Harimaumu

Categories: Online Media Social Networking By: Anantya

“Mulutmu Harimaumu”

Kata bijak diatas berlaku untuk kehidupan sehari-hari. Tapi ketika kita memasuki sebuah kehidupan di “ranah online”, apakah kata bijak yang sama masih berlaku? Nampaknya sih iya, sejauh yang dilakukan didalam ranah itu adalah berkomunikasi dengan banyak orang. Walau tidak lagi menggunakan mulut untuk bertutur kata, kita menggunakan tulisan untuk menguntai arti. Mungkin sepertinya lebih pas kalau;

“Tulisanmu Harimaumu”

Jadi kata bijak ini berlaku untuk siapapun yang akan masuk ke dalam ranah online.  Tua-muda, artis-non artis, brand-bukan brand, siapapun! Yang berniat mencelupkan kaki ke dalam ranah ini sepertinya harus mengingat kata bijak yang satu itu. Beberapa korban sudah berjatuhan lantaran kurang memberikan perhatian pada kekuatan sebuah tulisan;

1. Simak kejatuhan motivator handal Mario Teguh di ranah maya, seperti yang dilansir kompasiana. Karena sebuah tulisan yang kontroversial, sang motivator akhirnya memutuskan untuk menutup kisah @marioteguhMTGW.  Alasan Mario Teguh menanggapi masalah ini: tulisan kontroversial tersebut diungkapkan oleh moderator, bukan dirinya.

2. Atau ketika salah satu selebriti cantik “ngamuk-ngamuk” dan akhirnya menutup akun dirinya di Twitter.

3.  Hingga kasus baru yang dilakukan oleh sebuah brand biskuit. Melansir status kontroversial di halaman facebook page, menyulut perbincangan seru di twitter dan juga menarik sebuah media online untuk melakukan pembahasan. Akhirnya sama halnya seperti Mario Teguh dan sang selebriti cantik, brand tersebut menghapus posting dan membuat pengakuan: Kami tidak pernah menulis status apapun yang berhubungan dengan video asusila para artis yang sedang hangat dibicarakan seperti pada status yang tertulis pada tanggal 9 Juni 2010. Kami sedang menyelidiki hal tersebut kepada Social Media Agency kami selaku admin account facebook tersebut.

Ketiga kasus diatas memperlihatkan betapa sebuah status, yang panjangnya hanya beberapa kalimat bisa memiliki “buntut” yang sangat panjang.  Buat saya, ada dua hal menarik yang bisa jadi pembahasan menarik;

Yang pertama, menarik untuk dianalisa bagaimana media dan tekanan sosial menjadi bumbu pemicu dalam pengambilan keputusan akhir terhadap sebuah masalah serta mem”blow up” problem proportion dalam sebuah masalah. Mario Teguh dan si artis cantik mendapatkan tekanan sosial bertubi-tubi dari sesama follower. Ketika tekanan berlangsung, media kemudian menyambar isu dan membuatnya satu hingga dua derajat lebih parah. Hasilnya? Isu semakin berkembang dan tekanan sosial juga semakin besar. Pada kasus terakhir yang menimpa brand biskuit (yang dicontohkan pada nomer 3), misalnya, pada saat status dirilis hanya berhasil menarik komentar dari 56 fans (padahal brand biskuit ini sudah punya lebih dari 9.000 fans, ini berarti hanya 0,6% dari fans yang memberi respond) sebelum akhirnya di”blow up” oleh media dan mendapat tekanan sosial dari Twitter dan sesama pengguna facebook lainnya (dan juga menambah panjang deret komentar status). Mungkin ketika pembicaraan di twitter atau blow up oleh media tidak terjadi, status itu masih ada di facebook page brand dan akan tertumpuk oleh 1001 status lain yang dikeluarkan secara berkala oleh brand.

