What comes after Facebook?

Categories: facebookSocial Media MarketingSocial Networking By: Ramya Prajna S

Pertanyaan itu sering sekali saya dapatkan terutama sejak tahun lalu. Penanya biasanya menjadikan fenomena Friendster sebagai dasar.

Jawaban saya adalah biasanya seperti ini: Kita sudah lebih dari 10 tahun menggunakan Google, apakah pernah berpikir “apa yang akan menggantikan Google?”

Saya berani bilang bahwa kita tidak mempunyai pertanyaan itu sekarang. Google sebagai starting point ketika kita mencari sesuatu sudah menjadi bagian dari hidup kita. Yang terjadi kita semakin amaze dengan hasil pencarian dari Google. Kita semakin puas dengan apa yang dihasilkan Google karena Google semakin pintar dan semakin mengerti diri kita.

Saat Facebook me-launching Open Graph di f8 2010, yang Facebook lakukan adalah menjadikan Facebook sebagai sebuah platform. Facebook tidak lagi hanya sebuah website social network, tapi Facebook ‘mem-Facebook-an’ seluruh website di seluruh dunia.

Kita mungkin sudah tidak sering lagi masuk ke Facebook.com, tapi kita menggunakan website-website lain dengan menggunakan feature Facebook. Misal: sign up & login membership dengan Facebook connect, put ‘Like’ pada article atau blog post yang kita suka, share to our friends on Facebook, etc.

If Facebook.com is a weekend, other websites (that using Open Graph) are the weekday. You will enjoy your weekend eventually.

WOOZ.in

Categories: facebookFacebook ApplicationPortofolioProductSocial Media MarketingSocial NetworkingThink.Web By: Ramya Prajna S

Pada Pesta Blogger tanggal 30 Oktober lalu, kami melakukan soft launch atau open beta produk atau web service pertama kami. Wooz.in namanya (baca: wuzin).

Wooz.in adalah sebuah web service yang menggabungkan fungsi Social Network dengan radio-frequency. Saat ini technology radio-frequency yang kami gunakan adalah RFID (Radio-frequency Identification).

Idenya adalah bagaimana seseorang bisa melakukan update dimana mereka berada hanya dengan melakukan ‘tap’, seperti halnya yang banyak orang lakukan ketika absen pegawai, masuk pintu kantor ataupun seperti ketika di gate MRT Singapore.
Ide ini terinspirasi dari kegiatan yang dilakukan oleh Facebook di Facebook Conference 2010 beberapa bulan lalu. Saat itu setiap name tag peserta juga terdapat RFID chip dan ada beberapa reader di acara tersebut.

Di event pertama Wooz.in device RFID yang digunakan pada event pertama ini adalah kartu atau RFID card. Kartu ini dibagikan secara gratis oleh sponsor pertama kami, Acer Indonesia. Acer membagikan RFID card kepada seluruh peserta Pesta Blogger+ 2010 secara gratis.
Setelah mendapatkan kartu peserta diharuskan untuk melakukan registrasi di website Wooz.in. Yang perlu dilakukan adalah menyambungkan account Facebook dan/atau Twitter mereka, juga Foursquare dan Gowalla apabila memiliki. Hal penting lainnya yang perlu dilakukan adalah memasukkan UID (Unique ID) atau nomer RFID yang tertera pada kartu kedalam account wooz.in masing-masing. Setelah semua proses registrasi selesai RFID device siap digunakan.

Yang user lakukan hanya melakukan ‘tap’ seperti biasanya dilakukan pada mesin absen atau pintu masuk kantor atau pengguna Flazz BCA ataupun ketika menggunakan MRT di Singapore.
User melakukan tap pada RFID reader yang kami kemas dalam bentuk sebuah booth. Kami namakan Wooz.in Spot.

Wooz.in Spot
Adalah station atau booth dimana wooz.in user bisa melakukan woozing RFID device mereka dan kemudian Social Network yang sudah disambungkan akan melakukan update mengenai keberadaan user.
Ada 4 Wooz.in Spot di event Pesta Blogger+ 2010 yang tersebar diberbagai area. Tujuannya adalah juga agar setiap user exploring area-area tersebut. Ada Wooz.in Pin yang dapat ter-unlock setelah user woozing di 4 spot tersebut.

