Aku Punya Rumput yang Indah

Categories: Serius Dikit By: citcitcuit

I envy you!
Kira-kira inilah kalimat yang keluar dari mulut perempuan berkawat gigi ini begitu mendengar sang sahabat yang ingin pergi ke NYC mengikuti sang suami. (does he American? Oh No!!! Her husband is Indonesian. Gosh, Lucky you!)

Yes, aku iri padanya. Aku iri karena dia bisa pergi ke Amerika bersama sang suami yang bekerja disana. Aku iri membayangkan dirinya bisa merasakan salju, memakai baju dingin berlapis-lapis di musim dingin tanpa terlihat norak dan memakai baju setipis2nya di musim panas tanpa takut di-siul2in pemuda yg suka nongkrong di pinggir jalan.

1 minggu dia pergi, rasa iri itu belum bisa hilang. Melihat status update-nya di twitter membuatku tambah “panas”. Gimana engga? Coba liat beberapa status update-nya berikut ini:

status nisa1

status nisa2

status nisa4

Buat perempuan bertubuh mungil yang bercita-cita bisa sekolah di Aussie dan tinggal di US ini, status update diatas cukup membuat sedih. Sempet merasa Tuhan ga adil lohhh… (duh, lebay banget sih gue).

Anyway, akhirnya gue jujur kalau gue iri sama dia. And u know what? Dia cuma bilang kalau gue ga perlu merasa iri. Dia sih ga bilang apa penyebabnya. Tapi, status update-nya di twitter setelahnya membuat gue akhirnya menyadarinya sendiri.

status nisa5

status nisa6

Yes, sesungguhnya apa yang kita rasakan terhadap seseorang belum tentu dia rasakan. Mungkin kita yang di Indonesia berpikir; wah, cuaca lagi bersahabat, asiknya dia bisa jalan-jalan di Central Park, sebuah taman diantara gedung2 bertingkat yg terkenal indah itu. But u know what? She miss Jakarta. Kota yang terkenal dengan udaranya yang kotor & sangat macet itu.

Mulai dari situ, gw berpikir. Kalau semua orang merasa “rumput tetangga lebih indah”, tidak ada yang bisa memperindah rumputnya sendiri. So, gw membalikkan badan, melihat baik-baik keadaan rumput gw sendiri, lalu berkata dengan lantang dalam hati: “AKU PUNYA RUMPUT YANG INDAH”

The Art of ‘Kerokan’

Categories: Bla bla bla By: stefani

Gw baru menyadari kalo hal yang begitu simpel pun ada aturannya.

Malam ini gw diminta untuk mengeroki bapak yang lagi sakit masuk angin. “Mengeroki”, “kerokan” berasal dari kata dasar “kerok” (gak tau apakah aktivitas ini sudah masuk ke kamus besar bahasa Indonesia). Kerok itu bisa berarti aktivitas seperti menggaruk ke permukaan sebuah benda. Tapi kalo ditambahn akhiran -an, jadi ‘Kerokan’ adalah aktivitas dengan mengosok kulit yang sebelumnya diolesi oleh balsem dengan uang logam atau sesuatu yang berbentuk bundar dan dari logam.

Nah, konon orang dulu percaya bahwa dengan kerokan menyembuhkan orang yang kena penyakit Masuk Angin. Jadi ketika kulit dikerok, kulit akan membuang angin dalam tubuh dengan tanda ‘merah’ di kulit dari hasil kerokan itu.

Nah, gw sih gak gitu percaya ya.. menurut gw, dimana-mana, kl mengerok kulit sama benda logam, atau benda apapun pasti hasilnya merah. Kulit manusia kan ga setebel kulit badak. Jadi bukan berarti itu ‘angin’ keluar. Well.. aniwei, bapak dan ibu gw sayangnya termasuk orang ‘dulu’ itu.

Back to kerokan, jadi malam ini gw diminta untuk kerokin bapak. Ya sudah, setelah membersihkan diri sehabis pulang kerja, gw pun melaksanakan titah si empunya rumah. Secara dulu gw dulu pernah dikerokin – sebelum menyadari minum obat udah cukup – gw tentu tau dong caranya kerokan.

Kita tinggal membutuhkan balsem, uang logam dan kulit hehe.. ini maksudnya orang yang mo dikerokin. So, how difficult is that. But i guessed i was wrong…

So, bapak merequest dikerokin dari leher sampai pinggang. *sigh.. long way to go*. Dengan pede, gw pun memulai. Oles, oles balsam, lalu kerok dibagian yang ada balsamnya.. terus kerok sampai keluar garis merah. Pokoknya githu..

