<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Brain of Think.Web &#187; Social Media Marketing</title>
	<atom:link href="http://think.web.id/brain/category/social-media-marketing/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://think.web.id/brain</link>
	<description>Think to give, Not to ask</description>
	<lastBuildDate>Fri, 04 May 2012 15:07:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>The end of paid influencers era</title>
		<link>http://think.web.id/brain/2011/12/31/paid-influencers/</link>
		<comments>http://think.web.id/brain/2011/12/31/paid-influencers/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Dec 2011 03:33:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ramya Prajna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Social Media Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Social Networking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/brain/?p=24862</guid>
		<description><![CDATA[Saat ini Twitter sudah membuka Twitter for business untuk Tending berbayar dan Tweet berbayar. Ketika ini sampai di Indonesia, maka akan selesailah era paid tweet untuk para influencer. Pada saat itu advertiser atau brand jadi punya pilihan untuk melakukan tweet bahkan langsung dari account brand nya dan targetted, misal for Indonesia account only. Dan reach [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat ini Twitter sudah membuka Twitter for business untuk Tending berbayar dan Tweet berbayar.</p>
<p>Ketika ini sampai di Indonesia, maka akan selesailah era paid tweet untuk para influencer.</p>
<p>Pada saat itu advertiser atau brand jadi punya pilihan untuk melakukan tweet bahkan langsung dari account brand nya dan targetted, misal for Indonesia account only. Dan reach nya jelas seluruh Indonesia, tidak bergantung ke jumlah follower account tertentu.<br />
Atau mereka juga tidak perlu repot-repot untuk berpikir bagaimana caranya supaya masuk ke trending topic.<br />
All they need to do is only bayar ke Twitter.</p>
<p>Influencer seharusnya kemudian sadar akan fungsi mereka. Influncer dari kata influence. Yang artinya yang harus mereka ciptakan adalah pengaruh terhadap followernya untuk melakukan interaksi atau action (call to action).<br />
Saat ini semua itu menjadi tidak sesuai karena influencer hanya berpikir bahwa mereka adalah publisher. Spot mereka dibayar untuk melakukan iklan kepada follower mereka.</p>
<p>Seharusnya Influencer harus mampu membuat engagement atau interaksi kepada follower nya sesuai dengan topic yang dibayar oleh brand atau product.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/brain/2011/12/31/paid-influencers/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>What comes after Facebook?</title>
		<link>http://think.web.id/brain/2011/12/31/what-comes-after-facebook/</link>
		<comments>http://think.web.id/brain/2011/12/31/what-comes-after-facebook/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Dec 2011 03:09:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ramya Prajna</dc:creator>
				<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[Social Media Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Social Networking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/brain/?p=24863</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan itu sering sekali saya dapatkan terutama sejak tahun lalu. Penanya biasanya menjadikan fenomena Friendster sebagai dasar. Jawaban saya adalah biasanya seperti ini: Kita sudah lebih dari 10 tahun menggunakan Google, apakah pernah berpikir &#8220;apa yang akan menggantikan Google?&#8221; Saya berani bilang bahwa kita tidak mempunyai pertanyaan itu sekarang. Google sebagai starting point ketika kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertanyaan itu sering sekali saya dapatkan terutama sejak tahun lalu. Penanya biasanya menjadikan fenomena Friendster sebagai dasar.</p>
<p>Jawaban saya adalah biasanya seperti ini: Kita sudah lebih dari 10 tahun menggunakan Google, apakah pernah berpikir &#8220;apa yang akan menggantikan Google?&#8221;</p>
<p>Saya berani bilang bahwa kita tidak mempunyai pertanyaan itu sekarang. Google sebagai starting point ketika kita mencari sesuatu sudah menjadi bagian dari hidup kita. Yang terjadi kita semakin amaze dengan hasil pencarian dari Google. Kita semakin puas dengan apa yang dihasilkan Google karena Google semakin pintar dan semakin mengerti diri kita.</p>
<p>Saat Facebook me-launching Open Graph di <a href="http://think.web.id/brain/f8/">f8 2010</a>, yang Facebook lakukan adalah menjadikan Facebook sebagai sebuah platform. Facebook tidak lagi hanya sebuah website social network, tapi Facebook &#8216;mem-Facebook-an&#8217; seluruh website di seluruh dunia.</p>
<p>Kita mungkin sudah tidak sering lagi masuk ke Facebook.com, tapi kita menggunakan website-website lain dengan menggunakan feature Facebook. Misal: sign up &amp; login membership dengan Facebook connect, put &#8216;Like&#8217; pada article atau blog post yang kita suka, share to our friends on Facebook, etc.</p>
<p>If Facebook.com is a weekend, other websites (that using Open Graph) are the weekday. You will enjoy your weekend eventually.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/brain/2011/12/31/what-comes-after-facebook/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Online Video Contest: Peserta atau Pemirsa?</title>
		<link>http://think.web.id/brain/2011/03/05/online-video-contest-peserta-atau-pemirsa/</link>
		<comments>http://think.web.id/brain/2011/03/05/online-video-contest-peserta-atau-pemirsa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Mar 2011 05:11:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ramya Prajna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Social Media Marketing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/brain/?p=16854</guid>
		<description><![CDATA[Sekarang ini banyak sekali brand yang bikin video contest. Seperti biasa, berangkat dari euphoria Sinta-Jojo, Audrey-Gamaliel dan lainnya. Brand merasa kalo bikin video bisa lebih menarik dari photo. &#8220;Orang Indonesia banyak yang narsis, bikin video di handphone gampang, kalo lucu2an bisa banyak yang nonton&#8221;. Tapi kemudian embel2nya juga banyak: musti ada tema nya, musti ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_17137" class="wp-caption alignnone" style="width: 265px"><a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:SintaJojo.JPG&amp;filetimestamp=20101014135744"><img class="size-medium wp-image-17137" src="http://think.web.id/brain/files/2011/03/SintaJojo-255x154.jpg" alt="" width="255" height="154" /></a><p class="wp-caption-text">Source: Wikipedia</p></div>
