<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Brain of Think.Web &#187; General</title>
	<atom:link href="http://think.web.id/brain/category/general/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://think.web.id/brain</link>
	<description>Think to give, Not to ask</description>
	<lastBuildDate>Fri, 04 May 2012 15:07:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>When the DC Super Heroes coming to town</title>
		<link>http://think.web.id/brain/2011/04/06/dc-super-heroes/</link>
		<comments>http://think.web.id/brain/2011/04/06/dc-super-heroes/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Apr 2011 03:17:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ramya Prajna</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Think.Web]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/brain/?p=17196</guid>
		<description><![CDATA[Saya bukan penggemar komik sejati. Saya suka, tapi hanya beberapa yang saya baca dan beberapa yang saya simpan. Kalau membaca dari Wikipedia mengenai komik di Indonesia kita mengalami beberapa paruh masa. Di era tahun 30an komik-komik adalah terkait dengan perjuangan bangsa. Baru di tahun 50an, R.A. Kosasih, bapak komik Indonesia, mulai mengadopsi komik Amerika menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Sriasih1.jpg"><img class="size-medium wp-image-17197 alignleft" style="margin-left: 10px;margin-right: 10px" src="http://think.web.id/brain/files/2011/04/Sriasih1-255x375.jpg" alt="" width="255" height="375" /></a>Saya bukan penggemar komik sejati. Saya suka, tapi hanya beberapa yang saya baca dan beberapa yang saya simpan.</p>
<p>Kalau membaca dari Wikipedia mengenai <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Komik_Indonesia">komik di Indonesia</a> kita mengalami beberapa paruh masa. Di era tahun 30an komik-komik adalah terkait dengan perjuangan bangsa. Baru di tahun 50an, R.A. Kosasih, bapak komik Indonesia, mulai mengadopsi komik Amerika menjadi bentuk super hero Indonesia, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sri_Asih">Sri Asih</a>.<br />
Sri Asih merupakan &#8216;lokalisasi&#8217; dari Wonder Woman, sebuah karakter yang diterbitkan DC Comics di tahun 1941.</p>
<p>Di tahun 70an ketika industri film Indonesia menjadi raja, ada juga film super hero yang muncul. Film yang saya ingat adalah <strong><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rama_Superman_Indonesia">Rama Superman Indonesia</a></strong> (kesamaan nama bukan faktor kesengajaan <img src='http://think.web.id/brain/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> ).<br />
Sampai hari ini rasanya belum ada lagi film layar lebar super hero yang dibuat lagi di Indonesia.</p>
<p>Kenapa sih saya membahas mengenai komik?</p>
<p>Saat ini, di industri Digital Agency Indonesia, mulai berdatangan memulai langkahnya masuk ke Indonesia. Beberapa tidak terlalu sulit, karena memang sudah ada perusahaan terdahulu yang <em>establish</em> di Indonesia. Misal dalam bentuk brand agency, advertising agency, activation agency, PR agency, atau lainnya.</p>
<p>Kebetulan yang datang mengetuk pintu kami, membuka kesempatan maupun tertarik dengan Think.Web namanya kebanyakan berakhiran &#8216;man&#8217; atau &#8216;an&#8217;. Kok seperti kedatangan Superman, Batman, Wonder Woman ya&#8230; <img src='http://think.web.id/brain/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Lepas dari nama, apa sih yang kemudian terjadi pada industri ini kedepan nantinya? Digital Industri di Indonesia masih &#8216;perawan&#8217; sekali, demikian kalau kata <a href="http://techcrunch.com/2011/03/28/witn-jakarta-no-she-came-back-of-her-own-accord-tctv/">Sarah Lacy</a> saat dia di interview.</p>
<p>In this early era, disaat &#8216;supe hero&#8217; asing masuk ke Indonesia, sikap seperti apa yang sebaiknya diambil oleh &#8216;jagoan-jagoan&#8217; lokal?<br />
Kita tentunya nggak mau sekedar jago kandang. Dunia juga perlu mendengar bahwa Indonesia punya potensi kreatif dan produksi berkelas dunia. Bukan hanya soal market nya saja yang melulu di garap uangnya.</p>
<p>Globalization means come in to Indonesia, and come out to bigger world.</p>
<p>What do you think?</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/brain/2011/04/06/dc-super-heroes/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Another Seminars Another Goody Bag</title>
		<link>http://think.web.id/brain/2009/03/10/another-seminars-another-goody-bag/</link>
		<comments>http://think.web.id/brain/2009/03/10/another-seminars-another-goody-bag/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2009 01:00:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anan</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/brain/?p=784</guid>
		<description><![CDATA[photo credit: CoCreatr Saya bukan seminar frequent flayer. Tapi ada satu hal yang terkadang menggelitik nurani ketika menghadiri sebuah seminar. Isi seminarnya? [jawabannya bukan] Pembicaranya? [jawabannya bukan] Doorprizenya? [hampir tepat tapi jawabannya masih bukan] Goodybag? Nah, ini satu hal yang menggelitik saya. Ketika saya menghadiri sebuah seminar, yang ada di benak saya ketika saya baru [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="200" align="left">
<tbody>
<tr>
<td><a title="So Sweet So Girl" href="http://www.flickr.com/photos/22746936@N02/2264164751/" target="_blank"><img style="border: 0pt none;margin-bottom: 5px;margin-right: 10px" src="http://farm3.static.flickr.com/2316/2264164751_0fffb339ff.jpg" border="0" alt="So Sweet So Girl" width="281" height="500" /></a><br />
<a title="Attribution-ShareAlike License" href="http://creativecommons.org/licenses/by-sa/2.0/" target="_blank"><img src="http://think.web.id/brain/wp-content/plugins/photo-dropper/images/cc.png" border="0" alt="Creative Commons License" width="16" height="16" align="absmiddle" /></a> <a href="http://www.photodropper.com/photos/" target="_blank">photo</a> credit: <a title="CoCreatr" href="http://www.flickr.com/photos/22746936@N02/2264164751/" target="_blank">CoCreatr</a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Saya bukan seminar frequent flayer. Tapi ada satu hal yang terkadang menggelitik nurani ketika menghadiri sebuah seminar.</p>
<blockquote><p>Isi seminarnya? <em>[jawabannya bukan]</em><br />
