Pecha Kucha Jakarta

Categories: Uncategorized By: Ramya Prajna S

Pada malam 10 Maret lalu, saya mendapat kesempatan untuk ikut serta pada Pecha Kucha Jakarta yang pertama. Kebetulan saya 2 kali ‘naik panggung’. Ini gara-gara diminta mewakilkan teman-teman di FreSh makanya sampe 2 kali.

Pada kesempatan pertama saya dan Anan ‘dibawa’  bapak Febriyanto (atau biasanya saya memanggil mas Bri). Beliau mendapat kesempatan sebagai pembicara pertama yang tampil. Presentasinya bercerita tentang perjalanan dia menjadi seorang Entrepreneur.

Kalau melihat slide diatas, bagian saya dan Anan adalah dari slide 12 sampai dengan 16.

Kemudian pada kesempatan kedua saya mewakili Forum FreSh untuk bercerita tentang apa itu FreSh.
Slide:

Pecha Kucha adalah salah satu contoh bentukan worldwide event yang belakangan banyak muncul. Event-event ini biasanya menggunakan format acara yang sama sebagai penanda kesatuan event. Event pada masing-masing kota atau negara atau pihak dilakukan secara mandiri oleh masing-masing penyelenggara. Sebuah kolaborasi event yang mungkin kalau menggunakan trend nama sekarang menjadi disebut Event 2.0.

Pecha Kucha sendiri, seperti yang disebutkan di websitenya, mempunyai format 20/20 yang  harus digunakan oleh event-event yang dinaungi oleh Pecha Kucha. 20/20 ini maksudnya 20 slide dan masing-masing berdurasi 20 detik. Jadi total setiap presenter mempunyai waktu 6-7 menit untuk berbicara.

Twestival merupakan contoh lain. Twestival secara bersamaan dilakukan pada tanggal 12 Februari 2009 dengan tujuan mencari donasi untuk kepentingan air bersih di dunia. Setiap negara atau kota atau area mendaftarkan dirinya pada website Twestival untuk kemudian disediakan blog sendiri sebagai tempat komunikasi, publikasi dan update dari masing-masing penyelenggara. Nama Twestival diambil dari Twitter karena basis komunikasi yang dilakukan adalah Twitter.

Bentukan lain adalah Facebook Developer Garage (FBDG). Event ini adalah event yang secara resmi di support oleh Facebook dan masuk kedalam agenda acara mereka. FBDG merupakan komunitas event. Salah satu syarat sebagai penyelenggara FBDG adalah diselerenggarakan atau bekerja sama dengan group dari Facebook Developer per negara. Artinya setiap developer group secara mandiri mengadakan FBDG walaupun semuanya dibawah supervisi dari Facebook.

Event-event 2.0 ini yang meng-inspirasi FreSh untuk melakukan settle down format. FreSh adalah sebuah forum diskusi dan networking yang dilakukan setiap bulan. Topik yang menjadi pembahasan berganti setiap bulannya dan semuanya berkait dengan dunia online (online enable). Saya & Anan menjadi salah satu penggerak bersama dengan rekan-rekan lainnya: Catur PW, Pitra Satvika, Kukuh TW dan Anggun Himawan.

FreSh berharap forum ini bisa menjadi nation wide atau bahkan world wide. Kalau Pecha Kucha dimulai dari Jepang, Twestival & Facebook Developer Garage dimulai dari US, mungkin FreSh bisa menjadi international event yang dimulai dari Jakarta, Indonesia.

Another Seminars Another Goody Bag

Categories: Uncategorized By: Anantya
So Sweet So Girl
Creative Commons License photo credit: CoCreatr

Saya bukan seminar frequent flayer. Tapi ada satu hal yang terkadang menggelitik nurani ketika menghadiri sebuah seminar.

Isi seminarnya? [jawabannya bukan]
Pembicaranya? [jawabannya bukan]
Doorprizenya? [hampir tepat tapi jawabannya masih bukan]
Goodybag?

