The end of paid influencers era

Categories: Social Media MarketingSocial Networking By: Ramya Prajna S

Saat ini Twitter sudah membuka Twitter for business untuk Tending berbayar dan Tweet berbayar.

Ketika ini sampai di Indonesia, maka akan selesailah era paid tweet untuk para influencer.

Pada saat itu advertiser atau brand jadi punya pilihan untuk melakukan tweet bahkan langsung dari account brand nya dan targetted, misal for Indonesia account only. Dan reach nya jelas seluruh Indonesia, tidak bergantung ke jumlah follower account tertentu.
Atau mereka juga tidak perlu repot-repot untuk berpikir bagaimana caranya supaya masuk ke trending topic.
All they need to do is only bayar ke Twitter.

Influencer seharusnya kemudian sadar akan fungsi mereka. Influncer dari kata influence. Yang artinya yang harus mereka ciptakan adalah pengaruh terhadap followernya untuk melakukan interaksi atau action (call to action).
Saat ini semua itu menjadi tidak sesuai karena influencer hanya berpikir bahwa mereka adalah publisher. Spot mereka dibayar untuk melakukan iklan kepada follower mereka.

Seharusnya Influencer harus mampu membuat engagement atau interaksi kepada follower nya sesuai dengan topic yang dibayar oleh brand atau product.

What comes after Facebook?

Categories: facebookSocial Media MarketingSocial Networking By: Ramya Prajna S

Pertanyaan itu sering sekali saya dapatkan terutama sejak tahun lalu. Penanya biasanya menjadikan fenomena Friendster sebagai dasar.

Jawaban saya adalah biasanya seperti ini: Kita sudah lebih dari 10 tahun menggunakan Google, apakah pernah berpikir “apa yang akan menggantikan Google?”

Saya berani bilang bahwa kita tidak mempunyai pertanyaan itu sekarang. Google sebagai starting point ketika kita mencari sesuatu sudah menjadi bagian dari hidup kita. Yang terjadi kita semakin amaze dengan hasil pencarian dari Google. Kita semakin puas dengan apa yang dihasilkan Google karena Google semakin pintar dan semakin mengerti diri kita.

Saat Facebook me-launching Open Graph di f8 2010, yang Facebook lakukan adalah menjadikan Facebook sebagai sebuah platform. Facebook tidak lagi hanya sebuah website social network, tapi Facebook ‘mem-Facebook-an’ seluruh website di seluruh dunia.

Kita mungkin sudah tidak sering lagi masuk ke Facebook.com, tapi kita menggunakan website-website lain dengan menggunakan feature Facebook. Misal: sign up & login membership dengan Facebook connect, put ‘Like’ pada article atau blog post yang kita suka, share to our friends on Facebook, etc.

If Facebook.com is a weekend, other websites (that using Open Graph) are the weekday. You will enjoy your weekend eventually.

Online Video Contest: Peserta atau Pemirsa?

Categories: MarketingSocial Media Marketing By: Ramya Prajna S

Source: Wikipedia

Sekarang ini banyak sekali brand yang bikin video contest. Seperti biasa, berangkat dari euphoria Sinta-Jojo, Audrey-Gamaliel dan lainnya.
Brand merasa kalo bikin video bisa lebih menarik dari photo. “Orang Indonesia banyak yang narsis, bikin video di handphone gampang, kalo lucu2an bisa banyak yang nonton”.

Tapi kemudian embel2nya juga banyak: musti ada tema nya, musti ada isi nya, musti ada pesan sponsor, musti ada logo brand nya, musti di moderasi dll dll.

Brand biasanya lupa juga kalo video dari handphone itu musti dipindah ke komputer buat di upload, kadang butuh sedikit editing juga supaya layak (bukan bagus loh), kualitas video handphone itu beda-beda, nggak semua orang Indonesia punya talent (tampil depan kamera, acting, dll) DAN sebenernya cuman Dono-Kasino-Indro, Srimulat dan Opera Van Java yang lucu.