Pembicaranya? <em>[jawabannya bukan] </em><br />
Doorprizenya? <em>[hampir tepat tapi jawabannya masih bukan]</em><br />
Goodybag?</p></blockquote>
<p>Nah, ini satu hal yang menggelitik saya. Ketika saya menghadiri sebuah seminar, yang  ada di benak saya ketika saya baru masuk ke dalam sebuah seminar adalah untuk mendapatkan paling tidak satu hal dari list di bawah ini:</p>
<ul>
<li>list acara</li>
<li>sedikit reading material soal acara</li>
<li>alat tulis (karena kadang saya suka malas bawa pen and paper)</li>
</ul>
<p>Nah biasanya yang paling sering dibagikan sebelum acaranya mulai adalah Goody Bag ini. Jadi ketika saya memasuki ruang seminar, saya mengharapkan kehadiran salah satu dari list barang diatas didalam Goody Bag yang saya dapat untuk paling tidak memberikan panduan untuk saya selama seminar/event.</p>
<p>Tapi sayangnya, cuma sedikit Goody Bag yang menyediakan hal ini. Biasanya nih, yang ada dalam sebuah Goody Bag adalah kaos sponsor,  media cetak sponsor (majalah/tabloid/koran), stiker-stiker, pin, topi, dan yang paling banyak biasanya tumpukan brosur.</p>
<p>Saya membatin, kenapa ya?<br />
Memang sih dilihat dari asal katanya Goody. Goody ini berarti benda-benda menarik alias gimmick yang biasanya dibagikan oleh brand-brand besar. Jadi memang ngga salah kalau dalam Goody Bag memang ada kaos/topi/majalah.  Atau bahkan (ini saya berdoa suatu saat Goody Bag yang dibagikan berisi) digital kamera, jam tangan, usb atau web cam. Memang ga ada yang salah sih.</p>
<p>Tapi sebentar, kalau ditarik lagi dari asal katanya yaitu: Goods (yang berarti barang). Nah kalau begitu berarti hal yang saya list diatas juga termasuk dalam barang yang secara logika juga perlu ada dalam sebuah Goody Bag.</p>
<p>Don&#8217;t get me wrong, I like having freebies on my Goody Bag. Tapi kalau kebanyakan isinya cuma brosur, rasanya agak males juga ya. Saya butuh info seputar event/acara dan saya juga butuh good quality goodies.</p>
<p><em>So for all the seminar attendee: vote for good quality Goody Bags!!!</em></p>
<blockquote><p><em>Rama&#8217;s think:</em></p>
<p><em>&#8216;Oleh-oleh&#8217;  masih menjadi budaya kita memang. Biasanya kan kalau habis berkunjung ke rumah orang, supaya kunjungan menjadi lebih berkesan kita suka disuruh bawa pulang sesuatu. &#8220;Ini makanannya masih banyak.. dibungkusin untuk dibawa pulang ya&#8230;&#8221;. Dasar dari itu memang adalah agar si pemilik rumah diingat lebih lama oleh si tamu.<br />
Apa yang &#8216;dibungkusin&#8217; dari si pemilik rumah akan bervariasi, tentunya sesuai dengan kemampuan pemilik rumah. Tapi untuk si tamu&#8230; diberikan apapun pasti senang. Hanya saja seberapa akan membekas si bingkisan ini? Nah untuk hal ini <span style="text-decoration: underline">bisa</span> tidak terkait dengan kemampuan finansial. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan untuk berpikir. Kira-kira si tamu akan senang dibawakan apa ya&#8230;</em></p>
<p><em>Kalau saya berkunjung trus waktu pulang dibawain duren pasti jadinya ngedumel. Wong nggak suka duren. Hahaha <img src='http://think.web.id/brain/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /><br />
</em></p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/brain/2009/03/10/another-seminars-another-goody-bag/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahasa Burung</title>
		<link>http://think.web.id/brain/2009/01/21/bahasa-burung/</link>
		<comments>http://think.web.id/brain/2009/01/21/bahasa-burung/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jan 2009 03:43:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anan</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[tweety]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/brain/?p=764</guid>
		<description><![CDATA[Ada berapa bahasakah di dunia ini? Ada yang tahu? Karena kelewat penasaran saya google jawabannya, salah satunya ditawarkan oleh ethnologue.com dengan 6.912 bahasa. Banyak banget ya? Penasaran lagi apakah bahasa ini sudah termasuk dengan bahasa gaulnya Debby Sahertian ya? Atau bahasanya Chincha Lawra? Ah tapi bukan bahasa gaulnya Debby Sahertian atau bahasa campur-campurnya Chincha Lawra [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Ada berapa bahasakah di dunia ini? Ada yang tahu?</p></blockquote>
<p>Karena kelewat penasaran saya google jawabannya, salah satunya ditawarkan oleh <a href="http://www.ethnologue.com/" target="_blank">ethnologue.com</a> dengan 6.912 bahasa. Banyak banget ya? Penasaran lagi apakah bahasa ini sudah termasuk dengan bahasa gaulnya Debby Sahertian ya? Atau bahasanya Chincha Lawra?</p>
<p>Ah tapi bukan bahasa gaulnya Debby Sahertian atau bahasa campur-campurnya Chincha Lawra yang mo saya bahas disini. Akika sutra tawares kalo soal bahasa gaul debby sahertian dan already paham chekali bahachanya chincha lawra. Nah sekarang ada satu bahasa yang menarik: Twitter Lingo!</p>
<p>Kebanyakan kata-kata di Twitter Linggo ini berawalan dengan huruf T dan w. Sepertinya untuk &#8220;menancapkan&#8221; brand twitter dikalangan pecintanya.  Kalau diliat dari bentukan katanya, kebanyakan sih hanya menggabungkan antara kata tweeter dengan kata umum bahasa inggris, memang kadang kurang kreatif, tapi keliatannya lucu.Agak aneh sih buat yang baru pertama kali ngebaca, dan memang belum banyak dipakai sama para tweeple (sebutan buat mereka yang punya twitter).</p>
<p>Coba cek aja listnya:</p>
<ul>
<li><em>Twaiting </em>- Twittering while waiting</li>
<li><em>Twat </em>- Person behind spam Twitter acct</li>
<li><em>Twaffic </em>- Twitter traffic.</li>
<li><em>Twardware </em>- Twitter hardware.</li>
<li><em>Tweekend </em>- Spending your entire Saturday and Sunday reading and posting via Twitter.</li>
<li><em>Tweeple </em>- Twitter people, Twitter members, Twitter users</li>
<li><em>Tweeps </em>-    Twitter + peeps (friends)</li>
<li><em>Twease </em>- A person who teases people over Twitter.</li>
<li><em>Tweetard </em>- A twitter retard.</li>
<li><em>Tweory </em>- Twitter as applied to theory.</li>
<li><em>Twibute </em>- To pay tribute to s.o. on Twitter; to give praise, to make a compliment etc.</li>
<li><em>Twitteritas </em>- Women who play with their twitters <em>[menurut gue: ok this one is kind of strange]</em></li>
