VIP vs Ordinary Joe

Categories: AnalyticsAnalytics GoalBasic MetricsTujuan PengukuranVisit Value By: Anantya

If you are having a party, it is pretty easy to distinguish between your VIP guests from the ordinary Joe.  At least your VIP guest will have that special invitation you sent out or special attire that separates them from the ordinary Joe. But what if you have an online party? How do you distinguish your VIP visitor, they who are highly important to your brand and marketing campaign from they who are not?VIP

This is why, my friend, from this very moment, analytic will be your best friend forever. For those who are familiar with analytic, perhaps the problem is easy enough to solve. One thing that come to attention is to gives tag or label to each visitor. It’s like giving a name label or tag bracelet to your party guest.

But are those really your VIP visitor? Because as it turns out by doing so, you are just monitoring they who are invited to your party, and not particularly your VIP’s.  Another simple way that also comes to mind is to establish a goal and value of visit within your analytic [simpler words; picture a red carpet line, where your VIP visitor should walk upon]. This step could then detect how much of your visitors turn out to be a VIP, and what’s more important is what are those VIP visitor do on your site.

The keys to these simple steps are:

  • Know your site or online marketing goal. And then set that goal on your analytic system
  • Determine the value of your achieved goal
  • See inside your dashboard and analyze the Per Visit Goal Value

By setting goals and also value per visit, you would easily spot that flock of VIP visitor, which door are they coming from, what they actually do and are they qualitatively important to your overall online campaign. The information that we posses of these VIP visitors could then help us treat that visitor with more care.

For example, if you measure the average value of visit and also break your goal based on entry points, you can easily spot which door is the most lucrative to gather up VIP visitor whether it is the AdWords ads or they who come directly to your site or they who come via other payable referrer.  By doing this, you can focus your attention to the door that is beneficial to gather up VIP visitor.  What you can track down and act upon from your VIP visitors is limited only to your needs and imagination.

Interesting isn’t it? By keeping in check with goals and visit value, you can keep track on your VIP visitor. Knowing what your VIP visitor behavior (by digging deeper on your analytics data) would then be beneficial for your digital campaign on the long run.

images: freevegasclubpasses.com

I Miss ‘JavaJazz’ Moment

Categories: Lumayanlah (setengah serius setengah engga) By: citcitcuit

Musik Jazz bisa dibilang ‘ga baru’ di telingaku. Saat masih kuliah dulu, aku seringkali mendatangi Fakultas Ekonomi yang memakan waktu 15 menit jalan kaki dari fakultas ku untuk mendengarkan musik Jazz. Aku juga pernah sengaja mendatangi mall di bilangan Pondok Indah untuk menikmati live music Jazz. Tapi, entah kenapa, aku tidak pernah mendatangi JCC untuk JavaJazz yang konon sudah diselenggarakan selama 4 tahun disana. Bahkan seorang Jamie Cullum & Jason Mraz pun tak mampu mendorong kakiku melangkah ke JCC.

Namun, tahun ini, takdir berkata lain. Lain dari yang aku harapkan. Sangat luar biasa! Aku tidak hanya bisa datang ke JavaJazz, tapi menjadi bagian dari JavaJazz. Menonton (dari media pit lagi! Gosh, I’m so lucky), me-report, foto-foto, makan-makan, kenal-kenalan, mondar-mandir, sampai ditanya-tanyain orang.

Meskipun 4 hari 3 malam ga pulang ke rumah (thanks to tika yg mengijinkanku tidur di kasurnya), kurang tidur & pegal-pegal (maklum, JavaJazz tahun ini diselenggarakan di JIExpo Kemayoran yang luas bangeeetttt), tapi pengalaman baru di JavaJazz ini membuatku kecanduan. Beberapa hari setelah acara selesai, aku merasakan kerinduan. Rindu dengan suasanya, rindu dengan pekerjaannya, rindu dengan teman-teman yang bekerja bersama. ooohh, I miss the moment!

Semoga tahun depan, takdir masih berpihak kepadaku. amiinn…

javajazz

How Much Lemonade Do You Sell?

Categories: AnalyticsBasic Metricsgoal valueOnline ROI By: Anantya

I love to play tycoon games. Lemonade Tycoon, Theme Park Tycoon, Zoo Tycoon, you name it and I’ll play it. I love it so much, until I started to think analytic as one big tycoon game due to the fact that you can do measurement and also predict/monitor your online ROI (return of investment).

