Maksimalkan Modal
Filed under: Featured General Personal Rama Think.Web
Suatu malam terjadi perdebatan seru dengan sahabat saya. Tidak ingat mulainya dari mana, tetapi teman saya langsung ‘panas’ waktu kami sedang membahas tentang lulusan universitas luar negri. Persisnya ketika gue bilang “wah susah tuh lulusan luar negri kalo masuk Think.Web“. Teman itu langsung bertanya “why???”. Gue jawab “ya dia musti bisa nunjukin sesuatu yang lebih dibanding para lulusan dalam negri”.
Dan kemudian terjadi banyak perdebatan dan teman itu terus-terusan berkata “you can’t do double standard!! Pikiran lo sempit banget kalo melakukan itu. Lo nggak bisa judging seperti itu, mereka musti punya kesempatan yang sama”.
Bwehhh…. whose giving the judgement now?? hehehe…
Tapi ini alesan-alesan gue dibalik pendapat gue mengenai lulusan luar negri:
- Maksimalkan modal
Punya kesempatan sekolah di luar artinya punya pengalaman yang berbeda dengan orang lain. Lebih-lebih, seharusnya punya pengalaman dan pengetahuan yang lebih dibanding mereka yang hanya sekolah di dalam negri. Jadi seharusnya orang tersebut bisa menghasilkan sesuatu yang lebih. Kalau tidak, artinya dia tidak menghasilkan sesuatu yang memaksimal dari modal yang dia miliki. Kalo memang seperti itu berarti he or she doesn’t fit with us. - Just being fair
Apa jadinya kalau olimpiade penyandang cacat dengan mereka yang normal dijadikan satu? Setiap hal punya tolak ukur yang berbeda, dan harus bisa dinilai secara fair ketika dibandingkan dengan yang lain. (mungkin akan ada yang bilang, kita nggak bicara soal cacat fisik… well it’s just analogy. Tapi intinya different competition, different people, different values). Selama penilaiannya masih bisa dipisahkan dan dinilai secara adil, ya sebaiknya dipisahkan. Being fair itu tidak selalu 50-50 kok, bukan selalu sama rata. Tapi memang mampu menilai secara adil & bijak.
Dan kembali lagi, sudahkah modal yang dimiliki menjadi maksimal? - Bangun bangsa mu
Gue nggak habis pikir dengan mereka yang S1 di luar negri, kemudian/atau S2 diluar negri, balik-balik cari kerja sebagai manager/director. Geeezzz…. Bangsa mu sudah cukup sulit dengan lapangan pekerjaan, kenapa orang-orang yang punya kesempatan untuk lebih maju dan kembali hanya untuk bersaing dengan yang tidak punya kesempatan yang sama. Kenapa bukan BIKIN LAPANGAN KERJA itu.
Nggak punya modal (uang), nggak punya network, nggak punya pengalaman, itu cuman alesan. Yang dibutuhin cuman guts! keberanian! Dan kalo mereka yang udah berani hidup sendiri di negri orang dan balik-balik kesini nggak punya keberanian?! Malu dong sama mereka yang mampu bikin usaha sendiri disebuah desa, dan mengkaryakan orang-orang sekitarnya. - Apa yang didapat tidak akan sama
Hal ini jelas lah ya. Pengalaman dalam dan luar negri pasti tidak akan sama. Tapi menurut gue bagi mereka yang menghabiskan S1 nya diluar negri kehilangan banyak hal yang secara nyata ada di Indonesia. Hal ini yang disayangkan. Mungkin ini karena gue sejauh ini baru berhasil menyelesaikan S1 dan didalam negri. Tapi masa kuliah gue itu bener-bener menjadi proses pembentukan diri gue yang sekarang. Cukup tahu masalah yang terjadi di bangsa ini, punya wawasan cukup akan bangsa dan segala kekayaannya, dan punya kecintaan terhadap bangsa.
Jadi menurut gue memang punya dasar yang kuat dulu mengenai bangsa nya, kemudian lakukan sesuatu baru setelah itu putuskan mencari ilmu pengalaman diluar atau tidak. Tentunya dengan tujuan untuk kemudian kembali lagi dan memajukan bangsa.
