<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Brain of Think.web</title>
	<atom:link href="http://think.web.id/brain/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://think.web.id/brain</link>
	<description>this Brain continously Think about Web, and sometime other things too</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Feb 2012 19:38:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>The end of paid influencers era</title>
		<link>http://think.web.id/brain/paid-influencers/</link>
		<comments>http://think.web.id/brain/paid-influencers/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Dec 2011 03:33:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ramya Prajna S</dc:creator>
				<category><![CDATA[Social Media Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Social Networking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/brain/?p=24862</guid>
		<description><![CDATA[Saat ini Twitter sudah membuka Twitter for business untuk Tending berbayar dan Tweet berbayar. Ketika ini sampai di Indonesia, maka akan selesailah era paid tweet untuk para influencer. Pada saat itu advertiser atau brand jadi punya pilihan untuk melakukan tweet bahkan langsung dari account brand nya dan targetted, misal for Indonesia account only. Dan reach [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat ini Twitter sudah membuka Twitter for business untuk Tending berbayar dan Tweet berbayar.</p>
<p>Ketika ini sampai di Indonesia, maka akan selesailah era paid tweet untuk para influencer.</p>
<p>Pada saat itu advertiser atau brand jadi punya pilihan untuk melakukan tweet bahkan langsung dari account brand nya dan targetted, misal for Indonesia account only. Dan reach nya jelas seluruh Indonesia, tidak bergantung ke jumlah follower account tertentu.<br />
Atau mereka juga tidak perlu repot-repot untuk berpikir bagaimana caranya supaya masuk ke trending topic.<br />
All they need to do is only bayar ke Twitter.</p>
<p>Influencer seharusnya kemudian sadar akan fungsi mereka. Influncer dari kata influence. Yang artinya yang harus mereka ciptakan adalah pengaruh terhadap followernya untuk melakukan interaksi atau action (call to action).<br />
Saat ini semua itu menjadi tidak sesuai karena influencer hanya berpikir bahwa mereka adalah publisher. Spot mereka dibayar untuk melakukan iklan kepada follower mereka.</p>
<p>Seharusnya Influencer harus mampu membuat engagement atau interaksi kepada follower nya sesuai dengan topic yang dibayar oleh brand atau product.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/brain/paid-influencers/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>What comes after Facebook?</title>
		<link>http://think.web.id/brain/what-comes-after-facebook/</link>
		<comments>http://think.web.id/brain/what-comes-after-facebook/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Dec 2011 03:09:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ramya Prajna S</dc:creator>
				<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[Social Media Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Social Networking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/brain/?p=24863</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan itu sering sekali saya dapatkan terutama sejak tahun lalu. Penanya biasanya menjadikan fenomena Friendster sebagai dasar. Jawaban saya adalah biasanya seperti ini: Kita sudah lebih dari 10 tahun menggunakan Google, apakah pernah berpikir &#8220;apa yang akan menggantikan Google?&#8221; Saya berani bilang bahwa kita tidak mempunyai pertanyaan itu sekarang. Google sebagai starting point ketika kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertanyaan itu sering sekali saya dapatkan terutama sejak tahun lalu. Penanya biasanya menjadikan fenomena Friendster sebagai dasar.</p>
<p>Jawaban saya adalah biasanya seperti ini: Kita sudah lebih dari 10 tahun menggunakan Google, apakah pernah berpikir &#8220;apa yang akan menggantikan Google?&#8221;</p>
<p>Saya berani bilang bahwa kita tidak mempunyai pertanyaan itu sekarang. Google sebagai starting point ketika kita mencari sesuatu sudah menjadi bagian dari hidup kita. Yang terjadi kita semakin amaze dengan hasil pencarian dari Google. Kita semakin puas dengan apa yang dihasilkan Google karena Google semakin pintar dan semakin mengerti diri kita.</p>
<p>Saat Facebook me-launching Open Graph di <a href="http://think.web.id/brain/f8/">f8 2010</a>, yang Facebook lakukan adalah menjadikan Facebook sebagai sebuah platform. Facebook tidak lagi hanya sebuah website social network, tapi Facebook &#8216;mem-Facebook-an&#8217; seluruh website di seluruh dunia.</p>
<p>Kita mungkin sudah tidak sering lagi masuk ke Facebook.com, tapi kita menggunakan website-website lain dengan menggunakan feature Facebook. Misal: sign up &#038; login membership dengan Facebook connect, put &#8216;Like&#8217; pada article atau blog post yang kita suka, share to our friends on Facebook, etc.</p>
<p>If Facebook.com is a weekend, other websites (that using Open Graph) are the weekday. You will enjoy your weekend eventually.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/brain/what-comes-after-facebook/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>#PukPukDay</title>
		<link>http://think.web.id/brain/pukpukday/</link>
		<comments>http://think.web.id/brain/pukpukday/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Dec 2011 03:20:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ramya Prajna S</dc:creator>
				<category><![CDATA[Think.Web]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/brain/?p=25339</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini sebuah kegiatan internal baru lahir lagi. To appriciate our hard work along the year of 2011, I held an activity untuk setiap orang saling bersalaman, lihat ke mata, bilang &#8220;Thanks for the hard work&#8221; dan put tap on other shoulder (puk-puk). Acaranya simple, cuman makan pempek &#038; minum es jeruk. Diadakan sore hari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini sebuah kegiatan internal baru lahir lagi. To appriciate our hard work along the year of 2011, I held an activity untuk setiap orang saling bersalaman, lihat ke mata, bilang &#8220;Thanks for the hard work&#8221; dan put tap on other shoulder (puk-puk).</p>
<p>Acaranya simple, cuman makan pempek &#038; minum es jeruk. Diadakan sore hari di hari terakhir bekerja di 2011.</p>
<p>It&#8217;s just a simple activity, but sure means a lot. Buat saya tidak ada yang bisa lebih saya berikan selain mengatakan dari lubuk hati &#8220;terima kasih atas semua kerja keras dan dukungan selama tahun 2011.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/brain/pukpukday/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>User Behavior, Experience &amp; Interface</title>
		<link>http://think.web.id/brain/user-behavior-experience-interfac/</link>
		<comments>http://think.web.id/brain/user-behavior-experience-interfac/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Dec 2011 03:30:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ramya Prajna S</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/brain/?p=25330</guid>
		<description><![CDATA[We learn about User (Target Market) Behavior, translate it to User Experience and make it into User Interface.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>We learn about User (Target Market) Behavior, translate it to User Experience and make it into User Interface.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/brain/user-behavior-experience-interfac/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>When the DC Super Heroes coming to town</title>
		<link>http://think.web.id/brain/dc-super-heroes/</link>
		<comments>http://think.web.id/brain/dc-super-heroes/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Apr 2011 03:17:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ramya Prajna S</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Think.Web]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/brain/?p=17196</guid>
		<description><![CDATA[Saya bukan penggemar komik sejati. Saya suka, tapi hanya beberapa yang saya baca dan beberapa yang saya simpan. Kalau membaca dari Wikipedia mengenai komik di Indonesia kita mengalami beberapa paruh masa. Di era tahun 30an komik-komik adalah terkait dengan perjuangan bangsa. Baru di tahun 50an, R.A. Kosasih, bapak komik Indonesia, mulai mengadopsi komik Amerika menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Sriasih1.jpg"><img class="size-medium wp-image-17197 alignleft" style="margin-left: 10px; margin-right: 10px;" title="Sri Asih" src="http://think.web.id/brain/wp-content/uploads/2011/04/Sriasih1-255x375.jpg" alt="" width="255" height="375" /></a>Saya bukan penggemar komik sejati. Saya suka, tapi hanya beberapa yang saya baca dan beberapa yang saya simpan.</p>
<p>Kalau membaca dari Wikipedia mengenai <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Komik_Indonesia">komik di Indonesia</a> kita mengalami beberapa paruh masa. Di era tahun 30an komik-komik adalah terkait dengan perjuangan bangsa. Baru di tahun 50an, R.A. Kosasih, bapak komik Indonesia, mulai mengadopsi komik Amerika menjadi bentuk super hero Indonesia, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sri_Asih">Sri Asih</a>.<br />
Sri Asih merupakan &#8216;lokalisasi&#8217; dari Wonder Woman, sebuah karakter yang diterbitkan DC Comics di tahun 1941.</p>
<p>Di tahun 70an ketika industri film Indonesia menjadi raja, ada juga film super hero yang muncul. Film yang saya ingat adalah <strong><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rama_Superman_Indonesia">Rama Superman Indonesia</a></strong> (kesamaan nama bukan faktor kesengajaan <img src='http://think.web.id/brain/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> ).<br />
