Wish Me Luck!

Categories: Serius Dikit By: citcitcuit

chadiTW

Think.Web is my home
Think.Web is my campus
Think.Web is my life

3 tahun 8 bulan gue menghabiskan waktu di Think.Web.
Bekerja, menuntut ilmu, bersenang-senang sekaligus mencari nafkah.
Merangkak, berdiri, berjalan sampai berlari gue lakukan semuanya di Think.Web
Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Bali hingga Singapur dengan Think.Web
In relationship, single, hingga Engaged dengan orang yang sama gue alami selama di Think.Web

Banyak kenangan yang gak bisa gue lupakan selama bekerja di Think.Web, banyak ilmu baru, banyak pelajaran hidup yang membuat gue dewasa.

Bos yang mirip seperti dosen, lingkungan kerja yang seru serta pekerjaan yang menyenangkan membuat gue merasa nyaman bekerja di Think.Web.

So, why am I leaving?

No! I’m not leaving, I’m just moving on. Moving to the next grade.

Terima kasih banyak untuk bos-bos ku tercinta, teman-teman seperjuangan & klien-klien yang menyenangkan. Gw bisa seperti sekarang ini berkat kalian semua. Mohon maaf jika ada kesalahan yang pernah gue lakukan. Wish me Luck ya!

Pesan untuk teman-teman Think.Web yang baru;

Love your job, and you will never have to work a day in your life! Have fun at Think.Web!

Dan…. sambil menikmati macaroni skutel, silahkan nikmati juga perubahan wajah gue di Think.Web dari awal hingga sekarang. :D

chichagabungan

Tentang Social Media World Forum Asia #2

Categories: Lumayanlah (setengah serius setengah engga) By: citcitcuit

Haiiiiii…
Akhirnyaaaaa….
Setelah berbulan-bulan puasa nulis, akhirnya jari-jari nan mungil ini terpanggil lagi untuk melanjutkan cerita tentang Social Media World Forum Asia.

Baiklah…
Jadi, setelah berbulan-bulan berpikir akan sepanjang tol Simatupang kah nantinya blog ini jika dijabarkan satu-satu tentang isi seminar, maka daku memutuskan untuk membuat semacam resume saja.

So far, ga banyak hal baru yang dibicarakan di dalam seminar ini. Beberapa hal sudah kita (para pekerja social media) tahu, bahkan lakukan setiap harinya. Beruntung, para pembicaranya talkative dengan slide yang menarik.

Diantara bule-bule ganteng & cantik, muncullah sesosok pria lokal di stage. Yup! Please welcome, an Indonesian speaker! Enda Nasution!

Enda

Banyak hal yang dibicarakan bapak blogger ini, tapi karena tampak gugup & agak terbata-bata, yang diriku highlite hanya di bagian tentang “Koin Prita”. Well, kalian semua pasti sudah tahulah, betapa suksesnya aksi solidaritas untuk Prita di Social Media, jadi, ga perlu gw jelaskan lagi ya…

Setelah bapak Enda turun panggung, naiklah seorang pembicara dari Cina. Dia menjelaskan tentang social media di Cina yang cukup membuat gue terheran-heran. You know what… di Cina ga ada facebook karena facebook dalam bahasa Cina mempunyai makna yang tidak baik. So, mereka membuat ‘facebook versi Cina’. Sama halnya dengan Twitter. Orang-orang Cina-pun juga membuat KW-nya. Ck ck ck… Ga heran kalau Amerika senang nyindir Cina di Film-film mereka (Sex & The City, 127 Hours, dll) :D

Well, abis liat slide-slide KW Facebook & Twitter, mata gue disegarkan dengan 3D Video Mapping dari BMW.
It’s cool, fun & interactive! Ga percaya? liat nih: http://www.youtube.com/watch?v=Pm9yb1w7-Lc