Seinget gue, sejauh ini pernah ada 3-4 orang S1 lulusan LN yang apply ke Think.Web. Dalam proses recruitment kemampuan dan potensi seseorang memang hanya bisa diketahui dari portofolio/CV dan hasil interview. Dan dari proses itu orang-orang tersebut memang tidak menunjukkan hasil yang seharusnya dihasilkan berdasar point-point gue diatas.
Surprising buat gue… gue selalu kemudian berpikir, “trus ngapain lo jauh-jauh sekolah?”.
Mungkin akan ada yang bilang “yah itu kan nggak mempresentasikan lulusan LN yang lain”. Well… begini deh… gue percaya mereka yang lulus dari sekolah di LN pasti lebih banyak dari mereka yang muncul di majalah-majalah sebagai enteprenuer, tapi kan kenyataannya yang muncul sedikit sekali.
We’re proudly to say kalau saat ini Think.Web berisi kami-kami yang menjalankan sekolah nya di dalam negri. Dan kami juga mampu bersaing dengan mereka yang lulusan LN atau bahkan orang/perusahaan asing pun. 100% adalah dari dalam negri, tapi dengan internet pengetahuan dan ‘pengalaman’ kami bisa dikatakan sama dengan mereka di dan dari manapun. Tanpa menutup kesempatan bagi mereka yang kebetulan lulusan luar atau bahkan orang asing pun, tapi mereka musti bisa memberikan nilai tambah buat kita.
Gue pribadi, tujuan utama bikin usaha adalah untuk membantu sesama. Memberikan lapangan kerja dan penghidupan buat bangsa gue, Indonesia. Jadi wajar sepertinya kalau gue berusaha berlaku adil buat mereka yang mungkin tidak punya kesempatan untuk menuntut ilmu di LN.
Dengan hal-hal itu gue tidak merasa narrow-minded, stereotyped or judging to something.
Gimana menurut lo?
Anan’s Mind
Too be honest menurut gue yang penting sebenarnya adalah outcomenya. What kinds of person have you become setelah lo sekolah. Mau di dalam or di luar negeri or di luar planet sekalipun. Karena in the end itu yang terpenting, the person matters dan bukannya dia sekolahnya dimana. Kenapa sebuah sekolah kemudian punya standar yang bagus dan lulusannya dianggap bagus? >Let me tell you this, because good school menuntut good seeds. When they have good seeds, mereka akan memanen hasil yang tentunya juga bagus (yah kesampingkanlah beberapa anomali bibit yang kemudian mutasi). Soal sekolah di dalam ataupun di luar negeri, it’s all about the chances you’ve got. Kesempatan pertama datangnya dari kondisi ekonomi, kalau memang mampu berarti orang tua akan mampu menyekolahkan sang anak, sehingga mendapatkan pendidikan terbaik (sesuai dengan kemampuan ekonomi). Kalau bisa sekolah di dalam negeri ya cari yang terbaik dan kalau memang punya kesempatan melihat dunia dan bersekolah di luar negeri juga cari yang terbaik. Don’t just settle for second best.Kesempatan kedua datangnya dari kemampuan dan keinginan sang anak. Kalau memang anaknya diberikan kelebihan di bidang pendidikan dan mampu mengejar beasiswa, dia bisa mendapat pendidikan terbaik (entah di dalam maupun di luar). Ini yang gue bilang tadi good seed akan bisa masuk ke sekolah terbaik dan memang dicari oleh good school.
Jadi I really think what’s Rama trying to say is, Think.Web has the privilege of working with the good seeds from local university therefore we except the same outcome from those who have the opportunity to study abroad.
First of all, it's a huge honor to me, having my thoughts being published on this website (YAY! Hahaha), finally Rama found something intriguing enough for him to write, other than about website and marketing. Gotcha!