Sampai hari ini rasanya belum ada lagi film layar lebar super hero yang dibuat lagi di Indonesia.</p>
<p>Kenapa sih saya membahas mengenai komik?</p>
<p>Saat ini, di industri Digital Agency Indonesia, mulai berdatangan memulai langkahnya masuk ke Indonesia. Beberapa tidak terlalu sulit, karena memang sudah ada perusahaan terdahulu yang <em>establish</em> di Indonesia. Misal dalam bentuk brand agency, advertising agency, activation agency, PR agency, atau lainnya.</p>
<p>Kebetulan yang datang mengetuk pintu kami, membuka kesempatan maupun tertarik dengan <a href="http://www.think.web.id" class="kblinker" title="More about Think.Web &raquo;">Think.Web</a> namanya kebanyakan berakhiran &#8216;man&#8217; atau &#8216;an&#8217;. Kok seperti kedatangan Superman, Batman, Wonder Woman ya&#8230; <img src='http://think.web.id/brain/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Lepas dari nama, apa sih yang kemudian terjadi pada industri ini kedepan nantinya? Digital Industri di Indonesia masih &#8216;perawan&#8217; sekali, demikian kalau kata <a href="http://techcrunch.com/2011/03/28/witn-jakarta-no-she-came-back-of-her-own-accord-tctv/">Sarah Lacy</a> saat dia di interview.</p>
<p>In this early era, disaat &#8216;supe hero&#8217; asing masuk ke Indonesia, sikap seperti apa yang sebaiknya diambil oleh &#8216;jagoan-jagoan&#8217; lokal?<br />
Kita tentunya nggak mau sekedar jago kandang. Dunia juga perlu mendengar bahwa Indonesia punya potensi kreatif dan produksi berkelas dunia. Bukan hanya soal market nya saja yang melulu di garap uangnya.</p>
<p>Globalization means come in to Indonesia, and come out to bigger world.</p>
<p>What do you think?</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/brain/dc-super-heroes/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Online Video Contest: Peserta atau Pemirsa?</title>
		<link>http://think.web.id/brain/online-video-contest-peserta-atau-pemirsa/</link>
		<comments>http://think.web.id/brain/online-video-contest-peserta-atau-pemirsa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Mar 2011 05:11:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ramya Prajna S</dc:creator>
				<category><![CDATA[Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Social Media Marketing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/brain/?p=16854</guid>
		<description><![CDATA[Sekarang ini banyak sekali brand yang bikin video contest. Seperti biasa, berangkat dari euphoria Sinta-Jojo, Audrey-Gamaliel dan lainnya. Brand merasa kalo bikin video bisa lebih menarik dari photo. &#8220;Orang Indonesia banyak yang narsis, bikin video di handphone gampang, kalo lucu2an bisa banyak yang nonton&#8221;. Tapi kemudian embel2nya juga banyak: musti ada tema nya, musti ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_17137" class="wp-caption alignnone" style="width: 265px"><a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:SintaJojo.JPG&amp;filetimestamp=20101014135744"><img class="size-medium wp-image-17137" title="SintaJojo" src="http://think.web.id/brain/wp-content/uploads/2011/03/SintaJojo-255x154.jpg" alt="" width="255" height="154" /></a><p class="wp-caption-text">Source: Wikipedia</p></div>
<p><a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:SintaJojo.JPG&amp;filetimestamp=20101014135744"></a>Sekarang ini banyak sekali brand yang bikin video contest. Seperti biasa, berangkat dari euphoria <a href="http://www.youtube.com/watch?v=VKP1t3gQ_o0">Sinta-Jojo</a>, <a href="http://www.youtube.com/user/gamal1990">Audrey-Gamaliel</a> dan lainnya.<br />
Brand <span style="text-decoration: underline;">merasa</span> kalo bikin video bisa lebih menarik dari photo. &#8220;Orang Indonesia banyak yang narsis, bikin video di handphone gampang, kalo lucu2an bisa banyak yang nonton&#8221;.</p>
<p>Tapi kemudian embel2nya juga banyak: musti ada tema nya, musti ada isi nya, musti ada pesan sponsor, musti ada logo brand nya, musti di moderasi dll dll.</p>
<p>Brand biasanya lupa juga kalo video dari handphone itu musti dipindah ke komputer buat di upload, kadang butuh sedikit editing juga supaya layak (bukan bagus loh), kualitas video handphone itu beda-beda, nggak semua orang Indonesia punya talent (tampil depan kamera, acting, dll) DAN sebenernya cuman Dono-Kasino-Indro, Srimulat dan Opera Van Java yang lucu.</p>
<p>Nah jadi sebenernya apa sih yang dicari dari video contest?<br />
Jumlah <strong>peserta</strong> yang banyak kah? Tapi isinya nggak sesuai akhirnya overall amplification nya juga kecil.<br />
Atau<br />
Jumlah <strong>pemirsa</strong> per video yang banyak kah? Yang artinya bisa jadi pesertanya sangat sedikit tapi kualitas content nya memang bagus.</p>
<p>Ketika membuat activity sebaiknya berangkat dari tujuannya. Bukan berangkat dari pingin bikin apa.<br />
Dari tujuan akan dijawab dengan activity yang sesuai dengan target market brand. Yang perlu diingat adalah ada beberapa kegiatan yang familiar dengan target market, namun belum tentu kegiatan itu bisa dilakukan oleh target market pada umumnya. Biasa menonton belum tentu bisa membuat, ada beberapa yang sanagt populer belum tentu semuanya bisa membuat.</p>
<p>Intinya adalah be flexible terhadap kebiasaan target market. Tidak ada salahnya memberikan banyak syarat asal sadar akan resikonya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/brain/online-video-contest-peserta-atau-pemirsa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>f8</title>
		<link>http://think.web.id/brain/f8/</link>
		<comments>http://think.web.id/brain/f8/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Nov 2010 02:53:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ramya Prajna S</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Personal Anan]]></category>
		<category><![CDATA[Personal Rama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/brain/?p=1066</guid>
		<description><![CDATA[Pada tanggal 21 April lalu kami memiliki kesempatan untuk ikut menghadiri sebuah event bernama F8 di San Francisco, US. F8 atau Facebook Conference adalah konferensi ke 3 Facebook setelah yang pertama pada tahun 2007 dan kedua di 2008. Terus terang waktu berangkat yang ada dalam pikiran saya adalah sama seperti kebanyakan orang di Indonesia yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-13501" title="F8" src="http://think.web.id/brain/wp-content/uploads/2010/11/IMG_68951.jpg" alt="" width="510" height="267" /><br />
Pada tanggal 21 April lalu kami memiliki kesempatan untuk ikut menghadiri sebuah event bernama F8 di San Francisco, US. F8 atau Facebook Conference adalah konferensi ke 3 Facebook setelah yang pertama pada tahun 2007 dan kedua di 2008.</p>
<p>Terus terang waktu berangkat yang ada dalam pikiran saya adalah sama seperti kebanyakan orang di Indonesia yang menunggu &#8220;apa ya setelah Facebook&#8221;. Jadi apa yang dikepala saya adalah benar-benar hanya ingin menjadi bagian dari sesuatu yang selama ini <a href="http://www.think.web.id" class="kblinker" title="More about Think.Web &raquo;">Think.Web</a> jalan kan. Itu saja.<br />
Banyak orang yang melihat bahwa Facebook adalah sebuah persinggahan sesaat dan akan muncul yang baru, yang lebih seru. Wajar saja, kita semua punya pengalaman dengan Friendster yang booming banget dan kemudian berakhir dilupakan saat Facebook muncul. MySpace di Indonesia tidak sempat menjadi besar sekali karena kemudian Facebook lebih populer. Belum lagi yang dengan pesat dan ramainya bermunculan bentukan-bentukan social network baru yang populer di Indonesia.</p>
<p>Twitter, memang bukan SocMed baru, tapi memang baru-baru ini populer di Indonesia. Jakarta adalah kota penggunan Twitter di Asia. Bukan Jepang, bukan Shanghai, tapi Jakarta. Padahal Jepang lebih dulu meng-adopsi Twitter.<br />
Kemudian yang terbaru naik trend nya adalah Foursquare.</p>
<p><img class="size-medium wp-image-13502 alignleft" style="margin-right: 10px;" title="Mark Zuckerberg" src="http://think.web.id/brain/wp-content/uploads/2010/11/IMG_6896-255x242.jpg" alt="" width="255" height="242" />Tapi semua yang ada dikepala saya lenyap saat Mark Zuckerberg, Facebook founder, memaparkan rencana dan hal baru mereka. Kalau di f8 2007 mereka launch Social Graph, kemudian di f8 2008 mereka launch Facebook Connect, tahun 2010 mereka mengeluarkan Open Graph.</p>
<p>Dalam deskripsi sederhana Open Graph adalah sebuah platform yang berdasar pada Facebook framework namun berjalan di luar Facebook.<br />
Sebuah langkah jenius dari Mark Z., karena dengan ini artinya Facebook menjadi dasar dari social interaction dari sebuah website. Dengan jumlah pengguna lebih dari 500jt wajar saja kalau Facebook percaya diri.</p>
<p>Dalam membangun community site, salah satu yang perlu diperhatikan adalah critical mass. Atau jumlah minimal dari user sehingga interaksi pada website itu bisa berjalan sendiri. Jumlah pengguna Facebook sudah jauh melampaui critical mass (bahkan untuk skala dunia).</p>
<p>Apakah kita pernah berpikir &#8220;abis Search Engine Google kemudian ada apa ya?&#8221;<br />
Sebagai pengguna, kita tidak repot mikirin apakah ada yang muncul baru atau tidak. Google SE (search engine) sudah menjadi tools dalam online behavior kita. Competitor Google memang mencoba membuat SE-SE saingan, tapi penggunanya ya nonton aja (sambil Googling). Module Search Google dipasang dibanyak website. Google SE sudah menjadi platform. Hal ini juga lah yang terjadi pada Facebook Open Graph.</p>