Nah jadi sebenernya apa sih yang dicari dari video contest?
Jumlah peserta yang banyak kah? Tapi isinya nggak sesuai akhirnya overall amplification nya juga kecil.
Atau
Jumlah pemirsa per video yang banyak kah? Yang artinya bisa jadi pesertanya sangat sedikit tapi kualitas content nya memang bagus.

Ketika membuat activity sebaiknya berangkat dari tujuannya. Bukan berangkat dari pingin bikin apa.
Dari tujuan akan dijawab dengan activity yang sesuai dengan target market brand. Yang perlu diingat adalah ada beberapa kegiatan yang familiar dengan target market, namun belum tentu kegiatan itu bisa dilakukan oleh target market pada umumnya. Biasa menonton belum tentu bisa membuat, ada beberapa yang sanagt populer belum tentu semuanya bisa membuat.

Intinya adalah be flexible terhadap kebiasaan target market. Tidak ada salahnya memberikan banyak syarat asal sadar akan resikonya.

WOOZ.in

Categories: facebookFacebook ApplicationPortofolioProductSocial Media MarketingSocial NetworkingThink.Web By: Ramya Prajna S

Pada Pesta Blogger tanggal 30 Oktober lalu, kami melakukan soft launch atau open beta produk atau web service pertama kami. Wooz.in namanya (baca: wuzin).

Wooz.in adalah sebuah web service yang menggabungkan fungsi Social Network dengan radio-frequency. Saat ini technology radio-frequency yang kami gunakan adalah RFID (Radio-frequency Identification).

Idenya adalah bagaimana seseorang bisa melakukan update dimana mereka berada hanya dengan melakukan ‘tap’, seperti halnya yang banyak orang lakukan ketika absen pegawai, masuk pintu kantor ataupun seperti ketika di gate MRT Singapore.
Ide ini terinspirasi dari kegiatan yang dilakukan oleh Facebook di Facebook Conference 2010 beberapa bulan lalu. Saat itu setiap name tag peserta juga terdapat RFID chip dan ada beberapa reader di acara tersebut.

Di event pertama Wooz.in device RFID yang digunakan pada event pertama ini adalah kartu atau RFID card. Kartu ini dibagikan secara gratis oleh sponsor pertama kami, Acer Indonesia. Acer membagikan RFID card kepada seluruh peserta Pesta Blogger+ 2010 secara gratis.
Setelah mendapatkan kartu peserta diharuskan untuk melakukan registrasi di website Wooz.in. Yang perlu dilakukan adalah menyambungkan account Facebook dan/atau Twitter mereka, juga Foursquare dan Gowalla apabila memiliki. Hal penting lainnya yang perlu dilakukan adalah memasukkan UID (Unique ID) atau nomer RFID yang tertera pada kartu kedalam account wooz.in masing-masing. Setelah semua proses registrasi selesai RFID device siap digunakan.

Yang user lakukan hanya melakukan ‘tap’ seperti biasanya dilakukan pada mesin absen atau pintu masuk kantor atau pengguna Flazz BCA ataupun ketika menggunakan MRT di Singapore.
User melakukan tap pada RFID reader yang kami kemas dalam bentuk sebuah booth. Kami namakan Wooz.in Spot.

Wooz.in Spot
Adalah station atau booth dimana wooz.in user bisa melakukan woozing RFID device mereka dan kemudian Social Network yang sudah disambungkan akan melakukan update mengenai keberadaan user.
Ada 4 Wooz.in Spot di event Pesta Blogger+ 2010 yang tersebar diberbagai area. Tujuannya adalah juga agar setiap user exploring area-area tersebut. Ada Wooz.in Pin yang dapat ter-unlock setelah user woozing di 4 spot tersebut.

Wooz.in Pin
Adalah penanda bahwa user telah menyelesaikan task tertentu. Kalau di Foursquare adalah istilah Badge dan di Gowalla isitilahnya Trips, di wooz.in kami namakan pin.