Eh, belum apa-apa, bapak komentar, “Kalo dileher, jangan melebar, tapi memanjang dong..” – gw hanya menjawab ‘he-eh’ aja. Lalu lanjut lagi dengan aktivitas oles, kerok-kerok sampai merah. Dikit dikit bapak nengok ke belakang mencoba melihat hasil kerokan gw. Apa sih, kaya perlu dinilai segala. Lanjut ke punggung.. lagi-lagi bapak komentar “Jangan jarang-jarang…yang rapet” – lagi-lagi gw hanya komentar “iya” aja dan kembali gw meneruskan kegiatan oles dan kerok ini.

Setelah sampai setengah punggung, bapak melihat ke cermin yang ada di kamar. Yup! Benar sekali saudara-saudara, dia komentar lagi “Kalo ngerok itu searah sama tulang rusuk,biar singkron kiri dan kanan..” Katanya sih maksudnya ngikutin jalur tulang rusuk biar kelihatan rapih.– lha itu bukannya udah ya? Gw melihat hasil kerokan gw. Ke kiri, ke kanan, lalu menatap dari jauh layaknya menilai lukisan, kayanya ga ada yang salah kok.. emang sih agak berantakan dikit, tp kan tadi beliau yang minta rapet rapet antara garis merah ke garis berikutnya. Lagian mengerok kulit kan ga sama kaya gambar diatas kertas yang bisa lurus.. ya kan.

Setelah kerokan sampai pinggang, selesai lah sudah. Dan seperti orang yang habis ditato, bapak bercermin untuk melihat hasil kerokan gw. “Ih.. kamu kerokinnya ga sampai ujung ” Arrghhh…cape dehh. Emang harus rapih sempurna yah? kaya mo dipamerin a la tato aja. Pusing deh…Baru tau kerokan ada rules and regulationnya.

Pas ibu pulang dari latihan koor, ibu melihat hasil kerokan di punggung bapak. Senyum terkulum tercetak di bibirnya. Huh..kayanya sih senyum mencela seperti “Ini anak ngerokin apa ngerokin sih?” Agak sebel tapi jadi lucu juga kalo diinget. Betapa hal yang sederhana pun butuh aturan , dan nilai estetis. Kalau kata anak design kantor gw teori Golden Ratio. Itu bukan ya? Aiihhh… lebay banget. Tapi melihat ketidakpuasan dari wajah bapak, sepertinya orangtua gw sangat menganggap penting rapihnya hasil kerokan itu. Ha.. ha..ha.. OMG.

But, that’s the Art of ‘Kerokan’. Ada yang mo dikerokin?

xxoo ;)

Koyo, air panas dan dinding

Categories: Lumayanlah (setengah serius setengah engga) By: citcitcuit

Setiap traveller pasti punya ‘senjata’ sendiri untuk menghilangkan rasa sakit atau pegal di kakinya. Mulai dari balsem, lotion panas sampai alat pijit elektronik yang harganya semahal tiket pesawat ke Singapur (P-P). Tapi buat gue, senjata itu cuma ada tiga, koyo, air panas dan dinding.

Kenapa koyo?
Karena gue percaya kalau rasa sakit/pegal itu hanya pada titik2 tertentu. Jadi, daripada harus tersiksa dengan panasnya balsem atau lotion di tempat yang sesungguhnya tidak sakit, lebih baik fokus di satu titik.

Kenapa air panas?
Karena waktu kecil gue pernah diajak ke tempat pemandian air panas sama orang tua gue. Mereka bilang, air panas itu berkhasiat untuk menghilangkan pegal-pegal dan mengobati reumatik. Sampai sekarang, gue masih percaya itu.

Untuk menghilangkan pegal di kaki, gue rendam kaki hingga lutut dengan air panas.
Untuk menghilangkan pegal di badan, gue ‘hujani’ dengan air panas dari shower ber-tekanan tinggi.

Buat temen-temen yang satu apartemen sama gue waktu di Singapur, sekarang kalian tahu apa yang menyebabkan gue lama di kamar mandi kan? :D sorry guys!

Kenapa dinding?
Karena waktu SMA, gue ikut ekskul Merpati Putih. Disitu gue diajarkan beberapa teknik peregangan setelah melakukan pemanasan yang cukup melelahkan (lari sekian kilometer). Salah satunya adalah menaikkan kaki keatas dengan posisi tidur. Untuk teknik terakhir ini, biasanya gue menggunakan alat bantu yaitu dinding. Waktunya ga ditentuin sih. Pokoknya sampai loe merasa kaki loe ga ada rasa, loe turunin deh. Lalu tidur telentang dan rasakan aliran darah mengalir ke kaki loe dengan derasnya. Buat yang ga tahan sama ‘kesemutan’, jangan coba2 gerakan ini!

Buat temen2 yang pernah nginep bareng dan satu kamar sama gue, sekarang kalian tahu kan kenapa gue memilih tempat tidur di pojok alias sebelah dinding?

Anyway, mumpung masih suasana tahun baru, gue ucapin Selamat Tahun Baru yah teman-teman… Semoga tahun ini kita bisa lebih baik dari tahun kemarin (standard sih, tapi memang ini kan intinya? :) )