dimenangkan oleh Satria Muda Britama Jakarta. Game ke 3 di Bandung mampu dimenangkan oleh Garuda. Score 2-1 dan game ke 4 berlangsung di Bandung. Kalau support penonton bisa mendorong lagi semanagat pemain Garuda, seperti yang berjalan di Game 3, bukannya nggak mungkin the Final of Final (Game 5) terjadi di Jakarta. Dan itu akan sangat seru.
Begitu menegangkan nya sampai ketika saya melihat billboard besar mengenai iklan Final Four membuat penasaran akan kelanjutannya. Pada billboard tertulis “Log on to” dan kemudian logo website. Dikepala saya: ini tournament lokal, seharusnya berita nya didapat dari koran setempat atau official website nya. Begitu saya sampai dirumah langsung saya mencari official website dari tournament tersebut. Setelah ketemu saya jadi kecewa, karena berita tentang Game ke 4 ternyata nggak ada. Loh gimana sih, ini kan official website nya, tapi info terakhir saat seru-seru nya kok malah nggak ada.
Akhirnya saya pergi juga ke portal sport yang biasa dikunjungi orang. Dan saya temukan berita tentang Game ke 4. Mungkin sebaiknya hal seperti ini mendapat perhatian dari pemilik brand. Pada setiap turnamen ada masa2 penting nya, masa dimana orang akan mencari informasi. Saat itu lah yang paling tepat untuk ‘menjual’ brand. Menjadi Official Media adalah tanggung jawab yang sangat baik dan besar yang dimiliki sebuah website. Karena traffic dengan sendirinya akan terangkat karena setiap orang berusaha untuk keep update.
Selamat untuk SM Britama Jakarta yang berhasil merebut 3-peat trophy IBL.
Anan think:
Masalah yang beberapa kali dialami juga oleh brand lain. Komunikasi sudah disebar tapi terkadang website belum mampu memberikan apa yang diharapkan oleh user. Bila brand sudah aware dan berkomitmen, biasanya komunikasi terhadap website brand sebagai media brand sudah dilakukan secara otomatis. Jadi penyertaan embel-embel log on dan logo website itu adalah default disemua iklan yang dikeluarkan, mulai dari packaging, TVC, Print Ad sampai billboard. Kalau komunikasinya sudah kencang, flow of informasi di dalam websitenya juga harus dijaga sama kencangnya. Dalam hal ini brand dan pengelola website harus memiliki komitmen yang sama dan kerjasama yang solid dalam menjaga aliran informasi dalam website brand.
Sewaktu keluar rumah
Ketemu neon box, papan reklame, spanduk kampanye, umbul-umbul partai
Sewaktu siang
Ketemu banner, skyscraper, adsense, rich media ad
Sewaktu macet
Ketemu adlips dan jingle
Itu tadi kegiatan sehari-hari saya. Cukup memusingkan? Iya dan dengan ini saya resmi menjadi salah satu bagian dari mereka yang menderita kondisi information overload. Kalau mau dihitung, berapa banyak iklan dan logo brand yang Anda lihat setiap hari? Saya berani bertaruh pasti lebih banyak dari umur saya saat ini. Karena berada dalam kondisi information overload, saya jadi cenderung cuek dengan iklan. Bagai sebuah gelas penuh yang kalau diisi akan tumpah. Informasi iklan yang saya dapatkan juga sudah bisa dibilang tumpah. Oleh karena itu saya akan cepat-cepat mengganti channel TV jika kebetulan ada iklan (hal ini menjadikan saya si ratu remote di rumah), memasang pop up blocker, dan memilih mendengar iPod dalam mobil ketimbang mendengar radio.
Kondisi yang cukup parah? Sepertinya tidak sih, karena saya yakin diluar sana masih banyak saya-saya yang lain yang merasa agak pusing dengan hebohnya gaya para brand beriklan. Pertanyaan yg kemudian menggelitik saya adalah ‘kalau setiap hari saya, anda dan mereka harus berhadapan dengan ratusan iklan, bagaimana caranya untuk bisa make an impression?’