Anyway, not trying to pick side or anything, I know you both are in one team, but I can openly say that Anan's point of view is so much healthier. Nggak judging dan nggak sounds sombong sama sekali. Tapi waktu Anan bilang, “Jadi I really think what’s Rama trying to say is, Think.Web has the privilege of working with the good seeds from local university therefore we except the same outcome from those who have the opportunity to study abroad,” sebenarnya Anan harus tanya lagi sama Rama, bener nggak maksudnya begitu? Karena yang gw tau, Rama NGGAK bilang 'the same outcome' lho.. he said he was expecting 'MORE'.
Even if he was expecting MORE, gw nggak menyalahkan kok. Wajar. Karena kan judul posting ini memang “Maksimalkan Modal”, yang menurut gw sangat logis. Yang gw nggak terima dari awal 'argument' (if you call it that :-p) ini adalah the strong statement Rama said to me, “Wah susah tuh lulusan luar negri kalo masuk Think.Web“. I think it sounded very arrogant… dasar sombong!
Here are the facts you need to know:
1. Betul kata Anan, itu semua tentang 'benih'. THE SEEDS. Even gw mentioned the same word during the 'argument', sayang sama Rama nggak dikutip di sini. Dan memang, it also talks about opportunity, 'kesempatan'. Karena nggak semua yang sekolah di luar negeri adalah orang berada (ada yang beasiswa juga, ada yang orang tuanya jungkir balik di Indonesia kerja, hanya supaya anaknya bisa mengecap kesempatan untuk sekolah di luar). Nggak semua anak yang sekolah di luar punya kesempatan untuk menikmati luxury. Luxury apa, kalo untuk uang saku tambahan aja harus kerja keras? Gw dulu kerja seminggu 20 jam untuk bisa nabung jalan-jalan ke Sydney, untuk bisa clubbing setiap weekend, untuk bisa hidup dengan 'luxury' yang gw pengen. Balik-baliknya, pengalaman itu yang bikin gw jadi a better person, sesuatu yang mungkin nggak akan pernah gw rasakan kalau kuliah di Jakarta, di bawah 'sayap' kedua orang tua gw. Jadi, Rama expecting MORE dari anak lulusan luar? Adil nggak kalo bandingannya anak sekolah di luar yang kerja keras, sama anak dalem negeri yang hidupnya di bawah 'sayap' kedua orang tuanya? Udah deh, balik-baliknya ke karakter, nggak ada hubungannya sama lulusan mana.
2. Sayang hal ini nggak terlalu disinggung sama Rama di postingnya, tapi sekolah di LN atau enggak, sama sekali nggak ada hubungannya sama cinta bangsa atau enggak (we discussed about this more during the original conversation). Banyak temen gw yang sekolah di dalam negeri, bukan karena mereka cinta sama bangsanya. Just happened mereka nggak dapet 'kesempatan' yang barusan disinggung sama Anan. Di dalam hati mereka, “Kapan ya gw bisa ninggalin negeri ini secepat mungkin?” Makanya nggak sedikit orang lokal Indonesia yang ngarep dikawin sama bule, supaya cepet-cepet diboyong ke luar. Cmon! As much as I don't judge them, as much as I don't want overseas graduates being judged as well, Rama. Gw punya BANYAK (I'm not exagerrating) teman yang lulusan lokal, yang setiap pulang kantor misuh-misuh tentang negerinya. Cuma karena macet aja, bisa di hina-hina. Really broke my heart.
3. Ketika anak lulusan luar nggak pulang lagi untuk balik majuin bangsanya, nggak berarti mereka TIDAK CINTA bangsa. See all my sibblings deh. Kakak gw yang pertama ada di Cambodia karena memang suaminya ditugasin ke sana. Kakak kedua gw di Singapore karena dia orangnya gampang pusing (kesehatan), jadi kalo di Jakarta yang macetnya kayak begini, dia nggak tahan. Dia suka hal-hal teratur, contoh: kalo Di Singapore, jelas banget setiap hari ada MRT yang on time, dia nggak akan pusing tentang traffic. Jadi ketika kesempatan kerja di Singapore dateng, dia memilih tinggal di sana. Adik gw? Anaknya sangat laid back, happened to see Perth more fitting to him, instead of the megacity like Jakarta. Tapi Bandung juga laid back kok, Ras? Yaaaa.. kebetulan lulusnya di Perth, ya kan gampang, tinggal lanjut, daripada pindah-pindah lagi. Adik gw kalau telpon masih sering tanya kabar Jakarta/Indonesia, dan selalu kangen untuk pulang, karena hatinya memang di Indonesia. Again, being in overseas or staying in Indo got NOTHING TO DO with loving their nations or hating it.