Social Media World Forum Hari Pertama ditutup dengan ‘party’ kecil-kecilan di sebuah club beken di Clarke Quay bernama Helipad. Cocktail, foto-foto, liat pemandangan Singapur sampai kenalan dengan orang India yang ‘pamer’ kekayaan ayahnya. Pertanyaan ‘pancingan’ pun keluar dari mulutnya, tapi diriku tetap tak tergoda. “Huh! enak aja main ngajak pergi, orang kenal aja baru kok!” (bangga dalam hati)

Ini dia cewek-cewek Indonesia sebelum akhirnya “mengantuk’ :D

party

Me, Tika, Hanny dan rekan kerja Hanny

Keesokan harinya, gue dan Tika kembali lagi ke Suntec untuk mengikuti seminar hari ke-2. Perasaan gue sih biasa-biasa aja pagi itu, masih sama dengan hari pertama kemarin, senang, excited & penasaran. Yup!  Penasaran akan ada bule cakep lagi ga ya? hahahahaha….

Awalnya, seminar hari ke-2 ini cukup membosankan, mungkin pembawaan dari para speakernya yang kurang membangkitkan semangat. Sampai akhirnya, datanglah sang ratu dari Eropa! Fernanda Romano. Gaya bicara, slide & body language-nya berhasil membangunkan gue dari kantuk! Dia bercerita tentang “Color Project” untuk produk cat internasional. Fefa & agency-nya tak hanya memanfaatkan social media, tapi juga menterjemahkannya di dunia nyata. Sebuah wilayah yang suram, disulap jadi berwarna dengan sentuhan cat-cat tersebut. Watch this! http://www.letscolourproject.com/in/

Setelah Fefa selesai, panggung SMWF pun kembali membosankan. Sampai akhirnya, panitia mengumumkan pemenang tweet contest berhadiah Ipad! Siapakah pemenangnya??? IT”S ME!!! Yeaaayyyy….

melukipad

Cuma nge-tweet “Tweeting to Win an IPAD at #SMWF Asia with @StanChartBreeze” berulang-ulang & live update tentang seminar, gue berhasil memenangkan IPAD. How lucky I am! Senang tiada terhingga!

thankuipad

Terima kasih banyak buat Think.Web yang mensponsori gue ke Social Media World Forum Asia di Singapur, sehingga gue bisa menang Ipad, barang yang sangat gue idam-idamkan selama ini. I’m so HAPPY!!!


Tentang Social Media World Forum Asia #1

Categories: Lumayanlah (setengah serius setengah engga) By: citcitcuit

What is social Media?
Social media is about bla bla bla…

Yup, 1 minggu yang lalu, gue dan Tikabanget mendapat kesempatan dari Think.Web untuk mengikuti conference Social Media di Singapore. Social Media World Forum Asia (SMWF) merupakan sebuah seminar yang cukup bergengsi se-Asia. Acara yang diadakan setiap tahun ini menghadirkan para pembicara yang berpengalaman dan canggih di bidangnya masing-masing. Tentunya masih dalam lingkup media sosial.  Apa saja yang didapat, siapa saja yang ditemui serta pengalaman apa yang paling mengesankan selama di Singapur, akan gue coba tuliskan disini.

Day 1
Jam 5.30 (waktu Singapur) alarm gue berbunyi. Beruntung bunyinya cukup kencang, sehingga tikabanget bisa ikut-ikutan bangun. Maklum saja, ketika berangkat, tika dalam kondisi sakit, sehingga gue ga tega untuk membangunkannya, walaupun dalam hati agak deg-deg-an karena takut terlambat. 1,5 jam kemudian, kami keluar dari Hotel menuju Suntec, tempat diadakannya SMWF Asia. Karena jarak antara Hotel dengan Suntec cukup dekat, kami jalan kaki. Jika merujuk dari arahan resepsionis hotel, waktu tempuh ke Suntec mungkin hanya sekitar 5-10menit. Namun, karena pada waktu itu Singapur sedang masa persiapan menjadi tuan rumah F1, jalanan dialihkan. Kami pun mengikuti petunjuk yang terpasang.