Within one of my favorite analytic tools, we were able to measure ROI. Within this tools, ROI is explained as (Revenue – Cost)/Cost and is expressed in percentage. Am I starting to get you frowning? [Don’t! or I was the one you should blame when you need a botox injection in your mid 30’s]. Revenue usually taken from the value you set for your online goal (non e-commerce site) or your e-commerce revenue. Whereas cost is the number of money you spent on that particular campaign.  This ROI can be tracked manually at the end of certain period or you can also have it automated within your analytic tools (depends on your tools ability).

Although perhaps you’ll go down a different ways on measuring your online ROI, several things would maintain the same. For example, an ROI of 0% means that your revenue earned in specific period of time is the same as the amount you spend while trying to achieve your revenue [this translated as: you don’t gain any profit, but at least you are not suffering any lost] 100% ROI means you get double what you spent [huraaa…peeps, it’s time to ask for those performance bonus] and thus (-)% means that you somehow lost and probably still owed someone in the process.

how much lemonade do you sell?This 0%, 100% or even (-) 10% is where the lemonade tycoon game kicks in. It’s basically the same principle. If you wanted to sell lemonade, you have to calculate all the operating expenses; promotion plus ingredients and then you can calculate how much you will be receiving in the end of the day. Simple isn’t it?  And the online world will or might I say can, provide you with that kind of calculation. Back to the numbers, if you think 100% of ROI good, then you’d probably mistaken, because in several cases the ROI can reach up to 1000%! And that is just to gain a break-even point.

Dig deeper on the analytic subject. By calculating how much lemonade you sell, you can also track down which online activity is the most beneficial for you [but first, do yourself a justice and choose yourself a fairly good analytic tools]. Make sure you measure your ROI, or at least your goal value. When you do measure it, you can actually improve your online campaign ability to generate more or higher income. For example you can monitor which keyword perform better than the other, or perhaps which banner contribute to the best selling product, or which product is actually your greatest hero.

Use ROI in analytic not solely based on real ROI measurement, but use it to improve! This is peeps, the best thing about analytic, not the result, not the present ROI but the opportunity for you to really improve your online campaign. So yes, please let’s all play lemonade tycoon the analytic style.

image: christinas-home-remedies.com

Diary of A Perfect Woman

Categories: Bla bla bla By: stefani

Prolog.

Alarm ponsel berbunyi. Aku terbangun menekan tombol ‘snooze’ dan kembali tidur. Sepuluh menit kemudian alarm kembali berbunyi dan memaksaku untuk bangun dan pergi bekerja. Sial! Rutukku dalam hati. Another Monday.Same sh*t different day! Ujarku meyumpah sambil mengambil handuk dengan malas.

Aku basuh seluruh muka, sampai belakang telinga.  Aku guyur air dingin dari bak mandi ke seluruh tubuh sampai pada bagian-bagian tersembunyi di lipatan-lipatan daerah kewanitaanku. Aku cermati seluruh tubuhku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tidak ada yang kendur..semua masih sempurna, ujarku dalam hati. Sekali lagi kuguyur tubuh telanjangku dengan air dingin dengan harapan bisa menghapuskan kegilaanku akhir pekan kemarin. Saatnya kembali menjadi gadis normal, ujarku dalam hati sambil mengenakan busana kantor tertutup, sepatu pantopel dan menyapa ibu dan bapak. “Selamat pagi semua!” ujarku dengan senyuman template.

Jumat.

Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00. Ponsel berulang kali meneriakan lagu  Tata Young “Sexy, Naughty, Bitchy”. Sudah banyak orang menungguku. Damn!Atasanku yang cerewet tidak henti-hentinya memberikan pekerjaan yang membuat bokongku tidak bisa lepas dari tempat duduk. Sial!Sial!Sial! Hanya itu kosakata yang kugunakan selama hari ini. Setelah mencibir, menyumpah dan merutuk dalam hati, aku keluar kantor pukul 19.00. This is it!

Rokok.Tequilla.Laki-laki. Betapa sempurna hidup ini. Upps. Aku ralat. Rokok.alkohol.laki-laki.uang.seks!Hmm…Inilah hidup sempurna.ujarku ketika meraih orgasme malam itu. Alarm ponsel membangunkan diriku. Perlu sedikit nikotin dan kafein untuk mengembalikan kesadaran diriku. Rokok.Kopi.Uang. Tanpa seks. Inilah yang terhebat! Aku langsung menuju kamar mandi hotel dan membersihkan semua bekas di tubuhku dari kegilaan semalam. Aku berpakaian dan menatap sosok laki-laki telanjang yang tidur. Laki-laki bodoh!ujarku sambil meraih sebuah dompet yang tergeletak di tempat tidur. Aku mengambil semua uang yang ada didalamnya dan selembar cek atas nama diriku kemudian keluar kamar.