4. Membuat lapangan kerja? Ada kok yang begitu, you just haven't met them mungkin. Lagian membangun lapangan kerja nggak ada hubungannya sama lulusan mana. Anak lulusan dalam negeri juga sebaiknya (idealnya) membuat lapangan kerja like what you guys did with Think.Web. I respect that. Oh yeah, gw nggak setuju analoginya olimpiade penyandang cacat dan orang normal ya, karena seperti Anan bilang (gw setuju sekali), semuanya soal bibit kok, bukan soal 'privilege'nya. Di mata gw sih balik-baliknya ke karakternya orangnya.
Lulus S1 dan S2 luar langsung mau posisi tinggi? Ahh.. yang lulusan dalam negeri kayak begitu juga banyak kok, Rama. I think you're waaaaaaay stereotyping here.
5. Here comes my last point. Rama, you can't make a conclusion based on 3-4 people who got interviewed by you. 3-4 orang is like.. 0.0000000000001%? Hellooooo? Ada value-value tertentu yang mungkin bisa di expect dari lulusan luar, misalnya lebih outgoing kalau ngobrol sama bule, lafal inggrisnya lebih bagus, lebih terbuka wawasan (I'm not saying all this on behalf of Indo students yang sudah ke luar pun 'cuma' hang out sama sesama orang Indonesia aja ya. Again, I respect their decision, terserah aja, pilihan masing-masing orang.)
In conclusion, some of Rama's points ada yang gw setuju kok, but I still think you were (partly) talking non-sense
But don't worry, I see this as a healthy 'thing', kinda takes our friendship to a higher level, as in “Ooooh, jadi isinya kayak begini yaaaaaaa…” (Hehehehe)
Sekali lagi, yang gw nggak setuju dari pendapat Rama cuma bagian ini: “Wah susah tuh lulusan luar negri kalo masuk Think.Web.” I think we (STILL) need to be humble, regardless who we are, who we know, what kind of luxuries we have or what kind of privileges we experience.
Sayang ya, lulusan luar susah masuk Think.Web. Padahal gw baruuuuu… aja mau ngelamar.
Yeah, right.
Just kidding
Terima kasih untuk Larasati Silalahi yang telah memberikan tambahan keterangan disini.
Kalau ingin melihat posting blog saya yang lain diluar dari Website & Marketing silahkan klik category Personal atau General
Kalimat “Wah susah tuh lulusan luar negri kalo masuk Think.Web” silahkan dicermati lagi lebih detail. Karena artinya adalah tetap bisa tetapi susah. Karena memang kami berharap lebih dengan modal besar yang dimiliki lulusan tersebut. Kembali lagi ke dasar dan judul posting ini “Maksimalkan Modal”.
May I share this story:
Kebetulan selama SD & SMP saya bisa bersekolah di sekolah swasta. Setiap tahun nya saya pasti mendapatkan Double Test. Mulai dari 2x ulangan umum sampai dengan 2x EBTA. Disaat teman-teman saya sudah libur, saya masih melakukan ujian. Setelah dewasa saya baru mengerti bahwa hal itu membuat saya bisa mendapatkan hasil maksimal dari kesempatan yang saya milik. Bagaimana saya saat kuliah dan saat ini adalah hasil dari proses tersebut.
Disana dapat dilihat bahwa harapan lebih adalah diperuntukkan bagi keuntungan bersama, terutama untuk keuntungan si orang nya. Jadi kalau memang bisa pass the exam ya berarti dia memang bibit yang baik. Kalau memang Laras berminat untuk ngelamar silahkan saja lo, saya optimis you can pass the exam.