Mereka yang bekerja di online media pasti akan mengeluarkan jawaban: interactivity dan engaging message. Dari kedua jawaban itu, masalah engagement ini menjadi sesuatu yang menarik karena belakangan kata engagement jadi salah satu kata populer, setidaknya dalam dunia marketing. ‘Engaging the customer‘ ini yang sering dikumandangkan, sebuah kegiatan yang mencoba membuat konsumen merasa dekat dan menganggap bahwa brand yang berbicara relevan dengan hidup mereka.
Engagement sendiri mengedepankan rasa involvement dan experience. Kondisi engage didapat dari kegiatan merasakan/mengalami sesuatu. Misalnya karena kita membaca majalah dalam keadaan tertentu, kemudian sibuk membicarakan sebuah artikel dalam majalah tersebut yang memang relevan dengan kehidupan sehari-hari dengan teman, secara tak sadar kemudian kita akan merasa sangat dekat dengan majalah tersebut. Dalam hal ini pengalaman yang dapat menghasilkan engagement adalah pengalaman yang motivasional.
![]()
Pentingnya pengalaman seseorang sewaktu yang bersangkutan melihat sebuah iklan sudah ditangkap dan ditranslasikan dalam beberapa cara. Ambience ad adalah salah satunya, iklan luar ruang yang dibuat semenarik mungkin dan didorong untuk menyelesaikan tugasnya untuk engaging calon konsumennya. Karena hasil akhir yang diharapkan sebuah ambience ad bukan hanya like the ad tapi juga mendorong mereka yang melihat iklan untuk termotivasi melakukan sesuatu. Hasil ambience ad memang bisa membuahkan rasa kedekatan dan kadang juga berbuah penghargaan.
Di dunia online masalah engagement ini juga disadari oleh para pengiklan dan menghasilkan apa yang dikenal dengan rich media. Iklan online dengan kreatifitas tanpa batas. Untuk yang masih penasaran apa itu rich media, intip saja yah penjelasannya.
Berlomba menghasilkan program komunikasi yang berusaha untuk engage para konsumen adalah sesuatu yang baik. Tapi hati-hati, karena bila semua pengiklan sudah berbicara dengan bahasa yang sama, memakai baju yang sama dan warna yang sama, para konsumen pasti akan kembali merasa pusing tujuh keliling.
Rama think:
Tujuan sebuah program komunikasi pasti beda-beda, dengan demikian target dari engagement nya pun pasti berbeda. Justru yang harus dihasilkan pengiklan adalah tidak ‘menggunakan baju dan warna’ yang sama agar tujuan engage nya tercapai. Makanya kalo gue bilang mah (terutama untuk online media) yang penting untuk engage adalah Add Value nya.
Beberapa waktu lalu, Didot, teman saya pernah bilang “orang-orang Indonesia itu cuman bersatu kalo pas tim Indonesia bertanding olah raga”. Waktu itu ada pertandingan piala Asia, semua orang antusias untuk nonton di Senayan untuk membela nama Indonesia. Yah walaupun setelah pertandingan usai diluar stadion kembali ada perkelahian antar penontong. Bayangkan, padahal beberapa menit sebelum nya mereka sama-sama berteriak “Indonesia!!”.
Saat ini sedang berlangsung kejuaraan Thomas & Uber Cup. Campaign nya sudah dilakukan oleh sebuah group TV station minimal sebulan sebelum nya. Cukup smart campaign nya karena yang di iklan kan tidak langsung acara/event nya tapi justru menyadarkan bahwa Bulu Tangkis adalah bagian dari Indonesia.
Tagline “I Love Badminton” digaung kan jauh-jauh hari. Commitment nya pun jelas, seluruh pemain dan official terlibat penuh dalam semua campaign.