<p><a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:SintaJojo.JPG&amp;filetimestamp=20101014135744"></a>Sekarang ini banyak sekali brand yang bikin video contest. Seperti biasa, berangkat dari euphoria <a href="http://www.youtube.com/watch?v=VKP1t3gQ_o0">Sinta-Jojo</a>, <a href="http://www.youtube.com/user/gamal1990">Audrey-Gamaliel</a> dan lainnya.<br />
Brand <span style="text-decoration: underline">merasa</span> kalo bikin video bisa lebih menarik dari photo. &#8220;Orang Indonesia banyak yang narsis, bikin video di handphone gampang, kalo lucu2an bisa banyak yang nonton&#8221;.</p>
<p>Tapi kemudian embel2nya juga banyak: musti ada tema nya, musti ada isi nya, musti ada pesan sponsor, musti ada logo brand nya, musti di moderasi dll dll.</p>
<p>Brand biasanya lupa juga kalo video dari handphone itu musti dipindah ke komputer buat di upload, kadang butuh sedikit editing juga supaya layak (bukan bagus loh), kualitas video handphone itu beda-beda, nggak semua orang Indonesia punya talent (tampil depan kamera, acting, dll) DAN sebenernya cuman Dono-Kasino-Indro, Srimulat dan Opera Van Java yang lucu.</p>
<p>Nah jadi sebenernya apa sih yang dicari dari video contest?<br />
Jumlah <strong>peserta</strong> yang banyak kah? Tapi isinya nggak sesuai akhirnya overall amplification nya juga kecil.<br />
Atau<br />
Jumlah <strong>pemirsa</strong> per video yang banyak kah? Yang artinya bisa jadi pesertanya sangat sedikit tapi kualitas content nya memang bagus.</p>
<p>Ketika membuat activity sebaiknya berangkat dari tujuannya. Bukan berangkat dari pingin bikin apa.<br />
Dari tujuan akan dijawab dengan activity yang sesuai dengan target market brand. Yang perlu diingat adalah ada beberapa kegiatan yang familiar dengan target market, namun belum tentu kegiatan itu bisa dilakukan oleh target market pada umumnya. Biasa menonton belum tentu bisa membuat, ada beberapa yang sanagt populer belum tentu semuanya bisa membuat.</p>
<p>Intinya adalah be flexible terhadap kebiasaan target market. Tidak ada salahnya memberikan banyak syarat asal sadar akan resikonya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/brain/2011/03/05/online-video-contest-peserta-atau-pemirsa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>WOOZ.in</title>
		<link>http://think.web.id/brain/2010/11/04/wooz-in/</link>
		<comments>http://think.web.id/brain/2010/11/04/wooz-in/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Nov 2010 01:32:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ramya Prajna</dc:creator>
				<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[Facebook Application]]></category>
		<category><![CDATA[Portofolio]]></category>
		<category><![CDATA[Product]]></category>
		<category><![CDATA[Social Media Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Social Networking]]></category>
		<category><![CDATA[Think.Web]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/brain/?p=11250</guid>
		<description><![CDATA[Pada Pesta Blogger tanggal 30 Oktober lalu, kami melakukan soft launch atau open beta produk atau web service pertama kami. Wooz.in namanya (baca: wuzin). Wooz.in adalah sebuah web service yang menggabungkan fungsi Social Network dengan radio-frequency. Saat ini technology radio-frequency yang kami gunakan adalah RFID (Radio-frequency Identification). Idenya adalah bagaimana seseorang bisa melakukan update dimana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-17140" src="http://think.web.id/brain/files/2010/11/logo-woozin.png" alt="" width="219" height="186" /></p>
<p>Pada Pesta Blogger tanggal 30 Oktober lalu, kami melakukan soft launch atau open beta produk atau web service pertama kami. <strong>Wooz.in</strong> namanya (baca: wuzin).</p>
<p>Wooz.in adalah sebuah web service yang menggabungkan fungsi Social Network dengan radio-frequency. Saat ini technology radio-frequency yang kami gunakan adalah RFID (Radio-frequency Identification).</p>
<p>Idenya adalah bagaimana seseorang bisa melakukan update dimana mereka berada hanya dengan melakukan &#8216;tap&#8217;, seperti halnya yang banyak orang lakukan ketika absen pegawai, masuk pintu kantor ataupun seperti ketika di gate MRT Singapore.<br />
Ide ini terinspirasi dari kegiatan yang dilakukan oleh Facebook di Facebook Conference 2010 beberapa bulan lalu. Saat itu setiap name tag peserta juga terdapat RFID chip dan ada beberapa reader di acara tersebut.</p>
<p>Di event pertama Wooz.in device RFID yang digunakan pada event pertama ini adalah kartu atau RFID card. Kartu ini dibagikan secara gratis oleh sponsor pertama kami, Acer Indonesia. Acer membagikan RFID card kepada seluruh peserta Pesta Blogger+ 2010 secara gratis.<br />
Setelah mendapatkan kartu peserta diharuskan untuk melakukan registrasi di website Wooz.in. Yang perlu dilakukan adalah menyambungkan account Facebook dan/atau Twitter mereka, juga Foursquare dan Gowalla apabila memiliki. Hal penting lainnya yang perlu dilakukan adalah memasukkan UID (Unique ID) atau nomer RFID yang tertera pada kartu kedalam account wooz.in masing-masing. Setelah semua proses registrasi selesai RFID device siap digunakan.</p>
<p>Yang user lakukan hanya melakukan &#8216;tap&#8217; seperti biasanya dilakukan pada mesin absen atau pintu masuk kantor atau pengguna Flazz BCA ataupun ketika menggunakan MRT di Singapore.<br />
User melakukan tap pada RFID reader yang kami kemas dalam bentuk sebuah booth. Kami namakan Wooz.in Spot.</p>
<p><strong>Wooz.in Spot</strong><br />
Adalah station atau booth dimana wooz.in user bisa melakukan woozing RFID device mereka dan kemudian Social Network yang sudah disambungkan akan melakukan update  mengenai keberadaan user.<br />
Ada 4 Wooz.in Spot di event Pesta Blogger+ 2010 yang tersebar diberbagai area. Tujuannya adalah juga agar setiap user exploring area-area tersebut. Ada Wooz.in Pin yang dapat ter-unlock setelah user woozing di 4 spot tersebut.</p>