Yang kedua, menarik untuk dianalisa juga, bahwa hampir ketiganya memilih cara yang sama untuk mengakhiri persoalan yang mereka alami. Baik Mario Teguh, sang artis cantik dan juga brand biskuit memilih untuk melakukan penghapusan (account atau status) serta melakukan klarifikasi penjernihan nama baik.  Memberikan pengakuan merupakan salah satu jalan yang baik untuk menyudahi masalah dan “keep moving forward”, tapi apakah menutup account merupakan solusi terbaik? Simak brand biskuit yang menghapus status tapi tidak menutup account. Ternyata, kesalahan yang dilakukan oleh brand biskuit pada penulisan statusnya tidak mengurungkan niat user untuk bergabung menjadi fans produk tersebut. Selang satu hari setelah insiden status, tercatat fans produk ini meningkat lebih dari 500 orang.

Jadi?  Ketika kita “bersuara” di social media beri perhatian lebih pada content dan context, minta maaf dan ambil langkah strategis bila kebetulan salah ngomong, dan do keep the medium open. At the end there are still people who like you, and perhaps like you even more because you are being honest for your mistakes.

Ketika Social Media Ada [dimana-mana]

Categories: Marketing Social Media Marketing Social Networking facebook By: Anantya

Bicara soal social media, seperti bicara soal sebuah tanah yang hak gunanya dimiliki oleh banyak orang. Saking mudah penggunaannya, peminatnya lebih menjamur daripada rusunami. Mulai dari iklan handphone yang menjual habis  fungsi twitter-an, facebook-an dan chatting, sampai brand-brand yang berlomba masuk dan eksis di facebook.

    Beberapa bahkan rajin mencantumkan url social media mereka di dalam iklan-iklan yang tayang di TV ataupun media cetak.  Belum habis eksis di tayangan iklan, brand juga sudah merasa perlu untuk mengikutsertakan url social media mereka di kemasan produk, sebuah kepentingan yang bahkan belum ada setahun yang lalu.

    Sebuah kepentingan yang tercipta karena tuntutan pengguna. Belum lama ini saya melihat sebuah minuman merek mancanegara yang mencantumkan logo Facebook di kemasannya. Ternyata yang dilakukan si minuman ini adalah melakukan sebuah aktivitas yang berbasis konsumen, memberikan kekuasaan lebih pada konsumen untuk membuat jenis minuman mereka sendiri. Jenis minuman yang paling diminati secara online kemudian di”wujudkan” nyata dan didistribusikan ke seluruh negeri. Salah satu cara cerdas melakukan test market, sebelum melakukan produksi barang baru.

    Itu tadi contoh kasus merek mancanegara, terus apakabar merek lokal? Kita tidak usah bahas merek-merek lokal terkenal ya. Karena kebetulan saya bertemu dengan merek yang baru kemarin saya ketahui keberadaannya, dan merek kecil ini pun sudah “melek” social media.

    Mari kita kenalan dengan “Kree-oks”

    Ada yang tau merek apa ini?
    [belum tau?]

    Gimana kalau saya kasih tambahan embel-embel chip dibelakangnya?
    [udah bisa tebak dong, jenis produknya]

    Ya ternyata si “Kree-oks” ini atau kriuk kalau sambil makan produknya adalah camilan sehat kripik buah kering yang diproduksi di Indonesia dan dikemas oleh sebuah CV di Bandung. Kemasannya sederhana, bersahaja, cenderung polos. Tapi dibalik kebersahajaannya itu, ternyata “Kree-oks” termasuk salah satu panganan yang cukup maju karena dia diam-diam menampilkan eksistensinya di salah satu Social Media.

    Coba cek di sudut kiri atas dibawah bendera Indonesia yang menjulur. Dengan sedikit malu-malu, Kree-oks menampilkan logo Facebook dan keterangan Kreeoks Chips. Walau belum merupakan affinity URL, namun mereka yang memiliki rasa penasaran berlebih macam saya, dapat dengan mudah melakukan proses search di facebook dengan mengetikkan Kreeoks Chips dan dalam hitungan detik akan bertemu dengan facebook groups Kreeoks Chips.