<li><em>Twitterrhea </em>- The act of sending too many Twitter messages [<em>menurut gue: seperti perpaduan twitter dan diarrhea]</em></li>
<li><em>Twittsomnia </em>- Twittering due to inability to sleep, thus compounding inability to sleep.</li>
<li><em>Twype </em>- To type a twitter.</li>
<li><em>Twollower </em>-  Twitter + follower: someone that follows you.  If you followed them too they would be twiends.</li>
</ul>
<p>Bahasa yang aneh ya, jadi teringat ini:<br />
<em>I twoot I Twee a </em>putty tat<em>..I did&#8230;I did<br />
by this <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Tweety" target="_blank">little fellow</a></em></p>
<blockquote><p>Rama&#8217;s Think:</p></blockquote>
<blockquote><p>Sayang nya Twitter kurang populer di Indonesia. Tapi mudah-mudahan it&#8217;ll grow. Kemudian, sayangnya juga belum ada website Indonesia yang nama atau kata-katanya bisa menjadi bahasa &#8216;baru&#8217;. Padahal di masyarakat gampang banget muncul bahasa baru, bahasa banci misalnya. Sutra lah ne&#8217;!<br />
<em> <img src='http://think.web.id/brain/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </em></p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/brain/2009/01/21/bahasa-burung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Let Them Build You</title>
		<link>http://think.web.id/brain/2009/01/02/let-them-build-you/</link>
		<comments>http://think.web.id/brain/2009/01/02/let-them-build-you/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Jan 2009 04:28:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ramya Prajna</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Product]]></category>
		<category><![CDATA[iphone]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/brain/?p=622</guid>
		<description><![CDATA[Banyak sekali hal menarik dari iPhone (atau Ipod Touch) application. Saya bisa ikutan kecipratan seru nya aplikasi-aplikasi ini karena saya menggunakan iPod Touch. Pada sebuah iPod Touch ada banyak sekali element yang kemudian terkait satu dengan yang lainnya, misal: Accelerometer: fungsi dasarnya untuk menentukan rata sebuah permukaan. Di iPod Touch fungsi ini digunakan untuk menentukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_632" class="wp-caption alignleft" style="width: 305px"><img class="size-medium wp-image-632" src="http://think.web.id/brain/files/2008/11/product-ocarina1-295x300.png" alt="" width="295" height="300" /><p class="wp-caption-text">Image source: http://www.smule.com/products</p></div>
<p>Banyak sekali hal menarik dari iPhone (atau Ipod Touch) application. Saya bisa ikutan kecipratan seru nya aplikasi-aplikasi ini karena saya menggunakan iPod Touch.</p>
<p>Pada sebuah iPod Touch ada banyak sekali element yang kemudian terkait satu dengan yang lainnya, misal: Accelerometer: fungsi dasarnya untuk menentukan rata sebuah permukaan. Di iPod Touch fungsi ini digunakan untuk menentukan posisi baca screen secara otomatis. Misal saat melihat list album, saat dalam posisi vertical maka bentuknya list, tetapi kalau kemudian kita rotate 90° menjadi posisi horizontal maka bentuk tampilannya menjadi seperti slide show.</p>
<p>Belum lagi kombinasi accelerometer, touchscreen dan speaker nya. Nah kalau iPhone lebih banyak lagi. Karena di iPhone ada Bluetooth, GPS, dan lainnya.<br />
Bayangkan, makin banyak kombinasi nya makin banyak hal yang bisa menjadi menarik.</p>
<p>Pertanyaannya adalah mampukah kita (sang produsen) untuk memikirkan segala sesuatu nya? Kadang kita yang berada pada posisi &#8220;yang membuat&#8221; jadi ter fokus hanya pada fungsi-fungsi utama nya. Tapi justru orang lainlah yang bisa melihat dari sisi lain dan memanfaatkan (atau membuat) menjadi hal lain yang lebih menarik. <em>Yes, let the crowd out there perfected your brand or product. </em>Ijinkan audience untuk menyumbangkan sesuatu untuk perkembangan brand. iPhone dan iPod Touch punya banyak sekali <em>additional application</em> yang dibuat secara independen.</p>
<p><a href="http://www.smule.com/products" target="_blank"><strong>Smule</strong></a>, sebuah perusahaan pembuat aplikasi iPhone, kali ini membuat <strong>Ocarina</strong>.<br />
Aplikasi ini menjadikan iPhone menjadi sebuah instrumen musik!!<em> Can you imagine</em>? Kapan orang pernah  berpikir bahwa sebuah handphone bisa menjadi &#8216;alat&#8217; lain yang BUKAN untuk menelpon (atau fungsi lain yang sudah terintegrasi seperti digicam, music player, atau lainnya)? Yang pasti, para pembuat handphone pasti tidak akan memikirkan hal ini ketika mereka pertama kali membuat sebuah produk handphone baru.</p>
<p>Jadi lebih menarik lagi karena aplikasi ini (Ocarina) memungkinkan kita mendengar secara langsung dimanapun orang yang sedang memainkan &#8216;alat musik&#8217; ini.</p>
<p>Liat aja video nya:</p>
<p>[youtube]RhCJq7EAJJA[/youtube]</p>
<p><em>It&#8217;s just the beginning folks. Like I said, a lot of things that we can explore. Think the possibilities!!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/brain/2009/01/02/let-them-build-you/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Google Ads Salah Tempat</title>
		<link>http://think.web.id/brain/2008/12/28/google-ads-salah-tempat/</link>
		<comments>http://think.web.id/brain/2008/12/28/google-ads-salah-tempat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Dec 2008 01:36:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ramya Prajna</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Uniquely Advertise]]></category>
		<category><![CDATA[google adwords]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/brain/?p=660</guid>
		<description><![CDATA[Google Ads yang muncul ditempat yang nggak seharusnya pasti sering kita lihat kan? Ini karena si pengguna Adsense kurang taktis menggunakan keyword sehingga iklan yang muncul malah merugikan Blog (tempat iklan) itu dipasang. Kemunculan iklan salah tempat yang merugikan blog misalnya iklan tentang website porn yang muncul di blog tentang wanita atau bayi. Tapi ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Google Ads yang muncul ditempat yang nggak seharusnya pasti sering kita lihat kan? Ini karena si pengguna Adsense kurang taktis menggunakan keyword sehingga iklan yang muncul malah merugikan Blog (tempat iklan) itu dipasang. Kemunculan iklan salah tempat yang merugikan blog misalnya iklan tentang website porn yang muncul di blog tentang wanita atau bayi.</p>
