Beberapa hari yang lalu saya menonton acara talk show-nya Andy F. Noya di stasiun televisi Metro TV. Kebetulan bintang tamu yang diundang adalah Abdullah Gymnastiar atau yang lebih familiar dipanggil Aa Gym dengan mengangkat judul “Aa Gym Menjawab”. Penampilannya di Kick Andy diakuinya sebagai penampilan pertamanya dalam sebuah acara talkshow setelah sekian lama tidak muncul sejak keputusan kontroversinya untuk melakukan poligami. Di acara tersebut “Aa Gym menjawab” apa, bagaimana dan menagapa Aa Gym saat ini. Acaranya menarik, pembawaan Aa Gym yang kalem, bersahaja dan tuturnya mengenai perjalanan hidupnya membawa audiens larut di dalamnya. Keputusannya untuk berpoligami mengundang reaksi keras dimasyarakat dan jama’ahnya hingga ada satu komisi di DPR menggodok hal poligami ini. Sungguh di sayangkan di mata pengikut dan masyarakat, Aa Gym yang merupakan salah satu publik figur yang selalu dieluk-elukan ternyata mengkhianati keluarganya terutama Teh Nini isteri semata wayangnya. Namun, dengan sabar Aa Gym bertutur keputusannya berpoligami bukan bermaksud mengkhianati keluarga dan isterinya. Beliau yakin dalam keputusannya itu pasti terselip hikmah yang luar biasa.
Seperti kebanyakan orang sukses lainnya, perjalanan hidup Aa Gym dimulai dari level bawah sebagai penjual bakso dan sopir angkot. Menapaki karier dari level terendah hingga menapaki level sukses tertinggi ternyata tidak membuat Aa gym bahagia. Kegalauan hatinya menyeruak saat ia berada pada titik kulminasi. Dengan suara bergetar Aa Gym mengungkap perasaan yang harus dipendamnya selama beberapa tahun terakhir ini. Pria yang bertutur lembut ini mengaku beberapa tahun terakhir hidupnya tidak bahagia. Dia merasa kehidupannya bagaikan sebuah mesin yang sedang berjalan dan tidak bisa dihentikan. ”Saya begitu sibuk. Dari satu acara ke acara lain. Dari satu daerah ke daerah lain. Bahkan untuk mengejar waktu, saya sering naik helikopter atau pesawat khusus. Saya tidak punya waktu lagi untuk urusan pribadi,” ungkap ayah tujuh anak ini. “Saya tidak tahu perkembangan dan pertumbuhan jiwa anak-anak saya. Hingga keinginan menengok orang tuapun tak kesampaian.”
Keberadaannya sebagai publik figur di kultus individukan sebagian pengikutnya. Seolah jikalau tidak ada Aa Gym semuanya juga tidak ada. Ambil contoh di pondoknya kalau tidak ada Aa Gym orang juga tidak banyak yang bersilaturahmi kesana. Orang berjualan juga mengaku tidak laku kalau tidak ada Aa. Beberapa divisi usahanya juga terlalu membesar-besarkan namanya. Sungguh ini ada sesatu hal yang salah, harus berhenti dan harus dihentikan sebelum semuanya berjalan terlalu jauh. Pikiran ini menghantuinya sudah sejak beberapa tahun yang lalu. Hingga akhirnya Tuhan punya cara untuk menghentikan semua ini. Keputusan berpoligami memutus dan menghentikan semuanya. Tidak ada lagi berburu waktu untuk mengejar waktu. Dan ketenangan batin serta sisi pribadi mulai ia dapat dan rasakan.
Ada dua buah yang dapat saya petik dari acara talkshow tersebut.
Pertama. Kesuksesan manusia di dunia ini bukan tidak mungkin lagi menjadi satu beban hidup tersendiri jika tanpa diimbangi dengan ketenangan batin secara spiritual. Intinya harus ada keseimbangan antara keduanya. Sukses di dunia dan ketenangan jiwa untuk akhirat. Entah dengan cara bagaimana ketenangan jiwa manusia memang harus ada senantiasa mendampingi kita.
Kedua. Kita harus punya semangat untuk selalu berbuat hal kebaikan. Keterbatasan, kelemahan dan keterpurukan bukan suatu halangan bagi manusia untuk melakukannya.
Seperti dituturkan Aa Gym, dalam perjalanan hidupnya bersama adik tercintanya Agung yang menderita keterbatasan fisik/lumpuh di usia yang masih terlalu muda. Agung, adiknya yang cacat itu merupakan sumber inspirasinya dan menjadikan dirinya seperti sekarang ini. Dengan keterbatasan fisik yang tidak sempurna Agung bertekad melanjutkan kuliah ke fakultas ekonomi Universitas Indonesia. Padahal untuk ke kuliah dan beraktivitas, Agung, sang adik, harus dibopong. Aa Gym sebagai kakak termasuk yang paling sering membopong adiknya ke tempat kuliah. Keterbatasan fisik tidak membuatnya kendur. Baginya belajar adalah ibadah. Dan selama manusia masih bisa menghirup hawa dunia kekurangan bukan merupakan penghalangnya.
Suatu hari, Aa Gym tak kuasa untuk melemparkan pertanyaan kepada Agung. ”Dik, kata dokter sakitmu sudah parah sekali. Tapi adik kok tidak pernah mengeluh?” Sang adik tersenyum lalu menjawab, ”Untuk apa mengeluh? Mengeluh akan membuat orang lain susah. Kalau orang-orang beramal untuk bekal di surga nanti, saya ingin agar kesabaran saya ini bisa menjadi bekal nanti.”
Mendengar jawaban itu beberapa bulir air matanya tumpah tak tebendung lagi, Aa Gym tersadar. Betapa mulianya hati sang adik. Bahkan Agung pernah mengatakan apa pun yang dilakukan Aa Gym tidak akan sempurna jika tidak mengikuti jejak Nabi Muhammad. ”Itulah titik balik dalam kehidupan saya sehingga saya bisa seperti sekarang ini,” ungkapnya.
Ternyata kesuksesan, kekuasaan, kebahagiaan, kesedihan, keterpurukan dan kelemahan adalah hal lumrah bagi manusia biasa. Kekurangan kita bersyukur atas nikmat yang begitu banyak dilimpahkan kepada kita membuat garis semu menjadikan kelemahan, keterpurukan dan kesedihan yang kita alami menjadikan kita banyak mengeluh, menyumpah dan menyerah. Menjadikan kesuksesan, kekuasan, ketenaran, kelimpahan sebagai candu yang memabukan dan melupakan diri. Membuat tangga yang semakin hari semakin tinggi hingga kita tidak lagi mampu menunduk ke bawah merasakan ketidak beruntungan manusia lain.
Kita butuh tongkat keseimbangan dalam menuntun kita berjalan pada dua rel yang lurus. Dunia & akhirat.
Banyak sekali pesan moral yang tersirat dalam acara tersebut. Di akhir acara Andy F. Noya membagikan dua buku gratis tentang perjalanan spiritual Aa Gym yang dibagikan secara undian. Tapi sayang saya tidak mendapatkannya.
<img