Wooz.in Pin
Adalah penanda bahwa user telah menyelesaikan task tertentu. Kalau di Foursquare adalah istilah Badge dan di Gowalla isitilahnya Trips, di wooz.in kami namakan pin.

Dengan Wooz.in fungsi updating menjadi lebih mudah dan tidak terjadi orang yang check-in disuatu tempat namun sebenarnya tidak berada di lokasi tersebut (atau isitilahnya jumper).
The possibility is unlimited. Baru 4 Social Network yang terhubung saat ini, tapi kedepan akan terus bertambah.

Wooz.in bisa dilihat di: http://wooz.in dan FB Page-nya

Ini videonya:

Wooz.in is the new check-in ;)

Ketika Social Media Ada [dimana-mana]

Categories: facebookMarketingSocial Media MarketingSocial Networking By: Anantya

Bicara soal social media, seperti bicara soal sebuah tanah yang hak gunanya dimiliki oleh banyak orang. Saking mudah penggunaannya, peminatnya lebih menjamur daripada rusunami. Mulai dari iklan handphone yang menjual habis  fungsi twitter-an, facebook-an dan chatting, sampai brand-brand yang berlomba masuk dan eksis di facebook.

    Beberapa bahkan rajin mencantumkan url social media mereka di dalam iklan-iklan yang tayang di TV ataupun media cetak.  Belum habis eksis di tayangan iklan, brand juga sudah merasa perlu untuk mengikutsertakan url social media mereka di kemasan produk, sebuah kepentingan yang bahkan belum ada setahun yang lalu.

    Sebuah kepentingan yang tercipta karena tuntutan pengguna. Belum lama ini saya melihat sebuah minuman merek mancanegara yang mencantumkan logo Facebook di kemasannya. Ternyata yang dilakukan si minuman ini adalah melakukan sebuah aktivitas yang berbasis konsumen, memberikan kekuasaan lebih pada konsumen untuk membuat jenis minuman mereka sendiri. Jenis minuman yang paling diminati secara online kemudian di”wujudkan” nyata dan didistribusikan ke seluruh negeri. Salah satu cara cerdas melakukan test market, sebelum melakukan produksi barang baru.

    Itu tadi contoh kasus merek mancanegara, terus apakabar merek lokal? Kita tidak usah bahas merek-merek lokal terkenal ya. Karena kebetulan saya bertemu dengan merek yang baru kemarin saya ketahui keberadaannya, dan merek kecil ini pun sudah “melek” social media.

    Mari kita kenalan dengan “Kree-oks”

    Ada yang tau merek apa ini?
    [belum tau?]

    Gimana kalau saya kasih tambahan embel-embel chip dibelakangnya?
    [udah bisa tebak dong, jenis produknya]

    Ya ternyata si “Kree-oks” ini atau kriuk kalau sambil makan produknya adalah camilan sehat kripik buah kering yang diproduksi di Indonesia dan dikemas oleh sebuah CV di Bandung. Kemasannya sederhana, bersahaja, cenderung polos. Tapi dibalik kebersahajaannya itu, ternyata “Kree-oks” termasuk salah satu panganan yang cukup maju karena dia diam-diam menampilkan eksistensinya di salah satu Social Media.

    Coba cek di sudut kiri atas dibawah bendera Indonesia yang menjulur. Dengan sedikit malu-malu, Kree-oks menampilkan logo Facebook dan keterangan Kreeoks Chips. Walau belum merupakan affinity URL, namun mereka yang memiliki rasa penasaran berlebih macam saya, dapat dengan mudah melakukan proses search di facebook dengan mengetikkan Kreeoks Chips dan dalam hitungan detik akan bertemu dengan facebook groups Kreeoks Chips.

    Penggunaan facebook oleh Kree-oks chip juga memperlihatkan bahwa social media selain untuk mendukung brand engagement juga dapat dipergunakan untuk step pengembangan bisnis. Ketika masuk ke group Kreeoks Chip, tujuan pengembangan bisnis dan promosi produk adalah dua hal yang paling terasa. Walau belum maksimal, tapi apa yang dilakukan Kree-oks menurut saya adalah sebuah langkah besar dalam memanfaatkan teknologi untuk berpromosi dan mengembangkan bisnis.

    PS: Thanks to Mega yang sudah mengenalkan saya pada Kreeoks Chip.