Mudah-mudahan saja semua berjalan sesuai harapan, piala Thomas & Uber kembali ke Indonesia. Lumayan lah boosting untuk masyarakat Indonesia yang lagi ilfil sama pemerintah gara-gara BBM yang akan naik. Lagian kalo juara juga bertepatan dengan momentum hari Kebangkitan Nasional.
(sampai posting ini ditulis kedudukan Tim Uber sudah menang dr tim Jepang. Sedangkan Tim Thomas sedang berjuang, kedudukannya sedang kalah 1-2 karena 2 tunggal nya gugur).
Saat membaca RSS blog Cosaaranda.com kok ada posting yang menggelitik. Terus terang saya belum kenal dengan mas Cosa ini, dan ingin kenal suatu saat nanti, tapi apa yang terjadi dengannya cukup memprihatinkan. Saya tidak akan membahas mengenai duduk perkara nya, kalau ingin tahu lebih detail ada apa silahkan baca disini. Silahkan ikuti link-link didalamnya supaya lebih jelas.
Dari link-link yang ada di posting itu ada hal yang menarik. Saya baca posting ini dan cukup kaget dengan ‘kreatifitas’ si pembajak itu. Memanfaatkan materi gratis orang lain kemudian menjadikan uang dari situ memang sudah 1 ‘kreatifitas’, nah kemudian ada ‘kreatifitas’ yang lainnya. Sang pembajak sadar akan kesalahan yang dia lakukan kemudian membuat pernyataan maaf lewat media iklan baris!!
Bukannya permintaan maaf itu ditempatkan di media massa karena media tersebut dapat mewakili X persen dari keseluruhan orang. Karena itu lah ada tuntutan bahwa permohonan maaf harus dipasang di koran K misalnya, atau dipasang di 3 media massa sekaligus yang berbeda.
It’s a good thing mengetahui bahwa online media sudah dianggap sebagai salah satu media massa, tapi yang ini kok rasanya berlebihan ya. Atau mungkin karena di iklan baris nya ya? kalau ditempatkan di banner Detik di bagian header dan link nya ditujukan ke blog Cosa Aranda mungkin akan beda cerita ya. Hehehe…
Mungkin yang bersangkutan sedang mengalami kesulitan finansial dan waktunya terbatas. Yang paling cepat dan terjangkau kan iklan baris. Yah lebih mending daripada permohonan maaf dibuat dalam selebaran
Beberapa waktu lalu salah satu posting nya Reza cukup menggugah saya. Posting nya diakibatkan karena dia ‘curiga’ terhadap beberapa blog yang sama karena membicarakan sebuah product dan muncul di waktu yang hampir bersamaan.
Tidak berselang lama setelah saya baca posting itu saya memang menemukan posting yang agak ‘beda’ di blog nya Priyadi. Di posting tersebut Priyadi bercerita bagaimana experient nya dengan sebuah produk yang dipinjam kan kepadanya. Isinya ya memang ulasan produk.
Pada blog yang lain yang saya dapat dari posting Reza juga berisikan cerita yang kurang lebih sama (katanya punya pak Roni, founder dari komunitas Tangan Diatas. Saya belum kenal beliau, baru juga jadi member nya hehehe).
Lalu saya temukan juga di posting dari ‘blog selingkuhan’ nya pak Nukman Luthfie yang isinya juga kurang lebih sama. Hanya saja di punya pak Nukman ini lebih ‘halus’. Posting nya sebenarnya bercerita tentang kantor nya yang baru pindah, kemudian ‘disisipi’ dengan info produk.
Advertorial sebagai salah satu bagian dari media cetak adalah salah satu space dari media cetak untuk mendapatkan uang. Hal yang sama bisa jadi (atau mungkin sudah) terjadi di online media. Tapi bukan hal itu yang ingin saya angkat, yang menarik untuk saya adalah mulai dianggap nya Blog sebagai media publik atau media massa.
Blog adalah mungkin seperti koran/majalah tetapi milik dari masing-masing orang. Bayangkan kalau banyak orang yang membuat selebaran yang berisi tentang tulisannya dan ada orang-orang yang memang menunggu/berlangganan selebaran tersebut.