    Penggunaan facebook oleh Kree-oks chip juga memperlihatkan bahwa social media selain untuk mendukung brand engagement juga dapat dipergunakan untuk step pengembangan bisnis. Ketika masuk ke group Kreeoks Chip, tujuan pengembangan bisnis dan promosi produk adalah dua hal yang paling terasa. Walau belum maksimal, tapi apa yang dilakukan Kree-oks menurut saya adalah sebuah langkah besar dalam memanfaatkan teknologi untuk berpromosi dan mengembangkan bisnis.

    PS: Thanks to Mega yang sudah mengenalkan saya pada Kreeoks Chip.

    HOT TOPIC: Social Media Metrics

    Categories: Analytics Analytics Opinion Social Media Measurement facebook social media twitter By: Anantya

    I’m used to measure and see the user habitual in website for almost 4 years now. Thanks to all the tools that has come my way [Google Analytics, Omniture, Coremetrics] it’s all has been a peachy experiment for me. That is until this Social Media thingy come storming like a hurricane.

    Measuring how they affecting the overall site performance is a piece of cake, but really dwelling into Social Media performance and see how the user habit towards it is still a mind boggling, time consuming and snooze-fest activity to do.

    Sure enough two of Indonesia’s highest use Social Media has it’s own analytics. One within the channel, and the other one scattered like a bread crumb that Gretel left like you can see here. But those two type of analytics is not on top of their game yet.

    Facebook for example. Yes, the sought after Social Media is smart enough to prepare a simple analytics for Page owner and Apps developer. But is it user friendly enough, is it accurate enough, is it cover all the important stuff? To regular joe perhaps all that single metrics being displayed are sufficient enough.

    But when you talk to they who accustomed with analytics for more than a year, single metrics is just not enough. People would start wondering and ask: WHAT IF.

    What if “i cross the daily active user with gender/age and cities”
    What if “i cross new fans with specific post”
    What if “i wanted to know the demographic of the abandoned fans”
    and on and on and on…

    Not to mention the need to make a tailored analytics based on our very own or our client needs. To make a good fitted dress a.k.a good online campaign report we need a comprehensive tools. I don’t want to have to hand-sewn all of my custom dresses :)

    PS: Dear Analytics God, let Facebook, Twitter and other aspiring new social media out there hear that i need a comprehensive tools to sewn a good report. Amin.

    Aside from the long path that Facebook team have to ride, their effort on gradually upgrading their service needs a big salute. One of the progress is they are willingly to share more single metrics and start to cross it with several metrics. You can enjoy them at http://www.facebook.com/insights/. Yet, I still have that: WHAT IF moment in my head.

    As an analyst I was dying to have a sufficient tools to expand my analytics mojo, and to spot the exact behavior of my user. I truly wish that Facebook and other Social Media channel out there would gives analytics part a good focus and gradually improve them. Until then, i guess it’s back to the long hour and snooze-fest data collecting method.

    PS: Dear Analytics God, let Facebook, Twitter and other aspiring new social media out there hear this whole prayer. Amin.

    - Photos taken from here -

    Change: The Search Habit

    Categories: Random Thought Social Networking facebook By: Anantya

    Memperhatikan sebuah perubahan terjadi merupakan pekerjaan yang menyenangkan. Bayangkan antisipasi, bayangkan harapan, bayangkan kemajuan. Keisengan saya memperhatikan perubahan itu jugalah yang membersitkan sebuah senyum di wajah saya, setelah seharian lelah bermain kejar-kejaran dengan deadline.

    Alkisah, ketika saya sedang iseng mempergunakan kenyamanan WIFI ditengah sebuah cafe di bilangan Jakarta Selatan. Ketika mata sudah agak lelah memperhatikan status dan update-an foto di Facebook [for the record gue ga mainan ya, Facebook itu bagian dari kerja gue sehari-hari. SUWER], gue melakukan aktivitas yang anehnya tiba-tiba gue lakukan pakai insting. I’m searching!

    Dan baru setelah aktifitas instingtif ini gue lakukan untuk kesekian puluh kalinya, gue baru menyadari satu hal: Facebook is my new search engine!  Yang menarik, hasil search yang ditawarkan datang semeriah munculnya pelangi sehabis hujan.