Sabtu.

Another day. Another problem another trouble. Kembali ke rumah dengan pakaian hari Jumat. Mengaku selalu lembur di kantor. Orangtua percaya dan tidak masalah asal uang mengalir terus. Oke.Aku perlu rokok dan kopi. Coret..kini aku perlu secangkir chamomile tea untuk menyegarkan otakku. Memasak, mengepel, membersihkan rumah. Aku sempurna sebagai anak perempuan yang tahu pekerjaan rumah. Hari cepat sekali berlalu. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00. Pacar mengapel seperti malam minggu sebelum-sebelumnya. Kami menonton, makan, dan sedikit bercumbu. Dia meminta seks. Aku menolaknya. Aku ingin melakukannya jika aku sudah menikah, ujarku beralasan. Dia mengeluh karena tidak bisa menahan birahi. Aku melengos dan meninggalkannya. Kami bertengkar dan ia meminta maaf. Lalu aku kemudian memberikannya ciuman panas sebagai pengganti. Kemudian ia pulang.

Orangtua sudah tidur sejak tadi. Mereka percaya padaku. Mereka tidak tahu aku sudah pulang dan kembali pergi dijemput dengan sebuah mobil ‘mentereng’. Ia tampan mapan dan gampang. Kami mengobrol di apartemennya. Istrinya sedang ke luar kota untuk kepentingan bisnis katanya. Ok jawabku. Rokok.Alkohol.Birahi.Seks.Orgasme.Inilah kesempurnaan, ujarku dalam hati. Aku terbangun dalam keadaan telanjang dan saldo tabungan dollar yang bertambah dua kali lipat. Sebaiknya aku bergegas! Ujarku. Aku bangun, mandi dan memakai pakaian semalam dan bergegas pergi.

Epilog.

“Maafkan aku Tuhan karena aku sudah berdosa” ujarku dalam bilik pengakuan dosa. Keluar dari bilik pengakuan, aku mengikuti misa. Selesai pengakuan dosa dan misa, aku tersenyum pada semua teman-teman dan menyapa mereka. “Selamat pagi semua!” ujarku dengan senyum template. (St.)

Malam-malam sambil cari ide buat Semincil..wakakaka.. menemukan cerpen yang pernah gue tulis zaman dahulu kala. Daripada memenuhi memori laptop gue tanpa guna, akhirnya gue memutuskan untuk memajangnya disini.

Bisalah jadi bacaan iseng buat elo kalo lagi ga ada kerjaan. *gue bilang kalo lho.. tau kok pasti pada sibuk semua wekekeke*

Enjoy!

Live Report Engagement

Categories: EventPortofolioSocial Media MarketingThink.Web By: Ramya Prajna S

jjf-team
Mudah-mudahan tidak berlebihan dan tidak jumawa, tapi saya berani katakan bahwa kami melakukan Live Report yang terbaik di Indonesia.

Live Report Engagement
Bukan sekedar live report, live tweet, ataupun laporan langsung lainnya. Live Report Engagement berusaha memberikan experience yang sama dengan mereka yang membaca atau melihat, dan juga mengajak mereka berinteraksi.

Pengalaman memang tidak pernah berbohong. Saya & Anan sudah memulai melakukan (online) Live Report sejak tahun 2001. A Mild Live Soundrenaline 2001 di Parkir Timur, Jakarta adalah saat pertama.
No mobile broadband, just gprs modem dr Sony Ericcson T68i.
No blog framework, just html pages (and we’re not prepare by CMS engine).
No blackberry, just heavy notebook + low pixel digicam + gprs modem-phone.
But we try to give the actual experience to visitor with articles & photos.

The next year, Soundrenaline 2002, we support for 5 cities. More or less with the same equipment. All the articles & photos put on a microsite, all with list of artist, venue map & schedule.
Web statistik menunjukkan kalau visit & page views meningkat selama event berlangsung. Objektif nya simple, memberikan informasi dan experience yang sama dengan mereka yang kota nya dimampiri. Bahkan untuk kota nya yang dimampiri, liputan ini membuat mereka tidak sabar untuk datang langsung ke acaranya.

