4 L (Lu Lagi Lu Lagi)

Categories: Lumayanlah (setengah serius setengah engga) By: citcitcuit

Di dunia nyata, kata “Lu Lagi Lu Lagi” yang disingkat 4L mungkin lebih pas diucapkan dalam benak awak kendaraan umum untuk seseorang yang selalu naik kendaraannya selama bertahun-tahun. Saking seringnya, sang awak kendaraan mungkin sudah hapal pakaian, tempat tujuan sampai kebiasaan bayarnya.

Kalau di dunia online, kata “Lu Lagi Lu Lagi” biasa diucapkan dalam benak admin sebuah akun brand/event/activity yang menyelenggarakan kuis. Seperti diriku misalnya. Semakin banyak kuis online yang saya (dan tim social media di think.web) manage, makin sering saya melihat akun-akun yang sama mengikuti kuis tersebut.

Saya tidak melarang mereka ikutan, saya justru senang. Asal memang kreatif dan mengikuti aturan kuis yang telah ditentukan. :)

Saya pernah menemui seseorang yang sanggup membuat saya ‘menghela napas’ dan bergumam “Lu Lagi Lu Lagi”. Sebut saja si A, Dia tergolong ‘rajin’ mengikuti kuis-kuis yang diselenggarakan oleh brand/event/activity yang saya (dan tim social media di think.web) manage. Sayangnya si A kurang kreatif & kurang mengikuti rules yang sudah ditentukan, sehingga tidak menang. Misalkan kuis berjalan di Facebook, tapi si A jawabnya di twitter. Tapi si A tampaknya tidak peduli. Entah karena ‘kurang’ cerdas, atau memang malas baca peraturan. Dia bahkan sempat tidak terima ketika bukan dia yang memenangkan kuis tersebut & mengirimkan message bahwa dia butuh hadiah tersebut untuk berobat.

Tidak hanya itu, “Lu Lagi Lu Lagi” juga berlaku untuk anak remaja (bukan ABG yah saya nulisnya), yang ‘ga bisa diam’ kalo ikutan kuis. Mereka adalah kelompok usia yang berjasa membuat sebuah kuis ramai, tapi sayangnya malas membaca. Dikit-dikit, tanya! pengumuman pemenang telat sedikit, ramai! Pemenang yang (menurut mereka) biasa aja, ga terima! *Doh*

But anyway, hal-hal seperti ini justru membuat saya belajar. Belajar mengelus dada, belajar tertawa, belajar mengerti adik-adik dengan me-respon mereka dengan baik. Untuk yang belajar merespon itu saya pelajari dari jeng tika. Perempuan yang kini tampil cantik tanpa kacamata dan rambut lurus itu mempunyai trik-trik unik dalam me-respon remaja-remaja yang ‘ga bisa diam’. Hehehe… Thanks kakak! Mungkin saya harus lebih sering bergaul sama yang lebih muda ya. :D

Perempuan 2.0

Categories: Serius Dikit By: citcitcuit

Pagi-pagi sblm brangkat ke kantor, aku melihat bocah-bocah perempuan memakai pakaian adat jalan beriringan di sisi jalan. Sang guru yang membimbingnya berada di bagian depan & belakang. Sayang tidak ada suara-suara nyanyian “Ibu Kita Kartini” mengiringi mereka. Entah karena kelelahan menggunakan pakaian adat sambil berjalan kaki atau memang tidak hapal.

Apapun itu, aku salut pada mereka yang sudah ‘merayakan’ hari besar secara kecil-kecilan bagi perempuan di Indonesia.

Akupun juga tidak mau kalah. Meski tidak menggunakan pakaian adat ke kantor, aku juga ingin merayakan hari kartini. Namun, dengan cara yang berbeda.

Caraku merayakan hari Kartini adalah dengan mengajak perempuan-perempuan Indonesia untuk menjadi perempuan 2.0 (baca: two point o).

Perempuan 2.0 adalah perempuan yang melek teknologi & dunia maya. Dia tidak harus memiliki handphone yang canggih atau komputer dengan processor terbaru, tapi dia tahu bagaimana caranya mengoperasikan komputer dan berkelana di dunia maya.

Menurutku, dunia maya saat ini hampir mirip dengan dunia nyata. Banyak kejujuran terungkap disana, meski banyak juga kebohongan yang tersembunyi disana.