    Nih contohnya, gue coba untuk search salah salah satu film yang mau gue tonton: the newest Shrek movie di Facebook.  Karena lupa sudah sudah Shrek yang keberapa gue cuma mengetik kata kunci Shrek. Tidak ada awalan dan tidak ada hasilnya. Hasilnya? Fenomenal!!!

    Berlebihan? Nda juga kook. Coba deh banding hasil di google dengan hasil search di Facebook, and i think you’ll get my point.

    Ini hasil search gue di Google dengan  kata kunci Shrek:

    Seperti yang bisa dilihat, hasil pencariannya secara normal menawarkan what’s on Shrek, link ke official sitenya, review dari imdb untuk shrek than 2001, review lagi dari imdb untuk Shrek than 2002, hasil dari wikipedia, amazon, youtube. [menguap] Hum berguna but…nothing seems new.

    Sekarang coba kita lihat apa hasil search gue di Facebook:

    Ini alasan kenapa guess suka hasilnya. Amazingly it refer me to a Shrek page, dimana guess bisa ikutan Ogre Resistance (I don’t know what that is…I haven’t seen the movie, but It definitely make me want to see the movie).  And several other Shrek related Facebook Page.

    The fun is yet to begin because after I see this pages, I also get referrence from my friends that has previously watched the movie. All I got to do is refer to my movie-fanatic fellow to count on how good is the film actually is [if the review is so-so, i opt for DVD session instead]. The Searching journey has got a bit better with this kind of referrence.

    And if I still need the old fashion result, I can always see what Big have to offer :) Neat huh??? Proses pencarian di search engine has just got to a new level. Sekarang yang perlu dilakukan adalah menunggu orang lain untuk menyadari hal yang sudah gue sadari, atau melakukan gerakan “penyadaran”.

    To end my amuzement, and put the last big smile on my face. I just found out that Google feels it’s highly important to make their brand exist on facebook. Lookey down bellow. Google merasa penting untuk menempatkan Facebook Social Ads to advertise Google Chrome! Ok, I know it’s a browser and it’s not the search engine. But nontheles LOL, I still would not search on Chrome if I happen to open Facebook the whole day [not that I actually do it...psttt don't tell anybody!] and do my little searching there? Will in the near future Google advertise itself within Facebook?

    *Opening Chrome – to open facebook – to do my little searching for another life-changing writing material*

    Back From a Hiatus

    Categories: Personal Anan By: Anantya

    Gue merasa seperti beruang besar yang tertidur disaat musim dingin….selama lebih dari 6 bulan absen menorehkan ketikan qwerty ke dalam blog brain. Tapi seperti layaknya semua jenis hibernasi yang terjadi, pasti ada akhirnya.

    Mudah-mudahan sekarang adalah hari terakhir masa “hibernasi” gue. Mudah-mudahan juga tangan gue setuju untuk bermain lagi diatas keyboard Mac yang sudah agak dekil itu. Mudah-mudahan kepala gue masih mau diajak berkeliling jagad maya, duduk manis disebelah pak kusir.

    *flexing her finger, charging her Mac, and seriously thinking of going to the eyedoctor in the weekend ~ this blurry vision is so 70’s*

    Invest on Analyst

    Categories: Analytics Analytics Opinion analyst By: Anantya

    Speed Race“Brain is a speed racer”

    Kalau otak kita boleh ikut balap formula satu, sepertinya pasti akan menang.  Salah satunya adalah karena adanya jalur Myelinated.  Jalur ini memungkinkan impulse (rangsang) untuk bergerak 10-100 meter per detiknya.  Ini berarti jarak tempuhnya kurang lebih  22.356 mph untuk 10 meter per detik dan  223.561 mph untuk 100 meter per detik. Masih dibawah jarak tempuh cahaya, but still our brain know how to race.

    Sedemikian cepatnya kemampuan proses otak, sampai-sampai saya masih berpendapat bahwa kemampuan seorang analyst yang baik masih jauh lebih bernilai daripada tools yang digunakan untuk melakukan analisa.