Maaf kalau prinsip saya mengecewakan dan menurunkan penilaian Laras. Sah saja bagi seseorang untuk memiliki pemikiran ini, toh saya mengalami hal yang sama. Tetapi saya optimis prinsip ini punya arti lebih untuk orang lain.
Gue disuruh http://www.larasatisilalahi.com ngasi komen
So here i go…
Sebenernya, berhubung gue kenal Rama dari masa dia masih perjaka (sbentar… nggak ding.. dia udah ga perjaka jauuuuuuuuuuuuuhhh sebeluim gue kenal dia.. HAHAHAHAHA) gue tau bahwa pada dasarnya nasib Rama adalah: Being Misunderstood
What he meant was, nay, what he was reffering to, were people who went abroad for education and got back without any.
Mereka yang tidak memanfaatkan peluang yang mereka harusnya bisa dapatkan.
Sebenernya kuliah di luar ataupun di dalam, siapapun akan dihadapkan oleh Tuhan peluang peluang berkedok tantangan.
Tinggal 2 pilihan yang bisa diambil umat manusia, menghadapi tantangan itu, atau mundur.
BEDANYA adalah, konteks budaya akan membawa kepada jenis peluang dan tantangan yang relatif berbeda walaupun intinya tetep sama.
Nah, sebagai recruiter, guepun akan menolak ketika ada pelamar, yang bertitel dari luar negri datang ke gue dengan pola pikir , pengalaman, dan pengetahuan yang tidak mencerminkan titel luar negrinya.
Ini bukan masalah kemampuan, tapi attitude yang mendasari perilakunya.
Gue kalau dapat kesempatan sekolah ke luarnegri akan mati matian memanfaatkan peluang itu.
Mereka yang tidak memanfaatkan segala peluang itu akan jelas jelas terlihat dari pola pikirnya yang tercermin dari cara berbicaranya…
Kalau gue ketemu orang seperti itu jelas gue akan bertanya hal yang sama dengan Rama
“Lah, ngapain aja lo disanaaa?”
Jadi, rasanya Rama tidak pukul rata, hanya saja dia tidak ngomongin semua orang.
Dia hanya ngomongin lulusan luar negri yang tidak berkualitas.
But i like the arrogance though.
Agak kayak gue…
Lagipula, baik dari sisi Rama dan sisi Laras akan selalu onesided.
Yang satu kuliah di Indonesia, yang satu kuliah di luar negri…
Tentunya argumennya akan selalu berseberangan.
Lebih baik kalian nanya gue yang S1 di Indonesia dan S2 di Jerman dan S3 gue di Spanyol
Di 3 negara tersebut, gue mendapatkan sebuah kesimpulan: Every woman ia little princess inside.
Loh? Kok malah kesini?
HAHAHAHAHAHAHAHAHA
Ya sudah, saya tidak akan misunderstood Rama lagi. Kasihan kan kalo seumur hidupnya di misunderstood, nanti dia sedih (halah!).
Gimana sih Ndji, gw undang lo ke sini untuk membela gw, malah nyasar ke “Every woman is a little princess inside”… ah tapi kamu ada benarnya
Teteup yah, the bottom line is.. kalian adalah pria-pria yang gengsinya tinggi dan tidak mau kalah.
Hhhh…. (hehehehe)
Doesn't really understand why this discussion became such a long one
hahah but this is interesting, really.
One thing intrigues me, “expecting more”. Why do the words ring a bell? I’m used to the fact that people ask and expect more just because I'm labeled smart (happened since kindergarten) or just because I came from top grade school. When I was still in elementary school fellow student will ask me to teach them stuff just because I happened to score good grades all semester. In this case my friends were “expecting more” from me because they know I have significant potential that they didn’t have. Due to this particular fact, when I see someone that I think is full of potential, then I ended up expecting more from this specific someone.