<p>Tapi ada hal yang menarik baru-baru ini. Berkaitan dengan peristiwa terorisme di Mumbai.</p>
<p>Perhatikan image ini:</p>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 610px"><a href="http://mashable.com/wp-content/uploads/2008/11/googleadterror.png"><img src="http://mashable.com/wp-content/uploads/2008/11/googleadterror.png" alt="Source: Mashable.com" width="600" height="622" /></a><p class="wp-caption-text">Source: Mashable.com</p></div>
<p>Atau yang ini:</p>
<p><div class="wp-caption alignnone" style="width: 610px"><a href="http://mashable.com/wp-content/uploads/2008/11/googleadterror3.png"><img src="http://mashable.com/wp-content/uploads/2008/11/googleadterror3.png" alt="Source: Mashable.com" width="600" height="710" /></a><p class="wp-caption-text">Source: Mashable.com</p></div><br />
 <img src='http://think.web.id/brain/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Sertifikat untuk melakukan terorisme bisa didapatkan secara online!! begitu kira-kira inti iklan nya. Padahal siapapun yang sedang membaca berita mengenai teroris di Mumbai pasti sedang mengecam aksi terorisme dalam bentuk apapun (didalam hatinya). Kemunculan iklan ini menjadi sebuah humor satir.</p>
<p>Hal seperti ini memang diluar dari kendali Google. Karena mereka hanya menyediakan tempat bagi siapapun yang mau menjual apapun.</p>
<p>Dan seperti nya memang susah untuk mencegah hal-hal seperti ini. <em>At least </em>untuk mendapatkan sebuah aksi preventif, pasti harus ada kejadian pertama.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/brain/2008/12/28/google-ads-salah-tempat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Take you conversation somewhere else</title>
		<link>http://think.web.id/brain/2008/12/03/take-you-conversation-somewhere-else/</link>
		<comments>http://think.web.id/brain/2008/12/03/take-you-conversation-somewhere-else/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Dec 2008 05:04:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ramya Prajna</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/brain/?p=624</guid>
		<description><![CDATA[photo credit: b_d_solis Sadarkah kita kalau terkadang apa yang kita bicarakan mengganggu orang lain? We&#8217;re in YM conference kemudian ada beberapa orang yang membicarakan topik yang kita tidak mengerti, dan kemudian mereka asik sendiri.  Padahal mereka punya pilihan untuk membuat conference room baru. Sebuah conversation antar 2 orang di Yammer yang kita tahu bahwa apa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Conversations Silhouettes by Kirsty Pargeter" href="http://www.flickr.com/photos/50698336@N00/1411905457/" target="_blank"><img class="alignleft" style="border: 0pt none;margin-right: 10px;margin-bottom: 5px" src="http://farm2.static.flickr.com/1427/1411905457_9136c7cc0a_m.jpg" border="0" alt="Conversations Silhouettes by Kirsty Pargeter" width="240" height="186" /></a><br />
<a title="Attribution License" href="http://creativecommons.org/licenses/by/2.0/" target="_blank"><img src="http://think.web.id/brain/wp-content/plugins/photo-dropper/images/cc.png" border="0" alt="Creative Commons License" width="16" height="16" align="absmiddle" /></a> <a href="http://www.photodropper.com/photos/" target="_blank">photo</a> credit: <a title="b_d_solis" href="http://www.flickr.com/photos/50698336@N00/1411905457/" target="_blank">b_d_solis</a></p>
<p>Sadarkah kita kalau terkadang apa yang kita bicarakan mengganggu orang lain?</p>
<p>We&#8217;re in YM conference kemudian ada beberapa orang yang membicarakan topik yang kita tidak mengerti, dan kemudian mereka asik sendiri.  Padahal mereka punya pilihan untuk membuat conference room baru.</p>
<p>Sebuah conversation antar 2 orang di <a href="http://www.yammer.com" target="_blank">Yammer</a> yang kita tahu bahwa apa yang terjadi di Yammer (dan micro-blogging lainnya) sifatnya adalah &#8216;update to all&#8217;. Sedangkan ada pilihan untuk berdiskusi di tempat lain.</p>
<p>Reply message di <a href="http://www.twitter.com" target="_blank">Twitter</a> yang berkepanjangan seperti sedang chatting. Sedangkan ada pilihan Direct Message.</p>
<p>Diskusi OOT (Out of topic) yang berkepanjangan pada sebuah Milis atau bahkan diskusi yang sudah melenceng dari Subject semula (dan tidak mau merubah tulisan Subject nya).</p>
<p>Sebuah conversation yang berjalan bukan pada tempatnya tidak hanya mengganggu orang lain, tapi juga jadi tidak tepat sasaran. Sering kali pembicaraan jadi <em>&#8216;ngalor ngidul&#8217;</em> karena yang terlibat adalah pihak-pihak yang tidak dapat mengikuti diskusi tersebut. Bahkan jadi lebih parah kalo tidak ada &#8216;sumber ahli&#8217; dalam conversation itu.</p>
<p>Jadi? mendingan ngobrol di tempat lain kan?</p>
<blockquote><p>Anan&#8217;s Mind</p>
<p>Woops sepertinya ada yang agak sensi yah? Tapi ok, diantara kesensian lo ma, you got a point there, all this media yang lo mention adalah media untuk berkomunikasi dengan banyak orang from many to many or from one to many. Jadi memang keberadaannya ditujukan untuk sebuah pembahasan general yang memang menjadi topik bahasan bersama. Namun ngga bisa ditolak, disangkal atau dihindari bahwa kadangkala seperti layaknya para ibu-ibu arisan yang walau berkumpul bersama, kadangkala hadirnya pembicaraan-pembicaraan personal tak dapat dihindari.</p>
<p>Kalau dalam arisan normal, mudah! Saya hanya tinggal menarik jeung X, untuk membicarakan soal sepatu trendy yang dikenakannya malam itu. Atau berbisik ke jeung M untuk mengkonfirmasi kabar pernikahan dirinya. Kalau dalam pertemuan offline, caranya mudah: colek, tarik ke pinggir, berbisik dan cara-cara lain untuk bisa berbicara OOT tadi.</p>
<p>Tapi kalau di dunia maya? Seseorang harus tahu bagaimana caranya untuk bisa meraih japri lawan bicara kita. Kebanyakan tools conversation pasti menyediakan hal itu. Masalahnya: tahukah kita para pengguna cara penggunaan tools secara maksimal? Sehingga dengan mudah mencolek, berbisik dan menarik perhatian lawan bicara tanpa menganggu yang lain?</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/brain/2008/12/03/take-you-conversation-somewhere-else/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Day I Learn To Be Creative</title>