<p>Let&#8217;s embrace Facebook be part of our (online) live. Sambil mencoba SocMed baru dan sambungin account kita dengan Facebook Connect.</p>
<p>Buat oleh-oleh, ini foto kami bersama Mark <img src='http://think.web.id/brain/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><img class="size-medium wp-image-13503 alignleft" title="Ramya Prajna &amp; Mark Zuckerberg" src="http://think.web.id/brain/wp-content/uploads/2010/11/IMG00070-20100421-1659-255x191.jpg" alt="" width="255" height="191" /><img class="size-medium wp-image-13504 alignleft" style="margin-right: 5px;" title="Anantya &amp; Mark Zuckerberg" src="http://think.web.id/brain/wp-content/uploads/2010/11/IMG00069-20100421-1658-255x191.jpg" alt="" width="255" height="191" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/brain/f8/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>WOOZ.in</title>
		<link>http://think.web.id/brain/wooz-in/</link>
		<comments>http://think.web.id/brain/wooz-in/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Nov 2010 01:32:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ramya Prajna S</dc:creator>
				<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[Facebook Application]]></category>
		<category><![CDATA[Portofolio]]></category>
		<category><![CDATA[Product]]></category>
		<category><![CDATA[Social Media Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Social Networking]]></category>
		<category><![CDATA[Think.Web]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/brain/?p=11250</guid>
		<description><![CDATA[Pada Pesta Blogger tanggal 30 Oktober lalu, kami melakukan soft launch atau open beta produk atau web service pertama kami. Wooz.in namanya (baca: wuzin). Wooz.in adalah sebuah web service yang menggabungkan fungsi Social Network dengan radio-frequency. Saat ini technology radio-frequency yang kami gunakan adalah RFID (Radio-frequency Identification). Idenya adalah bagaimana seseorang bisa melakukan update dimana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-17140" title="woozin" src="http://think.web.id/brain/wp-content/uploads/2010/11/logo-woozin.png" alt="" width="219" height="186" /></p>
<p>Pada Pesta Blogger tanggal 30 Oktober lalu, kami melakukan soft launch atau open beta produk atau web service pertama kami. <strong>Wooz.in</strong> namanya (baca: wuzin).</p>
<p>Wooz.in adalah sebuah web service yang menggabungkan fungsi Social Network dengan radio-frequency. Saat ini technology radio-frequency yang kami gunakan adalah RFID (Radio-frequency Identification).</p>
<p>Idenya adalah bagaimana seseorang bisa melakukan update dimana mereka berada hanya dengan melakukan &#8216;tap&#8217;, seperti halnya yang banyak orang lakukan ketika absen pegawai, masuk pintu kantor ataupun seperti ketika di gate MRT Singapore.<br />
Ide ini terinspirasi dari kegiatan yang dilakukan oleh Facebook di Facebook Conference 2010 beberapa bulan lalu. Saat itu setiap name tag peserta juga terdapat RFID chip dan ada beberapa reader di acara tersebut.</p>
<p>Di event pertama Wooz.in device RFID yang digunakan pada event pertama ini adalah kartu atau RFID card. Kartu ini dibagikan secara gratis oleh sponsor pertama kami, Acer Indonesia. Acer membagikan RFID card kepada seluruh peserta Pesta Blogger+ 2010 secara gratis.<br />
Setelah mendapatkan kartu peserta diharuskan untuk melakukan registrasi di website Wooz.in. Yang perlu dilakukan adalah menyambungkan account Facebook dan/atau Twitter mereka, juga Foursquare dan Gowalla apabila memiliki. Hal penting lainnya yang perlu dilakukan adalah memasukkan UID (Unique ID) atau nomer RFID yang tertera pada kartu kedalam account wooz.in masing-masing. Setelah semua proses registrasi selesai RFID device siap digunakan.</p>
<p>Yang user lakukan hanya melakukan &#8216;tap&#8217; seperti biasanya dilakukan pada mesin absen atau pintu masuk kantor atau pengguna Flazz BCA ataupun ketika menggunakan MRT di Singapore.<br />
User melakukan tap pada RFID reader yang kami kemas dalam bentuk sebuah booth. Kami namakan Wooz.in Spot.</p>
<p><strong>Wooz.in Spot</strong><br />
Adalah station atau booth dimana wooz.in user bisa melakukan woozing RFID device mereka dan kemudian Social Network yang sudah disambungkan akan melakukan update  mengenai keberadaan user.<br />
Ada 4 Wooz.in Spot di event Pesta Blogger+ 2010 yang tersebar diberbagai area. Tujuannya adalah juga agar setiap user exploring area-area tersebut. Ada Wooz.in Pin yang dapat ter-unlock setelah user woozing di 4 spot tersebut.</p>
<p><strong>Wooz.in Pin</strong><br />
Adalah penanda bahwa user telah menyelesaikan task tertentu. Kalau di Foursquare adalah istilah Badge dan di Gowalla isitilahnya Trips, di wooz.in kami namakan pin.</p>
<p>Dengan Wooz.in fungsi updating menjadi lebih mudah dan tidak terjadi orang yang check-in disuatu tempat namun sebenarnya tidak berada di lokasi tersebut (atau isitilahnya jumper).<br />
The possibility is unlimited. Baru 4 Social Network yang terhubung saat ini, tapi kedepan akan terus bertambah.</p>
<p>Wooz.in bisa dilihat di: <a href="http://wooz.in">http://wooz.in</a> dan <a href="http://www.facebook.com/pages/Woozin/157614240949967">FB Page-nya</a></p>
<p>Ini videonya:<br />
<object width="400" height="320"><param name="allowfullscreen" value="true" /><param name="movie" value="http://www.facebook.com/v/462331998058" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="400" height="320" src="http://www.facebook.com/v/462331998058" allowfullscreen="true"></embed></object><br />
Wooz.in is the new check-in <img src='http://think.web.id/brain/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/brain/wooz-in/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Klinting…Klinting…Klinting</title>
		<link>http://think.web.id/numb3rs/2010/10/klinting%E2%80%A6klinting%E2%80%A6klinting/</link>
		<comments>http://think.web.id/numb3rs/2010/10/klinting%E2%80%A6klinting%E2%80%A6klinting/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Oct 2010 02:40:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anantya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analytics]]></category>
		<category><![CDATA[Analytics Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[tracking]]></category>
		<category><![CDATA[traffic]]></category>
		<category><![CDATA[visitor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/numb3rs/?p=342</guid>
		<description><![CDATA[Untuk yang pernah belajar marketing pasti cukup familiar dengan prinsip 3P atau bahkan 7P. Namun diantara semua deret kata yang diawali dengan huruf P tersebut, 2 kata yang berhasil menembus dinding kepala saya adalah Place dan Promotion. Satuan kata yang bila diingat kembali memang sangat penting. Kenapa? Karena &#8220;place&#8221; inilah yang menjadi tempat awal penarik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<strong><a href="http://think.web.id/numb3rs/wp-content/uploads/2010/10/07-nashville.gov_.jpg"><a href="http://think.web.id/numb3rs/wp-content/uploads/2010/10/07-nashville.gov_.jpg"><img class="size-full wp-image-17153 alignleft" style="margin: 10px;" title="07-nashville.gov_" src="http://think.web.id/brain/wp-content/uploads/2010/10/07-nashville.gov_.jpg" alt="" width="450" height="306" /></a></a></strong>Untuk yang pernah belajar marketing pasti cukup familiar dengan prinsip 3P atau bahkan 7P. Namun diantara semua deret kata yang diawali dengan huruf P tersebut, 2 kata yang berhasil menembus dinding kepala saya adalah Place dan Promotion. Satuan kata yang bila diingat kembali memang sangat penting. Kenapa? Karena “place” inilah yang menjadi tempat awal penarik tamu (traffic) masuk ke toko/tempat jualan/etalase yang kita punya. Demikian juga dengan promotion, salah satu fitrah promosi adalah untuk mendatangkan tamu (traffic).

Tinggi rendahnya kunjungan tamu ke toko/etalase/tempat jualan yang kita miliki menentukan laku/tidaknya barang yang sedang kita jual. Lalu, apa hubungannya konsep marketing dengan posisi kita sebagai publisher yang ingin memasang iklan?

Jangan pindah window dulu, karena jawabannya sebenarnya sangat sederhana. Semakin banyak traffic/visitor yang kita miliki, yang datang ke etalase online (blog) kita, maka secara teori management kita memiliki kesempatan yang lebih besar dalam mendapatkan konversi/pembeli, atau dalam kasus sebagai publisher, orang yang melihat dan melakukan klik pada iklan kita.

Permasalahan paling umum adalah, bagaimana memastikan bahwa etalase kita didatangi banyak orang? Etalase bisa ramai, tapi berapakah yang beneran masuk ke dalam toko? Jawabannya cuma satu: pantau etalase kita! Pernah kan masuk ke sebuah toko, dan sebuah bel kecil berbunyi “klinting…klinting…klinting”? Logika yang sama sebenarnya berlaku juga bagi etalase online kita. Yang perlu kita lakukan adalah memasang/mempergunakan traffic tracking code. Sehingga setiap kali ada orang yang masuk ke blog kita, bel kecil berbunyi dan mencatat kunjungan yang terjadi.

Gampang kan? Semakin sering bel kita berbunyi, semakin besar kesempatan jualan kita laris manis. Tapi bila bel kecil kita tiba-tiba memutuskan untuk “mute”, kita bisa berjaga-jaga dan mengusahakan agar bel kecil tersebut tetap berdenting. Bagaimanapun, Kita tetap butuh traffic agar barang jualan Kita “dilirik” atau bahkan “dibeli” orang.

Tugas yang sedikit lebih berat setelah pemasangan bel kecil tadi sebenarnya adalah melihat sejauh mana orang yang berkunjung pada akhirnya melakukan pembelian terhadap apapun yang ditawarkan dalam etalase kita. Penasaran? Sabar, dalam pembahasan selanjutnya kita akan masuk ke bagaimana serunya analogi kamera cctv atau barcode dalam pengukuran analytics untuk etalase online kita.

