4

Diary of A Perfect Woman

Posted by stefani on Mar 19, 2010 in Bla bla bla

Prolog.

Alarm ponsel berbunyi. Aku terbangun menekan tombol ‘snooze’ dan kembali tidur. Sepuluh menit kemudian alarm kembali berbunyi dan memaksaku untuk bangun dan pergi bekerja. Sial! Rutukku dalam hati. Another Monday.Same sh*t different day! Ujarku meyumpah sambil mengambil handuk dengan malas.

Aku basuh seluruh muka, sampai belakang telinga.  Aku guyur air dingin dari bak mandi ke seluruh tubuh sampai pada bagian-bagian tersembunyi di lipatan-lipatan daerah kewanitaanku. Aku cermati seluruh tubuhku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tidak ada yang kendur..semua masih sempurna, ujarku dalam hati. Sekali lagi kuguyur tubuh telanjangku dengan air dingin dengan harapan bisa menghapuskan kegilaanku akhir pekan kemarin. Saatnya kembali menjadi gadis normal, ujarku dalam hati sambil mengenakan busana kantor tertutup, sepatu pantopel dan menyapa ibu dan bapak. “Selamat pagi semua!” ujarku dengan senyuman template.

Jumat.

Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00. Ponsel berulang kali meneriakan lagu  Tata Young “Sexy, Naughty, Bitchy”. Sudah banyak orang menungguku. Damn!Atasanku yang cerewet tidak henti-hentinya memberikan pekerjaan yang membuat bokongku tidak bisa lepas dari tempat duduk. Sial!Sial!Sial! Hanya itu kosakata yang kugunakan selama hari ini. Setelah mencibir, menyumpah dan merutuk dalam hati, aku keluar kantor pukul 19.00. This is it!

Rokok.Tequilla.Laki-laki. Betapa sempurna hidup ini. Upps. Aku ralat. Rokok.alkohol.laki-laki.uang.seks!Hmm…Inilah hidup sempurna.ujarku ketika meraih orgasme malam itu. Alarm ponsel membangunkan diriku. Perlu sedikit nikotin dan kafein untuk mengembalikan kesadaran diriku. Rokok.Kopi.Uang. Tanpa seks. Inilah yang terhebat! Aku langsung menuju kamar mandi hotel dan membersihkan semua bekas di tubuhku dari kegilaan semalam. Aku berpakaian dan menatap sosok laki-laki telanjang yang tidur. Laki-laki bodoh!ujarku sambil meraih sebuah dompet yang tergeletak di tempat tidur. Aku mengambil semua uang yang ada didalamnya dan selembar cek atas nama diriku kemudian keluar kamar.

Sabtu.

Another day. Another problem another trouble. Kembali ke rumah dengan pakaian hari Jumat. Mengaku selalu lembur di kantor. Orangtua percaya dan tidak masalah asal uang mengalir terus. Oke.Aku perlu rokok dan kopi. Coret..kini aku perlu secangkir chamomile tea untuk menyegarkan otakku. Memasak, mengepel, membersihkan rumah. Aku sempurna sebagai anak perempuan yang tahu pekerjaan rumah. Hari cepat sekali berlalu. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00. Pacar mengapel seperti malam minggu sebelum-sebelumnya. Kami menonton, makan, dan sedikit bercumbu. Dia meminta seks. Aku menolaknya. Aku ingin melakukannya jika aku sudah menikah, ujarku beralasan. Dia mengeluh karena tidak bisa menahan birahi. Aku melengos dan meninggalkannya. Kami bertengkar dan ia meminta maaf. Lalu aku kemudian memberikannya ciuman panas sebagai pengganti. Kemudian ia pulang.

Orangtua sudah tidur sejak tadi. Mereka percaya padaku. Mereka tidak tahu aku sudah pulang dan kembali pergi dijemput dengan sebuah mobil ‘mentereng’. Ia tampan mapan dan gampang. Kami mengobrol di apartemennya. Istrinya sedang ke luar kota untuk kepentingan bisnis katanya. Ok jawabku. Rokok.Alkohol.Birahi.Seks.Orgasme.Inilah kesempurnaan, ujarku dalam hati. Aku terbangun dalam keadaan telanjang dan saldo tabungan dollar yang bertambah dua kali lipat. Sebaiknya aku bergegas! Ujarku. Aku bangun, mandi dan memakai pakaian semalam dan bergegas pergi.

Epilog.