Nah, ini satu hal yang menggelitik saya. Ketika saya menghadiri sebuah seminar, yang ada di benak saya ketika saya baru masuk ke dalam sebuah seminar adalah untuk mendapatkan paling tidak satu hal dari list di bawah ini:

  • list acara
  • sedikit reading material soal acara
  • alat tulis (karena kadang saya suka malas bawa pen and paper)

Nah biasanya yang paling sering dibagikan sebelum acaranya mulai adalah Goody Bag ini. Jadi ketika saya memasuki ruang seminar, saya mengharapkan kehadiran salah satu dari list barang diatas didalam Goody Bag yang saya dapat untuk paling tidak memberikan panduan untuk saya selama seminar/event.

Tapi sayangnya, cuma sedikit Goody Bag yang menyediakan hal ini. Biasanya nih, yang ada dalam sebuah Goody Bag adalah kaos sponsor, media cetak sponsor (majalah/tabloid/koran), stiker-stiker, pin, topi, dan yang paling banyak biasanya tumpukan brosur.

Saya membatin, kenapa ya?
Memang sih dilihat dari asal katanya Goody. Goody ini berarti benda-benda menarik alias gimmick yang biasanya dibagikan oleh brand-brand besar. Jadi memang ngga salah kalau dalam Goody Bag memang ada kaos/topi/majalah. Atau bahkan (ini saya berdoa suatu saat Goody Bag yang dibagikan berisi) digital kamera, jam tangan, usb atau web cam. Memang ga ada yang salah sih.

Tapi sebentar, kalau ditarik lagi dari asal katanya yaitu: Goods (yang berarti barang). Nah kalau begitu berarti hal yang saya list diatas juga termasuk dalam barang yang secara logika juga perlu ada dalam sebuah Goody Bag.

Don’t get me wrong, I like having freebies on my Goody Bag. Tapi kalau kebanyakan isinya cuma brosur, rasanya agak males juga ya. Saya butuh info seputar event/acara dan saya juga butuh good quality goodies.

So for all the seminar attendee: vote for good quality Goody Bags!!!

Rama’s think:

‘Oleh-oleh’  masih menjadi budaya kita memang. Biasanya kan kalau habis berkunjung ke rumah orang, supaya kunjungan menjadi lebih berkesan kita suka disuruh bawa pulang sesuatu. “Ini makanannya masih banyak.. dibungkusin untuk dibawa pulang ya…”. Dasar dari itu memang adalah agar si pemilik rumah diingat lebih lama oleh si tamu.
Apa yang ‘dibungkusin’ dari si pemilik rumah akan bervariasi, tentunya sesuai dengan kemampuan pemilik rumah. Tapi untuk si tamu… diberikan apapun pasti senang. Hanya saja seberapa akan membekas si bingkisan ini? Nah untuk hal ini bisa tidak terkait dengan kemampuan finansial. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan untuk berpikir. Kira-kira si tamu akan senang dibawakan apa ya…

Kalau saya berkunjung trus waktu pulang dibawain duren pasti jadinya ngedumel. Wong nggak suka duren. Hahaha D

Design Facebook Berubah Lagi

Categories: Uncategorized By: Ramya Prajna S

wp04

Hari ini Facebook melakukan sebuah pembaharuan lagi. Salah satunya adalah dalam hal design. Mungkin beberapa orang ada yang sependapat dengan saya yang kecewa dengan layout baru Facebook (yang saat ini berjalan). Kenapa? karena berbeda dengan layout yang lama dimana seluruh application yang digunakan oleh seseorang ‘dijembreng’ pada 1 halaman profile. Sedangkan pada layout baru application tersebut dimasukkan kedalam tab “Boxes”. Itu pun hanya aplikasi-aplikasi yang memang kita pilih untuk ada di Boxes. Hal ini mengecewakan karena aplikasi yang dapat menjadi ‘ruang branding’  jadi kehilangan fungsi langsung nya.

wp03

Namun baru saya anilisa kemudian bahwa layout yang baru tersebut memang untuk menunjang interaksi & sharing antar pengguna Facebook. Layout ini merupakan solusi jenius dari para UX (User Xperience) expert untuk bisa mendukung konsep networking Facebook.