It’s a good thing ketika mendapat/mendengar perkembangan baru dari kekuatan online media, apapun itu. Saat ini sudah menjadi pengetahuan umum bahwa orang akan lebih percaya terhadap referensi yang diberikan teman atau rekan lainnya dibanding dengan promosi yang dilakukan sebuah brand atau product. Ketika sebuah informasi dari sebuah produk diangkat menjadi sebuah posting maka para pembaca blog tersebut akan menerima posting itu sebagai referensi dari pemilik blog.
Apabila pemilik blog tersebut adalah orang yang memiliki ‘kekuatan’ dalam diri pembaca nya (entah sebagai panutan, guru, favorit atau apapun) maka kekuatan referensi tadi akan berlipat ganda.
Blog dapat menjadi ruang Advertorial yang sangat baik. Karena target pembacanya sangat segmented dan punya fungsi provokasi/referensi yang sangat kuat. So can I call it in short Advertorial on Blog = Blogverterial
Hanya saja pemilik blog tetap harus bijak dengan space advertorial ini. Karena bagaimanapun blog reader bukan datang ke sebuah blog hanya untuk membaca advertorial atau review produk.
Kompensasi apa sih yang didapat dari menyediakan posting Blogvertorial? bentuknya bisa apapun, mulai dari uang sampai, dipinjamkan produknya atau mungkin hanya terima kasih (tapi masa ya ketika meminta sesuatu tidak ada kompensasinya).
Di comment nya Priyadi mengenai produk yang dia referensikan, produk nya hanya dipinjemin. Nah ini bocoran Pri, katanya kalau review nya bagus dibolehkan jadi hak milik hehehe.
Seperti tidak fair sih minta di review kemudian ‘bayarannya’ bergantung dari review nya, karena nanti review nya bisa menjadi bias, yang dipentingin dapet gratisan aja. Untungnya produk yang di review Priyadi ini tidak claim dari permulaan dengan “kalau review nya bagus maka dapet hadiah”.
” Sudah menjadi nature advertorial untuk tampil menyerupai tulisan-tulisan “biasa” yang ada di publikasi tempat advertorial itu hadir. Dari beberapa hasil advertorial yang dikemukakan rama diatas. Pak Lukman berhasil mengemas Advertorial yang ada dengan gaya yang paling cantik, dalam artian membuat advertorial semirip mungkin dengan tulisan beliau yang lain. Menyesuaikan dengan apa yang biasa dibaca oleh audiencenya, sehingga audience secara tidak sadar sedang dihadapkan pada sebuah iklan. Dua advertorial lainnya sekilas memiliki kemiripan gaya penyampaian dan dengan rapi dan sadar dikategorikan ke dalam bagian ADVERTORIAL dalam blog yang menjadi tempat publikasi. Jadi siapapun yang mengklik artikel dalam kategori tersebut sadar betul bahwa mereka sedang melihat sebuah iklan.
Fenomena Blogvertorial ini sepertinya memang sebuah langkah yang natural, karena secara ciri memang kehadiran blog sangat mirip dengan media cetak konvensional tempat ADVERTORIAL biasanya hadir. Namun memang apa yang dikatakan rama benar, sebuah blog sejatinya adalah sebuah log yang kebanyakan dipakai oleh perseorangan untuk konsumsi terbatas. Jadi siapapun yang mau meletakkan sebuah ADVERTORIAL dalam blog harus sadar bahwa audience yang akan dicakup oleh blog umumnya bukanlah audience massal (walau dalam kasus tertentu pembaca blog kadang lebih banyak dari pembaca media cetak). Namun Blog masih memiliki kelebihan yaitu fanatisme audience dan kedekatan audience kepada si-empunya blog. Kedekatan inilah yang bisa menjadi nilai tambah tersendiri ketika sebuah ADVERTORIAL memilih blog sebagai media. “
Masih melanjut pembicaraan soal seleb. Saya baru tersadar kalau salah satu rekan kerja saya ada yang terimbas demam seleb. Walau mungkin belum dalam kategori demam tinggi, namun gejalanya sudah sangat jelas.