<p><strong>Wooz.in Pin</strong><br />
Adalah penanda bahwa user telah menyelesaikan task tertentu. Kalau di Foursquare adalah istilah Badge dan di Gowalla isitilahnya Trips, di wooz.in kami namakan pin.</p>
<p>Dengan Wooz.in fungsi updating menjadi lebih mudah dan tidak terjadi orang yang check-in disuatu tempat namun sebenarnya tidak berada di lokasi tersebut (atau isitilahnya jumper).<br />
The possibility is unlimited. Baru 4 Social Network yang terhubung saat ini, tapi kedepan akan terus bertambah.</p>
<p>Wooz.in bisa dilihat di: <a href="http://wooz.in">http://wooz.in</a> dan <a href="http://www.facebook.com/pages/Woozin/157614240949967">FB Page-nya</a></p>
<p>Ini videonya:</p>
<p>Wooz.in is the new check-in <img src='http://think.web.id/brain/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/brain/2010/11/04/wooz-in/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Voice vs Noise</title>
		<link>http://think.web.id/brain/2010/07/03/voice-vs-noise/</link>
		<comments>http://think.web.id/brain/2010/07/03/voice-vs-noise/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jul 2010 11:12:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ramya Prajna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Social Media Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Digital PR]]></category>
		<category><![CDATA[public relation]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/brain/?p=1154</guid>
		<description><![CDATA[Ketika brand masuk ke area Social Media mereka harus MAU dan MAMPU untuk mendengar pembicaraan mengenai dirinya. Mau mendengar adalah karena ketika sebuah brand membuka dirinya di SocMed artinya customer &#38; network bisa langsung menyuarakan pendapatnya. Jadi sebenarnya brand tidak punya pilihan lain untuk mendengarkan. Kalau brand tidak mau mendengar ini jadinya seperti orang yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://think.web.id/brain/files/2010/08/l_496_282_2699C32D-94CD-4094-82AA-11524B8368E0.jpeg"><img src="http://think.web.id/brain/files/2010/08/l_496_282_2699C32D-94CD-4094-82AA-11524B8368E0.jpeg" alt="" /></a></p>
<p>Ketika brand masuk ke area Social Media mereka harus MAU dan MAMPU untuk mendengar pembicaraan mengenai dirinya.<br />
Mau mendengar adalah karena ketika sebuah brand membuka dirinya di SocMed artinya customer &amp; network bisa langsung menyuarakan pendapatnya. Jadi sebenarnya brand tidak punya pilihan lain untuk mendengarkan. Kalau brand tidak mau mendengar ini jadinya seperti orang yang menutup kupingnya disaat diajak bicara oleh orang lain.<br />
Mampu mendengar ini artinya sebuah brand bukan hanya mau membuka telinga, tapi juga siap untuk mendengarkan banyak suara. Dalam mendengarkan banyak suara ini sebuah brand harus bisa memilah mana yang penting dan mana yang lebih penting (keduanya memang penting).</p>
<p>Ada 2 jenis suara atau feedback yang muncul dari para user. VOICE &amp; NOISE.</p>
<p>Voice adalah jenis suara yang secara skala kualitas dan kuantitas (pembaca) besar, sedangkan Noise yang skalanya kecil. Namun walaupun kecil Noise punya potensi menjadi besar.<br />
Yang memisahkan kedua hal tadi adalah kuantitas dan kualitas dari traffic atau pembaca dan juga interaktifitas.</p>
<p>Voice yang memang sudah besar memiliki potensi yang besar terhadap kredibilitas brand. Sebuah pertanyaan terhadap brand sudah pasti harus ditanggapi oleh brang. Sebuah negative review dari seorang blogger yang memiliki jumlah pembaca banyak sudah tentu perlu perhatian serius dari brand.<br />
Noise yang skalanya kecil juga perlu mendapat perhatian. Walaupun ada yang bisa dibiarkan (dalam keseharian tidak semua suara kita dengar kan?), namun perkembangannya tetap perlu di monitor.</p>
<p>Strategi siapa yang menjawab dan bagaimana caranya menjadi penting untuk bisa menyikapi semua feedback dengan tepat.</p>
<p>Waktu kita baru lahir semua suara terdengar sama volumenya. Suara burung yang jauh, hembusan angin pada daun sampai dengan orang ngobrol disebelah semua volumenya sama. Seiring dengan pertumbuhan teinga dan otak kita memilah mana suara yang menjadi background dan mana yang menjadi foreground. Mana yang perlu didengar dengan jeli, mana yang bisa &#8216;tidak&#8217; didengar.<br />
Hal yang sama juga terjadi dalam mendengar suara di Social Media.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/brain/2010/07/03/voice-vs-noise/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Social Media Ada [dimana-mana]</title>
		<link>http://think.web.id/brain/2010/06/16/ketika-social-media-ada-dimana-mana/</link>
		<comments>http://think.web.id/brain/2010/06/16/ketika-social-media-ada-dimana-mana/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jun 2010 01:02:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anan</dc:creator>
				<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Social Media Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Social Networking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/brain/?p=1126</guid>
		<description><![CDATA[Bicara soal social media, seperti bicara soal sebuah tanah yang hak gunanya dimiliki oleh banyak orang. Saking mudah penggunaannya, peminatnya lebih menjamur daripada rusunami. Mulai dari iklan handphone yang menjual habis  fungsi twitter-an, facebook-an dan chatting, sampai brand-brand yang berlomba masuk dan eksis di facebook. Beberapa bahkan rajin mencantumkan url social media mereka di dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bicara soal social media, seperti bicara soal sebuah tanah yang hak gunanya dimiliki oleh banyak orang. Saking mudah penggunaannya, peminatnya lebih menjamur daripada rusunami. Mulai dari iklan handphone yang menjual habis   fungsi twitter-an, facebook-an dan chatting, sampai brand-brand yang berlomba masuk dan eksis di facebook.</p>
<ul></ul>
<p>Beberapa bahkan rajin mencantumkan url social media mereka di dalam iklan-iklan yang tayang di TV ataupun media cetak.  Belum habis eksis di tayangan iklan, brand juga sudah merasa perlu untuk mengikutsertakan url social media mereka di kemasan produk, sebuah kepentingan yang bahkan belum ada setahun yang lalu.</p>