    Bicara soal analisa online, sampai sejauh ini, otak manusia masih lebih prima daripada kemampuan mesin dalam menandai dan mengolah data. Itu kenapa, menurut saya, semua mesin atau perangkat online yang ada hanya berfungsi sebagai alat bantu. Secanggih apapun solusi yang ditawarkan atau digunakan, pada akhirnya keberadaan seorang analyst (human brain) tetap diperlukan.

    Dan ternyata pemikiran saya ini tidak sendiri. Konsep pentingnya keberadan analyst dalam sebuah riset online juga dikemukakan oleh beberapa orang. Salah satunya adalah Katie Paine, pemilik sebuah measurement company online di Amerika.  Dalam salah satu rekaman video youtube, Katie berbagi soal pentingnya faktor manusia dan kemampuan menganalisa. Dan beberapa tips nyata yang berhasil saya rekam adalah bahwa untuk jadi seorang analyst yang baik pastikan melakukan 2 hal dibawah ini:

    • Banyak baca buku! Dalam hal analisa mungkin tidak harus baku membaca buku, cukup ambil kata kunci: membaca. Ini berarti bahan bacaannya bisa saja berupa blog, newsletter, email dan apapun yang ada di dunia online.
    • Jadi pendengar yang baik! Ini berarti coba “nguping” pembicaraan yang terjadi di dunia online. Bukan cuma seputar brand yang dihandle, tapi juga sepak terjang kompetitor dan mapping keseluruhan aktivitas.

    Yang tertarik denger langsung Katie ideas soal analisa kampanye online, silahkan simak penggalan youtubenya. And at the end if you think that tools is everthing, it’s not! You’ve got to have a good analyst to really improve your online campaign. So yes, invest on analyst or cooperate with a company that could help you to analyze.


    Image source: screenrant.com

    Audibles

    Categories: Uncategorized By: Anantya

    Audio Enables, mungkin itu kepanjangannya. Audibles ini adalah salah satu servis tambahan dari Yahoo Messenger. Bisa dibilang servis tambahan yang penting-penting-ga penting, hampir mirip seperti keberadaan emoticons. Yang kalau ga ada ga papa, tapi kalau ada tambah nge-gemesin. Audibles ini adalah karakter animasi yang punya suara tertentu yang bisa kamu kirimkan ke teman IM kamu. Bentukannya adalah flash movie sederhana.

    Setelah cukup puas dengan audible bergaya internasional, beberapa waktu yang lalu selera lokal mulai merambah audible. Walaupun kata-katanya bisa dibilang kurang asyik;

    Halo Sayang
    Apa Kabar
    Keren
    Eh, Dikacangin
    Alamak!
    Sebentar ya…aku lagi sibuk ni
    Mo jalan-jalan nggak?
    ngomong apa sih?

    Tapi lumayan lah buat lucu-lucuan. Kalau dijejer jadi satu ternyata lucu juga jajaran Audibles ini. Bayangkan percakapan seorang pria setengah baya dengan seorang wanita belia;

    B: Halo Sayang
    B: Apa Kabar
    B: Eh, Dikacangin
    B: Mo jalan-jalan nggak?
    G: ngomong apa sih?
    G: Sebentar ya…aku lagi sibuk ni
    Hasilnya, G kabur, B masih ngarep


    List of Audibles
    Sekarang ada jajaran Audible lokal baru. Dan jajaran Audible ini mewakili salah satu grup musik Indonesia papan tengah; Changcuters. Pertanyaannya? Kenapa harus Changcuters ya? Saya sama sekali belum tahu alasannya, karena menurut saya masih ada banyak band yang lebih melegenda atau sensasional dibanding anak-anak muda ini.

    Tapi ga papa lah, it still fun to see there are other local audibles tersedia di Yahoo Messenger. Bergerak ke penokohannya, untuk yang satu ini penokohannya agak jauh karena yang bisa langsung bisa ketebak cuma sang lead vokalisnya, dengan rambut jambulismenya. Sementara yang lain, sepertinya kurang mirip.

    Keberadaan Changcuters sebagai salah satu Audible buat saya sudah cukup mencengangkan. Setelah mereka merajai kancah soundtrack sinetron dan iklan, kini dengan keberadaan Audibles ini, Changcuters sekelas Madona yang juga punya Audibles di YM.