Mereka yang mengalami demam seleb internet ini biasanya mengalami gejala sebagai berikut:
Nah salah satu rekan saya ini mengalami gejala demam seleb yang ke-3 kalau dilihat dari postingan terbaru dalam blog nerd rulezznya. Sayangnya belum 100% teryakinkan kalau postingan terbarunya itu dibuat oleh die hard fans rekan kerja saya itu. Karena sepengetahuan saya, ciri-ciri ke-seleb-an dalam dunia internet belum dimiliki oleh teman saya ini.
Apa sih ciri-ciri utama seleb internet?
Kalau Anda sudah punya 3 ciri ini, siap-siap untuk jadi seleb
Rama think:
Tapi kenapa ya jalur nya selebriti internet tuh kayaknya sekarang cuman blog, atau Seleblog. Kalo punya 3 ciri diatas tapi bukan dari blog dianggap seleb juga bukan ya. Misalnya comment di posting video nya banyak… karena video nya ancur banget. Testimonial di profile nya buanyak… karena emang “gaol banget gitu loch..”. Atau apalah yang lainnya.Online Seleb musti bikin press conference juga nggak ya, atau bikin clarification posting yg di ‘titipin’ ke blog2 populer? hehehe.
Aku, kamu, dia dan mereka kini bisa jadi seleb! Segitu mudahnya? Iya lho segitu mudahnya. Karena sekarang internet telah memberikan standar baru untuk ukuran selebriti. Sekarang ukurannya bukan lagi my “15 minutes” of fame atau dengan kata lain mencoba ikut-ikut acara reality show, karena ukurannya sudah menjadi “15 people” of fame.
Kenapa 15 people? Karena sekarang internet memberikan kesempatan bagi “aku, kamu, dia dan mereka” untuk memegang kendali. Ibaratnya menciptakan micro-seleb hanya dengan satu buah klik. Baru-baru ini hal yang kurang lebih sama dikemukakan oleh David Weinberger (dari Harvard Berkman Center for Internet and Society) dalam sebuah seminar.
Seleb tradisional seperti Paris Hilton, Britney Spears or mungkin disini Mayang Sari dan Dewi Persik memperoleh status ke-seleb-an mereka dari berapa banyak majalah/tabloid yang memberitakan mereka, berapa banyak TV yang melakukan interview dan berapa banyak ibu-ibu yang menggosipi mereka. Seleb internet beda! Karena ketenaran mereka dibangun dan didapat secara lebih personal. Mereka tenar karena apa yang mereka lakukan di internet, content dalam bentuk video, foto atau tulisan sukses menarik interest orang-orang.
Apa yang membuat sebuah content sukses sedang ribuan content lain gagal menarik perhatian orang? Kalau saya dan para ahli tahu, mungkin kamilah yang akan menjadi seleb. Word of mouth (WOM) dari sebuah content adalah salah satu aspek dari perbedaan seleb internet dan seleb tradisional. Ide content adalah segalanya dan mungkin kunci kesuksesan WOM. Selain WOM, traffic juga jadi salah satu hal yang penting. Mendapatkan berkah traffic dari Slashdot, Fark, Digg atau Reddit mungkin bisa membantu kadar ke-sebel-an seseorang.
Di tangan seleb tradisional, ketenaran adalah kelangkaan. Mereka yang dapat memperoleh telur dinosaurus pasti akan mendapat ketenaran, mereka yang dapat berjalan dengan tangan ketika kita semua berjalan dengan kaki akan mendapat ketenaran. Namun ketenaran di internet berbeda, karena disini semua orang punya kesempatan yang sama untuk bisa jadi tenar. Ketenaran itu bisa jadi milik kita.
Source formulated from Time with additional sparks here and there