Ini bener ga sih, kok sepi gini jalanannya…” Tanya tika selama berjalan kaki
Kita ikutin aja, kalau nyasar ya tinggal balik lagi.” Jawab gue sambil melihat peta.

20 menit kami berjalan tanpa tahu berapa lama lagi kami sampai. Yang kami lihat hanya jendela-jendela besar dengan manequin2 dan tulisan SALE diatas nama brand. Akhirnya kami memberanikan diri untuk bertanya dengan pak Satpam. Rupanya, Suntec adalah sebuah mall yang didalamnya terdapat conference room. So, kita harus melewati mall untuk masuk kedalam conference room.

Sesampainya di conference room, kami melihat meja registrasi penuh orang. Bingung, tak tahu hendak bertanya kepada siapa. Tiba-tiba datanglah bule menghampiri kita dan bertanya (dengan bahasa inggris): “ada yang bisa kami bantu?“, dengan senyum sumringah, gue menyerahkan print out registrasi yang sudah dilakukan by online. Lalu si bule berlalu ke bilik registrasi dan keluar tak lama kemudian dengan memberikan kami name tag dan buku agenda SMWF. Registrasi selesai, kami pun masuk kedalam ruang conference.

Jam 8.30 conference dimulai (mundur 30 menit dari jadwal yang sebenarnya). Setelah dibuka Michael Netzley (Society for New Communications Research), acara selanjutnya adalah “speed networking”. Karena gue kelupaan membawa kartu nama, gue ngintil Tika berkeliling untuk kenalan dan tukar-menukar kartu nama.

20 menit kemudian, seminar sesungguhnya dimulai.

Ada apa aja di seminar?

Tunggu update selanjunya ya…

MENTIKA

4 L (Lu Lagi Lu Lagi)

Categories: Lumayanlah (setengah serius setengah engga) By: citcitcuit

Di dunia nyata, kata “Lu Lagi Lu Lagi” yang disingkat 4L mungkin lebih pas diucapkan dalam benak awak kendaraan umum untuk seseorang yang selalu naik kendaraannya selama bertahun-tahun. Saking seringnya, sang awak kendaraan mungkin sudah hapal pakaian, tempat tujuan sampai kebiasaan bayarnya.

Kalau di dunia online, kata “Lu Lagi Lu Lagi” biasa diucapkan dalam benak admin sebuah akun brand/event/activity yang menyelenggarakan kuis. Seperti diriku misalnya. Semakin banyak kuis online yang saya (dan tim social media di think.web) manage, makin sering saya melihat akun-akun yang sama mengikuti kuis tersebut.

Saya tidak melarang mereka ikutan, saya justru senang. Asal memang kreatif dan mengikuti aturan kuis yang telah ditentukan. :)

Saya pernah menemui seseorang yang sanggup membuat saya ‘menghela napas’ dan bergumam “Lu Lagi Lu Lagi”. Sebut saja si A, Dia tergolong ‘rajin’ mengikuti kuis-kuis yang diselenggarakan oleh brand/event/activity yang saya (dan tim social media di think.web) manage. Sayangnya si A kurang kreatif & kurang mengikuti rules yang sudah ditentukan, sehingga tidak menang. Misalkan kuis berjalan di Facebook, tapi si A jawabnya di twitter. Tapi si A tampaknya tidak peduli. Entah karena ‘kurang’ cerdas, atau memang malas baca peraturan. Dia bahkan sempat tidak terima ketika bukan dia yang memenangkan kuis tersebut & mengirimkan message bahwa dia butuh hadiah tersebut untuk berobat.