Coba saja kamu ketik nama lengkap seseorang yang baru kamu kenal di google dan lihatlah hasilnya. Sederetan akun pribadinya di jejaring sosial pasti akan muncul. Facebook, twitter & friendster adalah 3 media yg biasanya terlihat di deretan atas. Buka akun mereka, lalu lakukan apa yang kamu mau. Cek relationship statusnya, liat foto2nya, liat siapa teman-temannya, atau lihat status update-nya. Temukan kejujuran & kebohongan disana.

Perempuan 2.0 adalah perempuan yang tidak langsung percaya dengan lelaki yang baru dikenal sebelum melihat akunnya di media sosial.

Perempuan 2.0 adalah perempuan yang cerdas menganalisa kebohongan/kejujuran yang ada di dunia maya.

Tidak susah bukan?

Selamat hari Kartini, perempuan 2.0!

I Miss ‘JavaJazz’ Moment

Categories: Lumayanlah (setengah serius setengah engga) By: citcitcuit

Musik Jazz bisa dibilang ‘ga baru’ di telingaku. Saat masih kuliah dulu, aku seringkali mendatangi Fakultas Ekonomi yang memakan waktu 15 menit jalan kaki dari fakultas ku untuk mendengarkan musik Jazz. Aku juga pernah sengaja mendatangi mall di bilangan Pondok Indah untuk menikmati live music Jazz. Tapi, entah kenapa, aku tidak pernah mendatangi JCC untuk JavaJazz yang konon sudah diselenggarakan selama 4 tahun disana. Bahkan seorang Jamie Cullum & Jason Mraz pun tak mampu mendorong kakiku melangkah ke JCC.

Namun, tahun ini, takdir berkata lain. Lain dari yang aku harapkan. Sangat luar biasa! Aku tidak hanya bisa datang ke JavaJazz, tapi menjadi bagian dari JavaJazz. Menonton (dari media pit lagi! Gosh, I’m so lucky), me-report, foto-foto, makan-makan, kenal-kenalan, mondar-mandir, sampai ditanya-tanyain orang.

Meskipun 4 hari 3 malam ga pulang ke rumah (thanks to tika yg mengijinkanku tidur di kasurnya), kurang tidur & pegal-pegal (maklum, JavaJazz tahun ini diselenggarakan di JIExpo Kemayoran yang luas bangeeetttt), tapi pengalaman baru di JavaJazz ini membuatku kecanduan. Beberapa hari setelah acara selesai, aku merasakan kerinduan. Rindu dengan suasanya, rindu dengan pekerjaannya, rindu dengan teman-teman yang bekerja bersama. ooohh, I miss the moment!

Semoga tahun depan, takdir masih berpihak kepadaku. amiinn…

javajazz

Dimana penyemangatmu?

Categories: Serius Dikit By: citcitcuit

“Cha, mana? Kok ga update lagi blog-nya?”

Teguran dari sang teman, erwin, diatas seakan membangunkanku dari ‘penerbangan’ menyenangkan bersama lamunan.

Ya, selama 1 bulan ini, aku seakan berada di awang-awang. Terbelenggu dengan rutinitas yang seakan-akan tidak ada habisnya. Aku ingin menginjak bumi, aku ingin bisa melenggang tanpa beban, aku ingin berjalan, berlari dan bermain dengan imajinasiku. Imajinasi yang liar tanpa batas, imajinasi yang bebas tanpa kekangan.

Tapi dimana aku bisa menemukan hal itu?

Selain di SURGA, ternyata aku bisa menemukan itu dalam pekerjaanku.
Pekerjaan yang sangat menyenangkan dengan orang-orang yang mengasyikan.
Pekerjaan yang menantang kreativitas.
Pekerjaan yang menuntutku berimajinasi dengan sebebas-bebasnya.

Tapi, bukankah pekerjaan itu sumber beban?

Ya, pekerjaan memang bisa menimbulkan beban. Beban yang akan terasa ringan jika dilakukan dengan ikhlas. Menurutku, kuncinya ada di SEMANGAT. Semangat yang bisa membuat kita tersenyum kembali saat beban itu menghampiri.

Lalu, dimana penyemangatmu?