    HOT TOPIC: Social Media Metrics

    Categories: AnalyticsAnalytics Opinionfacebooksocial mediaSocial Media Measurementtwitter By: Anantya

    I’m used to measure and see the user habitual in website for almost 4 years now. Thanks to all the tools that has come my way [Google Analytics, Omniture, Coremetrics] it’s all has been a peachy experiment for me. That is until this Social Media thingy come storming like a hurricane.

    Measuring how they affecting the overall site performance is a piece of cake, but really dwelling into Social Media performance and see how the user habit towards it is still a mind boggling, time consuming and snooze-fest activity to do.

    Sure enough two of Indonesia’s highest use Social Media has it’s own analytics. One within the channel, and the other one scattered like a bread crumb that Gretel left like you can see here. But those two type of analytics is not on top of their game yet.

    Facebook for example. Yes, the sought after Social Media is smart enough to prepare a simple analytics for Page owner and Apps developer. But is it user friendly enough, is it accurate enough, is it cover all the important stuff? To regular joe perhaps all that single metrics being displayed are sufficient enough.

    But when you talk to they who accustomed with analytics for more than a year, single metrics is just not enough. People would start wondering and ask: WHAT IF.

    What if “i cross the daily active user with gender/age and cities”
    What if “i cross new fans with specific post”
    What if “i wanted to know the demographic of the abandoned fans”
    and on and on and on…

    Not to mention the need to make a tailored analytics based on our very own or our client needs. To make a good fitted dress a.k.a good online campaign report we need a comprehensive tools. I don’t want to have to hand-sewn all of my custom dresses :)

    PS: Dear Analytics God, let Facebook, Twitter and other aspiring new social media out there hear that i need a comprehensive tools to sewn a good report. Amin.

    Aside from the long path that Facebook team have to ride, their effort on gradually upgrading their service needs a big salute. One of the progress is they are willingly to share more single metrics and start to cross it with several metrics. You can enjoy them at http://www.facebook.com/insights/. Yet, I still have that: WHAT IF moment in my head.

    As an analyst I was dying to have a sufficient tools to expand my analytics mojo, and to spot the exact behavior of my user. I truly wish that Facebook and other Social Media channel out there would gives analytics part a good focus and gradually improve them. Until then, i guess it’s back to the long hour and snooze-fest data collecting method.

    PS: Dear Analytics God, let Facebook, Twitter and other aspiring new social media out there hear this whole prayer. Amin.

    - Photos taken from here -

    Apps. Economy

    Categories: ApplicationApplications EconomyfacebookFacebook Application By: Ramya Prajna S

    Beberapa waktu lalu kami menghadiri conference bernama “Inside Social Apps. 2010“. Sebuah conference yang berlangsung di San Francisco, tepat sehari sebelum f8 berlangsung. Event ini membahas segala sesuatu perkembangan dan kemungkinan yang berjalan dalam dunia aplikasi. Aplikasi yang dimaksud disini adalah web & mobile apps. Lebih spesifik lagi pada Facebook Apps. dan iPhone Apps.

    Di industri iPhone Apps. ada fakta yang sangat menarik: Dari 10 Apps. terbaik di iPhone, 8 adalah game apps. dan 7 apps. adalah dari Brand.

    Di Facebook kita tahu sendiri bahwa apps. merupakan ‘roda’ mereka untuk membuat Facebook menjadi tetap berjalan. Mulai dari apps. default seperti Photo gallery, Notes, Wall, sampai dengan yang game seperti Farmville, Restaurant City dan yang sekarang sedang saya coba main My Empire.

    Application sebenarnya adalah sama seperti feature pada sebuah website. Hanya saja dia berdiri sendiri untuk menjadi aplikasi pada platform tertentu seperti Facebook atau pun pada mobile seperti di iPhone, Android, Blackberry dan lainnya.
    Dengan demikian developing apps. yang sama dengan developing web feature/module. Memang bahasa yang digunakan ada yang berbeda, misalnya iPhone menggunakan Cocoa (CMIIW), tapi ada juga yang bahasanya tidak terlalu jauh berbeda. Hanya membutuhkan sedikit adjustment.

    Application Economy adalah sebuah pertumbuhan ekonomi yang berbasis pada pembuatan penggunaan aplikasi.
    Ekonomi dibidang digital atau online media semakin tumbuh subur sekarang. Gampangnya orang Indonesia bisa hidup dengan menjadi developer, entah itu developer untuk system, web, software, atau lainnya. Dengan dasar yang sama seorang developer web atau software kedepan juga punya pilihan untuk menjadi developer aplikasi.