		<link>http://think.web.id/brain/2008/11/11/the-day-i-learn-to-be-creative/</link>
		<comments>http://think.web.id/brain/2008/11/11/the-day-i-learn-to-be-creative/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Nov 2008 03:59:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Personal Anan]]></category>
		<category><![CDATA[creativity]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/brain/?p=418</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa saat yang lalu gue complaining: &#8220;I&#8217;m not creative enough&#8221; sepertinya complain ini dipicu kondisi gue yang dihadapkan pada setumpuk proposal and started to think, &#8220;where did my creative nerve goes?&#8221;. Tapi semuanya agak hilang ketika one day my partner sent me this slide share link. Ketika gue liat, its about creativity. Ih tau aja, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa saat yang lalu gue complaining: &#8220;I&#8217;m not creative enough&#8221; sepertinya complain ini dipicu kondisi gue yang dihadapkan pada setumpuk proposal and started to think, &#8220;where did my creative nerve goes?&#8221;.</p>
<p>Tapi semuanya agak hilang ketika one day my partner sent me this slide share link. Ketika gue liat, its about <a title="Creativity Slide Share" href="http://www.slideshare.net/jakobdenk/creativity-538456" target="_blank">creativity</a>. Ih tau aja, temennya lagi merasa ga kreatif.</p>
<p>Upon reading slide by slide, it get me thinking. Gue udah melakukan most of the slides suggested. So if this the way to make me a more creative person, sepertinya I&#8217;m on the right track. Berterimakasihlah pada beberapa kebiasaan yang ditularkan oleh my partner Rama yang kebetulan berkesempatan sekolah di sekolah seni.</p>
<p><em><strong>01. Scribbles a lot</strong></em><br />
Well dari kecil juga ini sih kerjaan gue, nyorat nyoret. I once have this little books yang memang isinya cuma gambar. Penting, ga penting, komik, puisi, pemikiran gue, ide ini itu. Semua ada disitu, sayangnya once bukunya habis, i tend to switch to another book dan meninggalkan buku yang lama begitu saja. I should have save it somewhere save! Ideas are precious&#8230;</p>
<p><em><strong>02. Mindmap</strong></em><br />
Ini yang baru gue lakukan gara-gara Rama. This 2 years gue jadi terbiasa dan terobsesi setiap mau mengeluarkan ide atau membuat proyek, sibuklah membuat si mind mapping ini. It helps a lot to see the bigger picture</p>
<p><em><strong>03. Read&#8230;A lot of good stuff</strong></em><br />
Its not just books, good literature comes in different shapes and form. Hehe so either lo baca buku, baca lewat slideshare, baca blog orang&#8230;as long as lo menganggap its good stuff..please continue reading then. Your brain is a sponge, kalau ga diisi yang memang ga akan pernah ada isinya. Kalau lo berada dekat-dekat bacaan ga mutu, ya otak lo mungkin isinya sesuatu yang ga mutu. But if you really wanted to fill those brain of yours with something worthy, ya baca aja a lot of good stuff.</p>
<p><em><strong>04. Be a photographer</strong></em><br />
Im not saying that you should be a real photographer. But its more like, having the essence of a photographer. Lo bisa lihat detailed stuff, lo bisa menentukan scene mana yang harus diambil dan mana yang ngga. That&#8217;s why I decided I wanted a camera. Yang akhirnya kupunya di pertengahan tahun kemarin&#8230;yeay me. I always carry it in my bag.</p>
<p><img class="size-full wp-image-626 alignnone" src="http://think.web.id/brain/files/2008/11/creative.jpg" alt="Sketches on behalf of Hendra Hoedojo" width="500" height="375" /></p>
<p>PS: Kenapa ya gue nulis dalam dua bahasa? Hehe ga papa ya? Lagi belajar mengekspresikan diri in another language&#8230;mungkin suatu hari nanti gue akan menulis dengan campuran 3 bahasa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/brain/2008/11/11/the-day-i-learn-to-be-creative/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tuatara</title>
		<link>http://think.web.id/brain/2008/09/25/tuatara/</link>
		<comments>http://think.web.id/brain/2008/09/25/tuatara/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Sep 2008 09:48:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anan</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Tuatara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/brain/?p=459</guid>
		<description><![CDATA[Tuatara? Ini sejenis situs web 2.0 barukah? Sejenis jurus strategi online marketing mutakhirkah? Apa? Apa? Ah ternyata, Tuatara ini hanyalah sejenis binatang! Iya binatang yang konon termasuk binatang purba. Lebih tepatnya reptil purba.  Ini semua gue ketahui ketika sedang asik baca e-zine (I&#8217;m too lazy to buy the real stuff, so I read the online [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tuatara?<br />
Ini sejenis situs web 2.0 barukah? Sejenis jurus strategi online marketing mutakhirkah? Apa? Apa?</p>
<p>Ah ternyata, Tuatara ini hanyalah sejenis binatang! Iya binatang yang konon termasuk binatang purba. Lebih tepatnya reptil purba.  Ini semua gue ketahui ketika sedang asik baca e-zine (I&#8217;m too lazy to buy the real stuff, so I read the online version instead).</p>
<p><em>Ada sepenggal berita di majalah Femina:</em></p>
<p><em></em></p>
<p><em></em></p>
<p><em></p>
<ul>
<li><span style="font-style: normal">Konon, sebuah museum di Selandia Baru sedang menanti kelahiran 12 ekor tuatara dari pasangan Tuatara Henry dan Mildred. Usia mereka? Kalau dibanding dengan usia manusia, bisa dikatakan lansia karena Henry diperkirakan berusia 111 tahun dan Mildred berusia 70-80 tahun. Kabarnya juga Henry sudah menghuni Museum Southland sejak tahun 1970 dan baru tertarik untuk menghasilkan keturunan baru-baru ini saja. Selain dari Mildred, Henry juga sedang menanti anak dari pasangan lainnya yang akan bertelur di Maret 2009. Tuatara ini adalah salah satu spesies reptil yang hidup bersama dinosaurus 225 juta tahun yang lalu.</span></li>
</ul>
<p></em></p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<div>Potongan berita ini, walaupun hanya secuil berita kecil ternyata tetap menarik untuk disinggung dan dicerna. Karena:</div>