Tapi sebelum melangkah lebih jauh, pastikan etalase kita sudah memiliki bel kecil penghitung traffic. Klinting… klinting… klinting… Selamat! Satu orang tercatat melakukan visit ke etalase kita!]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/numb3rs/2010/10/klinting%e2%80%a6klinting%e2%80%a6klinting/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perkenalan Metrics</title>
		<link>http://think.web.id/numb3rs/2010/07/perkenalan-metrics/</link>
		<comments>http://think.web.id/numb3rs/2010/07/perkenalan-metrics/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jul 2010 08:13:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anantya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analytics]]></category>
		<category><![CDATA[Basic Metrics]]></category>
		<category><![CDATA[google analytics]]></category>
		<category><![CDATA[metrics]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/numb3rs/?p=246</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum mulai membaca report bulanan yang diberikan oleh agency Anda, pastikan Anda mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. visit, visitor, unique visitor, page view&#8230;.mungkin terdengar seperti sebuah bahasa eksotis yang diperbincangkan oleh mereka yang datang dari luar angkasa. Untuk mengerti apakah si mahluk ruang angkasa berujar &#8220;we came in peace&#8221; atau &#8220;we intend to distroy [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelum mulai membaca report bulanan yang diberikan oleh agency Anda, pastikan Anda mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. visit, visitor, unique visitor, page view&#8230;.mungkin terdengar seperti sebuah bahasa eksotis yang diperbincangkan oleh mereka yang datang dari luar angkasa.</p>
<p>Untuk mengerti apakah si mahluk ruang angkasa berujar &#8220;we came in peace&#8221; atau &#8220;we intend to distroy your planet, sepertinya ada baiknya Anda buka kamus mengenai analytics metrics berikut ini.</p>
<p><strong><span id="more-246"></span>Visits vs. Visitors</strong></p>
<blockquote><p>Mari bedakan visits dan visitor. Secara gamblang, visitor adalah &#8220;si orang&#8221; dan visit adalah &#8220;tindakannya&#8221;.  Kalau penjelasan agak njelimentnya:  <em>Visits</em> represent the number of per sessions initiated by all the visitors to your site. Biasanya sebuah session dibatasi oleh ukuran waktu in-active (biasanya 30 menit). Jadi ketika user membuka site, kemudian makan siang dan tidak balik lagi selama 30 menit, ketika orang tersebut balik kembali maka ia akan dihitung melakukan visit baru. Namun ketika ia makan cuma dalam waktu 10 menit dan kemudian kembali lagi, ia tidak akan dihitung sebagai new visit.</p></blockquote>
<p><strong>Pageviews<br />
</strong></p>
<blockquote><p><em>Pageview</em> pada dasarnya adalah perhitngan berapa banyak sebuah halaman dibuka oleh user. Ini termasuk dengan; refresh, kembali lagi ke halaman setelah masuk ke halaman lain dan back button. Dalam bahasa yang lebih njelimet: <em>defined as a view of a page on your site that is being tracked by the Analytics tracking code.</em></p></blockquote>
<p><strong>Absolute Unique Visitors</strong></p>
<blockquote><p>Dihitung dalam batasan waktu tertentu yang diatur oleh analyst. Absolut visitor menghitung visitor hanya sekali dalam jangka waktu tertentu (misalnya dipilih tanggal 1 &#8211; 30 per bulan, maka data akan menghitung masing-masing visitor hanya 1x). Bila 1 orang masuk ke sebuah website selama 4 kali dalam jangka satu bulan, maka absolut unique visitor dalam jangka 1 bulan tersebut akan tetap 1.</p></blockquote>
<p><strong>New vs. Returning</strong></p>
<blockquote><p>Metrics ini menghitung jenis visit  (baru atau returning).  So when somebody visits your site for the first time, the visit is categorized as &#8216;Visit from a new visitor.&#8217; If this user has browsed your website before, the visit is categorized as &#8216;Visit from a returning visitor&#8217;, dalam jangka waktu tertentu (yang ditetapkan analyst)</p></blockquote>
<p><strong>Bounce Rate</strong></p>
<blockquote><p>Bounce rate adalah persentase dari perhitungan mereka yang masuk dan hanya membuka satu halaman dan tidak melakukan browse terhadap halaman lain.  Metrics ini dipergunakan untuk mengukur visit quality &#8211; a high bounce rate generally indicates that site entrance pages aren&#8217;t relevant to your visitors. The more compelling your landing pages, the more visitors will stay on your site and convert. You can minimize bounce rates by tailoring landing pages to each keyword and ad that you run.</p></blockquote>
<p>Kamus metrics ini akan terus bertambah. So have fun speaking analytics language!!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/numb3rs/2010/07/perkenalan-metrics/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Voice vs Noise</title>
		<link>http://think.web.id/brain/voice-vs-noise/</link>
		<comments>http://think.web.id/brain/voice-vs-noise/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jul 2010 11:12:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ramya Prajna S</dc:creator>
				<category><![CDATA[Social Media Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Digital PR]]></category>
		<category><![CDATA[public relation]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/brain/?p=1154</guid>
		<description><![CDATA[Ketika brand masuk ke area Social Media mereka harus MAU dan MAMPU untuk mendengar pembicaraan mengenai dirinya. Mau mendengar adalah karena ketika sebuah brand membuka dirinya di SocMed artinya customer &#38; network bisa langsung menyuarakan pendapatnya. Jadi sebenarnya brand tidak punya pilihan lain untuk mendengarkan. Kalau brand tidak mau mendengar ini jadinya seperti orang yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://think.web.id/brain/wp-content/uploads/2010/08/l_496_282_2699C32D-94CD-4094-82AA-11524B8368E0.jpeg"><img src="http://think.web.id/brain/wp-content/uploads/2010/08/l_496_282_2699C32D-94CD-4094-82AA-11524B8368E0.jpeg" alt="" /></a></p>
<p>Ketika brand masuk ke area Social Media mereka harus MAU dan MAMPU untuk mendengar pembicaraan mengenai dirinya.<br />
Mau mendengar adalah karena ketika sebuah brand membuka dirinya di SocMed artinya customer &amp; network bisa langsung menyuarakan pendapatnya. Jadi sebenarnya brand tidak punya pilihan lain untuk mendengarkan. Kalau brand tidak mau mendengar ini jadinya seperti orang yang menutup kupingnya disaat diajak bicara oleh orang lain.<br />
Mampu mendengar ini artinya sebuah brand bukan hanya mau membuka telinga, tapi juga siap untuk mendengarkan banyak suara. Dalam mendengarkan banyak suara ini sebuah brand harus bisa memilah mana yang penting dan mana yang lebih penting (keduanya memang penting).</p>
<p>Ada 2 jenis suara atau feedback yang muncul dari para user. VOICE &amp; NOISE.</p>
<p>Voice adalah jenis suara yang secara skala kualitas dan kuantitas (pembaca) besar, sedangkan Noise yang skalanya kecil. Namun walaupun kecil Noise punya potensi menjadi besar.<br />
Yang memisahkan kedua hal tadi adalah kuantitas dan kualitas dari traffic atau pembaca dan juga interaktifitas.</p>
<p>Voice yang memang sudah besar memiliki potensi yang besar terhadap kredibilitas brand. Sebuah pertanyaan terhadap brand sudah pasti harus ditanggapi oleh brang. Sebuah negative review dari seorang blogger yang memiliki jumlah pembaca banyak sudah tentu perlu perhatian serius dari brand.<br />
Noise yang skalanya kecil juga perlu mendapat perhatian. Walaupun ada yang bisa dibiarkan (dalam keseharian tidak semua suara kita dengar kan?), namun perkembangannya tetap perlu di monitor.</p>
<p>Strategi siapa yang menjawab dan bagaimana caranya menjadi penting untuk bisa menyikapi semua feedback dengan tepat.</p>
<p>Waktu kita baru lahir semua suara terdengar sama volumenya. Suara burung yang jauh, hembusan angin pada daun sampai dengan orang ngobrol disebelah semua volumenya sama. Seiring dengan pertumbuhan teinga dan otak kita memilah mana suara yang menjadi background dan mana yang menjadi foreground. Mana yang perlu didengar dengan jeli, mana yang bisa &#8216;tidak&#8217; didengar.<br />
Hal yang sama juga terjadi dalam mendengar suara di Social Media.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/brain/voice-vs-noise/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Harimaumu</title>
		<link>http://think.web.id/brain/rambu-social-media/</link>
		<comments>http://think.web.id/brain/rambu-social-media/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jun 2010 01:31:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anantya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Online Media]]></category>
		<category><![CDATA[Social Networking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/brain/?p=1137</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Mulutmu Harimaumu&#8221; Kata bijak diatas berlaku untuk kehidupan sehari-hari. Tapi ketika kita memasuki sebuah kehidupan di &#8220;ranah online&#8221;, apakah kata bijak yang sama masih berlaku? Nampaknya sih iya, sejauh yang dilakukan didalam ranah itu adalah berkomunikasi dengan banyak orang. Walau tidak lagi menggunakan mulut untuk bertutur kata, kita menggunakan tulisan untuk menguntai arti. Mungkin sepertinya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em>&#8220;Mulutmu Harimaumu&#8221;</em></p></blockquote>
<p>Kata bijak diatas berlaku untuk kehidupan sehari-hari. Tapi ketika kita memasuki sebuah kehidupan di &#8220;ranah online&#8221;, apakah kata bijak yang sama masih berlaku? Nampaknya sih iya, sejauh yang dilakukan didalam ranah itu adalah berkomunikasi dengan banyak orang. Walau tidak lagi menggunakan mulut untuk bertutur kata, kita menggunakan tulisan untuk menguntai arti. Mungkin sepertinya lebih pas kalau;</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Tulisanmu Harimaumu&#8221;</em></p></blockquote>
<p>Jadi kata bijak ini berlaku untuk siapapun yang akan masuk ke dalam ranah online.  Tua-muda, artis-non artis, brand-bukan brand, siapapun! Yang berniat mencelupkan kaki ke dalam ranah ini sepertinya harus mengingat kata bijak yang satu itu. Beberapa korban sudah berjatuhan lantaran kurang memberikan perhatian pada kekuatan sebuah tulisan;</p>
