Categories:
Uncategorized By:
Ramya Prajna S
Seorang sahabat, Pandji Pragiwaksono, bercerita tentang salah satu kejadian yang dia anggap sebagai kekalahan terbesarnya.
Sebaiknya gue mengawali posting ini dengan gimana hubungan gue dengan Pandji.
Gue mengenal Pandji saat SMA dulu saat kita beberapa kali main basket bareng. Di tahun 1997 ternyata kita sama-sama diterima di FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain) ITB. Karena senasib sama-sama anak Jakarta yang merantau ke Bandung maka dari pertama kali kita menginjakkan kaki di Bandung pun kita bareng-bareng. Nggak cuman itu, kita juga bareng-bareng di jurusan Desain Produk. Bahkan akhirnya kita tinggal disatu rumah bareng yang jadi tempat kost kita
‘Gank’ kita yang isinya anak2 Jakarta perantauan itu adalah gue sendiri, Pandji, Citra Pramadi (sekarang kita barengan di Think.Web, Citra menjadi Web Designer handal kami), Wicaksono (Coki) dan Bla Chirstophorus.
Di tahun-tahun terakhir kita di Bandung, gue & Pandji kost di rumah salah satu temen kita juga, Ario S Tamat.
Beberapa hari lalu, setelah kita selesai meeting, muncul obrolan-obrolan jaman kuliah. Mungkin itu juga yang membuat dia melakukan posting tentang kekalahan terbesarnya. Di pembicaraan itu ada beberapa hal yang Pandji nggak bisa ngerti kenapa dulu dia bisa berada di posisi itu. Misal: Wakil ketua angkatan 97, ketua wahana Desain Produk di Pasar Seni 2000, ketua Kampanye Anti Kekerasan, dan lainnya. Gue bilang “lo nggak bisa menyamakan lo yang dulu dengan sekarang. Keberadaan lo yang dulu emang bener-bener tanpa dasar tidak seperti seperti hal-hal yang lo lakukan sekarang”. Jadi memang nggak bisa disamain. Gue yakin banyak juga orang yang seperti ini.
Pandji was ‘the clown of the crowd’. Karena banyak omong (banyak usaha ngelawak) dia memang sering menjadi center of attention. Karena dasar itu lah kemudian dia sering kali diminta untuk menjadi wakil dari crowd nya. Mungkin kadang lebih kepada ‘tumbal’. Bahkan kadang dia menjadi ‘boneka’ yang ditinggal ‘dalang’ nya. Dan seperti yang Pandji cerita di posting nya, he was nothing about leadership. Jadi memang posisi2 yang dia tempati bukan karena sikap leadership atau keinginan dia.
Menjadi ‘clown of the crowd’ jelas berbeda seperti Pandji sekarang yang kadang menjadi ‘comedian of the crowd’. Apa beda Clown dengan Comedian pasti semua tahu akan hal ini.
Mungkin ini beberapa dasar posisi Pandji dulu (berdasar analisa gue pribadi).
Wakil ketua angkatan 97: Yang pasti karena kalah suara untuk menjadi ketua dong ya. Tapi pertanyaan besar Pandji adalah “kenapa gue memunculkan diri saat itu, gue nggak ada backgorund apa2″. Dan mungkin memang sebabnya adalah karena dia di ojog2 untuk tampil “udah lo aja… udah lo aja….”. Dan mungkin karena polos dan agak tolol nya (bwahahahaha) muncul lah sebagai kandidat ketua angkatan.
Ketua wahana Desain Produk di Pasar Seni 2000: Hampir semua orang terlibat dalam kepanitiaan inti Pasar Seni. Gue juga nggak inget kenapa pada akhirnya Pandji ‘tersisa’ dari yang lain.
Gue sendiri terlibat di seksie Publikasi saat itu. Lebih spesifik nya sih ke media alternatif. Ini kiprah pertama gue di online media karena gue yang bertanggung jawab penuh dengan website Pasar Seni 2000 saat itu. Selain itu gue juga pegang untuk urusan flyer-flyer yang sifatnya kecil-kecil hasil repro (kaya fotocopy gitu tapi diatas kertas berwarna dan dengan tinta 1 warna).
Wahana Desain Produk ini dulu konsep nya pil merah & pil biru (Matrix) dan masing-masing menuju ke ‘permainan’ yang beda-beda. Area nya sebesar lapangan basket dan seluruhnya ditutup pake tenda. Nah gue nggak inget (dan pas itu juga nggak sempet masuk) area segede itu diisi apa aja. Yang pasti, yang gue inget adalah seharian Pandji menjadi ‘tour guide’ dari semua orang yang masuk ke wahana itu.