Masing-masing orang memiliki penyemangat yang berbeda-beda. Mulai dari sahabat, pacar atau bahkan sesuatu yang tidak bernyawa, seperti rokok & minuman. Buatku, penyemangat itu ada pada sebuah kalimat. Kalimat sederhana yang membuatku berpikir, merenung & merasa bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh yang maha Kuasa. Seperti yang menempel pada monitor di meja kerjaku ini:

monitor1

“Yeah, Write!”
“Looks on the Bright Side”
“Have a nice day”
“Live Love Laugh”
“There aren’t many people out there like me, so I’m proud to be myself”

Aku Punya Rumput yang Indah

Categories: Serius Dikit By: citcitcuit

I envy you!
Kira-kira inilah kalimat yang keluar dari mulut perempuan berkawat gigi ini begitu mendengar sang sahabat yang ingin pergi ke NYC mengikuti sang suami. (does he American? Oh No!!! Her husband is Indonesian. Gosh, Lucky you!)

Yes, aku iri padanya. Aku iri karena dia bisa pergi ke Amerika bersama sang suami yang bekerja disana. Aku iri membayangkan dirinya bisa merasakan salju, memakai baju dingin berlapis-lapis di musim dingin tanpa terlihat norak dan memakai baju setipis2nya di musim panas tanpa takut di-siul2in pemuda yg suka nongkrong di pinggir jalan.

1 minggu dia pergi, rasa iri itu belum bisa hilang. Melihat status update-nya di twitter membuatku tambah “panas”. Gimana engga? Coba liat beberapa status update-nya berikut ini:

status nisa1

status nisa2

status nisa4

Buat perempuan bertubuh mungil yang bercita-cita bisa sekolah di Aussie dan tinggal di US ini, status update diatas cukup membuat sedih. Sempet merasa Tuhan ga adil lohhh… (duh, lebay banget sih gue).

Anyway, akhirnya gue jujur kalau gue iri sama dia. And u know what? Dia cuma bilang kalau gue ga perlu merasa iri. Dia sih ga bilang apa penyebabnya. Tapi, status update-nya di twitter setelahnya membuat gue akhirnya menyadarinya sendiri.

status nisa5

status nisa6

Yes, sesungguhnya apa yang kita rasakan terhadap seseorang belum tentu dia rasakan. Mungkin kita yang di Indonesia berpikir; wah, cuaca lagi bersahabat, asiknya dia bisa jalan-jalan di Central Park, sebuah taman diantara gedung2 bertingkat yg terkenal indah itu. But u know what? She miss Jakarta. Kota yang terkenal dengan udaranya yang kotor & sangat macet itu.

Mulai dari situ, gw berpikir. Kalau semua orang merasa “rumput tetangga lebih indah”, tidak ada yang bisa memperindah rumputnya sendiri. So, gw membalikkan badan, melihat baik-baik keadaan rumput gw sendiri, lalu berkata dengan lantang dalam hati: “AKU PUNYA RUMPUT YANG INDAH”

Koyo, air panas dan dinding

Categories: Lumayanlah (setengah serius setengah engga) By: citcitcuit

Setiap traveller pasti punya ‘senjata’ sendiri untuk menghilangkan rasa sakit atau pegal di kakinya. Mulai dari balsem, lotion panas sampai alat pijit elektronik yang harganya semahal tiket pesawat ke Singapur (P-P). Tapi buat gue, senjata itu cuma ada tiga, koyo, air panas dan dinding.

Kenapa koyo?
Karena gue percaya kalau rasa sakit/pegal itu hanya pada titik2 tertentu. Jadi, daripada harus tersiksa dengan panasnya balsem atau lotion di tempat yang sesungguhnya tidak sakit, lebih baik fokus di satu titik.

Kenapa air panas?
Karena waktu kecil gue pernah diajak ke tempat pemandian air panas sama orang tua gue. Mereka bilang, air panas itu berkhasiat untuk menghilangkan pegal-pegal dan mengobati reumatik. Sampai sekarang, gue masih percaya itu.

Untuk menghilangkan pegal di kaki, gue rendam kaki hingga lutut dengan air panas.
Untuk menghilangkan pegal di badan, gue ‘hujani’ dengan air panas dari shower ber-tekanan tinggi.

Buat temen-temen yang satu apartemen sama gue waktu di Singapur, sekarang kalian tahu apa yang menyebabkan gue lama di kamar mandi kan? :D sorry guys!

