Posted by stefani on Nov 20, 2010 in
Food for Soul

‘Stef… Happy Birthdayy…!” that’s all my friends said when day on that month is on October 27th. Another year has past, and yet another year must face. Yes, I thanked God with all that I have now. Not that I was not grateful for all this years.
Actually it gave me a moment of reflection. Well, I did it everyday to rewind the day and remember what I have been done for today. But, I don’t know, this time feel different. Maybe because my age. Ha..ha.. Yeah, facing the world of 3.0 would be ‘make sense’ reason.
In many ways, life has taught me to be strong. And yes, I have become a strong person. But the same time, life made me always challenge myself. The result, I always never satisfied what I have achieved. And that often made me have no self confidence and no trust in my self. Complicated huh..
Complicated or not, God already have His plan to my me and my life. If I was thought I am strong, then the last of 2,5 - 3 years really made me re-think again about it. Yes, that happened when I entered to a building E1A.
It looks like a just any building in this office complex. But from the moment I stepped in to this office, I sensed it will give me a new perspective about my self and my life.
Turn out, it certainly did. You know, when you have been working in to many places, you see yourself with half full glass. You had experience, you are getting more accustomed to adapt with new place, new people. You know how to interact with new co worker. But, sometimes, in my experience, we need to see our self in half empty glass. In my point of view, this perspective made a person always curious. When we feel we don’t know anything, we eager to learn or searching to know. Well, okay.. the same time it made you feel dumb too, but feeling dumb is important sometimes.. I think.
And, that is exactly what I felt when I become the permanent member of E1A. The strong quality that I was proud of, bam! That feel nothing when you feel dumb. The glass is not more half full, but it is half empty. I feel lack of knowledge. I feel lack of creativity. I feel dumb. Not just once, but couple times.
When you said you seek a challenge in life, be careful because life will give it you. And when you face that challenge you don’t have any other option than to face it and conquer the challenge.
Yes, Stumble and fell of was happened, but give up is not the answer.
Being a member of E1A made me to reach beyond my limit and made me experience all that. Especially working with 2 persons who I think in my humble opinion , is superman and wonder woman. They are duo that made us to dig deeper, to think deeper than usually we ever did, push us to the limit that sky is the boundaries. I must give my bows to these amazing persons that I almost believed they really have super power.
For 2,5 – 3 years now I have been stumble, fell off, and yet, I rise up, learnt, and continue. Every time that happened, my glass was filled. And gradually the glass is not half empty anymore, but it is half full. Now, slowly I regain my strength back. And certainly made me reach new level of my life.
And that because the experienced I had in this building E1A.
In the past, when I read my friend’s card, (it is said, Think.web) I asked to myself, why named ‘Think Web‘? Is it because this office related to web? Or it sounds so catchy? And now, I realized I understand what it meant. Not it (coincidence) related to web but it also define the persons inside.
We are not just couple of persons who do the job and get paid, but we are all too students. We are here not just working, but also learning. Sometime there are tests, challenge. And we have moments of success and failed. But for sure, we are growing to be better in the place, now I said, university of thinkers. [stf]
Tags: Brain, Think.Web, work
Posted by stefani on Oct 18, 2010 in
Food for Brain,
musik
Saat lagi nonton American Next Top Model (yup! That’s my favorite tv show and I am not shamed about it) , Setiap minggu, para calon model itu diberikan tantangan. Nah, salah satu-nya tantangannya adalah mewawancarai seorang selebritis.
Well, banyak tips yang bisa dipetik. Terutama buat gue. Tapi sayangnya kenapa tontonan itu gak gue tonton sebelumnya? *sigh* Jadi, gw tidak harus menerima pelajaran in a harsh way…
Sebagai seorang content provider/content writer, you named it lah… gw bertugas meng-update web milik brand dengan berita2 terbaru. Terutama jika acara itu disponsori oleh si Brand tersebut. Nah, salah satu brand yang kantor aku pegang cukup sering buat acara dan mau gak mau, sebagai sponsor, mereka sering ingin kami punya special interview with the stars.
Pendek kata, 1-2 kali gue kedapatan untuk interview. Tapi sebagai lulusan anak sastra, ilmu jurnalistik gue dapat adalah saat gue bekerja di media. Learning by doing. Gue sama sekali gak kepikir untuk membuka buku cara mewawancara yang baik ketika gue bekerja di media. Semuanya adalah Trial and Error.