I really think it would still be the same (or even perhaps would have been far worst, as in people will expect much more from me) if I happened to get my Master from some university in some other continent. “Lo kuliah S2 kemarin dimana nan? Oh…I went to Harvard, majoring in online user interface” Ih keren banget kan? Gara-gara keren, people will put a high expectation upon me; expect me to excel in each and every field. I really think it’s only natural, especially when they learn and know who you are (trust me they tend to do that). And no, I didn’t go to Harvard or NYU or Stanford or Kellog to finish my Master degree hehe although I would love to go to one of those uni.
Besides, I myself would be pretty ashamed if I was studying in a far far far away land, came back and having to compete (again) with others who doesn't have the same share of knowledge as I am and as it turns out they (the others) are achieving better than I did. Hey if I have the benefit of knowledge and experience, I should be the one that achieving better. Well this is aside the fact that I love competing and hate loosing
So where ever you studied (here, there or everywhere) or if you don't even finish what you have studied, let’s just face it: people will expect something from you weighting from your background. The better your background is, the more expectation will be put upon your shoulder. Gini deh, pelari olimpiade yang sudah mecahin rekor, ketika ia bertanding di olimpiade berikutnya atau bertanding di kejuaraan dunia, pasti diharapkan untuk achieving better time than he or she was making in the previous tournament. The best way out? Ya give and try your best shoot (that if you would like to live to others expectation). Kalau ngga mau juga yah it's your choice, its your life anyway.
And oh yeah, I still am planning to get my Phd in Online Communication (preferably in the far far far far away land, hey I couldn't find one here that suits my needs and siapa sih yang ga mau punya kesempatan sekolah di sekolah yang bagus?) and then pursuit my dream of becoming a professor. Yeay me…udah ah cape ngetik TTFN.
Satu lagi masalah si Rama selain being misunderstood: Steroid.
HAHAHAHAHAHAHAHA
Heh Setan!
Sorry.. gue bersih steroid. Gue cuman jadi pedagang aja HAHAHAHA.
Btw, bedakan antara being misunderstood yang tidak disengaja dan yang disengaja dengan tujuan provokasi. Hehehehe.
Gue cuma mau komentar tentang 1 hal. Sebenarnya banyak sekali yang gue mau komentarin dari post ini (thanks to Pandji yang nunjukin post ini ke gue tadi pagi, seru bahasannya) tapi lagi nggak mood untuk mengatur opini secara terstruktur untuk sebuah perdebatan sehat. Dan gue gak akan bilang apa reaksi pertama gue waktu baca post ini, ceritanya pengen menyimpan misteri supaya orang nebak2 di pihak manakah gue? (ge er banget ya, emang ada yg mikirin??)
Statement2 di atas mengingatkan gue akan sebuah teori statistik yang ternyata sangat berguna pada saat gue bekerja, karena aplikasinya pada banyak hal:
Normal Distribution
Kurva distribusi normal HAMPIR selalu bisa diaplikasikan ke semua hal di dunia nyata. Populasi mayoritas berada di sekitar garis tengah, antara Standard Deviasi -1 dan 1. Yang berbeda adalah garis tengah dari masing2 populasi. Populasi A dan B walau mirip tapi garis tengahnya bisa sangat beda, walaupun bentuk distribusinya sama. OK, cukup teorinya pak dosen..
Sebelum gue dicaci karena ngomongin teori yang 'old-fashioned', ya gue udah baca 'The Long Tail' dan suka sekali pemikirannya (bahkan itu salah satu buku yg gue baca sampai habis dalam setahun terakhir, banyak lagi yg cuma kebaca setengah). Tapi setelah mencoba mengaplikasikan teori 'buntut panjang' itu ke dunia kerja, gue berkesimpulan bahwa teori itu hanya bisa berlaku di bisnis tertentu yang mempunyai akses ke pilihan tak terbatas.
Kok jadi ngomongin Long Tail? Kembali ke Distribusi Normal
Lulusan dalam dan luar negeri adalah dua populasi yang berbeda. Apakah garis tengahnya sama? Kalau tanya sama ahli statistik, harus ada riset dgn sampel acak untuk membuktikannya. Gue sendiri pun nggak tau apakah kalau kita ukur 'kualitas' mereka setelah lulus, apakah rata2 kualitas lulusan luar memang berbeda dengan rata2 lulusan dalam.
