Branding in Community
Virtual Community atau Online Community mempunyai tingkat kepercayaan sangat tinggi. Mereka itu seperti sekumpulan ibu-ibu arisan yang melakukan pertemuan terus menerus. (Ibu-ibu arisan kalo jualan apapun pasti aja laku, sebagai penjual mereka punya kedekatan hubungan antar anggota sebagai modal kuat untuk ‘memperdaya’ pembeli, pembeli-pembelinya sangat percaya akan barang-barang yang ditawarkan penjual). Dengan mencontohkan larisnya jual beli di lingkungan arisan bukan berarti kepercayaan itu muncul untuk jual-beli. Kepercayaan justru lebih luas lagi, tidak hanya sekedar jual-beli tapi juga soal informasi yang beredar di komunitas itu. Komunitas Online bisa diandaikan seperti sebuah ‘tongkrongan’ yang didalam nya orang bebas datang dan pergi, ngobrol apapun (tentu seputar topik komunitas tersebut), mendapatkan berbagai keuntungan, bermain, cari informasi dan lainnya. Karena tongkrongan ini sifatnya santai, sebuah promosi Hard Sell jadi terasa kurang nyaman. Itulah kenapa soft sell, smooth branding, buzz marketing dan bentuk pengenalan produk tidak langsung lainnya bisa berjalan lebih efektif. Jadi, dibanding “Beli lah produk X karena.. bla bla bla”, kalimat “Ada yang bilang produk X cukup baik, bla bla bla” akan terdengar lebih terpercaya. Sebenarnya apakah hal yang bisa didapatkan dari sebuah komunitas. Simple… real data! Mulai dari data diri, wilayah, hobby sampai dengan media apa yang mereka gemari, ini semua bisa didapatkan secara nyata dan bisa keakuratannya bisa dipercaya. Bayangkan bila pemilik produk bisa mengetahui hal-hal tersebut, tentu mereka bisa menyusun strategy marketing lebih akurat dan taktis, pengembangan produk juga lebih tepat dan strategi-strategi jitu lainnya. Tetapi, bagaimanakah masuk atau mendapatkan Komunitas Virtual ini? Ada beberapa cara untuk mendapatkan komunitas ini,
1. Support Existing Community Ada beberapa komunitas online, terutama Milis yang bertemu (make/join milis) karena sama-sama menggunakan sebuah produk. Misalnya milis pengguna PDA Palm, pengguna Mobil Honda Jazz, dan masih banyak lainnya. Tidak terlalu sulit untuk mengumpulkan orang-orang di komunitas ini, karena komunitas ini memang sudah terbentuk. Biasanya mereka ‘bertemu’ karena punya masalah, si A punya masalah dan si B pernah melewat masalah itu, sedangkan si B punya masalah lain dan si C punya solusi nya. Dan seterusnya. Intinya adalah mereka saling berbagi informasi. Komunitas ini akan terus berjalan dan membesar dengan atau tanpa dukungan dari ‘si empunya’ produk. Akan menjadi plus point kepada pemilik produk jika mereka memberikan dukungan kepada komunitas ini. Tetapi dukungan yang diberikan tidaklah cukup pada legalisasi, pengakuan keberadaan, atau memberikan tips dan trick. Karena, sekali lagi, tanpa support dari pemilik produk pun mereka akan terus berjalan dan berkembang. Dan untuk Tips & Trick, jangan salah, bisa jadi mereka lebih tricky (baca: pandai memecahkan masalah) dari pada para ahli di pabrik pemilik brand tersebut. Dukungan dari pemilik produk harus dalam bentuk nyata dan dapat dinikmati keuntungannya secara exclusive bagi anggota komunitas tersebut. Dengan demikian kecintaan para anggota komunitas terhadap produk nya akan semakin tinggi, komunitas pun akan semakin membesar dengan Buzz Marketing nya (bahkan akan menarik orang-orang yang bukan pengguna produk ini untuk masuk ke komunitas nya) dan pemilik produk pun mendapatkan penggemar fanatik mereka.
2. Build up the community Kebalikan dengan uraian sebelumnya, yang ini pemilik produk lah yang proaktif membuat wadah. Pemilik produk akan memberikan seluruh fasilitas dan keuntungan untuk para anggota komunitas ini. Tantangannya adalah butuh waktu untuk membuat komunitas ini ‘terisi’. Community trust yang menjadi plus point dari komunitas pun agak susah terbentuk, penjelasan nya sederhana: karena mereka tidak terbentuk karena keadaan yang sulit (bandingkan perbedaan nya dengan uraian nomer satu yang diawali dengan berbagai masalah yang dihadapi). Kenyataannya berbagai individu lebih mudah bersatu ketika mereka berada didalam keadaan yang terjepit (baca: menghadapi masalah). Dengan berbagai fasilitas yang memanjakan justru bisa membuat mereka menjadi manja. Tapi disisi lain, komunitas jenis ini punya banyak gula sebagai daya tarik. Fasilitas-fasilitas nyata yang ‘dijual’ oleh komunitas ini tentu menjadi daya tarik sendiri bagi mereka yang tertarik pada sebuah produk.
3. Soft Branding at certain community Untuk uraian yang ke 3 komunitas nya bisa sudah ada ataupun baru dibentuk. Tetapi yang pasti komunitas ini tidak secara langsung pengguna dari sebuah produk. Mereka bisa jadi adalah komunitas yang mempunyai kesamaan sifat dengan produk itu sendiri. Contoh: Jika sebuah produk minuman penambah energy memberikan informasi-informasi bagi orang yang gemanr berolah raga atau bisa dibilang gemar mengeluarkan energy. Si pemilik produk tidak serta merta mencekoki komunitas ini dengan produk-produknya, tetapi mereka hanya memberikan informasi umum yang sesuai dengan tujuan sebuah produk. Dengan demikian komunitas ini akan terbuka bagi siapapun tanpa ada batasan produk, tetapi pemilik produk tetap sah untuk melakukan branding produk mereka. Contoh: Djarum memberikan informasi-informasi seputar olah raga sepak bola di seluruh Indonesia. Bagi mereka non perokok Djarum tetapi penggila bola tentu akan menjadikan website Djarum sebagai tempat mencari informasi sepak bola. Tanpa mereka sadari komunitas ini akan terbentuk, berusaha mendapatkan fasilitas-fasilitas yang diberikan, dan kemudian muncul Community Trus, dan selanjutnya terjadi akan sama seperti pada uraian nomer 1. Kesimpulannya, jika pemilik produk ingin mendapatkan real data dari target marketnya (atau calon) temukan atau ciptakanlah komunitas nya. Gunakan Community Trust sebagai salah satu senjata marketing. Komunitas merupakan ‘pegangan’ untuk semua produk, baik barang ataupun jasa.