Di tahun lainnya kami tidak lagi hanya memberikan articles & photos, kami bergerak ke arah lain. Mirip dengan sebuah blog, kami membuat article khusus dari 3 orang crew fiktif. Masing-masing crew fiktif ini punya jobdesk beda-beda di festival, sehingga memberikan masing-masing angle berbeda.
Begitu kuat dan melekatnya karakter ini tidak sedikit yang mencari-cari nama crew-crew fiktif ini di backstage. Anan juga sering ditebak dengan nama-nama berbeda :D

Setelah memasuki era Social Media channel-channel menjadi lebih jelas dan pintu interaksi lebih terbuka. Tapi kembali lagi kepada strategi. Penulisan, pelaporan dan lainnya sih bisa dilakukan oleh siapapun. Seseorang dengan Blackberry nya dan UberTwitter sudah bisa melakukan Live Report sebuah event. Tapi apakah mampu menciptakan Engagement?

Engagement butuh strategi.
Setelah sekian lama kami tidak lagi melakukan Live Report Engagement, akhirnya kesempatan itu datang lagi. JavaJazz Festival 2010 adalah kesempatan berharga untuk kami.
Setiap tweet & message yang keluar semua dilakukan dengan strategi. Karakter account, activation dengan quiz dan lainnya semua on plan. Termasuk bagaimana mengatasi masalah-masalah technical seperti tidak ada sinyal.
Tentunya apa yang kami lakukan tidak luput dari kesalahan, sebuah hal manusiawi. Menjadi bukti bahwa Live Report Engagement masih dilakukan oleh manusia. Jadi engagement adalah manusia dengan manusia. Crisis Management juga menjadi bagian penting. Bagaimana memanage issue atau crisis dari tanggapan/conversation yang menyimpang atau bahkan dari kesalahan sendiri.

Pada akhirnya yang dituju adalah objective tercapai dan kepuasaan dari followers/fans dari brand yang kami tangani.

jjf03

Invest on Analyst

Categories: analystAnalyticsAnalytics Opinion By: Anantya

Speed Race“Brain is a speed racer”

Kalau otak kita boleh ikut balap formula satu, sepertinya pasti akan menang.  Salah satunya adalah karena adanya jalur Myelinated.  Jalur ini memungkinkan impulse (rangsang) untuk bergerak 10-100 meter per detiknya.  Ini berarti jarak tempuhnya kurang lebih  22.356 mph untuk 10 meter per detik dan  223.561 mph untuk 100 meter per detik. Masih dibawah jarak tempuh cahaya, but still our brain know how to race.

Sedemikian cepatnya kemampuan proses otak, sampai-sampai saya masih berpendapat bahwa kemampuan seorang analyst yang baik masih jauh lebih bernilai daripada tools yang digunakan untuk melakukan analisa.

Bicara soal analisa online, sampai sejauh ini, otak manusia masih lebih prima daripada kemampuan mesin dalam menandai dan mengolah data. Itu kenapa, menurut saya, semua mesin atau perangkat online yang ada hanya berfungsi sebagai alat bantu. Secanggih apapun solusi yang ditawarkan atau digunakan, pada akhirnya keberadaan seorang analyst (human brain) tetap diperlukan.

Dan ternyata pemikiran saya ini tidak sendiri. Konsep pentingnya keberadan analyst dalam sebuah riset online juga dikemukakan oleh beberapa orang. Salah satunya adalah Katie Paine, pemilik sebuah measurement company online di Amerika.  Dalam salah satu rekaman video youtube, Katie berbagi soal pentingnya faktor manusia dan kemampuan menganalisa. Dan beberapa tips nyata yang berhasil saya rekam adalah bahwa untuk jadi seorang analyst yang baik pastikan melakukan 2 hal dibawah ini:

  • Banyak baca buku! Dalam hal analisa mungkin tidak harus baku membaca buku, cukup ambil kata kunci: membaca. Ini berarti bahan bacaannya bisa saja berupa blog, newsletter, email dan apapun yang ada di dunia online.
  • Jadi pendengar yang baik! Ini berarti coba “nguping” pembicaraan yang terjadi di dunia online. Bukan cuma seputar brand yang dihandle, tapi juga sepak terjang kompetitor dan mapping keseluruhan aktivitas.

Yang tertarik denger langsung Katie ideas soal analisa kampanye online, silahkan simak penggalan youtubenya. And at the end if you think that tools is everthing, it’s not! You’ve got to have a good analyst to really improve your online campaign. So yes, invest on analyst or cooperate with a company that could help you to analyze.


Image source: screenrant.com