<p>Sebuah kepentingan yang tercipta karena tuntutan pengguna. Belum lama ini saya melihat sebuah minuman merek mancanegara yang mencantumkan logo Facebook di kemasannya. Ternyata yang dilakukan si minuman ini adalah melakukan sebuah aktivitas yang berbasis konsumen, memberikan kekuasaan lebih pada konsumen untuk membuat jenis minuman mereka sendiri. Jenis minuman yang paling diminati secara online kemudian di&#8221;wujudkan&#8221; nyata dan didistribusikan ke seluruh negeri. Salah satu cara cerdas melakukan test market, sebelum melakukan produksi barang baru.</p>
<p>Itu tadi contoh kasus merek mancanegara, terus apakabar merek lokal? Kita tidak usah bahas merek-merek lokal terkenal ya. Karena kebetulan saya bertemu dengan merek yang baru kemarin saya ketahui keberadaannya, dan merek kecil ini pun sudah &#8220;melek&#8221; social media.</p>
<blockquote><p>Mari kita kenalan dengan &#8220;Kree-oks&#8221;</p></blockquote>
<p>Ada yang tau merek apa ini?<br />
[belum tau?]</p>
<p>Gimana kalau saya kasih tambahan embel-embel chip dibelakangnya?<br />
[udah bisa tebak dong, jenis produknya]</p>
<p>Ya ternyata si &#8220;Kree-oks&#8221; ini atau kriuk kalau sambil makan produknya adalah camilan sehat kripik buah kering yang diproduksi di Indonesia dan dikemas oleh sebuah CV di Bandung. Kemasannya sederhana, bersahaja, cenderung polos. Tapi dibalik kebersahajaannya itu, ternyata &#8220;Kree-oks&#8221; termasuk salah satu panganan yang cukup maju karena dia diam-diam menampilkan eksistensinya di salah satu Social Media.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-1130" href="http://think.web.id/brain/ketika-social-media-ada-dimana-mana/kreeoks/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1130" src="http://think.web.id/brain/files/2010/06/Kreeoks-255x333.jpg" alt="" width="255" height="333" /></a></p>
<p>Coba cek di sudut kiri atas dibawah bendera Indonesia yang menjulur. Dengan sedikit malu-malu, Kree-oks menampilkan logo Facebook dan keterangan Kreeoks Chips. Walau belum merupakan affinity URL, namun mereka yang memiliki rasa penasaran berlebih macam saya, dapat dengan mudah melakukan proses search di facebook dengan mengetikkan Kreeoks Chips dan dalam hitungan detik akan bertemu dengan facebook groups <a href="http://www.facebook.com/group.php?gid=67652859045&amp;v=wall&amp;ref=ts" target="_blank">Kreeoks Chips</a>.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-1129" href="http://think.web.id/brain/ketika-social-media-ada-dimana-mana/screen-shot-2010-06-14-at-6-16-18-pm/"><img class="aligncenter size-full wp-image-1129" src="http://think.web.id/brain/files/2010/06/Screen-shot-2010-06-14-at-6.16.18-PM.png" alt="" width="374" height="62" /></a></p>
<p>Penggunaan facebook oleh Kree-oks chip juga memperlihatkan bahwa social media selain untuk mendukung brand engagement juga dapat dipergunakan untuk step pengembangan bisnis. Ketika masuk ke group Kreeoks Chip, tujuan pengembangan bisnis dan promosi produk adalah dua hal yang paling terasa. Walau belum maksimal, tapi apa yang dilakukan Kree-oks menurut saya adalah sebuah langkah besar dalam memanfaatkan teknologi untuk berpromosi dan mengembangkan bisnis.</p>
<p>PS: Thanks to Mega yang sudah mengenalkan saya pada Kreeoks Chip.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/brain/2010/06/16/ketika-social-media-ada-dimana-mana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Live Report Engagement</title>
		<link>http://think.web.id/brain/2010/03/14/live-report-engagement/</link>
		<comments>http://think.web.id/brain/2010/03/14/live-report-engagement/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Mar 2010 14:43:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ramya Prajna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Event]]></category>
		<category><![CDATA[Portofolio]]></category>
		<category><![CDATA[Social Media Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Think.Web]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/brain/?p=1059</guid>
		<description><![CDATA[Mudah-mudahan tidak berlebihan dan tidak jumawa, tapi saya berani katakan bahwa kami melakukan Live Report yang terbaik di Indonesia. Live Report Engagement Bukan sekedar live report, live tweet, ataupun laporan langsung lainnya. Live Report Engagement berusaha memberikan experience yang sama dengan mereka yang membaca atau melihat, dan juga mengajak mereka berinteraksi. Pengalaman memang tidak pernah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-1061" src="http://think.web.id/brain/files/2010/03/jjf-team.jpg" alt="jjf-team" width="548" height="411" /><br />
Mudah-mudahan tidak berlebihan dan tidak jumawa, tapi saya berani katakan bahwa kami melakukan Live Report yang terbaik di Indonesia.</p>
<p><strong>Live Report Engagement</strong><br />
Bukan sekedar live report, live tweet, ataupun laporan langsung lainnya. Live Report Engagement berusaha memberikan experience yang sama dengan mereka yang membaca atau melihat, dan juga mengajak mereka berinteraksi.</p>
<p>Pengalaman memang tidak pernah berbohong. Saya &amp; Anan sudah memulai melakukan (online) Live Report <span style="text-decoration: underline">sejak tahun 2001</span>. A Mild Live Soundrenaline 2001 di Parkir Timur, Jakarta adalah saat pertama.<br />
No mobile broadband, just gprs modem dr Sony Ericcson T68i.<br />
No blog framework, just html pages (and we&#8217;re not prepare by CMS engine).<br />
No blackberry, just heavy notebook + low pixel digicam + gprs modem-phone.<br />
But we try to give the actual experience to visitor with articles &amp; photos.</p>
<p>The next year, Soundrenaline 2002, we support for 5 cities. More or less with the same equipment. All the articles &amp; photos put on a microsite, all with list of artist, venue map &amp; schedule.<br />
Web statistik menunjukkan kalau visit &amp; page views meningkat selama event berlangsung. Objektif nya simple, memberikan informasi dan experience yang sama dengan mereka yang kota nya dimampiri. Bahkan untuk kota nya yang dimampiri, liputan ini membuat mereka tidak sabar untuk datang langsung ke acaranya.</p>
<p>Di tahun lainnya kami tidak lagi hanya memberikan articles &amp; photos, kami bergerak ke arah lain. Mirip dengan sebuah blog, kami membuat article khusus dari 3 orang crew fiktif. Masing-masing crew fiktif ini punya jobdesk beda-beda di festival, sehingga memberikan masing-masing angle berbeda.<br />