Social Graph to Stream
Bukan cuman itu, Facebook juga akan mengeluarkan konsep baru untuk News Feed. News Feed adalah salah satu feature Facebook untuk menampilkan activity yang terjadi kita dan teman-teman kita.
Facebook mengalami pertumbuhan jumlah user yang cukup pesat. Hal ini adalah hasil dari konsep Social Graph, sebuah cara dari Facebook untuk memetakan network/connection dari user nya. Dari hal ini kemudian Facebook juga mengembangkan fungsi share nya. Mungkin bayangannya adalah seperti yang apa yang berjalan pada Freindfeed.com.
Namun untuk bisa membatasi apa saja yang mau ditampilkan… Facebook mempermudah system filtering di profile.

News Feed ini akan muncul dalam bentuk  Stream. Jadi seluruh update akan ditampilkan dalam bentuk list update (seperti pada Twitter) atau horizontal scroll (seperti pada plurk). Secara automaticaly website akan me refresh sekitar 10 s.d 15 menit untuk mendapatkan update baru. Feature ini akan di launch pada tanggal 11 Maret minggu depan.

wp011

Facebook Page
wp05

Facebok  Page akan muncul dalam bentuk baru. Secara fungsi dan tampilan akan disamakan juga dengan profil account.  Banyak hal-hal yang bisa dilakukan pada sebuah profile. FB Application yang dipasangkan pada sebuah FB Page akan masuk kedalam tab Boxes.

Hal ini sangat menguntungkan para/Brand atau product owner, karena mereka  bisa berbicara dengan para fans atau menunjukkan profile nya seolah-olah si Brand itu adalah seorang individu.

Foto source: Allfacebook.com, techcrunch.com

Information provided by CrunchBase

Musik loe sampe mana?

Categories: Uncategorized By: stefani

Sabtu kemarin gw datang ke acara sebuah perhelatan musik yang cukup besar di Tennis Indoor Senayan. Terlepas gw datang untuk meliput, gw ingin mengatakan proficiat buat pencetus acara itu!

Acara musik yang mengusung kata ‘Indiefest’ ini punya tujuan untuk meningkatkan kreativitas musik anak bangsa. Acara tersebut adalah anti klimaks dari sebuah festival band yang dicetuskan oleh sebuah brand rokok terkenal di Indonesia. Sebenarnya festival band seperti ini bukan barang baru. ‘Toko-toko’ sebelah juga sudah mengadakan festival serupa, namun konsep dasar band dari acara festival yang gw datangi ini berbeda dari yang ‘toko-toko sebelah’.

Tanpa mencoba mendiskreditkan ‘toko-toko sebelah’,gw cukup salut dengan komitmen yang dibuat dari pencetus acara ini yang ternyata sudah dilakukan sejak 2006 lalu. (Dan gw baru tahu tentang ini tahun 2008 kemarin).Biasanya yang namanya festival, pastilah brand or label yang mensponsori festival tersebut ingin band jebolan festival itu terkenal, komersil, dan musiknya didengar kemana-mana. Kalau mau komersil pastilah harus mengikuti kemauan pasar. Padahal kemauan pasar tidak stagnant. Boleh-boleh saja saat ini ST 12 atau Kangen Band atau bahkan semua band yang mengikuti aliran pop melayu lebih ‘terdengar’ dibanding band-band lainnya. Tapi ini buat berapa lama?

The BanerycrowdNaifThe Morning After

Ketika gw denger musik-musik mereka, terus terang, musik mereka asing ditelinga gw yang sudah terbiasa dengan aliran mainstream dari pihak-pihal label raksasa. Tapi uniknya, mereka punya komunitas yang loyal. Dan ini terlihat ketika gw datang ke konser sabtu malam itu. Para penonton semua sing along saking hapalnya. Dari sekian banyak band-band jebolan festival indiefest itu, cuma satu lagu yang terasa familiar yaitu Efek Rumah Kaca. Dan gw juga heran, karena sambutan untuk Efek Rumah Kaca lebih meriah dibanding ke Andra&The Backbone, yang menjadi bintang tamu juga. Hoho..suprise-suprise!