<div>
<ol>
<li>Nama reptil purba itu menarik Tuatara. Sebuah nama yang menurut gue tepat banget untuk reptil yang pernah hidup bersama dinosaurus 225 juta tahun yang lalu: TUA! Karena penasaran saya coba cari tahu lebih banyak soal Tuatara. Salah satu sumber online (yup its <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Tuatara" target="_blank">Wikipedia</a>) menyebutkan bahwa Tuatara itu adalah reptil endemic di New Zealand, jadi hampir mirip seperti komodo yang cuma ada di Pulau Komodo. Ukurannya lebih kecil dari komodo, karena biasanya cuma berukuran 80cm dari ujung kepala hingga ujung ekornya. Dan nama Tuatara itu ternyata diambil dari bahasa Maori, penduduk asli New Zealand, yang artinya peaks on the back, mungkin karena punggungnya yang bergerigi.</li>
<li>&#8220;Konon, sebuah museum di Selandia Baru sedang menanti kelahiran 12 ekor tuatara&#8221;. Here&#8217;s the question, selama ini yang gue tau sebuah museum hanya mengabadikan benda-benda peninggalan prasejarah or benda bersejarah, bukan actual living creature. Kalau misalnya beritanya diawali dengan sebuah kebun binatang di Selandia Baru, gue gak akan terlalu bertanya-tanya, karena kalau ada binatang (karena yang lahir 12 ekor) lahir di kebun binatang itu sih wajar. Back to the museum, ternyata museum yang namanya adalah Southland Museum ini memang punya sebuah Tuatara gallery, untuk sebuah program yang namanya &#8220;captive Tuatara breeding programme&#8221;, sejenis penangkaran gitu. </li>
<li>Henry Age is 111 and Mildred Age is 80,  bahkan mereka lebih tua dari my grandparents! Dan mereka masih menantikan kehadiran anak. Buat gue ini mencengangkan! Tuatara punya average lifespan sekitar 60 tahun dan bisa hidup hingga 100 tahun atau lebih.  Perkembangbiakan Tuatara termasuk yang paling lambat. Mereka baru dewasa (akil balik) di umur 10 tahun dan sang betina hanya akan bertelur 1x dalam 4 tahun. </li>
<li>One more thing, sepertinya untuk memastikan kalau populasi Tuatara tidak punah, Henry sang Tuatara Jantan mengorbankan diri dengan memiliki 2 istri dan memiliki lebih dari satu anak. Sepertinya kalau sudah diambang kepunahan poligami kadang menjadi pilihan ya.</li>
<li>Mau lihat penampakannya si Henry? Tuatara yang tinggal di Southland Museum and Art Gallery, yang masih aktif bereproduksi di usianya yang sudah menginjak 111 tahun?</li>
</ol>
<div><a href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/9/96/Henry_at_Invercargill.jpg/140px-Henry_at_Invercargill.jpg"><img class="size-full wp-image-597 aligncenter" src="http://think.web.id/brain/files/2008/10/140px-henry_at_invercargill.jpg" alt="" width="140" height="182" /></a></div>
<blockquote>
<div>Rama&#8217;s Think:</div>
<div>Nggak heran lifespan nya sangat panjang, namanya juga Tuatara&#8230; mungkin beda kalo Mudatara. Hehehehe.</div>
</blockquote>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/brain/2008/09/25/tuatara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Maksimalkan Modal</title>
		<link>http://think.web.id/brain/2008/09/23/maksimalkan-modal/</link>
		<comments>http://think.web.id/brain/2008/09/23/maksimalkan-modal/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Sep 2008 07:39:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ramya Prajna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Personal Rama]]></category>
		<category><![CDATA[Think.Web]]></category>
		<category><![CDATA[Nasionalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/brain/?p=453</guid>
		<description><![CDATA[Suatu malam terjadi perdebatan seru dengan sahabat saya. Tidak ingat mulainya dari mana, tetapi teman saya langsung &#8216;panas&#8217; waktu kami sedang membahas tentang lulusan universitas luar negri. Persisnya ketika gue bilang &#8220;wah susah tuh lulusan luar negri kalo masuk Think.Web&#8221;. Teman itu langsung bertanya &#8220;why???&#8221;. Gue jawab &#8220;ya dia musti bisa nunjukin sesuatu yang lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://think.web.id/brain/files/2008/10/lulus1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-573" style="margin-left: 0px;margin-right: 25px" src="http://think.web.id/brain/files/2008/10/lulus1.jpg" alt="" width="326" height="522" /></a>Suatu malam terjadi perdebatan seru dengan sahabat saya. Tidak ingat mulainya dari mana, tetapi teman saya langsung &#8216;panas&#8217; waktu kami sedang membahas tentang lulusan universitas luar negri. Persisnya ketika gue bilang &#8220;wah susah tuh lulusan luar negri kalo masuk Think.Web&#8221;. Teman itu langsung bertanya &#8220;why???&#8221;. Gue jawab &#8220;ya dia musti bisa nunjukin sesuatu yang lebih dibanding para lulusan dalam negri&#8221;.</p>
<p>Dan kemudian terjadi banyak perdebatan dan teman itu terus-terusan berkata &#8220;you can&#8217;t do double standard!! Pikiran lo sempit banget kalo melakukan itu. Lo nggak bisa judging seperti itu, mereka musti punya kesempatan yang sama&#8221;.</p>
<p>Bwehhh&#8230;.  whose giving the judgement now?? hehehe&#8230;</p>
<p>Tapi ini alesan-alesan gue dibalik pendapat gue mengenai lulusan luar negri:</p>
<ol>
<li><strong>Maksimalkan modal</strong><br />
Punya kesempatan sekolah di luar artinya punya pengalaman yang berbeda dengan orang lain. Lebih-lebih, seharusnya punya pengalaman dan pengetahuan yang lebih dibanding mereka yang hanya sekolah di dalam negri.  Jadi seharusnya orang tersebut bisa menghasilkan sesuatu yang lebih. Kalau tidak, artinya dia tidak menghasilkan sesuatu yang memaksimal dari modal yang dia miliki. Kalo memang seperti itu berarti <em>he or she doesn&#8217;t fit with us</em>.</li>
<li><strong>Just being fair</strong><br />
Apa jadinya kalau olimpiade penyandang cacat dengan mereka yang normal dijadikan satu? Setiap hal punya tolak ukur yang berbeda, dan harus bisa dinilai secara fair ketika dibandingkan dengan yang lain. (mungkin akan ada yang bilang, kita nggak bicara soal cacat fisik&#8230; <em>well it&#8217;s just analogy</em>. Tapi intinya <em>different competition, different people, different values</em>). Selama penilaiannya masih bisa dipisahkan dan dinilai secara adil, ya sebaiknya dipisahkan. Being fair itu tidak selalu 50-50 kok, bukan selalu sama rata. Tapi memang mampu menilai secara adil &amp; bijak.<br />