Yup! Dari ditolak mentah-mentah kaya lalat yang tidak diinginkan, sampai terpana karena kecakepan si seleb itu semua gue lalui. But hey… from all there, I learnt some in do & don’ts in interview. Beberapa adalah yang gue dapatkan melalui pengalaman nyata. Tentunya ini semua adalah kesalahan yang pernah gue lakukan.
- Sebelum sesi wawancara, selalu siap dengan pertanyaan yang bakal mo ditanyain. Tentunya profil si artis perlu dihafal secara brief agar lo gak plonga-plongo nantinya. Dari facts – gossip terbaru. Dan kalo pertanyaan yang lo udah buat terasa basi, lo bisa ngarang2 dari info itu.
- Lupain deh tuuh pertanyaan ‘Darimana Inspirasi” atau “berdiri kapan” —-> so lameee. Apalagi jika si artis udah terkenal. Dia bisa mati kebosanan ditanya itu-itu lagi. Kudu update ‘what happened’ sama si Artis tuh sekarang.
- Lo ga tau harus tanya apa? Buat pertanyaan nyeleneh… yang gak ada hubungannya sama karya-nya. Misalnya: Bangun tidur ngapain? Sukanya sarapan apa? Lo punya ‘pet’ ga? Apapun deh.. Kalo artisnya dah terkenal, orang pengen tau segala nya tentang mereka. Meski mungkin kenyataannya dia gak lebih manusia dari kita.
- Artis yang diwawancara punya karakter yang macam-macam. Ada yang hobi ngobrol, lo pancing dikit, mereka bakal cerita panjang lebar. Biasanya mereka yang sekuter atau artis lagi promo kaya gini nih. Ada juga yang ngelantur kemana-mana. Maksudnya, lo tanya ke dia, dia malah ngajak ngobrol asistennya. Atau dia malah asik BB-an. Emang sih pengen jitak rasanya. Tapi, as interviewer, gak boleh. Tetep senyum, tanya ada apa, terus balikin fokusnya ke sesi wawancara. Intinya, kita yang pegang kendali. Belive me… gak gampang!
- Oia, situasi wawancara juga gak mesti lo ama dia duduk manis saling berhadapan. Bisa duduk bareng di rumahnya, atau sambil lunch di mall (ini kalo artisnya baek) atau lo nyela waktu saat red carpet atau sebelum mereka manggung. Kalo situasinya leluasa, biasanya lo udah janjian jauh hari sebelumnya. Tapi kalo Red Carpet dan sela-sela sebelum manggung… aduuuhh itu kudu cepat berpikir. Lo harus ngeluarin sisi paparazzi lo. Biasanya pertanyaan yang akan ditanya adalah situasi saat itu dan perasaan mereka. Ngomongin karya mereka saat mereka sedang dikejar waktu lo ga akan dapat jawaban yang memuaskan. Percaya deh…
- Satu lagi, Startruck! Buat yang kebetulan nge-fans sama artis yang diwawancara, jangan sampai lo kehilangan konsentrasi saat wawncara dia, betapapun mengagumkan dia. Lo gak mau dikatain bego di depan idola lo kan!
- Yang namanya interviewer emang kudu punya mental kaya paparazzi dikit-gak tau malu. Ada kalanya lo ditolak wawncara . Gak usah merasa spt lalat yang tidak diinginkan yaa… meski rasanya emang kaya githu. Resiko kerjaan sih. Namanya juga seleb.
- Satu lagi dink… kalo kebetulan artis yang dikejar orang bule, yah siap siap aja kuping dibersihin dan latian wwcr pake ingglish. Jangan sampai salah ngomong. Kadang kita tanya apa, mereka gak ngerti. Kecuali lo menyediakan jasa translator.
Meski gue pernah wawancara sana sini, gue masih jauh dari baik. Setiap mo wawancara pun, gue selalu sakit perut. Karena gue ingin semua perfek. Tapi, sejauh pengalaman gue, semuanya yang sudah gue jalani belum perfek. *sigh* Karena setiap situasi wawancara dan setiap sosok yang diwancara berbeda, sesi wawancara gak pernah sama. Bahkan Putra Nababan aja nervous waktu wawancara sama Presiden Obama. Jadi… kuncinya sih, pengetahuan luas dan kenali medan (baik dari profile wwncr dan bidang yang digeluti)
Cheerio…


all pictures was photographed by Yulian.