Kenapa dinding?
Karena waktu SMA, gue ikut ekskul Merpati Putih. Disitu gue diajarkan beberapa teknik peregangan setelah melakukan pemanasan yang cukup melelahkan (lari sekian kilometer). Salah satunya adalah menaikkan kaki keatas dengan posisi tidur. Untuk teknik terakhir ini, biasanya gue menggunakan alat bantu yaitu dinding. Waktunya ga ditentuin sih. Pokoknya sampai loe merasa kaki loe ga ada rasa, loe turunin deh. Lalu tidur telentang dan rasakan aliran darah mengalir ke kaki loe dengan derasnya. Buat yang ga tahan sama ‘kesemutan’, jangan coba2 gerakan ini!

Buat temen2 yang pernah nginep bareng dan satu kamar sama gue, sekarang kalian tahu kan kenapa gue memilih tempat tidur di pojok alias sebelah dinding?

Anyway, mumpung masih suasana tahun baru, gue ucapin Selamat Tahun Baru yah teman-teman… Semoga tahun ini kita bisa lebih baik dari tahun kemarin (standard sih, tapi memang ini kan intinya? :) )

Security konser: “Oh, pers ga boleh masuk!”

Categories: Uncategorized By: citcitcuit

Kayak dejavu ga sih loe ngedenger kalimat diatas?

Buat loe para pencari berita yang berdandan lengkap ala fotografer dengan kamera super canggih, loe pasti ga pernah denger kalimat diatas. Tapi buat para pencari berita berjenis kelamin wanita yang memakai celana jeans dan kaos dengan bermodalkan kamera digital biasa, loe pasti pernah ngedenger kalimat diatas, meski cuma satu kali.

Kayak gue misalnya, kalimat yang sangat menusuk itu baruuuu aja gue alamin. Tepatnya hari Sabtu lalu, di sebuah arena olahraga yang ada di kawasan Senayan. Malam itu, sebuah perhelatan musik yang cukup akbar digelar sangat meriah oleh perusahaan rokok ternama. Tapi, kemeriahan itu agaknya sedikit ternoda oleh perilaku sang security panggung.

Saat hendak mengambil gambar para band-band jebolan festival di DEPAN area festival (maklum, pada malam itu, gue cuma pakai kamera digital, itupun dipinjemin supervisor gue, jadi harus maju kedepan untuk ngedapetin gambar bagus), gue ngeliat beberapa pers yang sebelumnya ada di acara pers conference yang berlangsung satu jam sebelum acara musik dimulai, nangkring di area “bibir panggung” (gue ga tau apa namanya area itu, yang gue tau tempat itu merupakan area untuk memberikan jarak antara pagar untuk penonton dengan panggung). Di area yang berjarak 3 kali lantai keramik berukuran 40×40cm itu (s**t! What did I say? oooggghhh, help me god! this material things make me crazy!), pada awalnya emang cuma dihuni oleh para panitia dan beberapa security. Namun, karena sadar akan berjubelnya penonton, mereka (pers) satu per satu masuk ke area tersebut.

Untuk masuk ke area itu, para pers cukup menunjukkan ID Card-nya. Ada 2 ID Card yang disiapkan panitia, yang satu bertuliskan PERS, yang satu lagi bertuliskan OFFICIAL. Kebetulan, gue dan supervisor gue punya ID bertuliskan OFFICIAL. Mengikuti jejak pers yang lain, gue berusaha masuk. Namun, ketika sampai di pintu yang berada di sisi barat, gue dihalang oleh petugas keamanan yang, maap nih agak kasar ngomongnya, Bodoh! Pertama gue nunjukin ID gue (yang bertuliskan OFFICIAL), eh, dia malah nanya darimana? (are u stupid, or what? official means “panitia”, sir!). Karena bingung akan pertanyaan yang diajukan, gue bilang aja dari PERS. Eh, dia malah ngomong gini: “Oh, pers ga boleh masuk! Diluar aja. (Whaaaatttt??? itu para pers yang udah di dalem, masuknya darimana, terbang? helooooooo).