“Maafkan aku Tuhan karena aku sudah berdosa” ujarku dalam bilik pengakuan dosa. Keluar dari bilik pengakuan, aku mengikuti misa. Selesai pengakuan dosa dan misa, aku tersenyum pada semua teman-teman dan menyapa mereka. “Selamat pagi semua!” ujarku dengan senyum template. (St.)

Malam-malam sambil cari ide buat Semincil..wakakaka.. menemukan cerpen yang pernah gue tulis zaman dahulu kala. Daripada memenuhi memori laptop gue tanpa guna, akhirnya gue memutuskan untuk memajangnya disini.

Bisalah jadi bacaan iseng buat elo kalo lagi ga ada kerjaan. *gue bilang kalo lho.. tau kok pasti pada sibuk semua wekekeke*

Enjoy!

 
0

The Art of ‘Kerokan’

Posted by stefani on Jan 14, 2010 in Bla bla bla

Gw baru menyadari kalo hal yang begitu simpel pun ada aturannya.

Malam ini gw diminta untuk mengeroki bapak yang lagi sakit masuk angin. “Mengeroki”, “kerokan” berasal dari kata dasar “kerok” (gak tau apakah aktivitas ini sudah masuk ke kamus besar bahasa Indonesia). Kerok itu bisa berarti aktivitas seperti menggaruk ke permukaan sebuah benda. Tapi kalo ditambahn akhiran -an, jadi ‘Kerokan’ adalah aktivitas dengan mengosok kulit yang sebelumnya diolesi oleh balsem dengan uang logam atau sesuatu yang berbentuk bundar dan dari logam.

Nah, konon orang dulu percaya bahwa dengan kerokan menyembuhkan orang yang kena penyakit Masuk Angin. Jadi ketika kulit dikerok, kulit akan membuang angin dalam tubuh dengan tanda ‘merah’ di kulit dari hasil kerokan itu.

Nah, gw sih gak gitu percaya ya.. menurut gw, dimana-mana, kl mengerok kulit sama benda logam, atau benda apapun pasti hasilnya merah. Kulit manusia kan ga setebel kulit badak. Jadi bukan berarti itu ‘angin’ keluar. Well.. aniwei, bapak dan ibu gw sayangnya termasuk orang ‘dulu’ itu.

Back to kerokan, jadi malam ini gw diminta untuk kerokin bapak. Ya sudah, setelah membersihkan diri sehabis pulang kerja, gw pun melaksanakan titah si empunya rumah. Secara dulu gw dulu pernah dikerokin – sebelum menyadari minum obat udah cukup – gw tentu tau dong caranya kerokan.

Kita tinggal membutuhkan balsem, uang logam dan kulit hehe.. ini maksudnya orang yang mo dikerokin. So, how difficult is that. But i guessed i was wrong…

So, bapak merequest dikerokin dari leher sampai pinggang. *sigh.. long way to go*. Dengan pede, gw pun memulai. Oles, oles balsam, lalu kerok dibagian yang ada balsamnya.. terus kerok sampai keluar garis merah. Pokoknya githu..

Eh, belum apa-apa, bapak komentar, “Kalo dileher, jangan melebar, tapi memanjang dong..” – gw hanya menjawab ‘he-eh’ aja. Lalu lanjut lagi dengan aktivitas oles, kerok-kerok sampai merah. Dikit dikit bapak nengok ke belakang mencoba melihat hasil kerokan gw. Apa sih, kaya perlu dinilai segala. Lanjut ke punggung.. lagi-lagi bapak komentar “Jangan jarang-jarang…yang rapet” – lagi-lagi gw hanya komentar “iya” aja dan kembali gw meneruskan kegiatan oles dan kerok ini.

Setelah sampai setengah punggung, bapak melihat ke cermin yang ada di kamar. Yup! Benar sekali saudara-saudara, dia komentar lagi “Kalo ngerok itu searah sama tulang rusuk,biar singkron kiri dan kanan..” Katanya sih maksudnya ngikutin jalur tulang rusuk biar kelihatan rapih.– lha itu bukannya udah ya? Gw melihat hasil kerokan gw. Ke kiri, ke kanan, lalu menatap dari jauh layaknya menilai lukisan, kayanya ga ada yang salah kok.. emang sih agak berantakan dikit, tp kan tadi beliau yang minta rapet rapet antara garis merah ke garis berikutnya. Lagian mengerok kulit kan ga sama kaya gambar diatas kertas yang bisa lurus.. ya kan.