Tags: Experience, Interview, Jendelamimpi, Lenka, The Ataris, Tips
Posted by stefani on Mar 19, 2010 in
Bla bla bla
Prolog.
Alarm ponsel berbunyi. Aku terbangun menekan tombol ‘snooze’ dan kembali tidur. Sepuluh menit kemudian alarm kembali berbunyi dan memaksaku untuk bangun dan pergi bekerja. Sial! Rutukku dalam hati. Another Monday.Same sh*t different day! Ujarku meyumpah sambil mengambil handuk dengan malas.
Aku basuh seluruh muka, sampai belakang telinga. Aku guyur air dingin dari bak mandi ke seluruh tubuh sampai pada bagian-bagian tersembunyi di lipatan-lipatan daerah kewanitaanku. Aku cermati seluruh tubuhku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tidak ada yang kendur..semua masih sempurna, ujarku dalam hati. Sekali lagi kuguyur tubuh telanjangku dengan air dingin dengan harapan bisa menghapuskan kegilaanku akhir pekan kemarin. Saatnya kembali menjadi gadis normal, ujarku dalam hati sambil mengenakan busana kantor tertutup, sepatu pantopel dan menyapa ibu dan bapak. “Selamat pagi semua!” ujarku dengan senyuman template.
Jumat.
Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00. Ponsel berulang kali meneriakan lagu Tata Young “Sexy, Naughty, Bitchy”. Sudah banyak orang menungguku. Damn!Atasanku yang cerewet tidak henti-hentinya memberikan pekerjaan yang membuat bokongku tidak bisa lepas dari tempat duduk. Sial!Sial!Sial! Hanya itu kosakata yang kugunakan selama hari ini. Setelah mencibir, menyumpah dan merutuk dalam hati, aku keluar kantor pukul 19.00. This is it!
Rokok.Tequilla.Laki-laki. Betapa sempurna hidup ini. Upps. Aku ralat. Rokok.alkohol.laki-laki.uang.seks!Hmm…Inilah hidup sempurna.ujarku ketika meraih orgasme malam itu. Alarm ponsel membangunkan diriku. Perlu sedikit nikotin dan kafein untuk mengembalikan kesadaran diriku. Rokok.Kopi.Uang. Tanpa seks. Inilah yang terhebat! Aku langsung menuju kamar mandi hotel dan membersihkan semua bekas di tubuhku dari kegilaan semalam. Aku berpakaian dan menatap sosok laki-laki telanjang yang tidur. Laki-laki bodoh!ujarku sambil meraih sebuah dompet yang tergeletak di tempat tidur. Aku mengambil semua uang yang ada didalamnya dan selembar cek atas nama diriku kemudian keluar kamar.
Sabtu.
Another day. Another problem another trouble. Kembali ke rumah dengan pakaian hari Jumat. Mengaku selalu lembur di kantor. Orangtua percaya dan tidak masalah asal uang mengalir terus. Oke.Aku perlu rokok dan kopi. Coret..kini aku perlu secangkir chamomile tea untuk menyegarkan otakku. Memasak, mengepel, membersihkan rumah. Aku sempurna sebagai anak perempuan yang tahu pekerjaan rumah. Hari cepat sekali berlalu. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00. Pacar mengapel seperti malam minggu sebelum-sebelumnya. Kami menonton, makan, dan sedikit bercumbu. Dia meminta seks. Aku menolaknya. Aku ingin melakukannya jika aku sudah menikah, ujarku beralasan. Dia mengeluh karena tidak bisa menahan birahi. Aku melengos dan meninggalkannya. Kami bertengkar dan ia meminta maaf. Lalu aku kemudian memberikannya ciuman panas sebagai pengganti. Kemudian ia pulang.
Orangtua sudah tidur sejak tadi. Mereka percaya padaku. Mereka tidak tahu aku sudah pulang dan kembali pergi dijemput dengan sebuah mobil ‘mentereng’. Ia tampan mapan dan gampang. Kami mengobrol di apartemennya. Istrinya sedang ke luar kota untuk kepentingan bisnis katanya. Ok jawabku. Rokok.Alkohol.Birahi.Seks.Orgasme.Inilah kesempurnaan, ujarku dalam hati. Aku terbangun dalam keadaan telanjang dan saldo tabungan dollar yang bertambah dua kali lipat. Sebaiknya aku bergegas! Ujarku. Aku bangun, mandi dan memakai pakaian semalam dan bergegas pergi.