Hmm.. mengusung kata ‘indefest’ gw jadi bertanya apakah ini yang disebut musik indie? Gw sendiri gak begitu mengerti definisi ‘Indie’ tersebut. Ada yang bilang musik Indie adalah mereka yang melakukan proses rekaman sendiri, distribusi rekamannya sendiri, pokoknya apa-apa sendiri lah. Ada juga di beberapa blog bilang musik indie dalam genre sebenarnya gak ada. Itu hanya untuk membedakan mereka yang ada di aliran mainstream dan mereka yang diluar itu. Ada juga yang bilang, band indie berarti band-band yang masih amatir.Gw juga pernah baca kalau ada yang menganggap ‘Indie’ berarti aliran yang bertentangan dari mainstream label-label raksasa atau kasarnya bentuk pemberontakkan terhadap label. Waduuhh terlalu banyak definisi, akhirnya gw bingung sendiri.

Terlepas apapun definisinya (*minumnya pasti teh botol xxx) musik yang gw denger Sabtu malam itu lebih fresh dan original. Yang keren adalah ketika penonton justru antipati ketika host menyebutkan beberapa band yang justru lagunya heboh banget dan sedang wira-wiri di acara musik seperti Dasyat, Inbox, Derings dsb (yang suka diputer malam-malam dikantor oleh gw). Haha.. oke deh. Sekarang gw jadi tertarik untuk mendengarkan band-band jebolan Indiefest ini, bukan ikut-ikutan, lebih kepada memperluas definisi musik di telinga gw aja. Hehehe..

Which means..tujuan festival itu sukses! Musik mereka sudah terdengar..! (Walau baru di kuping gw aja) Well, saluut! buat yang mencetuskan konsep ini.Keep the good work!

ShareThis

Security konser: “Oh, pers ga boleh masuk!”

Categories: Uncategorized By: citcitcuit

Kayak dejavu ga sih loe ngedenger kalimat diatas?

Buat loe para pencari berita yang berdandan lengkap ala fotografer dengan kamera super canggih, loe pasti ga pernah denger kalimat diatas. Tapi buat para pencari berita berjenis kelamin wanita yang memakai celana jeans dan kaos dengan bermodalkan kamera digital biasa, loe pasti pernah ngedenger kalimat diatas, meski cuma satu kali.

Kayak gue misalnya, kalimat yang sangat menusuk itu baruuuu aja gue alamin. Tepatnya hari Sabtu lalu, di sebuah arena olahraga yang ada di kawasan Senayan. Malam itu, sebuah perhelatan musik yang cukup akbar digelar sangat meriah oleh perusahaan rokok ternama. Tapi, kemeriahan itu agaknya sedikit ternoda oleh perilaku sang security panggung.

Saat hendak mengambil gambar para band-band jebolan festival di DEPAN area festival (maklum, pada malam itu, gue cuma pakai kamera digital, itupun dipinjemin supervisor gue, jadi harus maju kedepan untuk ngedapetin gambar bagus), gue ngeliat beberapa pers yang sebelumnya ada di acara pers conference yang berlangsung satu jam sebelum acara musik dimulai, nangkring di area “bibir panggung” (gue ga tau apa namanya area itu, yang gue tau tempat itu merupakan area untuk memberikan jarak antara pagar untuk penonton dengan panggung). Di area yang berjarak 3 kali lantai keramik berukuran 40×40cm itu (s**t! What did I say? oooggghhh, help me god! this material things make me crazy!), pada awalnya emang cuma dihuni oleh para panitia dan beberapa security. Namun, karena sadar akan berjubelnya penonton, mereka (pers) satu per satu masuk ke area tersebut.

Untuk masuk ke area itu, para pers cukup menunjukkan ID Card-nya. Ada 2 ID Card yang disiapkan panitia, yang satu bertuliskan PERS, yang satu lagi bertuliskan OFFICIAL. Kebetulan, gue dan supervisor gue punya ID bertuliskan OFFICIAL. Mengikuti jejak pers yang lain, gue berusaha masuk. Namun, ketika sampai di pintu yang berada di sisi barat, gue dihalang oleh petugas keamanan yang, maap nih agak kasar ngomongnya, Bodoh! Pertama gue nunjukin ID gue (yang bertuliskan OFFICIAL), eh, dia malah nanya darimana? (are u stupid, or what? official means “panitia”, sir!). Karena bingung akan pertanyaan yang diajukan, gue bilang aja dari PERS. Eh, dia malah ngomong gini: “Oh, pers ga boleh masuk! Diluar aja. (Whaaaatttt??? itu para pers yang udah di dalem, masuknya darimana, terbang? helooooooo).

