So Common, So Cheap

March 4, 2008

Harta Negara dan Pipis

Filed under: Realita — radit @ 8:11 pm

haaretzmannekenpis.jpg

Pada suatu hari minggu yang bertepatan dengan hari tanpa kendaraan bermotor di Jakarta, Didit melakukan perjalanan ke Museum Nasional aka Museum Gajah.

Di depan museum, Didit menghadapi sang bapak tua penjual tiket yang dengan senyumnya menyapa serta bertanya “Berapa orang?”

Didit menjawab, “Satu orang, wahai bapak tua.”

Kemudian si bapak itu menyodorkan tiket sambil memberitahu harganya, “Rp 750,- , nak.”

Setelah berterima kasih, Didit langsung masuk ke museum. Tapi sebelumnya, Didit memutuskan untuk pipis dulu supaya petualangannya di museum gajah lebih lega. Setelah menemukan toilet, Didit langsung masuk, pipis, dan keluar lagi. Ketika keluar, Didit dihadang oleh penjaga toilet yang berwajah tidak enak dan sama sekali tidak murah senyum sambil menyodorkan tiket toilet dan mengujarkan harganya, “Rp 1000,- , mas.”

Masuk museum = 750, pipis di museum yang sama = 1000?

Didit pun berkata dalam hati “WHAT THE F*CK!!!!”

February 8, 2008

Manusia Modern yang Mengaku Modern

Filed under: Realita — radit @ 5:35 pm

agnosticfront_dead_yuppies.jpg

Aku adalah manusia modern sejati. Teknologi adalah tangan ku. Telematika adalah panca indera ku. Aku mendidik keras diri ku sendiri untuk tidak mengatakan hal-hal bodoh di depan individu lain. Semua yang melekat pada tubuh ku harus merepresentasikan kapasitas pola pikir ku yang kompleks dan elegan. Aku sangat puas ketika manusia-manusia yang tidak terlalu modern di sekitar ku ternganga melihat berbagai instrumen canggih yang sengaja ku pamerkan secara implisit. Dan aku tertawa pada mereka yang berpikir bahwa mereka adalah makhluk paling “masa kini” dengan semua yang mereka punya itu.

Huh… Kenapa aku harus hidup di tengah kerumunan orang-orang seperti ini. Jengah rasanya harus selalu menghadapi orang-orang yang selalu membusungkan dada mengaku-ngaku sebagai orang yang paling modern. Mereka harusnya tahu tidak ada yang lebih modern disini melebihi aku. Hanya aku.

Ini lah kenapa aku lebih suka menghabiskan waktu sendiri daripada menjadi bagian dari kerumunan norak itu. Ku pacu mobil built up ku untuk mencari ruang kesendirian. Haha… jalanan lenggang sekali. Merangsang keinginan ku untuk mengetes kecepatan maksimal mobil sporty ku ini. Gas penuh. Ku liuk-liukkan mobil ku di antara celah barisan mobil-mobil pelan itu. Kebanyakan membunyikan klaksonnya. Bah, masa bodoh. Bisa apa mereka dengan mobil-mobil standar itu. Ku jaga mobil ku tetap pada kecepatan maksimum.

Ku lihat jauh ke depan. Hey, mau kemana orang itu. Haruskah ia menyeberang jalan di depan mobil ku. Ku tekan klakson dalam-dalam. Ku tancap gas habis-habis. Orang itu kaget dan melompat kembali ke trotoar. Sambil berlalu ku lontarkan kata-kata kotor sambil memamerkan jari tengah ku. Dasar orang bodoh dan tak tahu aturan. Mengganggu laju mobil ku saja.

Tak lama aku tiba di sebuah kafe mahal favorit ku. Masuk lapangan parkir langsung ku ambil satu tempat parkir dengan sekali mundur. Aku turun dan sambil berlalu aku tekan remote pengunci mobil sambil kupandangi mobil keren ku itu. Ho.. ternyata mobil ku keluar garis parkir dan memakan dua tempat parkir. Masa bodoh lah, sekalian biar tidak ada yang parkir dekat-dekat mobil ku, kalau tersenggol dan gores, siapa yang mampu mengganti rugi reparasi mobil keren ini.