<p>1. Simak kejatuhan motivator handal Mario Teguh di ranah maya, seperti yang dilansir <a href="http://new-media.kompasiana.com/2010/02/22/mario-teguh-dan-twitter/" target="_blank">kompasiana</a>. Karena sebuah tulisan yang kontroversial, sang motivator akhirnya memutuskan untuk menutup kisah @marioteguhMTGW.  Alasan Mario Teguh menanggapi masalah ini: <em>tulisan kontroversial tersebut diungkapkan oleh moderator, bukan dirinya.<br />
</em><br />
2. Atau ketika salah satu selebriti cantik &#8220;<a href="http://www.detikhot.com/read/2009/12/16/113338/1261034/230/luna-maya-ngamuk-di-twitter" target="_blank">ngamuk</a>-<a href="http://blog.tempointeraktif.com/blog/luna-maya-vs-infotainment/" target="_blank">ngamuk</a>&#8221; dan akhirnya menutup akun dirinya di Twitter.</p>
<p>3.  Hingga kasus baru yang dilakukan oleh sebuah brand biskuit. Melansir status kontroversial di halaman facebook page, menyulut perbincangan seru di twitter dan juga menarik sebuah media online untuk melakukan <a href="http://www.detikinet.com/read/2010/06/14/154248/1377957/398/promo-wafer-di-facebook-kok-ajak-nonton-video-porno/?i991101105" target="_blank">pembahasan</a>. Akhirnya sama halnya seperti Mario Teguh dan sang selebriti cantik, brand tersebut menghapus posting dan membuat pengakuan: <em>Kami tidak pernah menulis status apapun yang berhubungan dengan video asusila para artis yang sedang hangat dibicarakan seperti pada status yang tertulis pada tanggal 9 Juni 2010. Kami sedang menyelidiki hal tersebut kepada Social Media Agency kami selaku admin account facebook tersebut. </em></p>
<p>Ketiga kasus diatas memperlihatkan betapa sebuah status, yang panjangnya hanya beberapa kalimat bisa memiliki &#8220;buntut&#8221; yang sangat panjang.  Buat saya, ada dua hal menarik yang bisa jadi pembahasan menarik;</p>
<p><strong>Yang pertama</strong>, menarik untuk dianalisa bagaimana media dan tekanan sosial menjadi bumbu pemicu dalam pengambilan keputusan akhir terhadap sebuah masalah serta mem&#8221;blow up&#8221; problem proportion dalam sebuah masalah. Mario Teguh dan si artis cantik mendapatkan tekanan sosial bertubi-tubi dari sesama follower. Ketika tekanan berlangsung, media kemudian menyambar isu dan membuatnya satu hingga dua derajat lebih parah. Hasilnya? Isu semakin berkembang dan tekanan sosial juga semakin besar. Pada kasus terakhir yang menimpa brand biskuit (yang dicontohkan pada nomer 3), misalnya, pada saat status dirilis hanya berhasil menarik komentar dari 56 fans (padahal brand biskuit ini sudah punya lebih dari 9.000 fans, ini berarti hanya 0,6% dari fans yang memberi respond) sebelum akhirnya di&#8221;blow up&#8221; oleh media dan mendapat tekanan sosial dari Twitter dan sesama pengguna facebook lainnya (dan juga menambah panjang deret komentar status). Mungkin ketika pembicaraan di twitter atau blow up oleh media tidak terjadi, status itu masih ada di facebook page brand dan akan tertumpuk oleh 1001 status lain yang dikeluarkan secara berkala oleh brand.</p>
<p><strong>Yang kedua</strong>, menarik untuk dianalisa juga, bahwa hampir ketiganya memilih cara yang sama untuk mengakhiri persoalan yang mereka alami. Baik Mario Teguh, sang artis cantik dan juga brand biskuit memilih untuk melakukan penghapusan (account atau status) serta melakukan <a href="http://us.detikinet.com/read/2010/06/14/185507/1378144/398/nissin-minta-maaf-kepada-masyarakat-indonesia/?i991102105" target="_blank">klarifikasi</a> penjernihan nama baik.  Memberikan pengakuan merupakan salah satu jalan yang baik untuk menyudahi masalah dan &#8220;keep moving forward&#8221;, tapi apakah menutup account merupakan solusi terbaik? Simak brand biskuit yang menghapus status tapi tidak menutup account. Ternyata, kesalahan yang dilakukan oleh brand biskuit pada penulisan statusnya tidak mengurungkan niat user untuk bergabung menjadi fans produk tersebut. Selang satu hari setelah insiden status, tercatat fans produk ini meningkat lebih dari 500 orang.</p>
<p>Jadi?  Ketika kita &#8220;bersuara&#8221; di social media beri perhatian lebih pada content dan context, minta maaf dan ambil langkah strategis bila kebetulan salah ngomong, dan <em>do <strong>keep the medium open</strong>. At the end there are still people who like you, and perhaps like you even more because you are being honest for your mistakes.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/brain/rambu-social-media/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Social Media Ada [dimana-mana]</title>
		<link>http://think.web.id/brain/ketika-social-media-ada-dimana-mana/</link>
		<comments>http://think.web.id/brain/ketika-social-media-ada-dimana-mana/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jun 2010 01:02:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anantya</dc:creator>
				<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Social Media Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Social Networking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/brain/?p=1126</guid>
		<description><![CDATA[Bicara soal social media, seperti bicara soal sebuah tanah yang hak gunanya dimiliki oleh banyak orang. Saking mudah penggunaannya, peminatnya lebih menjamur daripada rusunami. Mulai dari iklan handphone yang menjual habis  fungsi twitter-an, facebook-an dan chatting, sampai brand-brand yang berlomba masuk dan eksis di facebook. Beberapa bahkan rajin mencantumkan url social media mereka di dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bicara soal social media, seperti bicara soal sebuah tanah yang hak gunanya dimiliki oleh banyak orang. Saking mudah penggunaannya, peminatnya lebih menjamur daripada rusunami. Mulai dari iklan handphone yang menjual habis   fungsi twitter-an, facebook-an dan chatting, sampai brand-brand yang berlomba masuk dan eksis di facebook.</p>
<ul></ul>
<p>Beberapa bahkan rajin mencantumkan url social media mereka di dalam iklan-iklan yang tayang di TV ataupun media cetak.  Belum habis eksis di tayangan iklan, brand juga sudah merasa perlu untuk mengikutsertakan url social media mereka di kemasan produk, sebuah kepentingan yang bahkan belum ada setahun yang lalu.</p>
<p>Sebuah kepentingan yang tercipta karena tuntutan pengguna. Belum lama ini saya melihat sebuah minuman merek mancanegara yang mencantumkan logo Facebook di kemasannya. Ternyata yang dilakukan si minuman ini adalah melakukan sebuah aktivitas yang berbasis konsumen, memberikan kekuasaan lebih pada konsumen untuk membuat jenis minuman mereka sendiri. Jenis minuman yang paling diminati secara online kemudian di&#8221;wujudkan&#8221; nyata dan didistribusikan ke seluruh negeri. Salah satu cara cerdas melakukan test market, sebelum melakukan produksi barang baru.</p>
<p>Itu tadi contoh kasus merek mancanegara, terus apakabar merek lokal? Kita tidak usah bahas merek-merek lokal terkenal ya. Karena kebetulan saya bertemu dengan merek yang baru kemarin saya ketahui keberadaannya, dan merek kecil ini pun sudah &#8220;melek&#8221; social media.</p>
<blockquote><p>Mari kita kenalan dengan &#8220;Kree-oks&#8221;</p></blockquote>
<p>Ada yang tau merek apa ini?<br />
[belum tau?]</p>
<p>Gimana kalau saya kasih tambahan embel-embel chip dibelakangnya?<br />
[udah bisa tebak dong, jenis produknya]</p>
<p>Ya ternyata si &#8220;Kree-oks&#8221; ini atau kriuk kalau sambil makan produknya adalah camilan sehat kripik buah kering yang diproduksi di Indonesia dan dikemas oleh sebuah CV di Bandung. Kemasannya sederhana, bersahaja, cenderung polos. Tapi dibalik kebersahajaannya itu, ternyata &#8220;Kree-oks&#8221; termasuk salah satu panganan yang cukup maju karena dia diam-diam menampilkan eksistensinya di salah satu Social Media.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-1130" href="http://think.web.id/brain/ketika-social-media-ada-dimana-mana/kreeoks/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1130" title="Kreeoks" src="http://think.web.id/brain/wp-content/uploads/2010/06/Kreeoks-255x333.jpg" alt="" width="255" height="333" /></a></p>
<p>Coba cek di sudut kiri atas dibawah bendera Indonesia yang menjulur. Dengan sedikit malu-malu, Kree-oks menampilkan logo Facebook dan keterangan Kreeoks Chips. Walau belum merupakan affinity URL, namun mereka yang memiliki rasa penasaran berlebih macam saya, dapat dengan mudah melakukan proses search di facebook dengan mengetikkan Kreeoks Chips dan dalam hitungan detik akan bertemu dengan facebook groups <a href="http://www.facebook.com/group.php?gid=67652859045&amp;v=wall&amp;ref=ts" target="_blank">Kreeoks Chips</a>.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-1129" href="http://think.web.id/brain/ketika-social-media-ada-dimana-mana/screen-shot-2010-06-14-at-6-16-18-pm/"><img class="aligncenter size-full wp-image-1129" title="Kree-oks Chip facebook group" src="http://think.web.id/brain/wp-content/uploads/2010/06/Screen-shot-2010-06-14-at-6.16.18-PM.png" alt="" width="374" height="62" /></a></p>
<p>Penggunaan facebook oleh Kree-oks chip juga memperlihatkan bahwa social media selain untuk mendukung brand engagement juga dapat dipergunakan untuk step pengembangan bisnis. Ketika masuk ke group Kreeoks Chip, tujuan pengembangan bisnis dan promosi produk adalah dua hal yang paling terasa. Walau belum maksimal, tapi apa yang dilakukan Kree-oks menurut saya adalah sebuah langkah besar dalam memanfaatkan teknologi untuk berpromosi dan mengembangkan bisnis.</p>
<p>PS: Thanks to Mega yang sudah mengenalkan saya pada Kreeoks Chip.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/brain/ketika-social-media-ada-dimana-mana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HOT TOPIC: Social Media Metrics</title>
		<link>http://think.web.id/numb3rs/2010/06/social-media-metrics/</link>
		<comments>http://think.web.id/numb3rs/2010/06/social-media-metrics/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Jun 2010 17:00:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anantya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analytics]]></category>
		<category><![CDATA[Analytics Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>