Setelah kerokan sampai pinggang, selesai lah sudah. Dan seperti orang yang habis ditato, bapak bercermin untuk melihat hasil kerokan gw. “Ih.. kamu kerokinnya ga sampai ujung ” Arrghhh…cape dehh. Emang harus rapih sempurna yah? kaya mo dipamerin a la tato aja. Pusing deh…Baru tau kerokan ada rules and regulationnya.

Pas ibu pulang dari latihan koor, ibu melihat hasil kerokan di punggung bapak. Senyum terkulum tercetak di bibirnya. Huh..kayanya sih senyum mencela seperti “Ini anak ngerokin apa ngerokin sih?” Agak sebel tapi jadi lucu juga kalo diinget. Betapa hal yang sederhana pun butuh aturan , dan nilai estetis. Kalau kata anak design kantor gw teori Golden Ratio. Itu bukan ya? Aiihhh… lebay banget. Tapi melihat ketidakpuasan dari wajah bapak, sepertinya orangtua gw sangat menganggap penting rapihnya hasil kerokan itu. Ha.. ha..ha.. OMG.

But, that’s the Art of ‘Kerokan’. Ada yang mo dikerokin?

xxoo ;)

 
0

What’s next?

Posted by stefani on Dec 29, 2009 in Bla bla bla, Food for Brain, Food for Soul

This is really pathetic… you know when I read this ‘Daily Bread’ blog. Ha, pathetic with my position as content provider but never able to blogging. Crap! LOL *laughing myself*

I named it as ‘Daily Bread’ so that I can do some updates daily… haha… yeah, daily once a year… lol…shame on me. What a heck, I hope now it’s a start… a good start to fill this empty blog.

In 3 days… year in calendar will change into 2010. Another year comes and goes. And everybody will think about new resolution about their life. Resolution, why always comes along in New Year? Why not per month, per 3 month, or six months? Or it is just a habit or tradition so the coming new year will not such so empty.

Self revelation is what I do when it comes to New Year. Am I happy with my life now? What have I achieve, what have I loss? Am I in the right track in my purpose of life?  And after it takes long consideration, I’ve come to the next question: What’s next?

Yeah… what’s next? It is simple question but turns out it is difficult to answer. I want to do this and that in next year, but is that the purpose of my life? Is that the right path to achieve happiness in my life? Off course all the ultimate purpose of life is living a happy life, but in what kind of happiness that make me happy?

That brings me back to my self revelation. It’s just circle cycle in my head, and I must dig deeper than just want to this and that. Some friends say making other person happy will make you happy. Help others, help you. Well, that is correct. That also the purpose of mine, but then again, we can not satisfy everyone. I am just human and selfishly I do too want to be happy without thinking about others first but hey…, I am trying.

This revelation comes to the BIG question that I always avoid this time. Yup, what do I want in live? What is my purpose in this life? Ha! Crap!  I should finish reading ‘Dunia Sophie’ back then in college.

All this time, I always try to embrace what comes in my life, but at the end, at least until now, I feel I haven’t achieve anything … yet.  Not that I don’t gratitude what I have now, and not that I barely achieve anything (geez, I am not that loser), but what I want to say is dreams can not just taken away. Some say you have to be realistic, or say: “Pleaseee, you can’t spend all the rest of life just to catch the dreams.” Ouch… reality bites. Indeed true, but that’s not gonna stop my mind to wander. I don’t want to be the one who said, ‘What if” because that would be sucks.

“What if” is negative I assume, the repentance that should can be avoided if we made the right decision? Then again, who can predict if what we are chose in life is the right one? I believe many people chose because it is best for them not based on what’s right or wrong.

So what is my resolution in coming New Year? I asked my self again. When I think about it, after long revelation, I remember the movie “Yes Man” and the background story from the writer who wrote the book. Come across to my self to do this. How refreshing if I can say ‘Yes’ to all. Where will it take me? Actually I have other resolution in coming 2010, but that’s a secret I keep to myself.

Anyway, this posting just a bla bla bla thing in my head today, so don’t too serious to read it. I bet you are all have great life.

This is my first posting in English in this company blog, comments, critics are welcomed. But hey don’t too harsh, I am sensitive person. :D

Happy New Year 2010 everyone!

Xoxo ;)

Copyright © 2012 Daily Bread All rights reserved. Theme by Laptop Geek.