kost.jpeg

“Nah depan situ aja Ko gw turun” suara Radit melegakan konsentrasiku yang sejak tadi mencari-cari tempat yang dimaksudnya. “Nah ini rumah gw, Lo mampir dulu nggak. Gw bikinin minum kalo mampir, kalo nggak ya nggak gw bikinin”. ucap Radit basa-basi. “Oh, gitu ya? Ya udah gw mampir deh nyobain minuman sisa lebaran. Sia-sia gw nganterin lo nggak dapet apa-apa”.
Sembari menikmanti minuman, tak sengaja sih awalnya, aku menatap seseorang yang rasanya pernah ketemu aku, aku kenal & sangat tidak asing bagiku.
Daripada penasaran, aku sengaja mengamatinya sekali lagi. Yup! benar aku kenal sama dia. Untuk memastikan pengamatanku tidak salah aku tanya ke Radit. “Dit, cewek yang di depan rumah Lo itu siapa? Kok rasanya gw kenal sama dia?”. “oh, itu? Dia namanya mba Desi Ratnasari, Dia kost disitu sama suaminya setahun yang lalu. Kerjanya di Darmawangsa Square. Dia bekas guru biologi sebuah SMU didaerah Ngawi, Jawa Timur. Emang kenapa Ko, Lo kenal sama dia?”. “Tuh benerkan, ternyata tidak salah dugaanku.” gumamku.

Dan, dari sinilah awal kisah perselingkuhanku dengannya dimulai.

Tinggi semapai & putih bersih dengan dengan rambut lurus dihiasi tali air rambutnya yang menutupi kening dan pancaran matanya. Oh .. Mbak Desi Ratnasari, kamu masih seperti yang dulu. Lembut, anggun, ayu & sedikit sensual. Mantan guru biologiku ini sangat banyak dikagumi kaum adam di sekolahku, tak terkecuali anak didiknya termasuk aku. Kekaguman kami tidak hanya terpaut akan kecantikannya, iner beauty yang memancar dari dalamlah yang membuat magnet bagi besi-besi kekaguman kaum laki-laki. Guru bantu ini masih sangat muda hanya terpaut 5 tahun dengan umurku. Tutur katanya lembut namun tegas, tatapan matanya tajam penuh makna, langkahnya anggun berwibawa & kecantikannya luar dalam.

Dia hengkang ke Jakarta mengikuti suaminya yang dia nikahi setahun yang lalu. Dengan berbekal sedikit cuap-cuap sangat mudah baginya mendapatkan pekerjaan di sini. Dia diterima disebuah perusahaan Media sebagai Media Partner.

Keakraban kami diawali setiap siang di waktu istirahat makan siang dan petang sewaktu aku mengantarnya pulang. Disaat-saat itulah entah kenapa ada suatu rasa yang membuat dada ini berdebar. Hampir di setiap pertemuan aku lebih banyak diam. Aku masih menghormati dia sebagai Ibu guru sekaligus kakakku mengingat umurnya lebih tua dariku, jadi aku sangat berhati-hati setiap bertutur & menatapnya.

“Handoko, malam ini kamu mau nggak nganterin aku nonton film Laskar Pelangi? Aku lagi bt dikantor, suamiku lagi keluar kota & yang punya kost belum balik dari mudik” Deg.. debar-debar itu makin kencang mengguncang. Aku yakin tidak ada laki-laki lain yang bisa menolak permintaannya, begitupun dengan aku yang secara langsung merasakan tatapan mata iba-nya. “Baik bu, tapi kita jalan kaki saja ya motor saya kalau kehujanan mogok biasanya, toh nggak jauh juga kan tempatnya.” jawabku lugas & sesekali meliriknya. “Ok. nanti malem aku tunggu di kantormu lantai satu ya.!”

Gerimis tak jua berhenti. Hawa dingin menusuk kulit & hanya kehangatan yang kami butuhkan. Selama perjalanan pulang dari nonton rintik-rintik itu seolah menegaskan kepada kami sekali lagi bahwa kehangatanlah yang benar-benar kami butuhkan.
Sesampai di rumah kos mbak Desi, aku tak kuasa menolak permintaannya untuk mampir. Dengan baju pinjeman suaminya sedikit mengurangi beban dingin yang sedari tadi hinggap di badanku. Secangkir teh semakin menghangatkan obrolan kami berdua sembari sesekali menggigil menahan hawa.

Keheningan malam dan gemericik air hujan memabukkan obrolan kami yang sudah mulai ngalor ngidul hingga keakraban itu melewati batas . Aku juga sudah berani mulai tak sopan menatap kerlingan matanya. Dia mulai binal, cabul bertutur kata menembus imajinasi memuaskan hasrat terpendam. Hujan yang sudah agak reda malah membuat hawa bagi kami semakin dingin saja.

Sesaat obrolan kami terdiam, menelusuri jauh kedalam pikiran dan gejolak kami masing-masing. Meraba arah yang sama-sama kami tuju. Hening, diam dan berdebar-debar itu saja yang ada. Dan akhirnya sentuhan-sentuhan itu mulai terasa di belaian rambut, remasan tangan, sentuhan pipi dan akhirnya dikecupan bibir. “Aku menginginkanmu malam ini.. ” desahnya sembari membimbing aku ke kamar kos-nya. Aku tak bisa & tak pernah bisa membayangkan ini sebelumnya.

Malam makin larut. Pergumulan kami sudah tidak bisa terelakkan lagi. Ya.. aku tak kuasa menahan hasratnya, begitupun hasratku. Kami bersetubuh….

Gejolak itu akhirnya berhenti dengan sendirinya. Di hadapan dinding kamar itu pertanyaan-pertanyaan sudah mulai terjawab. Aku, mbak Desi & Radit.
Belaian rambut, sentuhan pipi & kecupan bibir dia sematkan sebelum akhirnya……..

“Mas… mas wis awan, jam setengah wolu saiki. Mangkat kerjo opo ora kowe. Saiki dino Senen lho biasane macet. Cah sekolah wis podo mlebu”. (“Mas.. mas sudah siang, jam setengah delapan sekarang. Berangkat kerja nggak. Hari Senin sekarang biasanya macet lho. Anak sekolah sudah mulai masuk“) Ooopss.. aku bangung menyadarkan diri. Hah… jam 7:30 hari Senin. Semua buyar ketika aku sadar istriku membangunkan aku. Brengsek… sialan…semprul…F@%$&&*Ck. CUMIIII…… CUMA MIMPI

2 people said...
  1. Hahaha mantabs ini baru versi softcorenya BB17, ayo keluarin cerpen hardcore yg lo kirim ke kaskus ccs Ko……

  2. Ah ra genah…?

 

Speak your mind

Line and paragraph breaks are automatic.
All posts are moderated. This may delay your comment, but there is no need to resubmit it.
Allowed tags: <a href=""> <blockquote> <code> <em> <strong>.

(required)

(required)