Petani jualan di Internet

Wednesday, October 31st, 2007, By
Filed under: Online Media

Baru saja seminggu yang lalu di Internal Seminar Think.Web saya bicara soal pertumbuhan dan penetrasi internet di Indonesia. Setelah cerita soal potensi penetrasi nya, efek menang nya Bakrie Telecom menang Tender sambungan International dan bagaimana langkah-langkah nya Telkom dengan TVC “Internet masuk desa” nya, Salah satu omongan ngelantur yang keluar adalah “jangan kaget kalo suatu saat nanti ada petani yang jualan beras nya nggak lagi ke KUD tapi mereka jualan langsung lewat internet”.

Ternyata ‘suatu saat’ itu umur nya cuman 1 minggu. Di koran Kompas hari Senin, 29 Oktober 2007 kemarin, ada berita dengan judul “Internet Merambah Masyarakat Pedesaan“. Pada inti nya ini cerita mengenai seorang petani teh Rosela yang secara nyata menggunakan online media sebagai media pemasaran.
Secepat itu kah perkembangan Teknologi Informasi sampai dengan kata-kata suatu saat itu hanya berlaku dengan hitungan hari.

Diluar dari hal itu yang menarik adalah bagaimana menyikapi hal-hal internet masuk desa ini. Mungkin kah terjadi gap teknologi karena bisa dibilang mereka di desa tidak merasakan process tumbuh nya internet di Indonesia.
Ketika masyarakat Indonesia tiba-tiba menerima keberadaan telpon umum, mereka tidak menghargai telpon umum tersebut dengan berlaku vandal karena memang tidak mengalami proses dari tidak ada menjadi ada.
Atau seperti ketika masyarakat Indonesia tidak mengenal text message device. Text message device adalah gadget yang hanya untuk mengirimkan & membaca text message. Lebih maju dari pager karena bukan cuman bisa terima text, tapi lebih terbelakang dari handphone karena hanya bisa text bukan suara. Akhirnya banyak orang yang menggunakan Handphone sebagai Text message device SAJA.
Bagaimana dengan internet di pedesaan? yang mungkin mereka baru saja tersambung dengan listrik dan beberapa saat kemudian sudah langsung menggunakan internet. Mungkin sambungan telpon saja mereka belum pernah menggunakan.

Terkait dengan hal itu yang kemudian mungkin harus dikembangkan adalah bagaimana membuat User Interface atau Layout yang user Friendly dengan masyarakat pedesaan. Mungkin mereka hanya bisa didekati dengan gambar-gambar sehingga segala bentuk interface harus iconic.
Hal seperti ini juga seperti ketika Esia mengembangkan jalur jual-beli Ring Back Tone lewat jalur suara (bukan text command) (saya nggak tahu ini sudah terjadi atau masih dalam rencana Esia).

brain.think.web.id is a
blog of ramya & anantya

Powered by Wordpress.
All rights is now also lefts. 2010