Kampanye Anti Kekerasan adalah salah satu kegiatan yang initiate pertamanya dateng dari Pandji. Awalnya dia abis nonton berita pada sebuah malam dan ada ibu-ibu yang diperlakukan kasar (gue lupa oleh siapa dan alesannya apa).
Posisi besar yang kemudian Pandji ikuti adalah kandidat Presiden KMSR (Keluarga Mahasiswa Seni Rupa). Diluar dari hal-hal dia yang selalu menjadi ‘tumbal’ yg sering (dengan mudah) diyakinkan untuk maju dan kemampuan leadership yang dia punya saat itu, tapi juga ada issue-issue lain (ini berdasar apa yang gue inget ya), misal:
Sejak awal pencalonan presiden KMSR ini sudah muncul issue untuk kami (angkatan 97) untuk melewatkan masa kepemimpinan di KMSR demi kepentingan bersama. Ini salah satunya juga periode kepemimpinan menjadi lebih singkat dari periode sebelumnya karena saat itu aktifitas kita sempat banyak di isi dengan aktifitas keseluruhan ITB atas gejolak politik di Indonesia saat itu.
Hal ini juga yang membuat kami (97) sudah keburu menyatu dengan seluruh element di SR dan ITB (makanya saya pribadi juga udah berpikir kalo udah nggak terlalu penting lagi posisi presiden itu).
Issue kedaerahan. Entah ini biasa atau tidak, tapi hal ini dulu terasa kental sekali. ‘Gank’ kami yang berisi 5 anak Jakarta itu entah kenapa dibenci oleh sebagian besar orang (bahkan dari angkatan kami sendiri). Pandji adalah anak yang paling mingle dengan semua element saat itu, tapi tetep aja nggak luput dari kebencian (Di Pandji.com: baca soal pernyataan sahabatnya saat speech nya di hari pemilihan).
Issue pecah suara. Awalnya adalah memang keraguan angkatan kami, kemudian Pandji ‘terpaksa’ muncul sebagai wakil agar tidak kosong sama sekali (baca: formalitas). Tapi karena ada yg gerah atas issue kedaerahan, maka kemudian muncul kandidat lain. Kemudian juga karena ada issue jurusan juga (Seni Murni dan Desain) kemudian muncul juga kandidat lain. Tapi intinya… sejak awal memang angkatan 98 sudah ‘dimungkinkan’ untuk menjalankan KMSR.
Buat saya (saat itu), sudah tidak penting angkatan berapa yang menjalankan KMSR, yang penting kan memang bisa bersama-sama jalaninnya.
Gue sendiri, emang sengaja untuk tidak terlalu dalem untuk terlibat dalam kompetisi yang sejak awal menurut gue emang kurang strategis
Saat itu gue hanya berusaha sebagai teman yang kalo diminta bisa bantu tapi jangan ngarepin proactive (apalagi provocative :p).
Dari kepala & mata gue, satu hal yang mendasari Pandji dari jaman dulu sampe sekarang adalah:
- Modal nya mulut (untuk ngajak orang, untuk bercerita, untuk membuat suasana menjadi ceria, untuk kuliah, termasuk untuk ke cewe2.
- Dia selalu bagian dari kerumunan.
Setiap bagian yang dia lewatin memang mengisi kepala dia sampai kemudian bisa menjadi sekarang ini. Kami adalah orang-orang yang (belajar) menghargai proses yang terjadi. Jadi kalo sekarang Pandji bertanya-tanya “kenapa gue bisa kaya gitu ya?” itu wajar, karena emang dulu isi kepalanya nggak kaya sekarang
dan gue rasa banyak orang yang juga begitu.
Apa yang menjadi lebih baik lagi adalah ketika mendapat pelajaran dari sebuah kegagalan dan kemudian membaginya ke orang lain.
Besides… kenapa musti disimpan? toh belajarnya juga dari lingkungan/orang lain.
*Yang pasti dari obrolan kemarin dan posting dia, ada satu hal yang akhirnya gue mengerti. Setelah kegagalan Pandji sebagai kandidat presiden (yang menurut dia kekalahan besar itu), Pandji bisa dibilang hilang dari kampus. Saat itu kita bilang Pandji jadi lover boy yang berada di ketiak pacar nya. Hahahahaha. Gue baru ngerti sekarang ternyata dia sakit hati banget dengan segala yang berkaitan dengan pemilihan presiden saat itu.
**Buat Pandji: Sang presiden terpilih, sang ‘penjegal’ speech akhir lo dan siapapun mereka, kenyataannya memang ‘tidak ada’ sekarang (or at least belum). Bersyukurlah elo (kita) menjadi bagian yang gagal saat itu dan kemampuan kita untuk belajar membuat bagaimana kita saat ini. I’m proud of you man!