Tidak hanya itu, “Lu Lagi Lu Lagi” juga berlaku untuk anak remaja (bukan ABG yah saya nulisnya), yang ‘ga bisa diam’ kalo ikutan kuis. Mereka adalah kelompok usia yang berjasa membuat sebuah kuis ramai, tapi sayangnya malas membaca. Dikit-dikit, tanya! pengumuman pemenang telat sedikit, ramai! Pemenang yang (menurut mereka) biasa aja, ga terima! *Doh*

But anyway, hal-hal seperti ini justru membuat saya belajar. Belajar mengelus dada, belajar tertawa, belajar mengerti adik-adik dengan me-respon mereka dengan baik. Untuk yang belajar merespon itu saya pelajari dari jeng tika. Perempuan yang kini tampil cantik tanpa kacamata dan rambut lurus itu mempunyai trik-trik unik dalam me-respon remaja-remaja yang ‘ga bisa diam’. Hehehe… Thanks kakak! Mungkin saya harus lebih sering bergaul sama yang lebih muda ya. :D

Perempuan 2.0

Categories: Serius Dikit By: citcitcuit

Pagi-pagi sblm brangkat ke kantor, aku melihat bocah-bocah perempuan memakai pakaian adat jalan beriringan di sisi jalan. Sang guru yang membimbingnya berada di bagian depan & belakang. Sayang tidak ada suara-suara nyanyian “Ibu Kita Kartini” mengiringi mereka. Entah karena kelelahan menggunakan pakaian adat sambil berjalan kaki atau memang tidak hapal.

Apapun itu, aku salut pada mereka yang sudah ‘merayakan’ hari besar secara kecil-kecilan bagi perempuan di Indonesia.

Akupun juga tidak mau kalah. Meski tidak menggunakan pakaian adat ke kantor, aku juga ingin merayakan hari kartini. Namun, dengan cara yang berbeda.

Caraku merayakan hari Kartini adalah dengan mengajak perempuan-perempuan Indonesia untuk menjadi perempuan 2.0 (baca: two point o).

Perempuan 2.0 adalah perempuan yang melek teknologi & dunia maya. Dia tidak harus memiliki handphone yang canggih atau komputer dengan processor terbaru, tapi dia tahu bagaimana caranya mengoperasikan komputer dan berkelana di dunia maya.

Menurutku, dunia maya saat ini hampir mirip dengan dunia nyata. Banyak kejujuran terungkap disana, meski banyak juga kebohongan yang tersembunyi disana.

Coba saja kamu ketik nama lengkap seseorang yang baru kamu kenal di google dan lihatlah hasilnya. Sederetan akun pribadinya di jejaring sosial pasti akan muncul. Facebook, twitter & friendster adalah 3 media yg biasanya terlihat di deretan atas. Buka akun mereka, lalu lakukan apa yang kamu mau. Cek relationship statusnya, liat foto2nya, liat siapa teman-temannya, atau lihat status update-nya. Temukan kejujuran & kebohongan disana.

Perempuan 2.0 adalah perempuan yang tidak langsung percaya dengan lelaki yang baru dikenal sebelum melihat akunnya di media sosial.

Perempuan 2.0 adalah perempuan yang cerdas menganalisa kebohongan/kejujuran yang ada di dunia maya.

Tidak susah bukan?

Selamat hari Kartini, perempuan 2.0!

I Miss ‘JavaJazz’ Moment

Categories: Lumayanlah (setengah serius setengah engga) By: citcitcuit

Musik Jazz bisa dibilang ‘ga baru’ di telingaku. Saat masih kuliah dulu, aku seringkali mendatangi Fakultas Ekonomi yang memakan waktu 15 menit jalan kaki dari fakultas ku untuk mendengarkan musik Jazz. Aku juga pernah sengaja mendatangi mall di bilangan Pondok Indah untuk menikmati live music Jazz. Tapi, entah kenapa, aku tidak pernah mendatangi JCC untuk JavaJazz yang konon sudah diselenggarakan selama 4 tahun disana. Bahkan seorang Jamie Cullum & Jason Mraz pun tak mampu mendorong kakiku melangkah ke JCC.