Dengan Wooz.in fungsi updating menjadi lebih mudah dan tidak terjadi orang yang check-in disuatu tempat namun sebenarnya tidak berada di lokasi tersebut (atau isitilahnya jumper).
The possibility is unlimited. Baru 4 Social Network yang terhubung saat ini, tapi kedepan akan terus bertambah.

Wooz.in bisa dilihat di: http://wooz.in dan FB Page-nya

Ini videonya:

Wooz.in is the new check-in ;)

Voice vs Noise

Categories: Digital PRpublic relationsocial mediaSocial Media Marketing By: Ramya Prajna S

Ketika brand masuk ke area Social Media mereka harus MAU dan MAMPU untuk mendengar pembicaraan mengenai dirinya.
Mau mendengar adalah karena ketika sebuah brand membuka dirinya di SocMed artinya customer & network bisa langsung menyuarakan pendapatnya. Jadi sebenarnya brand tidak punya pilihan lain untuk mendengarkan. Kalau brand tidak mau mendengar ini jadinya seperti orang yang menutup kupingnya disaat diajak bicara oleh orang lain.
Mampu mendengar ini artinya sebuah brand bukan hanya mau membuka telinga, tapi juga siap untuk mendengarkan banyak suara. Dalam mendengarkan banyak suara ini sebuah brand harus bisa memilah mana yang penting dan mana yang lebih penting (keduanya memang penting).

Ada 2 jenis suara atau feedback yang muncul dari para user. VOICE & NOISE.

Voice adalah jenis suara yang secara skala kualitas dan kuantitas (pembaca) besar, sedangkan Noise yang skalanya kecil. Namun walaupun kecil Noise punya potensi menjadi besar.
Yang memisahkan kedua hal tadi adalah kuantitas dan kualitas dari traffic atau pembaca dan juga interaktifitas.

Voice yang memang sudah besar memiliki potensi yang besar terhadap kredibilitas brand. Sebuah pertanyaan terhadap brand sudah pasti harus ditanggapi oleh brang. Sebuah negative review dari seorang blogger yang memiliki jumlah pembaca banyak sudah tentu perlu perhatian serius dari brand.
Noise yang skalanya kecil juga perlu mendapat perhatian. Walaupun ada yang bisa dibiarkan (dalam keseharian tidak semua suara kita dengar kan?), namun perkembangannya tetap perlu di monitor.

Strategi siapa yang menjawab dan bagaimana caranya menjadi penting untuk bisa menyikapi semua feedback dengan tepat.

Waktu kita baru lahir semua suara terdengar sama volumenya. Suara burung yang jauh, hembusan angin pada daun sampai dengan orang ngobrol disebelah semua volumenya sama. Seiring dengan pertumbuhan teinga dan otak kita memilah mana suara yang menjadi background dan mana yang menjadi foreground. Mana yang perlu didengar dengan jeli, mana yang bisa ‘tidak’ didengar.
Hal yang sama juga terjadi dalam mendengar suara di Social Media.

 

Ketika Social Media Ada [dimana-mana]

Categories: facebookMarketingSocial Media MarketingSocial Networking By: Anantya

Bicara soal social media, seperti bicara soal sebuah tanah yang hak gunanya dimiliki oleh banyak orang. Saking mudah penggunaannya, peminatnya lebih menjamur daripada rusunami. Mulai dari iklan handphone yang menjual habis  fungsi twitter-an, facebook-an dan chatting, sampai brand-brand yang berlomba masuk dan eksis di facebook.

    Beberapa bahkan rajin mencantumkan url social media mereka di dalam iklan-iklan yang tayang di TV ataupun media cetak.  Belum habis eksis di tayangan iklan, brand juga sudah merasa perlu untuk mengikutsertakan url social media mereka di kemasan produk, sebuah kepentingan yang bahkan belum ada setahun yang lalu.

    Sebuah kepentingan yang tercipta karena tuntutan pengguna. Belum lama ini saya melihat sebuah minuman merek mancanegara yang mencantumkan logo Facebook di kemasannya. Ternyata yang dilakukan si minuman ini adalah melakukan sebuah aktivitas yang berbasis konsumen, memberikan kekuasaan lebih pada konsumen untuk membuat jenis minuman mereka sendiri. Jenis minuman yang paling diminati secara online kemudian di”wujudkan” nyata dan didistribusikan ke seluruh negeri. Salah satu cara cerdas melakukan test market, sebelum melakukan produksi barang baru.