    Changcuters

     

    Apa yang diomongin Changcuters di YM? Kata-katanya sih seputaran kata-kata gaol anak muda jaman sekarang getoooh;

    • Berangkat
    • Oh Siap
    • Beuh
    • Aw Aw Aw
    • I love you Bibeh (sejak kapan yang ini masuk dalam kosa kata gaol?)

    Gue penasaran banget, siapa yang ngebuat Audible Changcuters ini ya? Btw kalau Changcuters bisa buat Audibles kira-kira Dono Kasino Indro bisa bikin juga ga ya? Gimana Ndro?

    Rama’s Think:

    Yahoo Massenger mungkin bisa mengembangkan self made audible. Semua orang bisa bikin, semua orang bisa sharing. This could be fun. Pasti membuat chatting semakin menyenangkan. Tanpa itu aja menyenangkan ya D

    Another Seminars Another Goody Bag

    Categories: Uncategorized By: Anantya
    So Sweet So Girl
    Creative Commons License photo credit: CoCreatr

    Saya bukan seminar frequent flayer. Tapi ada satu hal yang terkadang menggelitik nurani ketika menghadiri sebuah seminar.

    Isi seminarnya? [jawabannya bukan]
    Pembicaranya? [jawabannya bukan]
    Doorprizenya? [hampir tepat tapi jawabannya masih bukan]
    Goodybag?

    Nah, ini satu hal yang menggelitik saya. Ketika saya menghadiri sebuah seminar, yang ada di benak saya ketika saya baru masuk ke dalam sebuah seminar adalah untuk mendapatkan paling tidak satu hal dari list di bawah ini:

    • list acara
    • sedikit reading material soal acara
    • alat tulis (karena kadang saya suka malas bawa pen and paper)

    Nah biasanya yang paling sering dibagikan sebelum acaranya mulai adalah Goody Bag ini. Jadi ketika saya memasuki ruang seminar, saya mengharapkan kehadiran salah satu dari list barang diatas didalam Goody Bag yang saya dapat untuk paling tidak memberikan panduan untuk saya selama seminar/event.

    Tapi sayangnya, cuma sedikit Goody Bag yang menyediakan hal ini. Biasanya nih, yang ada dalam sebuah Goody Bag adalah kaos sponsor, media cetak sponsor (majalah/tabloid/koran), stiker-stiker, pin, topi, dan yang paling banyak biasanya tumpukan brosur.

    Saya membatin, kenapa ya?
    Memang sih dilihat dari asal katanya Goody. Goody ini berarti benda-benda menarik alias gimmick yang biasanya dibagikan oleh brand-brand besar. Jadi memang ngga salah kalau dalam Goody Bag memang ada kaos/topi/majalah. Atau bahkan (ini saya berdoa suatu saat Goody Bag yang dibagikan berisi) digital kamera, jam tangan, usb atau web cam. Memang ga ada yang salah sih.

    Tapi sebentar, kalau ditarik lagi dari asal katanya yaitu: Goods (yang berarti barang). Nah kalau begitu berarti hal yang saya list diatas juga termasuk dalam barang yang secara logika juga perlu ada dalam sebuah Goody Bag.

    Don’t get me wrong, I like having freebies on my Goody Bag. Tapi kalau kebanyakan isinya cuma brosur, rasanya agak males juga ya. Saya butuh info seputar event/acara dan saya juga butuh good quality goodies.

    So for all the seminar attendee: vote for good quality Goody Bags!!!

    Rama’s think:

    ‘Oleh-oleh’  masih menjadi budaya kita memang. Biasanya kan kalau habis berkunjung ke rumah orang, supaya kunjungan menjadi lebih berkesan kita suka disuruh bawa pulang sesuatu. “Ini makanannya masih banyak.. dibungkusin untuk dibawa pulang ya…”. Dasar dari itu memang adalah agar si pemilik rumah diingat lebih lama oleh si tamu.
    Apa yang ‘dibungkusin’ dari si pemilik rumah akan bervariasi, tentunya sesuai dengan kemampuan pemilik rumah. Tapi untuk si tamu… diberikan apapun pasti senang. Hanya saja seberapa akan membekas si bingkisan ini? Nah untuk hal ini bisa tidak terkait dengan kemampuan finansial. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan untuk berpikir. Kira-kira si tamu akan senang dibawakan apa ya…

    Kalau saya berkunjung trus waktu pulang dibawain duren pasti jadinya ngedumel. Wong nggak suka duren. Hahaha D

    Apa sih ukuran pertemanan?