Namun, tahun ini, takdir berkata lain. Lain dari yang aku harapkan. Sangat luar biasa! Aku tidak hanya bisa datang ke JavaJazz, tapi menjadi bagian dari JavaJazz. Menonton (dari media pit lagi! Gosh, I’m so lucky), me-report, foto-foto, makan-makan, kenal-kenalan, mondar-mandir, sampai ditanya-tanyain orang.

Meskipun 4 hari 3 malam ga pulang ke rumah (thanks to tika yg mengijinkanku tidur di kasurnya), kurang tidur & pegal-pegal (maklum, JavaJazz tahun ini diselenggarakan di JIExpo Kemayoran yang luas bangeeetttt), tapi pengalaman baru di JavaJazz ini membuatku kecanduan. Beberapa hari setelah acara selesai, aku merasakan kerinduan. Rindu dengan suasanya, rindu dengan pekerjaannya, rindu dengan teman-teman yang bekerja bersama. ooohh, I miss the moment!

Semoga tahun depan, takdir masih berpihak kepadaku. amiinn…

javajazz

Dimana penyemangatmu?

Categories: Serius Dikit By: citcitcuit

“Cha, mana? Kok ga update lagi blog-nya?”

Teguran dari sang teman, erwin, diatas seakan membangunkanku dari ‘penerbangan’ menyenangkan bersama lamunan.

Ya, selama 1 bulan ini, aku seakan berada di awang-awang. Terbelenggu dengan rutinitas yang seakan-akan tidak ada habisnya. Aku ingin menginjak bumi, aku ingin bisa melenggang tanpa beban, aku ingin berjalan, berlari dan bermain dengan imajinasiku. Imajinasi yang liar tanpa batas, imajinasi yang bebas tanpa kekangan.

Tapi dimana aku bisa menemukan hal itu?

Selain di SURGA, ternyata aku bisa menemukan itu dalam pekerjaanku.
Pekerjaan yang sangat menyenangkan dengan orang-orang yang mengasyikan.
Pekerjaan yang menantang kreativitas.
Pekerjaan yang menuntutku berimajinasi dengan sebebas-bebasnya.

Tapi, bukankah pekerjaan itu sumber beban?

Ya, pekerjaan memang bisa menimbulkan beban. Beban yang akan terasa ringan jika dilakukan dengan ikhlas. Menurutku, kuncinya ada di SEMANGAT. Semangat yang bisa membuat kita tersenyum kembali saat beban itu menghampiri.

Lalu, dimana penyemangatmu?

Masing-masing orang memiliki penyemangat yang berbeda-beda. Mulai dari sahabat, pacar atau bahkan sesuatu yang tidak bernyawa, seperti rokok & minuman. Buatku, penyemangat itu ada pada sebuah kalimat. Kalimat sederhana yang membuatku berpikir, merenung & merasa bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh yang maha Kuasa. Seperti yang menempel pada monitor di meja kerjaku ini:

monitor1

“Yeah, Write!”
“Looks on the Bright Side”
“Have a nice day”
“Live Love Laugh”
“There aren’t many people out there like me, so I’m proud to be myself”

Aku Punya Rumput yang Indah

Categories: Serius Dikit By: citcitcuit

I envy you!
Kira-kira inilah kalimat yang keluar dari mulut perempuan berkawat gigi ini begitu mendengar sang sahabat yang ingin pergi ke NYC mengikuti sang suami. (does he American? Oh No!!! Her husband is Indonesian. Gosh, Lucky you!)

Yes, aku iri padanya. Aku iri karena dia bisa pergi ke Amerika bersama sang suami yang bekerja disana. Aku iri membayangkan dirinya bisa merasakan salju, memakai baju dingin berlapis-lapis di musim dingin tanpa terlihat norak dan memakai baju setipis2nya di musim panas tanpa takut di-siul2in pemuda yg suka nongkrong di pinggir jalan.