		<category><![CDATA[Social Media Measurement]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/numb3rs/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[I&#8217;m used to measure and see the user habitual in website for almost 4 years now. Thanks to all the tools that has come my way [Google Analytics, Omniture, Coremetrics] it&#8217;s all has been a peachy experiment for me. That is until this Social Media thingy come storming like a hurricane. Measuring how they affecting [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://think.web.id/numb3rs/wp-content/uploads/2010/05/social-media-waste-of-time.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-235" style="border: 0pt none; margin: 15px;" title="Social Media" src="http://think.web.id/numb3rs/wp-content/uploads/2010/05/social-media-waste-of-time.jpg" alt="" width="243" height="172" /></a>I&#8217;m used to measure and see the user habitual in website for almost 4 years now. Thanks to all the tools that has come my way [Google Analytics, Omniture, Coremetrics] it&#8217;s all has been a peachy experiment for me. That is until this Social Media thingy come storming like a hurricane.</p>
<p>Measuring how they affecting the overall site performance is a piece of cake, but really dwelling into Social Media performance and see how the user habit towards it is still a mind boggling, time consuming and snooze-fest activity to do.<span id="more-233"></span></p>
<p>Sure enough two of Indonesia&#8217;s highest use Social Media has it&#8217;s own analytics. One within the channel, and the other one scattered like a bread crumb that <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Hansel_and_Gretel" >Gretel</a> left like you can see here. But those two type of analytics is not on top of their game yet.</p>
<p>Facebook for example. Yes, the sought after Social Media is smart enough to prepare a simple analytics for Page owner and Apps developer. But is it user friendly enough, is it accurate enough, is it cover all the important stuff? To regular joe perhaps all that single metrics being displayed are sufficient enough.</p>
<p>But when you talk to they who accustomed with analytics for more than a year, single metrics is just not enough. People would start wondering and ask: WHAT IF.</p>
<blockquote><p>What if &#8220;i cross the daily active user with gender/age and cities&#8221;<br />
What if &#8220;i cross new fans with specific post&#8221;<br />
What if &#8220;i wanted to know the demographic of the abandoned fans&#8221;<br />
and on and on and on&#8230;</p></blockquote>
<p>Not to mention the need to make a tailored analytics based on our very own or our client needs. To make a good fitted dress a.k.a good online campaign report we need a comprehensive tools. I don&#8217;t want to have to hand-sewn all of my custom dresses <img src='http://think.web.id/numb3rs/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><em>PS: Dear Analytics God, let Facebook, Twitter and other aspiring new social media out there hear that i need a comprehensive tools to sewn a good report. Amin. </em></p>
<p>Aside from the long path that Facebook team have to ride, their effort on gradually upgrading their service needs a big salute. One of the progress is they are willingly to share more single metrics and start to cross it with several metrics. You can enjoy them at <a href="http://www.facebook.com/insights/" >http://www.facebook.com/insights/</a>.  Yet, I still have that: WHAT IF moment in my head.</p>
<p>As an analyst I was dying to have a sufficient tools to expand my analytics mojo, and to spot the exact behavior of my user. I truly wish that Facebook and other Social Media channel out there would gives analytics part a good focus and gradually improve them. Until then, i guess it&#8217;s back to the long hour and snooze-fest data collecting method.</p>
<p><em>PS: Dear Analytics God, let Facebook, Twitter and other aspiring new social media out there hear this whole prayer. Amin. </em></p>
<p><em>- Photos taken from <a href="http://blog.danceruniverse.com/blog/story/2010/5/22/15452/1658" >here</a> -</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/numb3rs/2010/06/social-media-metrics/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apps. Economy</title>
		<link>http://think.web.id/brain/apps-economy/</link>
		<comments>http://think.web.id/brain/apps-economy/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 May 2010 23:30:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ramya Prajna S</dc:creator>
				<category><![CDATA[Application]]></category>
		<category><![CDATA[Applications Economy]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[Facebook Application]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/brain/?p=1067</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu kami menghadiri conference bernama &#8220;Inside Social Apps. 2010&#8220;. Sebuah conference yang berlangsung di San Francisco, tepat sehari sebelum f8 berlangsung. Event ini membahas segala sesuatu perkembangan dan kemungkinan yang berjalan dalam dunia aplikasi. Aplikasi yang dimaksud disini adalah web &#38; mobile apps. Lebih spesifik lagi pada Facebook Apps. dan iPhone Apps. Di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-medium wp-image-1117 alignleft" style="margin-right: 10px; margin-bottom: 10px;" title="Building Facebook Applications for Dummies" src="http://think.web.id/brain/wp-content/uploads/2010/05/1jno88-255x346.png" alt="" width="255" height="346" />Beberapa waktu lalu kami menghadiri conference bernama &#8220;<a href="http://www.insidesocialapps.com/" target="_blank">Inside Social Apps. 2010</a>&#8220;. Sebuah conference yang berlangsung di San Francisco, tepat sehari sebelum f8 berlangsung. Event ini membahas segala sesuatu perkembangan dan kemungkinan yang berjalan dalam dunia aplikasi. Aplikasi yang dimaksud disini adalah web &amp; mobile apps. Lebih spesifik lagi pada Facebook Apps. dan iPhone Apps.</p>
<p>Di industri iPhone Apps. ada fakta yang sangat menarik: Dari 10 Apps. terbaik di iPhone, 8 adalah game apps. dan 7 apps. adalah dari Brand.</p>
<p>Di Facebook kita tahu sendiri bahwa apps. merupakan &#8216;roda&#8217; mereka untuk membuat Facebook menjadi tetap berjalan. Mulai dari apps. default seperti Photo gallery, Notes, Wall, sampai dengan yang game seperti Farmville, Restaurant City dan yang sekarang sedang saya coba main My Empire.</p>
<p>Application sebenarnya adalah sama seperti feature pada sebuah website. Hanya saja dia berdiri sendiri untuk menjadi aplikasi pada platform tertentu seperti Facebook atau pun pada mobile seperti di iPhone, Android, Blackberry dan lainnya.<br />
Dengan demikian developing apps. yang sama dengan developing web feature/module. Memang bahasa yang digunakan ada yang berbeda, misalnya iPhone menggunakan Cocoa (CMIIW), tapi ada juga yang bahasanya tidak terlalu jauh berbeda. Hanya membutuhkan sedikit adjustment.</p>
<p>Application Economy adalah sebuah pertumbuhan ekonomi yang berbasis pada pembuatan penggunaan aplikasi.<br />
Ekonomi dibidang digital atau online media semakin tumbuh subur sekarang. Gampangnya orang Indonesia bisa hidup dengan menjadi developer, entah itu developer untuk system, web, software, atau lainnya. Dengan dasar yang sama seorang developer web atau software kedepan juga punya pilihan untuk menjadi developer aplikasi.</p>
<p>Di bidang mobile, developer Blackberry sudah mulai bertumbuh. Baik dalam bentuk perusahaan maupun perorangan. Beberapa ada juga yang mulai masuk ke iPhone, dan sebentar lagi Android juga pasti ikut.<br />
Pada Facebook Apps. juga sudah mulai bermunculan beberapa, walaupun masih sangat sedikit. Tidak seimbang dengan jumlah penggunanya. Indonesia jadinya hanya seperti pengguna pasif karena FB developer nya tidak tumbuh, pemasang iklan di Social Ads. juga masih sedikit.</p>
<p>Mudah-mudahan semakin banyak yang melihat peluang ini, sehingga Apps. Economy menjadi salah satu yang menyuburkan pertumbuhan ekonomi di industri digital Indonesia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/brain/apps-economy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Change: The Search Habit</title>
		<link>http://think.web.id/brain/change-the-search-habit/</link>
		<comments>http://think.web.id/brain/change-the-search-habit/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 16:32:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anantya</dc:creator>
				<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[Random Thought]]></category>
		<category><![CDATA[Social Networking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/brain/?p=1078</guid>
		<description><![CDATA[Memperhatikan sebuah perubahan terjadi merupakan pekerjaan yang menyenangkan. Bayangkan antisipasi, bayangkan harapan, bayangkan kemajuan. Keisengan saya memperhatikan perubahan itu jugalah yang membersitkan sebuah senyum di wajah saya, setelah seharian lelah bermain kejar-kejaran dengan deadline. Alkisah, ketika saya sedang iseng mempergunakan kenyamanan WIFI ditengah sebuah cafe di bilangan Jakarta Selatan. Ketika mata sudah agak lelah memperhatikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Memperhatikan sebuah perubahan terjadi merupakan pekerjaan yang menyenangkan. Bayangkan antisipasi, bayangkan harapan, bayangkan kemajuan. Keisengan saya memperhatikan perubahan itu jugalah yang membersitkan sebuah senyum di wajah saya, setelah seharian lelah bermain kejar-kejaran dengan deadline.</p>
<p>Alkisah, ketika saya sedang iseng mempergunakan kenyamanan WIFI ditengah sebuah cafe di bilangan Jakarta Selatan. Ketika mata sudah agak lelah memperhatikan status dan update-an foto di Facebook [<em>for the record</em> gue ga mainan ya, Facebook itu bagian dari kerja gue sehari-hari. SUWER], gue melakukan aktivitas yang anehnya tiba-tiba gue lakukan pakai insting.<em> I&#8217;m searching</em>!</p>
<p>Dan baru setelah aktifitas instingtif ini gue lakukan untuk kesekian puluh kalinya, gue baru menyadari satu hal: <em>Facebook is my new search engine</em>!  Yang menarik, hasil search yang ditawarkan datang semeriah munculnya pelangi sehabis hujan.</p>
<p>Nih contohnya, gue coba untuk search salah salah satu film yang mau gue tonton: the newest Shrek movie di Facebook.  Karena lupa sudah sudah Shrek yang keberapa gue cuma mengetik kata kunci Shrek. Tidak ada awalan dan tidak ada hasilnya. Hasilnya? Fenomenal!!!</p>
<p>Berlebihan? Nda juga kook. Coba deh banding hasil di google dengan hasil search di Facebook, <em>and i think you&#8217;ll get my point</em>.</p>
<p>Ini hasil search gue di Google dengan  kata kunci Shrek:<br />
<a rel="attachment wp-att-1079" href="http://think.web.id/brain/change-the-search-habit/screen-shot-2010-05-26-at-11-03-03-pm/"><img class="aligncenter size-full wp-image-1079" title="Google Search Result on Shrek" src="http://think.web.id/brain/wp-content/uploads/2010/05/Screen-shot-2010-05-26-at-11.03.03-PM.png" alt="" width="575" height="342" /></a><br />
