Facebook Connect Tidak Cuman Untuk Website
Warning: curl_exec() has been disabled for security reasons in /home/thinkwe/public_html/brain/wp-content/plugins/wordpress-friendfeed-comments/libs/friendfeed.php on line 298
4 Comments
Pasti beberapa bulan belakangan kita sering berada dalam kondisi ini: berada pada sebuah cafe atau other hang out places dan ada beberapa meja yang menggunakan laptop dan di layar nya terlihat tampilan Facebook.
Jadi inget komik nya Benny & Mice hari Minggu kemarin di Kompas. Notebook nya bagus-bagus tapi kerjanya cari WiFi gratis dan untuk browsing Facebook. Hahahaha.
Well, sama sekali nggak ada yang salah sih dengan hal itu. Notebook bagus termasuk preferensi & daya beli masing-masing orang. WiFi dengan internet gratis karena (menurut saya) internet di public space memang seharusnya gratis. Dan browsing Facebook, nggak ada yang salah dengan berusaha untuk membangun ‘social life‘ di dunia maya. Tapi kombinasi nya a little bit ironic aja
Back to topic, dari topik pembicaraan mengenai cafe diatas udah jelas terlihat bahwa Facebook sekarang udah menjadi part of our daily life (or environment). Keluarnya Facebook Connect memungkinkan semua website untuk juga menggunakan jaringan Facebook sebagai salah satu kemudahan dalam registrasi. Yah misalnya ada website yang baru muncul, tentu saja less popular than Facebook, dia bisa mengajak user nya untuk sign in menggunakan Facebook Connect.
Namun apa yang dilakukan di Calgary Airport, Canada ini sangat menarik. Mereka menggunakan Facebook Connect sebagai pilihan dari orang-orang yang ingin menggunakan WiFi gratis disana.
Single sign in seperti yang dilakukan OpenID atau juga yang sebelumnya pernah kami bicarakan untuk Google Friend Connect atau Facebook Connect menjadi sesuatu yang menarik karena memang membuat semua proses registrasi dan sign in menjadi leih sederhana. Apakah ini salah satu bagian dari menuju Single ID atau Universal ID? We’ll see.
Yang terpikir oleh saya adalah gimana kalau sebuah cafe memberikan fasilitas internet dgn WiFi gratis dan kemudian meminta pengunjungnya untuk register atau sign in dengan Facebook Connect. Dan kemudian ada sebuah aplikasi yang memungkinkan si pengunjung melihat siapa aja di cafe itu yang sedang sign in ke Facebook. Dan selanjutnya mungkin Anda bisa membayangkan sendiri… add friend, chatiing, flirting, join table, and…. hehehehe.
Anan’s think:
...and having a social life in a virtual world could extend to having one in the real world. Di era keterbukaan dan saling berbagi ini, yes it is fun to be able to log in to different site from a single entry point. Just like it is fun to pay all your bill from a single billing statement. Make it a whole lot easier for the user.
But then again, ada pertanyaan yang kemudian keluar. Apakah single sign in ini membantu ketika kita berusaha untuk menjalankan CRM, dimana keberadaan dan kepemilikan sebuah data menjadi sesuatu yang krusial. Hum…let’s just see where the wind will blow.











Facebook conneck punya karakteristik unggul yg membuatnya mampu melibas beberapa provider sso lain. Yang pertama soal adopsi. Waktu fbc muncul tiba2 smua orang punya id ‘tunggal’. Yg kedua, single click sign on. Cukup satu tombol yg totally brainless untuk dipakai dan mudah diimplementasikan. Ketiga, punya lebih banyak penawaran drpd sekedar sign in.
Tapi, untuk jadi benar2 penyedia sso, masih ada standarisasi yg hrs diperjuangkan dalam konsorsium. Plus isu kepemilikan data yg telah disebut di atas.