1 minggu dia pergi, rasa iri itu belum bisa hilang. Melihat status update-nya di twitter membuatku tambah “panas”. Gimana engga? Coba liat beberapa status update-nya berikut ini:

status nisa1

status nisa2

status nisa4

Buat perempuan bertubuh mungil yang bercita-cita bisa sekolah di Aussie dan tinggal di US ini, status update diatas cukup membuat sedih. Sempet merasa Tuhan ga adil lohhh… (duh, lebay banget sih gue).

Anyway, akhirnya gue jujur kalau gue iri sama dia. And u know what? Dia cuma bilang kalau gue ga perlu merasa iri. Dia sih ga bilang apa penyebabnya. Tapi, status update-nya di twitter setelahnya membuat gue akhirnya menyadarinya sendiri.

status nisa5

status nisa6

Yes, sesungguhnya apa yang kita rasakan terhadap seseorang belum tentu dia rasakan. Mungkin kita yang di Indonesia berpikir; wah, cuaca lagi bersahabat, asiknya dia bisa jalan-jalan di Central Park, sebuah taman diantara gedung2 bertingkat yg terkenal indah itu. But u know what? She miss Jakarta. Kota yang terkenal dengan udaranya yang kotor & sangat macet itu.

Mulai dari situ, gw berpikir. Kalau semua orang merasa “rumput tetangga lebih indah”, tidak ada yang bisa memperindah rumputnya sendiri. So, gw membalikkan badan, melihat baik-baik keadaan rumput gw sendiri, lalu berkata dengan lantang dalam hati: “AKU PUNYA RUMPUT YANG INDAH”

Koyo, air panas dan dinding

Categories: Lumayanlah (setengah serius setengah engga) By: citcitcuit

Setiap traveller pasti punya ‘senjata’ sendiri untuk menghilangkan rasa sakit atau pegal di kakinya. Mulai dari balsem, lotion panas sampai alat pijit elektronik yang harganya semahal tiket pesawat ke Singapur (P-P). Tapi buat gue, senjata itu cuma ada tiga, koyo, air panas dan dinding.

Kenapa koyo?
Karena gue percaya kalau rasa sakit/pegal itu hanya pada titik2 tertentu. Jadi, daripada harus tersiksa dengan panasnya balsem atau lotion di tempat yang sesungguhnya tidak sakit, lebih baik fokus di satu titik.

Kenapa air panas?
Karena waktu kecil gue pernah diajak ke tempat pemandian air panas sama orang tua gue. Mereka bilang, air panas itu berkhasiat untuk menghilangkan pegal-pegal dan mengobati reumatik. Sampai sekarang, gue masih percaya itu.

Untuk menghilangkan pegal di kaki, gue rendam kaki hingga lutut dengan air panas.
Untuk menghilangkan pegal di badan, gue ‘hujani’ dengan air panas dari shower ber-tekanan tinggi.

Buat temen-temen yang satu apartemen sama gue waktu di Singapur, sekarang kalian tahu apa yang menyebabkan gue lama di kamar mandi kan? :D sorry guys!

Kenapa dinding?
Karena waktu SMA, gue ikut ekskul Merpati Putih. Disitu gue diajarkan beberapa teknik peregangan setelah melakukan pemanasan yang cukup melelahkan (lari sekian kilometer). Salah satunya adalah menaikkan kaki keatas dengan posisi tidur. Untuk teknik terakhir ini, biasanya gue menggunakan alat bantu yaitu dinding. Waktunya ga ditentuin sih. Pokoknya sampai loe merasa kaki loe ga ada rasa, loe turunin deh. Lalu tidur telentang dan rasakan aliran darah mengalir ke kaki loe dengan derasnya. Buat yang ga tahan sama ‘kesemutan’, jangan coba2 gerakan ini!

