Tangisnya sesaat pecah, kemudian berhenti. Lelah mengurai air mata, terus menahan sakit entah dimana. Matanya kembali sayu, kering dan kemudian basah kembali oleh air mata kesakitan. 2 Pebruari 2008 lalu ia terbaring lemah tak berdaya Radang tenggorokan telah melenyapkan keceriaan dan teriakannya. Suhu badanya tinggi hingga 40 derajat celcius, badannya lemas, dan tidak ada makanan atau minuman yang mau masuk.
Sedih rasanya melihat dia manggapai tanganku seraya menangis, memohon dan berharap agar aku memaksa suster-suster itu berhenti menusuk-nusuk kulitnya mencari segaris nadi sebagai jalan masuk selang infus.
Entah sudah berapa kali tangisnya pecah seiring tusukan jarum-jarum suntik itu.
Andai rasa sakit itu bisa terbagi, aku akan mengambil bagian yang paling banyak, atau semua akan aku ambil hingga tak berrsisa untuknya.
Ufhh ternyata begitu besar & mahalnya arti kesehatan. Tak berbanding dengan apapun yang aku miliki. Bahkan, sekarung uangpun tak akan bisa menggantikannya. Pun hasratku untuk menggantikannya berbaring disana kesakitan. Kesabaran hati dan keikhlasan yang hanya bisa sedikit menawarkan racun penyesalan yang selalu bias setiap mendengar tangisnya. Hari-hari yang penuh pelajaran dan harapan. Allahu Akbar…

Speak your mind

Line and paragraph breaks are automatic.
All posts are moderated. This may delay your comment, but there is no need to resubmit it.
Allowed tags: <a href=""> <blockquote> <code> <em> <strong>.

(required)

(required)