    Categories: Uncategorized By: Anantya Dalam sebuah hubungan, apa sih sebenarnya penanda sebuah kesetiaan. Dalam hubungan suami istri biasanya tanda kesetiaan ditandai dengan sebuah cincin. Kalau dalam hubungan pertemanan, tanda kesetiaannya ditandai dengan apa ya? Pertanyaan yang menarik karena tidak mudah untuk mengukur kesetiaan seorang teman. Yang dapat dilakukan hanyalah melakukan tes kesetiaan. Caranya? Dari tadi kebanyakan nanya ya? (eh itu udah pertanyaan ketiga, empat kalau judul dihitung). Kebetulan saya mendapatkan jawaban soal bagaimana melihat kesetiaan seseorang, tapi sayangnya tes kesetiaan ini sekarang sudah berakhir. Tapi karena testnya menarik, saya bagi ya disini. Jadi tes ini adalah untuk melihat ...br/ br/ -This is just a piece of Brain posting. Visit our blog Brain for full posting, other thought, and more!-div class="feedflare" a href="http://feeds2.feedburner.com/~f/ThinkWebBrain?a=Oj1EaVCw"img src="http://feeds2.feedburner.com/~f/ThinkWebBrain?i=Oj1EaVCw" border="0"/img/a a href="http://feeds2.feedburner.com/~f/ThinkWebBrain?a=ALGxKODG"img src="http://feeds2.feedburner.com/~f/ThinkWebBrain?d=41" border="0"/img/a a href="http://feeds2.feedburner.com/~f/ThinkWebBrain?a=gdFiNG7w"img src="http://feeds2.feedburner.com/~f/ThinkWebBrain?d=52" border="0"/img/a /divimg src="http://feeds2.feedburner.com/~r/ThinkWebBrain/~4/4SMe9SKGKsg" height="1" width="1"/

    Bahasa Burung

    Categories: Uncategorized By: Anantya Ada berapa bahasakah di dunia ini? Ada yang tahu? Karena kelewat penasaran saya google jawabannya, salah satunya ditawarkan oleh ethnologue.com dengan 6.912 bahasa. Banyak banget ya? Penasaran lagi apakah bahasa ini sudah termasuk dengan bahasa gaulnya Debby Sahertian ya? Atau bahasanya Chincha Lawra? Ah tapi bukan bahasa gaulnya Debby Sahertian atau bahasa campur-campurnya Chincha Lawra yang mo saya bahas disini. Akika sutra tawares kalo soal bahasa gaul debby sahertian dan already paham chekali bahachanya chincha lawra. Nah sekarang ada satu bahasa yang menarik: Twitter Lingo! Kebanyakan kata-kata di Twitter Linggo ini berawalan dengan ...br/ br/ -This is just a piece of Brain posting. Visit our blog Brain for full posting, other thought, and more!-div class="feedflare" a href="http://feeds.feedburner.com/~f/ThinkWebBrain?a=EWaU8Q.p"img src="http://feeds.feedburner.com/~f/ThinkWebBrain?i=EWaU8Q.p" border="0"/img/a a href="http://feeds.feedburner.com/~f/ThinkWebBrain?a=WjjRir.P"img src="http://feeds.feedburner.com/~f/ThinkWebBrain?i=WjjRir.P" border="0"/img/a a href="http://feeds.feedburner.com/~f/ThinkWebBrain?a=SFiv8P.P"img src="http://feeds.feedburner.com/~f/ThinkWebBrain?i=SFiv8P.P" border="0"/img/a /divimg src="http://feeds.feedburner.com/~r/ThinkWebBrain/~4/518292017" height="1" width="1"/