Karena kecewa, gue dan supervisor gue balik lagi area festival. kebetulan penampilan band-band yang menjadi bintang utama acara ini masih check sound, jadi gue dapet di area depan (secara penonton yang lain cuma duduk-duduk aja, kayak nonton wayang). Trus, tiba-tiba gue ngeliat rekan kantor gue (perempuan juga) ada di area “bibir panggung”. Dia pakai celana pendek, jaket, kamera canggih dan ID Card bertuliskan PERS. karena merasa ada teman di dalam, gue dan supervisor gue balik lagi ke pintu barat. Disitu supervisor gue membisikkan sesuatu ke telinga pak security yang nampaknya sudah berganti orang. Ga lama, gue diperbolehkan masuk. Ya, sepintas mirip adegan saat Cinta yang lagi ngejar-ngejar Rangga, ga bisa masuk pintu bandara di film AADC. hahahahaha… (anyway, thanks stef!)

Sampai didalam, gue ngadu ke teman gue kalo gue ga boleh masuk. Dia heran dan bertanya “Masa sih?”. Abis itu, gue minta temenin dia untuk ke pintu barat dan memperbolehkan supervisor gue masuk. Dan akhirnya kita bertiga ada di area “bibir panggung”. Disitu gue ‘pe-we’ banget, gue bisa dengan bebas memotret para personil NAIF, Andra dan the Backbone dan NIDJI dengan bebas dan sangat jelas (ga buram, ga gelap, ga blur dan… ah, loe pasti tau deh, digicam kalo di zoomnya udah mentok, hasilnya gimana?).

Namun, perasaan bahagia gue ternyata ga dialami oleh supervisor gue. Sampai di area ‘free’ pun, dia masih saja dihantui security bodoh itu. Pertama, dia jatuh dari besi-besi penyanggah gara-gara sang security mengagetkan dia dan menyuruh turun. Sementara para pers lain (yang bersenjatakan kamera super canggih), ga diapa-apain meski berdiri di tempat yang sama dengan supervisor gue. (s**t, ………………., stef, terusin sendiri ya titik-titik di sebelah ini!).

Kedua dan mungkin yang terakhir, setelah turun dari besi penyangga dan duduk di tempat yang disediakan, supervisor gue masih aja diincar security itu. Mulai dari ngeliatin dari bawah sampai atas, menatap muka sambil memberikan pandangan tidak suka, sampai berjalan mendekati posisi supervisor gue seakan memberikan bahasa tubuh yang mengusir (stef, kalau salah diralat ya… gue cuma ngegambarin sedikit dari apa yang loe ceritain).

Anyway…. setelah kira-kira 1 jam berada di “bibir panggung”, acara selesai. Rasa puas, bahagia dan kecewa bercampur jadi satu. Puas karena bisa ngeliat penampilan para personil band-band papan atas Indonesia secara dekat, bahagia karena pengalaman ini bisa gue dapet dari pekerjaan yang sangat gue cintai (kayak pepatah, sambil menyelam minum air) dan kecewa… karena masih ada aja security bodoh di dunia ini! Hahahahahaha…

ps: demi keamanan bersama, gue ga lampirin gambar apapun di tulisan ini.

Facebook Connect Tidak Cuman Untuk Website

Categories: Uncategorized By: Ramya Prajna S Pasti beberapa bulan belakangan kita sering berada dalam kondisi ini: berada pada sebuah cafe atau other hang out places dan ada beberapa meja yang menggunakan laptop dan di layar nya terlihat tampilan Facebook. Jadi inget komik nya Benny & Mice hari Minggu kemarin di Kompas. Notebook nya bagus-bagus tapi kerjanya cari WiFi gratis dan untuk browsing Facebook. Hahahaha. Well, sama sekali nggak ada yang salah sih dengan hal itu. Notebook bagus termasuk preferensi & daya beli masing-masing orang. WiFi dengan internet gratis karena (menurut saya) internet di public space memang seharusnya gratis. ...

-This is just a piece of Brain posting. Visit our blog Brain for full posting, other thought, and more!-