Secara pribadi gue pertama kali liat ‘connect with facebook’ di blog nya pandji.com (yang masang ya elu2 juga). dan someday gue kelar mendesign ulang blog gue, akan gue selipkan app tersebut.
kalo soal konsep menurut gue ampir sama dengan myopenid kalo gak salah. tapi kenapa connect with facebook lebih populer? karena dia jualannya lebih jago. reverse engineering, kurang lebih. mereka usernya udah ada dari dulu, dan sekarang servicenya baru ada. sedangkan myopenid? jualan barang baru hari gini agak susah ya, apalagi buat orang yang suka membaca ‘fineprint’ dan skeptis terhadap pernak pernik web 2.0 baru.
namun buat orang2 tersebut, login the username facebook, lebih convenient dibanding mencari tau apa itu myopenid. sampe sekarang aja gue suka lupa user/pass myopenid gue apa.
..
hehe malah ada yang bela-belain beli blackberry hanya untuk buka facebook. dan masih naek-turun angkot untuk aktifitasnya. ironic
ok.
gue malah sekarang mulai ogah pake facebook connect di koment box, karena mengeliminasi orang untuk pergi ke URL gue.
karena kalo klik nick gue, perginya malah ke facebook profile, yang belum tentu tu orang linked sama gue di facebook.
Untuk yang naik-turun angkot pake Blackberry no comment ah. Masih banyak keajaiban seperti (waktu lalu) launching Nokia Communicator pertama di Indonesia karena penjualan terbesar nya disini, meanwhile saat itu lagi rame2nya Raskin. Hehehe.
Soal FB Connect di comment box bisa ada 2 point of view.
1. Kalo login pake FB Connect, comment kita (bisa) terpublish di mini-feed kita. Sehingga keuntungan bagi pemilik blog karena blog nya ter-expose, yang kasih comment tentunya juga ter-expose karena comment nya muncul di wall nya sendiri.
2. Kalo input seperti biasa (nama, email, URL), pengunjung lain yang membaca comment kita dan tertarik tahu siapa kita akan bisa masuk ke blog kita. Dan mungkin aja dia juga menjadi pembaca kita.
Pilih yang mana? Well, you already decide sepertinya.
Thanks for the comment!
Tell us what you Think!
Facebook Connect
Already a member?Login
Lifestream
Think.Web last project
FreSh, Think.Web and our profile at Koran Tempo
Berikut liputan mengenai FreSh yang muncul di Koran Tempo.
Ada juga review tentang kami dan Think.Web.
CrunchBase Information
Think.Web
Information provided by CrunchBase
CrunchBase Information
Ramya Prajna S
Information provided by CrunchBase
…
Full article »Anantya's on Personal Posting
The Day I Learn To Be Creative
Beberapa saat yang lalu gue complaining: “I’m not creative enough” sepertinya complain ini dipicu kondisi gue yang dihadapkan pada setumpuk proposal and started to think, “where did my creative nerve goes?”.
Full article »Tapi semuanya agak hilang ketika one day my partner sent me this slide share link. Ketika gue liat, its about creativity. Ih tau aja, temennya lagi merasa ga kreatif.
Upon reading slide by slide, it get me thinking. Gue udah melakukan most of the slides suggested. So if this the way to make me a more creative person, sepertinya I’m on …
Ramya Prajna's on Personal Posting
Dibelakang (digital things) Kami Tidak Takut – #indonesiaunite (3rd Part)
Di part 1 saya bercerita mengenai bagaimana lagu “Kami Tidak Takut” pertama kali diperdengarkan secara online. Di part 2 adalah cerita mengenai bagaimana video klip nya online di YouTube dan mengantarkan pesan lagu nya.
Di part ini adalah cerita mengenai website indonesiaunite.com dan channel lainnya yang ikut melengkapi.
(Thumbnail Credit: Iqbal Prakasa)
Full article »Recent Comments
Brain Pages
Brain Categories
Tag Cloud
WP Cumulus Flash tag cloud by Roy Tanck requires Flash Player 9 or better.
Facebook Live Stream
Recent Posts
Most Commented
Most Viewed