Begitu kuat dan melekatnya karakter ini tidak sedikit yang mencari-cari nama crew-crew fiktif ini di backstage. Anan juga sering ditebak dengan nama-nama berbeda <img src='http://think.web.id/brain/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Setelah memasuki era Social Media channel-channel menjadi lebih jelas dan pintu interaksi lebih terbuka. Tapi kembali lagi kepada strategi. Penulisan, pelaporan dan lainnya sih bisa dilakukan oleh siapapun. Seseorang dengan Blackberry nya dan UberTwitter sudah bisa melakukan Live Report sebuah event. Tapi apakah mampu menciptakan Engagement?</p>
<p><strong>Engagement butuh strategi</strong>.<br />
Setelah sekian lama kami tidak lagi melakukan Live Report Engagement, akhirnya kesempatan itu datang lagi. JavaJazz Festival 2010 adalah kesempatan berharga untuk kami.<br />
Setiap tweet &amp; message yang keluar semua dilakukan dengan strategi. Karakter account, activation dengan quiz dan lainnya semua on plan. Termasuk bagaimana mengatasi masalah-masalah technical seperti tidak ada sinyal.<br />
Tentunya apa yang kami lakukan tidak luput dari kesalahan, sebuah hal manusiawi. Menjadi bukti bahwa Live Report Engagement masih dilakukan oleh manusia. Jadi engagement adalah manusia dengan manusia. Crisis Management juga menjadi bagian penting. Bagaimana memanage issue atau crisis dari tanggapan/conversation yang menyimpang atau bahkan dari kesalahan sendiri.</p>
<p>Pada akhirnya yang dituju adalah objective tercapai dan kepuasaan dari followers/fans dari brand yang kami tangani.</p>
<p style="text-align: center"><img class="size-medium wp-image-1062 aligncenter" src="http://think.web.id/brain/files/2010/03/jjf03-255x172.png" alt="jjf03" width="255" height="172" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/brain/2010/03/14/live-report-engagement/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Java Jazz Festival 2010</title>
		<link>http://think.web.id/brain/2010/02/15/java-jazz-festival-2010/</link>
		<comments>http://think.web.id/brain/2010/02/15/java-jazz-festival-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 08:00:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ramya Prajna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Social Media Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Think.Web]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/brain/?p=1043</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah kebanggan bagi kami, Think.Web, untuk bisa menjadi partner dari Java Festival Production (JPF) dalam hal Social Network Management. Tahun ini adalah tahun ke 5 dari Java Jazz Festival. Sebuah umur yang cukup matang untuk sebuah festival. Java Jazz Festival (JJF) sudah masuk kedalam agenda kegiatan internasional. Mata dan telinga dari seluruh dunia mengarah ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-1046" src="http://think.web.id/brain/files/2010/02/JJF1.png" alt="Java Jazz Festival" width="510" height="235" />Sebuah kebanggan bagi kami, Think.Web, untuk bisa menjadi partner dari <a href="http://www.javafestivalproduction.com/" target="_blank">Java Festival Production (JPF)</a> dalam hal <strong>Social Network Management</strong>.</p>
<p>Tahun ini adalah tahun ke 5 dari Java Jazz Festival. Sebuah umur yang cukup matang untuk sebuah festival. Java Jazz Festival (JJF) sudah masuk kedalam agenda kegiatan internasional. Mata dan telinga dari seluruh dunia mengarah ke festival ini, terutama bagi mereka yang sangat suka dengan musik Jazz. Lebih dari itu, event ini juga menjadi ajang &#8216;kopi darat&#8217; dari musisi-musisi Jazz dunia.</p>
<p>Tahun ini JJF ingin membuka lebih lebar lagi sayapnya di digital media, specifically online media, atau lebih khusus lagi di Social Media. Bersama dengan team Promosi dari JFP, team Social Network Management (SNM) JJF dari Think.Web menyusun strategi, editorial dan eksekusi dalam channel-channel yang digunakan.</p>
<p>Objective dari SNM JJF adalah meningkatkan kredibilitas festival.</p>
<p>Untuk menjawab objective itu strategi yang dilakukan adalah menjadikan Social Media channel sebagai pusat informasi. Anda bisa tanya apapun (seputar JJF 2010), account @JavaJazz2010 akan coba menjawab. Bukan hanya saat ditanya, informasi seputar venue,festival juga akan diberikan. Mulai dari artis sampai dengan toilet ada dimana.</p>
<p>Ada 3 channel utama dari JJF 2010: <a href="http://twitter.com/JavaJazz2010" target="_blank">@JavaJazz2010</a>, <a href="http://twitter.com/JavaJazzFest" target="_blank">@JavaJazzFest</a> dan <a href="http://Facebook.com/JavaJazzFestival">Facebook.com/JavaJazzFestival</a>.</p>
<p>Diluar itu masih ada channel lainnya yang resmi maupun partner, misalnya kehadirannya <a href="http://koprol.com/#users/javajazz" target="_blank">@JavaJazz</a> di Koprol.</p>
<p>So, want to be part of an international event? come to JIExpo, Kemayoran.<br />
JJF SocMed channel will accompany you along the show.</p>
<p style="padding-left: 30px">PS:<br />
Want to help us? please ask to <a href="http://twitter.com/JavaJazz2010" target="_blank">@JavaJazz2010</a> ANYTHING that relate to Java Jazz Festival 2010. We need the practice to make us better.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/brain/2010/02/15/java-jazz-festival-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dibelakang (digital things) Kami Tidak Takut &#8211; #indonesiaunite (3rd Part)</title>
		<link>http://think.web.id/brain/2009/08/03/dibelakang-digital-things-kami-tidak-takut-indonesiaunite-3rd-part/</link>
		<comments>http://think.web.id/brain/2009/08/03/dibelakang-digital-things-kami-tidak-takut-indonesiaunite-3rd-part/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Aug 2009 04:16:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ramya Prajna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Personal Rama]]></category>
		<category><![CDATA[Social Media Marketing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/brain/?p=988</guid>
		<description><![CDATA[Di part 1 saya bercerita mengenai bagaimana lagu "Kami Tidak Takut" pertama kali diperdengarkan secara online. Di part 2 adalah cerita mengenai bagaimana video klip nya online di YouTube dan mengantarkan pesan lagu nya. 