Seperti yang bisa dilihat, hasil pencariannya secara normal menawarkan what&#8217;s on Shrek, link ke official sitenya, review dari imdb untuk shrek than 2001, review lagi dari imdb untuk Shrek than 2002, hasil dari wikipedia, amazon, youtube. [menguap] Hum berguna <em>but…nothing seems new.</em></p>
<p>Sekarang coba kita lihat apa hasil search gue di Facebook:<br />
<a rel="attachment wp-att-1080" href="http://think.web.id/brain/change-the-search-habit/screen-shot-2010-05-26-at-11-15-26-pm/"><img class="aligncenter size-full wp-image-1080" title="Search Category" src="http://think.web.id/brain/wp-content/uploads/2010/05/Screen-shot-2010-05-26-at-11.15.26-PM.png" alt="" width="170" height="252" /></a><br />
Ini alasan kenapa guess suka hasilnya. Amazingly it refer me to a Shrek page, dimana guess bisa ikutan Ogre Resistance (<em>I don&#8217;t know what that is…I haven&#8217;t seen the movie, but It definitely make me want to see the movie</em>).  And several other Shrek related Facebook Page.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-1081" href="http://think.web.id/brain/change-the-search-habit/screen-shot-2010-05-26-at-11-15-16-pm/"><img class="aligncenter size-full wp-image-1081" title="Care To Join The Resistance?" src="http://think.web.id/brain/wp-content/uploads/2010/05/Screen-shot-2010-05-26-at-11.15.16-PM.png" alt="" width="535" height="520" /></a></p>
<p>The fun is yet to begin because after I see this pages, I also get referrence from my friends that has previously watched the movie. All I got to do is refer to my movie-fanatic fellow to count on how good is the film actually is [if the review is so-so, i opt for DVD session instead]. The Searching journey has got a bit better with this kind of referrence.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-1082" href="http://think.web.id/brain/change-the-search-habit/screen-shot-2010-05-26-at-11-15-34-pm/"><img class="aligncenter size-full wp-image-1082" title="What My Friends Says" src="http://think.web.id/brain/wp-content/uploads/2010/05/Screen-shot-2010-05-26-at-11.15.34-PM.png" alt="" width="577" height="408" /></a></p>
<p>And if I still need the old fashion result, I can always see what Big have to offer <img src='http://think.web.id/brain/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Neat huh??? Proses pencarian di search engine has just got to a new level. Sekarang yang perlu dilakukan adalah menunggu orang lain untuk menyadari hal yang sudah gue sadari, atau melakukan gerakan &#8220;penyadaran&#8221;.</p>
<p>To end my amuzement, and put the last big smile on my face. I just found out that Google feels it&#8217;s highly important to make their brand exist on facebook. Lookey down bellow. Google merasa penting untuk menempatkan Facebook Social Ads to advertise Google Chrome! Ok, I know it&#8217;s a browser and it&#8217;s not the search engine. But nontheles LOL, I still would not search on Chrome if I happen to open Facebook the whole day [not that I actually do it...psttt don't tell anybody!] and do my little searching there? Will in the near future Google advertise itself within Facebook?</p>
<p><a rel="attachment wp-att-1086" href="http://think.web.id/brain/change-the-search-habit/screen-shot-2010-05-26-at-10-51-11-pm/"><img class="aligncenter size-full wp-image-1086" title="Chrome Ad" src="http://think.web.id/brain/wp-content/uploads/2010/05/Screen-shot-2010-05-26-at-10.51.11-PM.png" alt="" width="593" height="293" /></a></p>
<p>*Opening Chrome &#8211; to open facebook &#8211; to do my little searching for another life-changing writing material*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/brain/change-the-search-habit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Back From a Hiatus</title>
		<link>http://think.web.id/brain/back-from-a-hiatus/</link>
		<comments>http://think.web.id/brain/back-from-a-hiatus/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 15:27:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anantya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal Anan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/brain/?p=1069</guid>
		<description><![CDATA[Gue merasa seperti beruang besar yang tertidur disaat musim dingin&#8230;.selama lebih dari 6 bulan absen menorehkan ketikan qwerty ke dalam blog brain. Tapi seperti layaknya semua jenis hibernasi yang terjadi, pasti ada akhirnya. Mudah-mudahan sekarang adalah hari terakhir masa &#8220;hibernasi&#8221; gue. Mudah-mudahan juga tangan gue setuju untuk bermain lagi diatas keyboard Mac yang sudah agak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gue merasa seperti beruang besar yang tertidur disaat musim dingin&#8230;.selama lebih dari 6 bulan absen menorehkan ketikan qwerty ke dalam blog brain. Tapi seperti layaknya semua jenis hibernasi yang terjadi, pasti ada akhirnya.</p>
<p>Mudah-mudahan sekarang adalah hari terakhir masa &#8220;hibernasi&#8221; gue. Mudah-mudahan juga tangan gue setuju untuk bermain lagi diatas keyboard Mac yang sudah agak dekil itu. Mudah-mudahan kepala gue masih mau diajak berkeliling jagad maya, duduk manis disebelah pak kusir.</p>
<p>*flexing her finger, charging her Mac, and seriously thinking of going to the eyedoctor in the weekend ~ this blurry vision is so 70&#8242;s*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/brain/back-from-a-hiatus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>VIP vs Ordinary Joe</title>
		<link>http://think.web.id/numb3rs/2010/03/seperate-your-online-visitor/</link>
		<comments>http://think.web.id/numb3rs/2010/03/seperate-your-online-visitor/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Mar 2010 14:30:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anantya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analytics]]></category>
		<category><![CDATA[Analytics Goal]]></category>
		<category><![CDATA[Basic Metrics]]></category>
		<category><![CDATA[Tujuan Pengukuran]]></category>
		<category><![CDATA[Visit Value]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/numb3rs/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[If you are having a party, it is pretty easy to distinguish between your VIP guests from the ordinary Joe.  At least your VIP guest will have that special invitation you sent out or special attire that separates them from the ordinary Joe. But what if you have an online party? How do you distinguish [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>If you are having a party, it is pretty easy to distinguish between your VIP guests from the ordinary Joe.  At least your VIP guest will have that special invitation you sent out or special attire that separates them from the ordinary Joe. But what if you have an online party? How do you distinguish your VIP visitor, they who are highly important to your brand and marketing campaign from they who are not?<img class="alignright size-medium wp-image-126" style="border: 0pt none; margin: 10px;" title="VIP" src="http://think.web.id/numb3rs/wp-content/uploads/2010/03/VIP-300x173.png" alt="VIP" width="300" height="173" /></p>
<p>This is why, my friend, from this very moment, analytic will be your best friend forever. For those who are familiar with analytic, perhaps the problem is easy enough to solve. One thing that come to attention is to gives tag or label to each visitor. It’s like giving a name label or tag bracelet to your party guest.</p>
<p>But are those really your VIP visitor? Because as it turns out by doing so, you are just monitoring they who are invited to your party, and not particularly your VIP’s.  Another simple way that also comes to mind is to establish a goal and value of visit within your analytic [<em>simpler words; picture a red carpet line, where your VIP visitor should walk upon</em>]. This step could then detect how much of your visitors turn out to be a VIP, and what’s more important is what are those VIP visitor do on your site.<span id="more-26"></span></p>
<p>The keys to these simple steps are:</p>
<ul>
<li>Know your site or online marketing goal. And then set that goal on your analytic system</li>
<li>Determine the value of your achieved goal</li>
<li>See inside your dashboard and analyze the Per Visit Goal Value</li>
</ul>
<p>By setting goals and also value per visit, you would easily spot that flock of VIP visitor, which door are they coming from, what they actually do and are they qualitatively important to your overall online campaign. The information that we posses of these VIP visitors could then help us treat that visitor with more care.</p>
<p>For example, if you measure the average value of visit and also break your goal based on entry points, you can easily spot which door is the most lucrative to gather up VIP visitor whether it is the AdWords ads or they who come directly to your site or they who come via other payable referrer.  By doing this, you can focus your attention to the door that is beneficial to gather up VIP visitor.  What you can track down and act upon from your VIP visitors is limited only to your needs and imagination.</p>
<p>Interesting isn’t it? By keeping in check with goals and visit value, you can keep track on your VIP visitor. Knowing what your VIP visitor behavior <em>(</em>by digging deeper on your analytics data) would then be beneficial for your digital campaign on the long run.</p>
<p><em>images: freevegasclubpasses.com</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/numb3rs/2010/03/seperate-your-online-visitor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>How Much Lemonade Do You Sell?</title>
		<link>http://think.web.id/numb3rs/2010/03/your-online-roi/</link>
		<comments>http://think.web.id/numb3rs/2010/03/your-online-roi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Mar 2010 14:30:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anantya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analytics]]></category>
		<category><![CDATA[Basic Metrics]]></category>
		<category><![CDATA[goal value]]></category>
		<category><![CDATA[Online ROI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/numb3rs/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[I love to play tycoon games. Lemonade Tycoon, Theme Park Tycoon, Zoo Tycoon, you name it and I’ll play it. I love it so much, until I started to think analytic as one big tycoon game due to the fact that you can do measurement and also predict/monitor your online ROI (return of investment).