Dan kembali lagi, sudahkah modal yang dimiliki menjadi maksimal? </li>
<li><strong>Bangun bangsa mu</strong><br />
Gue nggak habis pikir dengan mereka yang S1 di luar negri, kemudian/atau S2 diluar negri, balik-balik cari kerja sebagai manager/director. Geeezzz&#8230;. Bangsa mu sudah cukup sulit dengan lapangan pekerjaan, kenapa orang-orang yang punya kesempatan untuk lebih maju dan kembali hanya untuk bersaing dengan yang tidak punya kesempatan yang sama. Kenapa bukan BIKIN LAPANGAN KERJA itu.<br />
Nggak punya modal (uang), nggak punya network, nggak punya pengalaman, itu cuman alesan. Yang dibutuhin cuman <em>guts!</em> keberanian! Dan kalo mereka yang udah berani hidup sendiri di negri orang dan balik-balik kesini nggak punya keberanian?! Malu dong sama mereka yang mampu bikin usaha sendiri disebuah desa, dan mengkaryakan orang-orang sekitarnya.</li>
<li><strong>Apa yang didapat tidak akan sama<br />
<span style="font-weight: normal">Hal ini jelas lah ya. Pengalaman dalam dan luar negri pasti tidak akan sama. Tapi menurut gue bagi mereka yang menghabiskan S1 nya diluar negri kehilangan banyak hal yang secara nyata ada di Indonesia. Hal ini yang disayangkan. Mungkin ini karena gue sejauh ini baru berhasil menyelesaikan S1 dan didalam negri. Tapi masa kuliah gue itu bener-bener menjadi proses pembentukan diri gue yang sekarang. Cukup tahu masalah yang terjadi di bangsa ini, punya wawasan cukup akan bangsa dan segala kekayaannya, dan punya kecintaan terhadap bangsa.<br />
Jadi menurut gue memang punya dasar yang kuat dulu mengenai bangsa nya, kemudian lakukan sesuatu baru setelah itu putuskan mencari ilmu pengalaman diluar atau tidak. Tentunya dengan tujuan untuk kemudian kembali lagi dan memajukan bangsa.</span></strong></li>
</ol>
<p>Seinget gue, sejauh ini pernah ada 3-4 orang S1 lulusan LN yang apply ke Think.Web. Dalam proses recruitment kemampuan dan potensi seseorang memang hanya bisa diketahui dari portofolio/CV dan hasil interview. Dan dari proses itu orang-orang tersebut memang tidak menunjukkan hasil yang seharusnya dihasilkan berdasar point-point gue diatas.   </p>
<p>Surprising buat gue&#8230; gue selalu kemudian berpikir, &#8220;trus ngapain lo jauh-jauh sekolah?&#8221;.<br />
Mungkin akan ada yang bilang &#8220;yah itu kan nggak mempresentasikan lulusan LN yang lain&#8221;. Well&#8230; begini deh&#8230; gue percaya mereka yang lulus dari sekolah di LN pasti lebih banyak dari mereka yang muncul di majalah-majalah sebagai enteprenuer, tapi kan kenyataannya yang muncul sedikit sekali.</p>
<p>We&#8217;re proudly to say kalau saat ini Think.Web berisi kami-kami yang menjalankan sekolah nya di dalam negri. Dan kami juga mampu bersaing dengan mereka yang lulusan LN atau bahkan orang/perusahaan asing pun. 100% adalah dari dalam negri, tapi dengan internet pengetahuan dan &#8216;pengalaman&#8217; kami bisa dikatakan sama dengan mereka di dan dari manapun. Tanpa menutup kesempatan bagi mereka yang kebetulan lulusan luar atau bahkan orang asing pun, tapi mereka musti bisa memberikan nilai tambah buat kita.</p>
<p>Gue pribadi, tujuan utama bikin usaha adalah untuk membantu sesama. Memberikan lapangan kerja dan penghidupan buat bangsa gue, Indonesia. Jadi wajar sepertinya kalau gue berusaha berlaku adil buat mereka yang mungkin tidak punya kesempatan untuk menuntut ilmu di LN. </p>
<p>Dengan hal-hal itu gue tidak merasa narrow-minded, stereotyped or judging to something.<br />
Gimana menurut lo?</p>
<blockquote>
<div>Anan&#8217;s Mind</div>
<div><em>   <br />
Too be honest menurut gue yang penting sebenarnya adalah outcomenya. What kinds of person have you become setelah lo sekolah. Mau di dalam or di luar negeri or di luar planet sekalipun. Karena in the end itu yang terpenting, the person matters dan bukannya dia sekolahnya dimana. Kenapa sebuah sekolah kemudian punya standar yang bagus dan lulusannya dianggap bagus? &gt;Let me tell you this, because good school menuntut good seeds. When they have good seeds, mereka akan memanen hasil yang tentunya juga bagus (yah kesampingkanlah beberapa anomali bibit yang kemudian mutasi). Soal sekolah di dalam ataupun di luar negeri, it&#8217;s all about the chances you&#8217;ve got.  Kesempatan pertama datangnya dari kondisi ekonomi, kalau memang mampu berarti orang tua akan mampu menyekolahkan sang anak, sehingga mendapatkan pendidikan terbaik (sesuai dengan kemampuan ekonomi). Kalau bisa sekolah di dalam negeri ya cari yang terbaik dan kalau memang punya kesempatan melihat dunia dan bersekolah di luar negeri juga cari yang terbaik. Don&#8217;t just settle for second best.    </p>
<p>Kesempatan kedua datangnya dari kemampuan dan keinginan sang anak. Kalau memang anaknya diberikan kelebihan di bidang pendidikan dan mampu mengejar beasiswa, dia bisa mendapat pendidikan terbaik (entah di dalam maupun di luar). Ini yang gue bilang tadi good seed akan bisa masuk ke sekolah terbaik dan memang dicari oleh good school. </p>
<p></em> </div>
<p><em></em></p>
<p><em> </em> </p>
<div><em>Jadi I really think what&#8217;s Rama trying to say is, Think.Web has the privilege of working with the good seeds from local university therefore we except the same outcome from those who have the opportunity to study abroad.</em></div>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/brain/2008/09/23/maksimalkan-modal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Go For Sidejob</title>
		<link>http://think.web.id/brain/2008/09/22/sidejob/</link>
		<comments>http://think.web.id/brain/2008/09/22/sidejob/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Sep 2008 02:55:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ramya Prajna</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Random Thought]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[company]]></category>
		<category><![CDATA[passion]]></category>
		<category><![CDATA[work]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/brain/?p=366</guid>
