Pagi tadi pertama kalinya gw isi bensin semenjak dinaikkannya harga BBM, dan memang gw tidak begitu memperhatikan harga per liternya karena memang sudah menyisihkan sejumlah Rp 30 ribu, namun setelah memperhatikan meteran bensin itu berhenti di angka 2 liter untuk pesanan sejumlah Rp 30 ribu, rasanya seperti menyaksikan disturbing number.
Gw sadar juga level kenaikan BBM kali ini cukup telak meninju perekonomian masyarakat, bakhkan mungkin banyak yang bisa langsung KO, tapi gw juga gak bisa menyalahkan pemerintah untuk kenaikan ini, karena memang gak lucu juga kalo setiap kita beli BBM kita minta dibayarin sebagian oleh pemerintah.
Itu sama saja membiarkan pemerintah membakar uang untuk keperluan kita berkendara ria, yang sabagian besar ber AC dan hanya untuk pribadi pula, sedangkan dana itu harusnya bisa dimanfaatkan untuk sesuatu yg lebih produktif.
Jadinya agak aneh melihat polah mahasiswa yg ber teriak2x anarkis minta agar harga BBM diturunkan kembali, koq ya bisa ya mereka minta pemerintah untuk menghabisakan APBN untuk suatu hal yg tidak produktif…, maksud gw kalo yang teriak2x itu rakyat miskin yg memang tidak punya cukup background pendidikan untuk menganalisa mekanisme perekonomian ya masih bisa maklum lah, tapi mahasiswa…. Mereka seharusnya lebih kritis terhadap pengalokasian dana hasil pengurangan subsidi BBM itu.
Anyway mungkin memang benar bahwa semua itu harus dimulai dari kesadaran diri dulu sendiri untuk mau berpikir lebih rasional dan menghilangkan mental disubsidi itu, jadi anak bawang koq mau teyus sih….
Pic taken from Here