Epilog.
“Maafkan aku Tuhan karena aku sudah berdosa” ujarku dalam bilik pengakuan dosa. Keluar dari bilik pengakuan, aku mengikuti misa. Selesai pengakuan dosa dan misa, aku tersenyum pada semua teman-teman dan menyapa mereka. “Selamat pagi semua!” ujarku dengan senyum template. (St.)
Malam-malam sambil cari ide buat Semincil..wakakaka.. menemukan cerpen yang pernah gue tulis zaman dahulu kala. Daripada memenuhi memori laptop gue tanpa guna, akhirnya gue memutuskan untuk memajangnya disini.
Bisalah jadi bacaan iseng buat elo kalo lagi ga ada kerjaan. *gue bilang kalo lho.. tau kok pasti pada sibuk semua wekekeke*
Enjoy!
Posted by stefani on Jan 14, 2010 in
Bla bla bla
Gw baru menyadari kalo hal yang begitu simpel pun ada aturannya.
Malam ini gw diminta untuk mengeroki bapak yang lagi sakit masuk angin. “Mengeroki”, “kerokan” berasal dari kata dasar “kerok” (gak tau apakah aktivitas ini sudah masuk ke kamus besar bahasa Indonesia). Kerok itu bisa berarti aktivitas seperti menggaruk ke permukaan sebuah benda. Tapi kalo ditambahn akhiran -an, jadi ‘Kerokan’ adalah aktivitas dengan mengosok kulit yang sebelumnya diolesi oleh balsem dengan uang logam atau sesuatu yang berbentuk bundar dan dari logam.
Nah, konon orang dulu percaya bahwa dengan kerokan menyembuhkan orang yang kena penyakit Masuk Angin. Jadi ketika kulit dikerok, kulit akan membuang angin dalam tubuh dengan tanda ‘merah’ di kulit dari hasil kerokan itu.
Nah, gw sih gak gitu percaya ya.. menurut gw, dimana-mana, kl mengerok kulit sama benda logam, atau benda apapun pasti hasilnya merah. Kulit manusia kan ga setebel kulit badak. Jadi bukan berarti itu ‘angin’ keluar. Well.. aniwei, bapak dan ibu gw sayangnya termasuk orang ‘dulu’ itu.
Back to kerokan, jadi malam ini gw diminta untuk kerokin bapak. Ya sudah, setelah membersihkan diri sehabis pulang kerja, gw pun melaksanakan titah si empunya rumah. Secara dulu gw dulu pernah dikerokin – sebelum menyadari minum obat udah cukup – gw tentu tau dong caranya kerokan.
Kita tinggal membutuhkan balsem, uang logam dan kulit hehe.. ini maksudnya orang yang mo dikerokin. So, how difficult is that. But i guessed i was wrong…
So, bapak merequest dikerokin dari leher sampai pinggang. *sigh.. long way to go*. Dengan pede, gw pun memulai. Oles, oles balsam, lalu kerok dibagian yang ada balsamnya.. terus kerok sampai keluar garis merah. Pokoknya githu..
Eh, belum apa-apa, bapak komentar, “Kalo dileher, jangan melebar, tapi memanjang dong..” – gw hanya menjawab ‘he-eh’ aja. Lalu lanjut lagi dengan aktivitas oles, kerok-kerok sampai merah. Dikit dikit bapak nengok ke belakang mencoba melihat hasil kerokan gw. Apa sih, kaya perlu dinilai segala. Lanjut ke punggung.. lagi-lagi bapak komentar “Jangan jarang-jarang…yang rapet” – lagi-lagi gw hanya komentar “iya” aja dan kembali gw meneruskan kegiatan oles dan kerok ini.
Setelah sampai setengah punggung, bapak melihat ke cermin yang ada di kamar. Yup! Benar sekali saudara-saudara, dia komentar lagi “Kalo ngerok itu searah sama tulang rusuk,biar singkron kiri dan kanan..” Katanya sih maksudnya ngikutin jalur tulang rusuk biar kelihatan rapih.– lha itu bukannya udah ya? Gw melihat hasil kerokan gw. Ke kiri, ke kanan, lalu menatap dari jauh layaknya menilai lukisan, kayanya ga ada yang salah kok.. emang sih agak berantakan dikit, tp kan tadi beliau yang minta rapet rapet antara garis merah ke garis berikutnya. Lagian mengerok kulit kan ga sama kaya gambar diatas kertas yang bisa lurus.. ya kan.