Buat temen2 yang pernah nginep bareng dan satu kamar sama gue, sekarang kalian tahu kan kenapa gue memilih tempat tidur di pojok alias sebelah dinding?

Anyway, mumpung masih suasana tahun baru, gue ucapin Selamat Tahun Baru yah teman-teman… Semoga tahun ini kita bisa lebih baik dari tahun kemarin (standard sih, tapi memang ini kan intinya? :) )

2009 yg bawa Hoki

Categories: Lumayanlah (setengah serius setengah engga) By: citcitcuit

Diakhir tahun 2008, gw buat daftar resolusi tahun 2009, walaupun lbh mirip impian/cita2 sih. Anyway, isinya kurang lebih sprti dibawah ini:

1. Pake kawat Gigi
2. Ga pernah tinggal solat
3. Semakin dewasa dlm berfikir dan bertindak
4. Berlibur ke luar kota
5. Punya paspor

2 hari berikutnya, udah tahun 2009. Saatnya menjalankan rencana.
Bulan pertama, gw berhasil mewujudkan point pertama, yaitu pakai kawat gigi. Meskipun pakai acara nyicil segala. :D

Bulan ke-2, ke-3, ke-4, ke-5 gw berhasil mewujudkan point ke-2. Alhamdulillahh…

Bulan ke-6 gw ditantang sama point ke-3. Sang pacar yg sudah mendampingi slma 3 tahun lebih, mengejutkan gw dgn sebuah kebenaran yg membuat hati gw tertusuk. Gue ga berhasil mewujudkan point ke-3. Dalam hal ini gue ga bisa berfikir dan bertindak secara dewasa.

Tuhan memang Adil. Rasa sedih yg gue alami ternyata tidak berkepanjangan. Walaupun gw ga bisa mewujudkan resolusi ke-3, gw dibukakan jalan untuk mewujudkan resolusi ke-4. Yup! Untuk yang pertama kalinya, gw mendapatkan kesempatan untuk pergi ke luar kota dengan gratis. Alias dibayarin kantor. Mulai dari tiket pesawat, hotel hingga transportasi. Dalam 3 bulan, gw melintasi pulau Jawa hingga nyebrang ke Bali. (paling sering Surabaya siiihhh… hehe) Anyway, thanks to our client! Foto2 Work+Vacation

Last but not least adalah punya paspor. Walaupun waktu itu gw ga tau bakal pergi ke luar negeri bagian mana. :D

Eh ternyata eh ternyata, kantor memberikan bonus pergi ke Singapur. Beeehhh… senangnya bukan main. Seandainya si boss kasih tau by telpon, mungkin gw udah jejingkrakan, goyang-goyang, loncat-loncat, guling-guling. ups, sorry agak lebay! Hehe.. Anyway, akhirnya, gw punya alasan yg kuat untuk membuat paspor. Terima kasih Think.Web & Management.

Terima kasih untuk pengalaman yg ga bakal terlupa di Singapur. Mulai dari merasakan cepatnya kereta bawah tanah (MRT), bus yg HANYA berhenti di halte, eksotisnya Singapore Zoo, uniknya museum of toys, museum design & science centre, kerennya Esplanade & Merlion, mahalnya barang2 & makanan di Chinatown, gemerlapnya ClarkQ, bersihnya jalanan dan tertibnya orang-orang sama peraturan. Semua itu ga (atau belum yah?) gw dapat disini, di IndonesiaKU tercinta. Foto2 Think.Web goes to Singapore

Tadinya gw ga gitu percaya sama hoki-hokian atau segala sesuatu yang orang Cina biasa bilang yah… tapi apa yg terjadi di tahun 2009 membuat gue percaya bahwa angka 9 adalah angka yg bawa hoki. (yg bilang angka 9 bawa hoki itu cina kan? Iya kan ciiinnn?)