		<description><![CDATA[Judul posting ini mungkin sesuatu yg nggak lazim buat para orang yang diberikan tanggung jawab menjalankan perusahaan, lebih-lebih pada mereka yang kebetulan juga pemilik perusahaan seperti saya &#38; Anan.  Keberadaan Sidejob selalu saja jadi dilema untuk banyak orang. Bukan cuman mereka yang menjalankannya, tetapi juga mereka yang akan atau memang terkena imbas nya. Kegiatan sidejob [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul posting ini mungkin sesuatu yg nggak lazim buat para orang yang diberikan tanggung jawab menjalankan perusahaan, lebih-lebih pada mereka yang kebetulan juga pemilik perusahaan seperti saya &amp; Anan. </p>
<p>Keberadaan Sidejob selalu saja jadi dilema untuk banyak orang. Bukan cuman mereka yang menjalankannya, tetapi juga mereka yang akan atau memang terkena imbas nya. Kegiatan sidejob biasanya berkait langsung dengan penghasilan tambahan. Kenapa orang melakukan sidejob atau pekerjaan sampingan/tambahan, karena memang orang tersebut merasa uang yang didapatkan dari pekerjaan utamanya tidak/kurang mencukupi. </p>
<p>Ini yang saya rasakan ketika ada orang yang bertanya &#8220;di perusahaan lo diperbolehkan SJ nggak?&#8221;. Agak berat jawabnya, ini kan menyangkut ke &#8216;perut&#8217; setiap orang. Kebutuhan orang lebih-lebih yang memiliki keluarga pasti berbeda-beda. Walaupun diperusahaan kami standar pendapatannya cukup baik (atau malah saya berani katakan baik), tetapi kebutuhan setiap orang berbeda-beda. Pada awalnya saya mengatakan &#8220;SJ yang bidangnya sama dengan pekerjaannya di kantor ya nggak boleh, tapi untuk yang bidanya nggak sama ya silahkan aja&#8221;.</p>
<p>Tapi biasanya masalahnya akan muncul saat SJ yang bidangnya tidak sama itu mengambil waktu kerja orang tersebut. Entah waktu kerja nya atau waktu istirahat nya atau apapun itu.</p>
<p>Kemudian saya mendengarkan salah satu tips dari pembahasan career coach di Hard Rock FM radio Jakarta. Pembahasan ini terdapat pada acara Drive n Jive (di hari yang saya lupa jadwalnya), dan Rene Suhardono sebagai nara sumbernya. Baru-baru ini, saya juga mendengarkan lagi diskusi dengan topik yang sama dari Rene.</p>
<p>Nah ini intinya:</p>
<p><strong>Go For Sidejob!!<br />
</strong>asal pekerjaan itu adalah sesuai dengan passion Anda. Banyak orang yang pekerjaannya tidak sesuai dengan passion nya. Jika sudah begini coba lah pekerjaan-pekerjaan lain <span style="text-decoration: underline">untuk memuaskan passion</span> Anda. Misalnya Anda adalah teller pada sebuah bank, dan merasakan punya passion untuk bermusik, maka go for it. Atau Anda seorang programmer tetapi punya passion pada fotografi, coba saja lakukan pekerjaan itu.</p>
<p><strong>Jangan lakukan untuk uang.<br />
</strong>Ingat tujuannya, untuk passion <span style="text-decoration: underline">bukan untuk uang</span>. Uang yang didapat hanyalah sebagai bonus. Ketika sudah <em>money oriented</em> kita akan kembali terjebak pada ambisi mengejar uang tanpa mengindahkan kesenangan hati.<br />
Mungkin saya perlu bicara sedikit mengenai penting nya passion dalam bekerja. Passion adalah sebuah kecintaan terhadap sesuatu yang dapat memberikan tambahan tenaga ketika melakukan passion tersebut.  Lebih dari itu, passion memberikan tambahan tenaga pada hidup kita. Karena itu lakukanlah pekerjaan tambahan untuk memuaskan passion Anda.</p>
<p><strong>Passion for Energy Management.<br />
<span style="font-weight: normal">Dengan &#8216;suntikan&#8217; energi yang didapat dari menjalankan passion maka setiap orang akan mempunyai energy lebih atau dapat melakukan recharge terhadap energi nya. Setiap oranya yang sudah habis waktunya atas kegiatan rutinitas akan sulit punya waktu untuk istirahat. Karena itu buat saya selalu yang penting adalah <span style="text-decoration: underline">Energy Management bukan Time Management</span>. <br />
Waktu sampai kapan pun tidak akan mungkin lebih dari 24 jam, 7 hari seminggu. Yang memungkinkan adalah kalau kita mengatur energy kita. Karena energy kita masih mungkin mendapat &#8216;slot-slot&#8217; tambahan.</span></strong></p>
<p>Saya percaya dihari tua nanti, setelah tidak banyak energy yang tersisa pada seseorang, maka pekerjaan yang masih mungkin dilakukan adalah pekerjaan yang sesuai dengan passion. Bukan sesuatu yang buruk jika hal tersebut sudah dimulai dari sekarang. </p>
<p>Jangan lakukan 50-50 untuk mengerjakan Sidejob, lakukan 100-100. 100 untuk pekerjaan utama dan 100 untuk pekerjaan tambahan. Akan jauh lebih baik jika keputusan mengenai Side job for passion ini Anda komunikasikan dengan pemimpin Anda.<br />
Lebih-lebih jika ada permasalahan dengan pendapatan, diskusikan dengan pimpinan Anda dan cari jalan keluar yang win-win. Jadi, sidejob bukan lah semata-mata solusi untuk pendapatan yang kurang. </p>
<p>Dan coba diingat, kalau bicara akan kebutuhan uang, bukankah hal ini adalah hal yang relatif? semua orang samapai kapanpun tidak akan merasa cukup dengan uang yang didapatkan.</p>
<p>Nah, sudahkah Anda melakukan Sidejob sebagai penyaluran passion Anda?</p>
<blockquote><p>Anan&#8217;s Think:</p>
<p>Merajut termasuk sidejob? Then I found my ultimate side job hehehe&#8230;Memang ada 2 hal yang sangat mendasar dari kenapa orang melakukan side job. Satu karena memang sudah panggilan hati untuk menyalurkan passion tadi dan satu lagi memang untuk kebutuhan finansial belaka. Passion gue dalam hidup, sampai saat ini ada 2 hal, menulis dan merajut (di luar passion terhadap dunia online tentunya, kalau yang itu sih sudah jadi pekerjaan utama). </p>
<p>Yang dijadikan sidejob sejauh ini baru kegiatan merajut, yang dikerjakan selama weekend, melepas penat, letih dan voila jadi deh satu taplak, doily (ini taplak kecil), tas, well anything yang gue mau bikin dengan rajutan. Karena sidejob yang ini berhubungan dengan passion, sampai sekarang penghasilan saya dari sini masih sedikit. Karena memang tidak ada niat untuk &#8220;menjual secara komersil&#8221; hasil rajutan saya ini.</p>
<p>Belakangan tawaran sidejob untuk passion kedua gue mulai berdatangan, tapi sampai saat ini gue belum sampai hati untuk melakukannya karena berhubungan dengan tawaran finansial yang menyertainya. Mungkin kalau tawaran sidejobnya datang ga dengan tawaran finansialnya akan langsung diambil? Hehe nggak deng, untuk passion yang ini kayaknya gue komersil.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/brain/2008/09/22/sidejob/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