Setelah kerokan sampai pinggang, selesai lah sudah. Dan seperti orang yang habis ditato, bapak bercermin untuk melihat hasil kerokan gw. “Ih.. kamu kerokinnya ga sampai ujung ” Arrghhh…cape dehh. Emang harus rapih sempurna yah? kaya mo dipamerin a la tato aja. Pusing deh…Baru tau kerokan ada rules and regulationnya.
Pas ibu pulang dari latihan koor, ibu melihat hasil kerokan di punggung bapak. Senyum terkulum tercetak di bibirnya. Huh..kayanya sih senyum mencela seperti “Ini anak ngerokin apa ngerokin sih?” Agak sebel tapi jadi lucu juga kalo diinget. Betapa hal yang sederhana pun butuh aturan , dan nilai estetis. Kalau kata anak design kantor gw teori Golden Ratio. Itu bukan ya? Aiihhh… lebay banget. Tapi melihat ketidakpuasan dari wajah bapak, sepertinya orangtua gw sangat menganggap penting rapihnya hasil kerokan itu. Ha.. ha..ha.. OMG.
But, that’s the Art of ‘Kerokan’. Ada yang mo dikerokin?
xxoo
Posted by stefani on Dec 29, 2009 in
Bla bla bla,
Food for Brain,
Food for Soul
This is really pathetic… you know when I read this ‘Daily Bread’ blog. Ha, pathetic with my position as content provider but never able to blogging. Crap! LOL *laughing myself*
I named it as ‘Daily Bread’ so that I can do some updates daily… haha… yeah, daily once a year… lol…shame on me. What a heck, I hope now it’s a start… a good start to fill this empty blog.
In 3 days… year in calendar will change into 2010. Another year comes and goes. And everybody will think about new resolution about their life. Resolution, why always comes along in New Year? Why not per month, per 3 month, or six months? Or it is just a habit or tradition so the coming new year will not such so empty.
Self revelation is what I do when it comes to New Year. Am I happy with my life now? What have I achieve, what have I loss? Am I in the right track in my purpose of life? And after it takes long consideration, I’ve come to the next question: What’s next?
Yeah… what’s next? It is simple question but turns out it is difficult to answer. I want to do this and that in next year, but is that the purpose of my life? Is that the right path to achieve happiness in my life? Off course all the ultimate purpose of life is living a happy life, but in what kind of happiness that make me happy?
That brings me back to my self revelation. It’s just circle cycle in my head, and I must dig deeper than just want to this and that. Some friends say making other person happy will make you happy. Help others, help you. Well, that is correct. That also the purpose of mine, but then again, we can not satisfy everyone. I am just human and selfishly I do too want to be happy without thinking about others first but hey…, I am trying.
This revelation comes to the BIG question that I always avoid this time. Yup, what do I want in live? What is my purpose in this life? Ha! Crap! I should finish reading ‘Dunia Sophie’ back then in college.
All this time, I always try to embrace what comes in my life, but at the end, at least until now, I feel I haven’t achieve anything … yet. Not that I don’t gratitude what I have now, and not that I barely achieve anything (geez, I am not that loser), but what I want to say is dreams can not just taken away. Some say you have to be realistic, or say: “Pleaseee, you can’t spend all the rest of life just to catch the dreams.” Ouch… reality bites. Indeed true, but that’s not gonna stop my mind to wander. I don’t want to be the one who said, ‘What if” because that would be sucks.
“What if” is negative I assume, the repentance that should can be avoided if we made the right decision? Then again, who can predict if what we are chose in life is the right one? I believe many people chose because it is best for them not based on what’s right or wrong.
So what is my resolution in coming New Year? I asked my self again. When I think about it, after long revelation, I remember the movie “Yes Man” and the background story from the writer who wrote the book. Come across to my self to do this. How refreshing if I can say ‘Yes’ to all. Where will it take me? Actually I have other resolution in coming 2010, but that’s a secret I keep to myself.
Anyway, this posting just a bla bla bla thing in my head today, so don’t too serious to read it. I bet you are all have great life.
This is my first posting in English in this company blog, comments, critics are welcomed. But hey don’t too harsh, I am sensitive person.
Happy New Year 2010 everyone!
Xoxo