Karena kecewa, gue dan supervisor gue balik lagi area festival. kebetulan penampilan band-band yang menjadi bintang utama acara ini masih check sound, jadi gue dapet di area depan (secara penonton yang lain cuma duduk-duduk aja, kayak nonton wayang). Trus, tiba-tiba gue ngeliat rekan kantor gue (perempuan juga) ada di area “bibir panggung”. Dia pakai celana pendek, jaket, kamera canggih dan ID Card bertuliskan PERS. karena merasa ada teman di dalam, gue dan supervisor gue balik lagi ke pintu barat. Disitu supervisor gue membisikkan sesuatu ke telinga pak security yang nampaknya sudah berganti orang. Ga lama, gue diperbolehkan masuk. Ya, sepintas mirip adegan saat Cinta yang lagi ngejar-ngejar Rangga, ga bisa masuk pintu bandara di film AADC. hahahahaha… (anyway, thanks stef!)

Sampai didalam, gue ngadu ke teman gue kalo gue ga boleh masuk. Dia heran dan bertanya “Masa sih?”. Abis itu, gue minta temenin dia untuk ke pintu barat dan memperbolehkan supervisor gue masuk. Dan akhirnya kita bertiga ada di area “bibir panggung”. Disitu gue ‘pe-we’ banget, gue bisa dengan bebas memotret para personil NAIF, Andra dan the Backbone dan NIDJI dengan bebas dan sangat jelas (ga buram, ga gelap, ga blur dan… ah, loe pasti tau deh, digicam kalo di zoomnya udah mentok, hasilnya gimana?).

Namun, perasaan bahagia gue ternyata ga dialami oleh supervisor gue. Sampai di area ‘free’ pun, dia masih saja dihantui security bodoh itu. Pertama, dia jatuh dari besi-besi penyanggah gara-gara sang security mengagetkan dia dan menyuruh turun. Sementara para pers lain (yang bersenjatakan kamera super canggih), ga diapa-apain meski berdiri di tempat yang sama dengan supervisor gue. (s**t, ………………., stef, terusin sendiri ya titik-titik di sebelah ini!).

Kedua dan mungkin yang terakhir, setelah turun dari besi penyangga dan duduk di tempat yang disediakan, supervisor gue masih aja diincar security itu. Mulai dari ngeliatin dari bawah sampai atas, menatap muka sambil memberikan pandangan tidak suka, sampai berjalan mendekati posisi supervisor gue seakan memberikan bahasa tubuh yang mengusir (stef, kalau salah diralat ya… gue cuma ngegambarin sedikit dari apa yang loe ceritain).

Anyway…. setelah kira-kira 1 jam berada di “bibir panggung”, acara selesai. Rasa puas, bahagia dan kecewa bercampur jadi satu. Puas karena bisa ngeliat penampilan para personil band-band papan atas Indonesia secara dekat, bahagia karena pengalaman ini bisa gue dapet dari pekerjaan yang sangat gue cintai (kayak pepatah, sambil menyelam minum air) dan kecewa… karena masih ada aja security bodoh di dunia ini! Hahahahahaha…

ps: demi keamanan bersama, gue ga lampirin gambar apapun di tulisan ini.

Kamar Mandi = Tempat Persembunyian

Categories: Uncategorized By: citcitcuit

modernbathroom-httpmediadwellcom.jpg

Selain untuk membersihkan tubuh, apa sih fungsi kamar mandi buat loe?

Buat sebagian orang, kamar mandi hanya sebagai tempat mandi.

Tapi ada juga sebagian orang yang menganggap kamar mandi sebagai tempat mencari inspirasi.

Ada juga yang menganggap kamar mandi sebagai sebuah panggung rahasia, dimana Ia bisa mengeskpresikan diri sesuka hatinya, seperti bernyanyi dan berakting. Orang-orang seperti ini biasanya disebut sebagai orang-orang yang cuma “jago kandang”. Beraninya cuma kalau ga ada yang lihat.

Yang lebih ekstrem, ada orang yang menganggap kamar mandi sebagai tempat bersenggama. Makanya ada beberapa rumah yang pemiliknya sangat memperhatikan kenyamanan di dalam kamar mandinya.

Semua manusia pasti punya konsep sendiri di kepalanya tentang kamar mandi. Seperti halnya diriku sendiri,  menurut gue, kamar mandi itu merupakan tempat persembunyian.

Ketika gue ingin melarikan diri dari dunia nyata yang bisa membuat gue sakit kepala, gue lari ke kamar mandi.

Ketika gue merasa jenuh dengan rutinitas yang menguras tenaga, gue lari ke kamar mandi.

Ketika kaum adam mulai membuat masalah yang menguras pikiran, gue lari ke kamar mandi.

Ya, itulah mengapa gue merasa kamar mandi adalah tempat persembunyian gue.