Di part ini adalah cerita mengenai website indonesiaunite.com dan channel lainnya yang ikut melengkapi.

(Thumbnail Credit: Iqbal Prakasa)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="padding-left: 30px">Di <a href="../dibelakang-kami-tidak-takut-indonesiaunite-1st-par/">part 1</a> saya bercerita mengenai bagaimana lagu &#8220;Kami Tidak Takut&#8221; pertama kali diperdengarkan secara online. Di <a href="http://think.web.id/brain/dibelakang-digital-things-kami-tidak-takut-indonesiaunite-2nd-part/">part 2</a> adalah cerita mengenai bagaimana video klip nya online di YouTube dan mengantarkan pesan lagu nya. Di part ini adalah cerita mengenai website <a href="http://indonesiaunite.com" target="_blank">indonesiaunite.com</a> dan channel lainnya yang ikut melengkapi.</p>
<p>Tweeps semakin ramai berkomentar tantang video &#8220;Kami Tidak Takut&#8221; dan meneruskan link nya ke yang lain. Hashtag #indonesiaunite pun semakin banyak digunakan juga. Ada juga yang kemudian mengkombinasikan 2 kalimat tersebut dalam 1 twit.</p>
<p>Bentuk dukungan pun juga mulai berkembang. Untuk lebih terlihat kemudian muncul ajakan untuk mengganti avatar profile masing-masing dengan atribut merah-putih. Satu per satu user Twitter mulai mengganti avatar nya. Ada yang bentuknya overlay, ada yang badge, ada juga yang di layout khusus.</p>
<p><a href="http://www.andirapramanta.com/?p=632"><img class="size-medium wp-image-1018 alignleft" style="margin-right: 10px;margin-bottom: 5px" src="http://think.web.id/brain/files/2009/08/andira-300x280.jpg" alt="andira" width="300" height="280" /></a>Pada awalnya memang untuk memasangkan attribute perlu software design. Untuk yang tidak berada atau dekat dengan dunia design langsung pada teriak ngiri <img src='http://think.web.id/brain/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Seorang teman, <a href="http://www.andirapramanta.com/?p=632" target="_blank">Andira Pramanta</a>, membuka bantuan untuk yang ingin avatar nya dengan overlay merah-putih. Dia buatkan secara manual dan hasilnya bisa di download di <a href="http://www.flickr.com/photos/deasdira/sets/72157621595536322/" target="_blank">Flickr</a> nya. Baik sekali.</p>
<p>Saya bersama salah satu rekan di kantor, <a href="http://twitter.com/endihamid" target="_blank">Endi Hamid</a>, bertanya-tanya masa sih nggak ada tools online yang bisa membantu melakukan hal itu. &#8220;Bisa kok&#8221; begitu kata Endi dan kemudian dia terlihat sibuk melakukan sesuatu.</p>
<p>Hampir disaat yang bersamaan juga salah satu user yang yang saya follow (kira-kira) berkata seperti ini &#8220;Hi IT geek, bikin yang kaya Iran Election dong&#8221;. Twit itu dari <a href="http://twitter.com/dondihananto" target="_blank">@dondihananto</a>.<br />
Saya penasaran, memang nya Iran Election bikin apa sih? Yang saya tahu memang bahwa orang-orang yang bersimpati terhadap peristiwa election di Iran memang memberikan attribut mereka dengan warna hijau. Kebanyakan avatar mereka di overlay dengan warna hijau. Saya googling dan kemudian menemukan website <a href="http://helpiranelection.com/" target="_blank">Help Iran Election</a>.<br />
Isi si website hanya tools untuk avatar tadi. Dengan engine untuk mengambil dan menambah element pada image, dan kemudian menggunakan fungsi <a href="http://apiwiki.twitter.com/OAuth-FAQ" target="_blank">OAuth </a>dr Twitter, mengganti avatar jadi sangat mudah.</p>
<p>Ok, I got the idea. Salah satu programmer Think.Web saat itu sedang cuti menikah. The only person that I know about programming is only <a href="http://twitter.com/antorio" target="_blank">Antorio</a>, Design &amp; Technical Associates di Think.Web. Yang saya tanyakan adalah berapa cepat dia bisa bikin seperti ini. Karena dikepala saya saat itu adalah semangat Tweeps ini harus di fasilitasi, kalo kelamaan akan hilang begitu aja.<br />
His answer is &#8220;wait&#8221; dan kemudian &#8220;bisa sih&#8230;&#8221;, disaat itu saya percaya bahwa dia pasti bisa bantu.</p>
<p>I don&#8217;t know how tapi next thing yang saya pikirkan adalah website -&gt; nampung informasi -&gt; jadi tujuan orang -&gt; beli domain. Dan yang saya lakukan kemudian adalah checking domain availability, book, bayar dan siap. <a href="http://indonesiaunite.com" target="_blank">Http://indonesiaunite.com</a> siap digunakan. Proses pembelian domain nya sangat cepat, tapi menunggu domain nya resolve dan siap mengarah kepada server yang saya siapkan ini yang makan waktu cukup lama.<br />
Dulu proses ini makan 2 hari, bwehh&#8230; too long!! untungnya sekarang dalam hitungan jam saja sudah siap. Walaupun belum sempurna. Di beberapa tempat/pengguna tetap saja baru 1-2 hari kemudian bisa masuk ke domain tersebut.</p>
<p>Hal yang juga membuat saya berpikir bahwa harus ada sebuah website adalah saya sadar pengguna Twitter di Indonesia masih sedikit. Saat itu pembicaraan yang mulai bergulir adalah membawa semangat &#8220;Kami Tidak Takut &#8211; #indonesiaunite&#8221; ini keluar dari dunia online.<br />
Kalau sudah keluar dan kemudian ngomong panjang lebar kan ribet, akan jauh lebih simpel kalo ngajak orang masuk ke website dan kemudian lihat sendiri apa yang berjalan dengan #indonesiaunite.</p>
