Desa ku yang ku cinta, pujaan hatiku, tempat ayah dan bunda dan handai taulanku…….

Selang beberapa hari setelah ditutupnya KTT perubahan iklim di Bali, beberapa tahun setelah penebangan hutan liar & pengalihan fungsi hutan & DAS menjadi perkebunan atau tempat pemukiman dan setelah dua hari diguyur hujan lebat. Desaku yang tercinta Paron, Ngawi terendam banjir & luapan sungai bengawan Solo.

Sedih, sendu & sedan mendengar bencana itu akhirnya menghampiri juga di desaku yang tercinta. Berharap, memanggil malaikat penurun hujan untuk memohon menutup keran hujan agar sedikit reda biar tegak dan sadar terlebih dahulu tubuh ini memahami & menghayati apa yang baru saja dan sedang terjadi. Biar badan ini berhenti mengigil menahan dingin mengais selimut penghangat badan.

Gelombang & riak air ternyata tak henti mengalir.
Tanda malaikat penurun hujan geram seolah memberi peringatan tentang apa yang telah dilakukan manusia selama ini akan menuai akibat seperti ini.
Ayah, Bunda & Handai taulanku….
Disana Berjuang, berenang bak ikan belajar terbang.
Dimana tempat bermainku dulu…
Dimana tempat berenangku dulu…
dan dimana tempat mendaki-ku dulu..
Semua sembunyi dibalik gelombang & riak air mengalir. Enggan bermain bersama lagi setelah tahu dewasanya aku telah melupakannya.

Ma’af desaku
banjir-1.jpg

Speak your mind

Line and paragraph breaks are automatic.
All posts are moderated. This may delay your comment, but there is no need to resubmit it.
Allowed tags: <a href=""> <blockquote> <code> <em> <strong>.

(required)

(required)