Di dalam kamar mandi, gue bisa membebaskan pikiran, menenangkan hati sekaligus menghibur diri.

Di dalam kamar mandi, gue bisa bebas mengekspresikan apa yang bergejolak di dalam hati.

Menangis, tertawa serta meyakinkan diri bahwa gue bisa melalui semua masalah dengan mulus adalah beberapa hal yang biasa gue lakukan di kamar mandi.

Gue percaya, Tuhan tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan kita.

Kepercayaan inilah yang membuat gue yakin bahwa setiap manusia dapat melewati ujian yang diberikan Tuhan dengan sendiri.

Buat gue, kuncinya adalah yakin dan kamar mandi. Hahaha…

Sumber foto: http://media.dwell.com

Menjadi Dewasa (Part1)

Categories: Uncategorized By: citcitcuit

menjadidewasa.jpg

Suatu ketika, ada seorang anak kecil bertanya kepada ibunya,

“Bu, menjadi dewasa itu seperti apa sih?” tanya sang anak

“Menjadi dewasa itu berarti kamu sudah bisa cari duit sendiri nak.” jawab sang ibu.

Tahun berganti, sang anak pun tumbuh besar. Ia kini telah menjadi remaja.

Entah karena pengaruh media atau pergaulan, sang anak bertanya lagi kepada sang Ibu tentang kedewasaan.

“Bu, menjadi dewasa itu seperti apa sih?” tanya sang anak

“Menjadi dewasa itu berarti kamu sudah bisa cari duit sendiri nak.” jawab sang ibu.

Tahun terus berganti, hingga akhirnya sang anak sudah bisa mencari duit sendiri. Ia pikir, hal yang dikerjakannya sekarang adalah suatu wujud nyata dari kedewasaan. Tapi ternyata, sang Ibu malah menegurnya untuk menjadi dewasa.

Si anak pun kebingungan. Hendak kemana Ia mencari jawaban tersebut?

Ternyata Ia menemukan arti kedewasaan dari sang kekasih.

Sang kekasih yang telah bersamanya selama tiga tahun, mengajarkan sang perempuan untuk menjadi dewasa lewat sikapnya.

Sang pria yang dulu selalu ada bersama sang perempuan, kini tidak selalu.

Sang pria yang dulu bisa mengerti kemauan sang perempuan, kini tidak bisa mengerti.

Sang pria yang dulu bisa menjaga hati sang perempuan, kini tidak bisa lagi.

Sang pria kini telah berubah.

Ketika sang perempuan menanyakan tentang perubahan sikapnya, sang pria justru menyuruh sang perempuan untuk dewasa.

Ada apa dengan Dewasa (AADD)?

Jadi Orang Kaya

Categories: Uncategorized By: citcitcuit

Pertama kali datang untuk interview di kantor ini gue ditanya soal cita-cita gue.

Mau tahu jawaban gue?

“Mau Jadi Orang Kaya”

Hahahaha… mungkin jawaban ini terdengar sangat klise. Tapi ini benar. Menjadi Orang kaya adalah impian terbesar gue. Mungkin juga semua orang.

Tapi setiap orang pasti mempunyai definisi yang berbeda-beda.

Kalau buat gue, orang kaya itu bukan cuma kaya harta, tapi lebih luas maknanya.

Menjadi kaya adalah saat dimana engkau dapat menghabiskan masa tua di sebuah tempat yang damai, teduh nan jauh dari pusat kota. Tidak perlu jauh-jauh pergi, karena semua fasilitas tersedia dirumah. Mau makan? tinggal petik sayuran yang tumbuh dan ambil ikan di kolam yang ada di belakang rumah. Mau minum susu? tinggal peras susu sapi asli yang dipelihara di kandang sendiri. Mau berolahraga, tinggal lari mengelilingi pekarangan rumah. (kaya jasmani)

Menjadi kaya adalah disaat menemukan sebuah masalah, engkau akan ikhlas menerimanya dan menjalaninya dengan tabah. Masalah yang menimpa engkau anggap sebagai suatu ujian yang diberikan oleh yang Maha Kuasa. (kaya rohani)

Menjadi orang kaya memang penuh perjuangan.

Tidak ada yang bisa menjadi kaya dalam waktu sekejap saja.

Kecuali dia memang keturunan raja, atau mungkin… dia memakan harta yang bukan miliknya, alias korupsi!