Within one [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>I love to play tycoon games. Lemonade Tycoon, Theme Park Tycoon, Zoo Tycoon, you name it and I’ll play it. I love it so much, until I started to think analytic as one big tycoon game due to the fact that you can do measurement and also predict/monitor your online ROI (return of investment).</p>
<p>Within one of my favorite analytic tools, we were able to measure ROI. Within this tools, ROI is explained as (Revenue – Cost)/Cost and is expressed in percentage. Am I starting to get you frowning? [<em>Don’t! or I was the one you should blame when you need a botox injection in your mid 30’s</em>]. Revenue usually taken from the value you set for your online goal (non e-commerce site) or your e-commerce revenue. Whereas cost is the number of money you spent on that particular campaign.  This ROI can be tracked manually at the end of certain period or you can also have it automated within your analytic tools (depends on your tools ability).</p>
<p>Although perhaps you’ll go down a different ways on measuring your online ROI, several things would maintain the same. For example, an ROI of 0% means that your revenue earned in specific period of time is the same as the amount you spend while trying to achieve your revenue [<em>this translated as: you don’t gain any profit, but at least you are not suffering any lost</em>] 100% ROI means you get double what you spent [<em>huraaa…peeps, it’s time to ask for those performance bonus</em>] and thus (-)% means that you somehow lost and probably still owed someone in the process.<span id="more-30"></span></p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-120" style="border: 0pt none; margin: 10px;" title="how much lemonade do you sell?" src="http://think.web.id/numb3rs/wp-content/uploads/2010/03/lemonade-272x300.png" alt="how much lemonade do you sell?" width="272" height="300" />This 0%, 100% or even (-) 10% is where the lemonade tycoon game kicks in. It’s basically the same principle. If you wanted to sell lemonade, you have to calculate all the operating expenses; promotion plus ingredients and then you can calculate how much you will be receiving in the end of the day. Simple isn’t it?  And the online world will or might I say can, provide you with that kind of calculation. Back to the numbers, if you think 100% of ROI good, then you’d probably mistaken, because in several cases the ROI can reach up to 1000%! And that is just to gain a break-even point.</p>
<p>Dig deeper on the analytic subject. By calculating how much lemonade you sell, you can also track down which online activity is the most beneficial for you [<em>but</em><em> first, do yourself a justice and choose yourself a fairly good analytic tools</em>]. Make sure you measure your ROI, or at least your goal value. When you do measure it, you can actually improve your online campaign ability to generate more or higher income. For example you can monitor which keyword perform better than the other, or perhaps which banner contribute to the best selling product, or which product is actually your greatest hero.</p>
<p>Use ROI in analytic not solely based on real ROI measurement, but use it to improve! This is peeps, the best thing about analytic, not the result, not the present ROI but the opportunity for you to really improve your online campaign. So yes, please let’s all play lemonade tycoon the analytic style.</p>
<p><em>image: christinas-home-remedies.com</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/numb3rs/2010/03/your-online-roi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Live Report Engagement</title>
		<link>http://think.web.id/brain/live-report-engagement/</link>
		<comments>http://think.web.id/brain/live-report-engagement/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Mar 2010 14:43:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ramya Prajna S</dc:creator>
				<category><![CDATA[Event]]></category>
		<category><![CDATA[Portofolio]]></category>
		<category><![CDATA[Social Media Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Think.Web]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/brain/?p=1059</guid>
		<description><![CDATA[Mudah-mudahan tidak berlebihan dan tidak jumawa, tapi saya berani katakan bahwa kami melakukan Live Report yang terbaik di Indonesia. Live Report Engagement Bukan sekedar live report, live tweet, ataupun laporan langsung lainnya. Live Report Engagement berusaha memberikan experience yang sama dengan mereka yang membaca atau melihat, dan juga mengajak mereka berinteraksi. Pengalaman memang tidak pernah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-1061" title="jjf-team" src="http://think.web.id/brain/wp-content/uploads/2010/03/jjf-team.jpg" alt="jjf-team" width="548" height="411" /><br />
Mudah-mudahan tidak berlebihan dan tidak jumawa, tapi saya berani katakan bahwa kami melakukan Live Report yang terbaik di Indonesia.</p>
<p><strong>Live Report Engagement</strong><br />
Bukan sekedar live report, live tweet, ataupun laporan langsung lainnya. Live Report Engagement berusaha memberikan experience yang sama dengan mereka yang membaca atau melihat, dan juga mengajak mereka berinteraksi.</p>
<p>Pengalaman memang tidak pernah berbohong. Saya &amp; <a href="http://think.web.id/brain/anantya/" class="kblinker" title="More about Anan &raquo;">Anan</a> sudah memulai melakukan (online) Live Report <span style="text-decoration: underline;">sejak tahun 2001</span>. A Mild Live Soundrenaline 2001 di Parkir Timur, Jakarta adalah saat pertama.<br />
No mobile broadband, just gprs modem dr Sony Ericcson T68i.<br />
No blog framework, just html pages (and we&#8217;re not prepare by CMS engine).<br />
No blackberry, just heavy notebook + low pixel digicam + gprs modem-phone.<br />
But we try to give the actual experience to visitor with articles &amp; photos.</p>
<p>The next year, Soundrenaline 2002, we support for 5 cities. More or less with the same equipment. All the articles &amp; photos put on a microsite, all with list of artist, venue map &amp; schedule.<br />
Web statistik menunjukkan kalau visit &amp; page views meningkat selama event berlangsung. Objektif nya simple, memberikan informasi dan experience yang sama dengan mereka yang kota nya dimampiri. Bahkan untuk kota nya yang dimampiri, liputan ini membuat mereka tidak sabar untuk datang langsung ke acaranya.</p>
<p>Di tahun lainnya kami tidak lagi hanya memberikan articles &amp; photos, kami bergerak ke arah lain. Mirip dengan sebuah blog, kami membuat article khusus dari 3 orang crew fiktif. Masing-masing crew fiktif ini punya jobdesk beda-beda di festival, sehingga memberikan masing-masing angle berbeda.<br />
Begitu kuat dan melekatnya karakter ini tidak sedikit yang mencari-cari nama crew-crew fiktif ini di backstage. Anan juga sering ditebak dengan nama-nama berbeda <img src='http://think.web.id/brain/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Setelah memasuki era Social Media channel-channel menjadi lebih jelas dan pintu interaksi lebih terbuka. Tapi kembali lagi kepada strategi. Penulisan, pelaporan dan lainnya sih bisa dilakukan oleh siapapun. Seseorang dengan Blackberry nya dan UberTwitter sudah bisa melakukan Live Report sebuah event. Tapi apakah mampu menciptakan Engagement?</p>
<p><strong>Engagement butuh strategi</strong>.<br />
Setelah sekian lama kami tidak lagi melakukan Live Report Engagement, akhirnya kesempatan itu datang lagi. JavaJazz Festival 2010 adalah kesempatan berharga untuk kami.<br />
Setiap tweet &amp; message yang keluar semua dilakukan dengan strategi. Karakter account, activation dengan quiz dan lainnya semua on plan. Termasuk bagaimana mengatasi masalah-masalah technical seperti tidak ada sinyal.<br />
Tentunya apa yang kami lakukan tidak luput dari kesalahan, sebuah hal manusiawi. Menjadi bukti bahwa Live Report Engagement masih dilakukan oleh manusia. Jadi engagement adalah manusia dengan manusia. Crisis Management juga menjadi bagian penting. Bagaimana memanage issue atau crisis dari tanggapan/conversation yang menyimpang atau bahkan dari kesalahan sendiri.</p>
<p>Pada akhirnya yang dituju adalah objective tercapai dan kepuasaan dari followers/fans dari brand yang kami tangani.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-medium wp-image-1062 aligncenter" title="jjf03" src="http://think.web.id/brain/wp-content/uploads/2010/03/jjf03-255x172.png" alt="jjf03" width="255" height="172" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/brain/live-report-engagement/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