    Itu tadi contoh kasus merek mancanegara, terus apakabar merek lokal? Kita tidak usah bahas merek-merek lokal terkenal ya. Karena kebetulan saya bertemu dengan merek yang baru kemarin saya ketahui keberadaannya, dan merek kecil ini pun sudah “melek” social media.

    Mari kita kenalan dengan “Kree-oks”

    Ada yang tau merek apa ini?
    [belum tau?]

    Gimana kalau saya kasih tambahan embel-embel chip dibelakangnya?
    [udah bisa tebak dong, jenis produknya]

    Ya ternyata si “Kree-oks” ini atau kriuk kalau sambil makan produknya adalah camilan sehat kripik buah kering yang diproduksi di Indonesia dan dikemas oleh sebuah CV di Bandung. Kemasannya sederhana, bersahaja, cenderung polos. Tapi dibalik kebersahajaannya itu, ternyata “Kree-oks” termasuk salah satu panganan yang cukup maju karena dia diam-diam menampilkan eksistensinya di salah satu Social Media.

    Coba cek di sudut kiri atas dibawah bendera Indonesia yang menjulur. Dengan sedikit malu-malu, Kree-oks menampilkan logo Facebook dan keterangan Kreeoks Chips. Walau belum merupakan affinity URL, namun mereka yang memiliki rasa penasaran berlebih macam saya, dapat dengan mudah melakukan proses search di facebook dengan mengetikkan Kreeoks Chips dan dalam hitungan detik akan bertemu dengan facebook groups Kreeoks Chips.

    Penggunaan facebook oleh Kree-oks chip juga memperlihatkan bahwa social media selain untuk mendukung brand engagement juga dapat dipergunakan untuk step pengembangan bisnis. Ketika masuk ke group Kreeoks Chip, tujuan pengembangan bisnis dan promosi produk adalah dua hal yang paling terasa. Walau belum maksimal, tapi apa yang dilakukan Kree-oks menurut saya adalah sebuah langkah besar dalam memanfaatkan teknologi untuk berpromosi dan mengembangkan bisnis.

    PS: Thanks to Mega yang sudah mengenalkan saya pada Kreeoks Chip.

    Live Report Engagement

    Categories: EventPortofolioSocial Media MarketingThink.Web By: Ramya Prajna S

    jjf-team
    Mudah-mudahan tidak berlebihan dan tidak jumawa, tapi saya berani katakan bahwa kami melakukan Live Report yang terbaik di Indonesia.

    Live Report Engagement
    Bukan sekedar live report, live tweet, ataupun laporan langsung lainnya. Live Report Engagement berusaha memberikan experience yang sama dengan mereka yang membaca atau melihat, dan juga mengajak mereka berinteraksi.

    Pengalaman memang tidak pernah berbohong. Saya & Anan sudah memulai melakukan (online) Live Report sejak tahun 2001. A Mild Live Soundrenaline 2001 di Parkir Timur, Jakarta adalah saat pertama.
    No mobile broadband, just gprs modem dr Sony Ericcson T68i.
    No blog framework, just html pages (and we’re not prepare by CMS engine).
    No blackberry, just heavy notebook + low pixel digicam + gprs modem-phone.
    But we try to give the actual experience to visitor with articles & photos.

    The next year, Soundrenaline 2002, we support for 5 cities. More or less with the same equipment. All the articles & photos put on a microsite, all with list of artist, venue map & schedule.
    Web statistik menunjukkan kalau visit & page views meningkat selama event berlangsung. Objektif nya simple, memberikan informasi dan experience yang sama dengan mereka yang kota nya dimampiri. Bahkan untuk kota nya yang dimampiri, liputan ini membuat mereka tidak sabar untuk datang langsung ke acaranya.