<p>Endi, yang tadi mulai sibuk ternyata memang sedang menyiapkan tools dengan platform flash. Antorio pun sudah hampir selesai dia bilang. Disaat yang hampir sama juga seorang teman, <a href="http://twitter.com/valentmustamin" target="_blank">Valent Mustamin</a>, membuat <a href="http://www.valenmustamin.com/indonesiaunite" target="_blank">halaman</a> dengan fungsi yang sama.</p>
<p>Mengejar waktu solusi yang paling sederhana adalah website instant dengan platform blog. Dengan hosting server yang dilengkapi feature cPanel dengan Fantastico nya, menyiapkan sebuah blog benar-benar instant. 5 menit! (nggak sampe ding :p)<br />
Dikepala saya saat itu website ini berisi hanya tools untuk menambahkan attribute merah-putih dan hasil Twitter Search untuk #indonesiaunite.</p>
<p>Tools Endi &amp; Antorio ready, layout sederhana dari Antorio juga siap, maka online lah <a href="http://www.indonesiaunite.com" target="_blank">Indonesiaunite.com</a>.</p>
<p style="text-align: center"><a href="http://indonesiaunite.com"><img class="aligncenter size-full wp-image-1021" style="border: 1px solid black" src="http://think.web.id/brain/files/2009/08/Indonesiaunite2.jpg" alt="Indonesiaunite" width="550" height="469" /></a></p>
<p>Ada beberapa tambahan tools yang kemudian saya masukkan disana. Dan kemudian mulai dengan beberapa isi yang memang dibutuhkan. Tapi itu saya lakukan besoknya. Karena setelah website online kemudian saya&#8230; ketiduran&#8230;</p>
<blockquote><p>Apa yang kami lakukan untuk beberapa orang (terutama memang berada di bidang web development) adalah hal yang sangat mudah.</p>
<p>Saya percaya disaat yang bersamaan juga pasti ada minimal 1 orang yang punya ide yang sama dari call up yang berbeda. Kami hanya kebetuan melakukannya duluan.</p>
<p>In my (twitter) timeline call up datang dari <a href="http://twitter.com/dondihananto" target="_blank">@dondihananto</a>. Yang kemudian menjadi triger saya untuk memberikan kontribusi terhadap #indonesiaunite.<br />
Masih pentingkah mempertanyakan &#8220;siapa penggagasnya?&#8221; didalam memberikan sesuatu untuk Bangsa? karena siapapun bisa melakukan apapun demi Bangsa nya.</p></blockquote>
<p><em>Bersambung&#8230;</em></p>
<p style="padding-left: 30px">Posting-poting ini sengaja saya bikin bersambung supaya nggak terlalu panjang di 1 posting.<br />
Di part selanjutnya adalah cerita dibalik channel lainnya selain website dan bagaimana gerakan ini dibawa ke offline.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/brain/2009/08/03/dibelakang-digital-things-kami-tidak-takut-indonesiaunite-3rd-part/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dibelakang (digital things) Kami Tidak Takut &#8211; #indonesiaunite (2nd Part)</title>
		<link>http://think.web.id/brain/2009/07/30/dibelakang-digital-things-kami-tidak-takut-indonesiaunite-2nd-part/</link>
		<comments>http://think.web.id/brain/2009/07/30/dibelakang-digital-things-kami-tidak-takut-indonesiaunite-2nd-part/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Jul 2009 02:46:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ramya Prajna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Personal Rama]]></category>
		<category><![CDATA[Social Media Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Nasionalisme]]></category>
		<category><![CDATA[pandji]]></category>
		<category><![CDATA[power of new media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/brain/?p=976</guid>
		<description><![CDATA[Di part sebelumnya adalah cerita mengenai (my) first digital movement yang berkait dengan peristiwa bom, Kami Tidak Takut dan #indonesiaunite. Di part ini adalah cerita (my) digital movement yang selanjutnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di <a href="http://think.web.id/brain/dibelakang-kami-tidak-takut-indonesiaunite-1st-par/">part sebelumnya</a> adalah cerita mengenai (my) first digital movement yang berkait dengan peristiwa bom, Kami Tidak Takut dan #indonesiaunite. Di part ini adalah cerita (my) digital movement yang selanjutnya.</p>
<p>httpv://www.youtube.com/watch?v=HEw1iHc6CP4</p>
<p>Kalau di youtube mana seru kalau cuma dengar suara tanpa video. Ok, gue harus membuat video nya supaya bisa di upload ke YouTube. I&#8217;m thinking what&#8217;s the easiest &amp; fastest software to use. Gue terpikir bahwa Mac seharusnya punya software dasar kaya gini. Karena inget prinsip nya Mac &#8220;everyone can use it&#8221;.  Ok, iMovie adalah pilihannya pagi itu.</p>
<p>Sambil belajar cara pake iMovie dan dibekali pengalaman editing dikit2 hasil kerja di Production House dulu, gue berusaha dengan cepat semuanya dibikin. Gue cuman mikir, kualitas nanti dulu deh. Yang penting lagu nya dan pesen nya sampe. Hal yang paling mudah dilakukan adalah bermain dengan template-template tittle text yang ada di iMovie.</p>
<p>1,5 jam kemudian selesai lagu itu. Itu adalah sekitar jam 1 siang. Saya perhatikan di Twitter timeline saya orang sudah mulai banyak menggunakan hashtag #indonesiaunite. Maka kemudian link video tadi saya twit juga dengan menyertakan #indonesiaunite.</p>
<p>Ketika orang nonton video klip di YouTube pasti yang diharapkan adalah sebuah penggambaran/film cerita dari lagu yang didengarkan. Apa yang muncul dari video ini adalah hanya teks &amp; blank screen dengan beberapa warna (merah, putih, hitam). Semua dilakukan dengan sengaja.</p>