    Di bidang mobile, developer Blackberry sudah mulai bertumbuh. Baik dalam bentuk perusahaan maupun perorangan. Beberapa ada juga yang mulai masuk ke iPhone, dan sebentar lagi Android juga pasti ikut.
    Pada Facebook Apps. juga sudah mulai bermunculan beberapa, walaupun masih sangat sedikit. Tidak seimbang dengan jumlah penggunanya. Indonesia jadinya hanya seperti pengguna pasif karena FB developer nya tidak tumbuh, pemasang iklan di Social Ads. juga masih sedikit.

    Mudah-mudahan semakin banyak yang melihat peluang ini, sehingga Apps. Economy menjadi salah satu yang menyuburkan pertumbuhan ekonomi di industri digital Indonesia.

    Change: The Search Habit

    Categories: facebookRandom ThoughtSocial Networking By: Anantya

    Memperhatikan sebuah perubahan terjadi merupakan pekerjaan yang menyenangkan. Bayangkan antisipasi, bayangkan harapan, bayangkan kemajuan. Keisengan saya memperhatikan perubahan itu jugalah yang membersitkan sebuah senyum di wajah saya, setelah seharian lelah bermain kejar-kejaran dengan deadline.

    Alkisah, ketika saya sedang iseng mempergunakan kenyamanan WIFI ditengah sebuah cafe di bilangan Jakarta Selatan. Ketika mata sudah agak lelah memperhatikan status dan update-an foto di Facebook [for the record gue ga mainan ya, Facebook itu bagian dari kerja gue sehari-hari. SUWER], gue melakukan aktivitas yang anehnya tiba-tiba gue lakukan pakai insting. I’m searching!

    Dan baru setelah aktifitas instingtif ini gue lakukan untuk kesekian puluh kalinya, gue baru menyadari satu hal: Facebook is my new search engine!  Yang menarik, hasil search yang ditawarkan datang semeriah munculnya pelangi sehabis hujan.

    Nih contohnya, gue coba untuk search salah salah satu film yang mau gue tonton: the newest Shrek movie di Facebook.  Karena lupa sudah sudah Shrek yang keberapa gue cuma mengetik kata kunci Shrek. Tidak ada awalan dan tidak ada hasilnya. Hasilnya? Fenomenal!!!

    Berlebihan? Nda juga kook. Coba deh banding hasil di google dengan hasil search di Facebook, and i think you’ll get my point.

    Ini hasil search gue di Google dengan  kata kunci Shrek:

    Seperti yang bisa dilihat, hasil pencariannya secara normal menawarkan what’s on Shrek, link ke official sitenya, review dari imdb untuk shrek than 2001, review lagi dari imdb untuk Shrek than 2002, hasil dari wikipedia, amazon, youtube. [menguap] Hum berguna but…nothing seems new.

    Sekarang coba kita lihat apa hasil search gue di Facebook:

    Ini alasan kenapa guess suka hasilnya. Amazingly it refer me to a Shrek page, dimana guess bisa ikutan Ogre Resistance (I don’t know what that is…I haven’t seen the movie, but It definitely make me want to see the movie).  And several other Shrek related Facebook Page.

    The fun is yet to begin because after I see this pages, I also get referrence from my friends that has previously watched the movie. All I got to do is refer to my movie-fanatic fellow to count on how good is the film actually is [if the review is so-so, i opt for DVD session instead]. The Searching journey has got a bit better with this kind of referrence.

    And if I still need the old fashion result, I can always see what Big have to offer :) Neat huh??? Proses pencarian di search engine has just got to a new level. Sekarang yang perlu dilakukan adalah menunggu orang lain untuk menyadari hal yang sudah gue sadari, atau melakukan gerakan “penyadaran”.

    To end my amuzement, and put the last big smile on my face. I just found out that Google feels it’s highly important to make their brand exist on facebook. Lookey down bellow. Google merasa penting untuk menempatkan Facebook Social Ads to advertise Google Chrome! Ok, I know it’s a browser and it’s not the search engine. But nontheles LOL, I still would not search on Chrome if I happen to open Facebook the whole day [not that I actually do it...psttt don't tell anybody!] and do my little searching there? Will in the near future Google advertise itself within Facebook?

    *Opening Chrome – to open facebook – to do my little searching for another life-changing writing material*