    Di tahun lainnya kami tidak lagi hanya memberikan articles & photos, kami bergerak ke arah lain. Mirip dengan sebuah blog, kami membuat article khusus dari 3 orang crew fiktif. Masing-masing crew fiktif ini punya jobdesk beda-beda di festival, sehingga memberikan masing-masing angle berbeda.
    Begitu kuat dan melekatnya karakter ini tidak sedikit yang mencari-cari nama crew-crew fiktif ini di backstage. Anan juga sering ditebak dengan nama-nama berbeda :D

    Setelah memasuki era Social Media channel-channel menjadi lebih jelas dan pintu interaksi lebih terbuka. Tapi kembali lagi kepada strategi. Penulisan, pelaporan dan lainnya sih bisa dilakukan oleh siapapun. Seseorang dengan Blackberry nya dan UberTwitter sudah bisa melakukan Live Report sebuah event. Tapi apakah mampu menciptakan Engagement?

    Engagement butuh strategi.
    Setelah sekian lama kami tidak lagi melakukan Live Report Engagement, akhirnya kesempatan itu datang lagi. JavaJazz Festival 2010 adalah kesempatan berharga untuk kami.
    Setiap tweet & message yang keluar semua dilakukan dengan strategi. Karakter account, activation dengan quiz dan lainnya semua on plan. Termasuk bagaimana mengatasi masalah-masalah technical seperti tidak ada sinyal.
    Tentunya apa yang kami lakukan tidak luput dari kesalahan, sebuah hal manusiawi. Menjadi bukti bahwa Live Report Engagement masih dilakukan oleh manusia. Jadi engagement adalah manusia dengan manusia. Crisis Management juga menjadi bagian penting. Bagaimana memanage issue atau crisis dari tanggapan/conversation yang menyimpang atau bahkan dari kesalahan sendiri.

    Pada akhirnya yang dituju adalah objective tercapai dan kepuasaan dari followers/fans dari brand yang kami tangani.

    jjf03

    Java Jazz Festival 2010

    Categories: FeaturedSocial Media MarketingThink.Web By: Ramya Prajna S

    Java Jazz FestivalSebuah kebanggan bagi kami, Think.Web, untuk bisa menjadi partner dari Java Festival Production (JPF) dalam hal Social Network Management.

    Tahun ini adalah tahun ke 5 dari Java Jazz Festival. Sebuah umur yang cukup matang untuk sebuah festival. Java Jazz Festival (JJF) sudah masuk kedalam agenda kegiatan internasional. Mata dan telinga dari seluruh dunia mengarah ke festival ini, terutama bagi mereka yang sangat suka dengan musik Jazz. Lebih dari itu, event ini juga menjadi ajang ‘kopi darat’ dari musisi-musisi Jazz dunia.

    Tahun ini JJF ingin membuka lebih lebar lagi sayapnya di digital media, specifically online media, atau lebih khusus lagi di Social Media. Bersama dengan team Promosi dari JFP, team Social Network Management (SNM) JJF dari Think.Web menyusun strategi, editorial dan eksekusi dalam channel-channel yang digunakan.

    Objective dari SNM JJF adalah meningkatkan kredibilitas festival.

    Untuk menjawab objective itu strategi yang dilakukan adalah menjadikan Social Media channel sebagai pusat informasi. Anda bisa tanya apapun (seputar JJF 2010), account @JavaJazz2010 akan coba menjawab. Bukan hanya saat ditanya, informasi seputar venue,festival juga akan diberikan. Mulai dari artis sampai dengan toilet ada dimana.

    Ada 3 channel utama dari JJF 2010: @JavaJazz2010, @JavaJazzFest dan Facebook.com/JavaJazzFestival.

    Diluar itu masih ada channel lainnya yang resmi maupun partner, misalnya kehadirannya @JavaJazz di Koprol.

    So, want to be part of an international event? come to JIExpo, Kemayoran.
    JJF SocMed channel will accompany you along the show.

    PS:
    Want to help us? please ask to @JavaJazz2010 ANYTHING that relate to Java Jazz Festival 2010. We need the practice to make us better.