<p><strong>Kenapa Sengaja?</strong><br />
Alasan pertama adalah karena memang tidak punya stock materi video untuk dipakai.<br />
Alasan kedua adalah (saat itu) gue merasa orang harus mendengarkan pesan dari lagu ini. Visual nya tidak penting. Yang penting lirik nya. Ini juga kenapa dibeberapa bagian ada teks yang muncul, fungsinya untuk menekankan pesan. Tapi dibagian lain ada blank screen juga, karena memang untuk kembali mendengarkan lagunya meresapi liriknya.<br />
Kalau aja semua lirik saya masukkan disitu maka video itu akan menjadi video karaoke.</p>
<p>Scene pertama diawali dengan blank screen warna putih, tujuannya untuk  menandakan kalau video nya sudah ter-load. Karena kan starting screen dari YouTube adalah hitam.<br />
Scene berikutnya berganti-ganti merah dan putih sesuai dengan beat musik, warna merah untuk menandakan tetesan darah yang baru saja terjadi akibat peristiwa bom, warna putih yang mengikuti adalah untuk menyampaikan peristiwa berdarah itu terjadi di Indonesia. Kemudian warna hitam sebagai perlambang bahwa tetesan darah di Indonesia itu membuat kita berduka. Dan kemudian rangkaian itu berlulang untuk mempertegas dari yang kita rasakan.</p>
<p>Mungkin saja semua itu dilakukan dengan berbagai design atau element visual yang lebih menarik, tapi:<br />
1. Lama<br />
2. Saya udah lama nggak ngedesain (berkait sama nomer 1 tadi)<br />
3. Nggak terlalu penting (untuk saat itu)<br />
4. Baru pake software ini pertama kali :p</p>
<p>Kemudian blank screen mulai ditambahkan dengan teks-teks seiring dengan vokal Pandji juga sudah muncul. Teks nya hanya summary inti dari kalimat-kalimat Pandji karena memang untuk mempertegas isi pesan nya.<br />
Begitu juga kenapa pada bagian chorus kalimat &#8220;Kami Tidak Takut&#8221; terus-terusan muncul, ya memang untuk mengajak semuanya menyerukan &#8220;Kami Tidak Takut&#8221;.</p>
<p>Rangkaian visual seperlunya sudah selesai, tetapi rasanya perlu ada hal-hal yang ditambahkan untuk melengkapi. Perlu ada pesan sendiri untuk merangkum seluruh pesan dari lagu nya. Sepertinya memang ajakan yang paling tepat adalah untuk bersatu. Ini kenapa di paling akhir dari video saya sisipkan pesan &#8220;Bersatu Indonesia!!&#8221;.<br />
Lagu sudah selesai, sisa suara tinggal sedikit, kalimat &#8220;Bersatu Indonesia!!&#8221; muncul dengan cepat dan hilang. Tujuannya seperti shock therapy. Membuat &#8216;kaget&#8217; dan kemudian memikirkan hal itu.</p>
<p>Hal terakhir yang ditambahkan adalah nama. Ada 2 nama yang saya masukkan disana. Nama Pandji Pragiwaksono harus masuk karena sebagai penyanyinya. Dan saya tidak ingin seperti teroris yang abis nge-bom kemudian tidak meng-claim siapa yang berbuat.<br />
Kemudian di intro lagu juga saya tempatkan <a href="http://twitter.com/joelbanget" target="_blank">@joelbanget</a> karena setelah lagu di Imeem muncul kemudian orang-orang bertanya &#8220;itu yang intro dengan solo bass Barry Likumahuwa ya?&#8221;. Jadi sekalian saja keterangannya ditaro didepan.<br />
Nama saya nggak dimasukin? nggak penting rasanya, toh akhirnya saya posting juga disini.</p>
<p>Editing wrap up. Selanjutnya adalah uplod. Kemudian saya meng-embed video tersebut di blog <a href="http://pandji.com" target="_blank">Pandji</a>.<br />
Sengaja saya tidak Twit untuk yang ini, pingin tahu reaksi orang setelah dengar lagunya Pandji di Imeem apakah kemudian membuka blog nya dia.<br />
Tidak lama ternyata somehow sudah ada yang twit link ini. Dan kemudian mulai lah video ini berpopulasi.</p>
<p>5  jam setelah upload video ini online mendapat 200 views dan 22 comments.<br />
Kurang dari 10 jam setelahnya sudah menjadi 1000 views.<br />
Hari ketiga setelah upload sudah mencapai 4000 views.<br />
Dan saat ini 10 hari setelah upload view nya adalah 14ribu!  dengan 144 comments.</p>
<p>Berikut detail statistic nya yang saya capture per hari ini:</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-986" src="http://think.web.id/brain/files/2009/07/KTT-stat-youtube-01.png" alt="KTT-stat-youtube-01" width="646" height="517" /></p>
<p>Twitt RT pun terus berjalan dengan rangkaian kata &#8220;Kami Tidak Takut&#8221;. Semua orang berusaha untuk menggugah teman lainnya dengan video ini.</p>
<p>Sambil mengikuti perkembangan berita seputar bom, dan juga sambil mengikuti timeline twitter saya, tiba-tiba saya mendapat call up. Panggilan ini yang mengantarkan saya mengerjakan hal lainnya lagi untuk #indonesiaunite.</p>
<p><a href="http://think.web.id/brain/dibelakang-digital-things-kami-tidak-takut-indonesiaunite-3rd-part/" target="_blank"><em>Bersambung&#8230;</em></a></p>
<blockquote><p>Posting-poting ini sengaja saya bikin bersambung supaya nggak terlalu panjang di 1 posting.<br />
Kalau 2 part yang sudah di post adalah soal &#8220;Kami Tidak Takut&#8221;, part-part berikutnya akan cerita soal website indonesiaunite.com dan hal-hal lain didalamnya.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/brain/2009/07/30/dibelakang-digital-things-kami-tidak-takut-indonesiaunite-2nd-part/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