Kuambil satu meja. Sambil duduk, ku buka laptop putih berlambang buah apel. Ketika orang-orang kampungan lain yang duduk di sekitar meja ku masih menganga terkagum-kagum akan laptop ku, kujentikkan jari ku memanggil pelayan. Ku pesan kopi favorit ku sambil berusaha terlihat sibuk di depan kompeter dahsyat ku ini. Mereka yang disana itu pasti sedang membicarakan aku. Hoho… wanita yang disana itu pasti sedang jual mahal dengan tidak melirik ku sama sekali.

Setelah kusruput habis kopi ku, ku tutup laptop dan ku beranjak keluar kafe. Seorang pelayan tersenyum sambil membukakan pintu yang menghalangi lajur langkah ku. Ku berlalu tanpa melihatnya. Buat apa ku balas senyumnya toh aku sudah membayar service charge untuk semua ini.

Melihat jalanan yang begitu macet tiba-tiba aku malas menaiki mobil ku. Akh.. kutinggal saja mobil ku di sini. Toh nanti aku bayar. Ku naik busway saja.

Wahwah.. ternyata haltenya penuh. Apa boleh buat aku harus mengantri dan berdesak-desakan dulu diantara keringat dan bau tak sedap orang-orang ini. Begitu bis datang, kudorong orang d depan ku supaya ia turut mendesak masuk. Tak peduli orang yang mau turun dari bis sudah teriak-teriak kesal. Masa bodoh… Siapa suruh ia tidak sigap langsung turun.

Untung sekali ku dapat duduk kulihat banyak yang kurang sigap dan harus berdiri. Hidup di Jakarta harus sigap, bung. Hehehe… Dua halte ku lewati, ketika di halte ketiga masuk seorang ibu hamil tua kira-kira sudah 7 atau 8 bulan. Kulihat sekeliling, loh kenapa tidak ada satu pun yang mau memberkan tempat duduknya? Hey bapak tua yang disana, bangunlah, anda sudah banyak duduk sejak puluhan tahun lalu. Bocah kecil yang disana, bangunlah, kamu cukup kuat untuk berdiri. Atau wanita muda di sampingku ini, bangunlah, berikan tempat duduk mu pada ibu hamil itu. Kenapa mereka tidak ada yang memiliki kesadaran?

Loh mengapa ibu hamil itu berjalan ke arah ku. Akh tidak… sekarang ia berdiri di depan ku. Syuuh… Syuhhh.. jangan berdiri di sini. Aku akan terlihat jahat kalau tidak memberikan tempat duduk ku. Padahal tempat ini kudapatkan dengan susah payah. Akh aku pura-pura tidur saja. Tak akan ada yang berani membangunkan aku.

Untungnya di halte berikutnya, ibu itu turun. Huh.. hampir saja ia merusak image-ku. Giliran ku turun di halte berikutnya. Aku turun kemudian ku naik ojek sampai depan rumah. Kubayar ongkosnya dan si tukang ojek membalas dengan senyuman dan ucapan terima kasih. Sekali lagi ia kuacuhkan karena aku kan sudah membayar semuanya dengan ongkos itu, tak perlu lah respon terimakasihnya atau balas senyumnya.

Ku kemudian masuk kamar ku dan kukunci pintu. Menikmati kesendirian ku. Akhirnya tidak harus berhadapan dengan masyarakat yang kampungan dan tidak tahu etika… Paling tidak sampai besok pagi sampai aku harus beraktivitas lagi di dunia primitif itu. Sekarang yang ada hanya aku seorang diri, benar-benar hanya aku saja seorang diri.
Aku adalah manusia modern sejati….