Tapi dari pengalaman pribadi, gue yakin distribusi normal itu ada. Gue pernah ketemu orang yg lama sekolah di luar dan akhirnya kerjanya 'biasa-biasa' aja, 'cuma' jadi staff biasa bukan supervisor sekalipun. Tapi siapa yang bisa menyangkal kalau banyak ekonom negara ini yang benar2 kompeten dan lulusan luar? Dari jaman Bung Hatta sampai angkatan bu Sri Mulyani dan pak Boediono sekarang. Gue yakin ada juga di generasi kita yang sekarang sedang meniti ke arah sana dan akan muncul mungkin satu dekade lagi. Tapi kedua contoh di atas (si 'biasa-biasa' dan para petinggi) gue yakin ada di ekstrim kiri dan kanan dari distribusi normal populasinya.
Di sisi lain, gue juga respek sekali sama orang2 yang bisa masuk (dan lulus) dari PTN seperti ITB, UI, UGM, UnAir, dsb. Yah secara kedua mertua gue dan adik ipar lulusan ITB haha
Banyak sekali yang sekarang juga sukses dan berkontribusi pada negeri tercinta ini. Tapi mungkin Rama dan Pandji bisa tanya diri sendiri ada nggak temen seangkatan dari PTN dulu yang sekarang kerjaannya nggak jelas? Bahkan mungkin mereka kerja selevel dengan si lulusan luar yang tadi jadi staff biasa di dasar piramid korporat. Apa nggak kurang memaksimalkan modal diploma PTNnya tuh? Lagi-lagi kedua contoh itu ada di ekstrim kiri dan kanan. Terus yg ada di tengah kayak apa? *pertanyaan terbuka*
Ada juga populasi ketiga lho, lulusan dalam negeri yang bukan dari PT unggulan, yang bahkan kampusnya berupa ruko bukan gedung (maaf ya tapi di mata gue kalau di ruko, kok nggak jauh beda sama les gambar anak gue ya?) Tapi gue juga punya saudara lulusan non-PTN (tapi sekolahnya bukan di ruko sih) yang bisa menembus level senior manajemen di perusahaan asing, bahkan punya banyak anak buah lulusan luar dan lulusan PTN. Tentu kalau kita lihat kurva distribusinya, ada banyak juga dari mereka yang kerjanya 'biasa-biasa'. Di mana garis tengahnya dan apakah garis tengahnya sama dengan para lulusan PTN unggulan? Gue rasa kita semua punya pendapat sendiri2 berdasarkan pengalaman pribadi kita.
Jadi mengenai 'seed' dan 'benih' yang disinggung2: Modal dasar adalah apa yang ada di otak dan hati kita. Kemauan belajar, kemampuan menganalisa, empati, komunikasi, dll. Sekolah mengajarkan kita bagaimana menggunakan kemampuan2 ini lebih baik lagi di dunia nyata, terutama 'kemauan belajar'. Kalau modalnya parah ekstrim, mau disekolahin ke Mars juga gak bisa tajam.
Saran gue sih, Rama jangan pernah berhenti ketemu dengan orang baru dan langsung menutup mata pada sebuah populasi hanya karena embel2 mereka.
Gather. Absorb. Filter. Create.
Buat gue sendiri, gue masih mencari jawaban dari provokasi Pandji di PP edisi Agustus kemarin:
“Apakah loe bangga jadi orang Indonesia?”
“IYA DONG!”
“Kenapa?”
“karena Indonesia adalah negara yang kaya akan potensi alam, rakyatnya ramah, berada di garis khatulistiwa, errr…”
Halah gubrak
Yang pasti, gue masih anti-Malaysia *lho?*
Halo deha. Welcome to our blog.
Senang sekali bisa mendapat commentnya.
Terima kasih.
Tentu saja saya berharap untuk bisa selalu bertemu orang baru selama saya mampu. Semakin banyak bertemu orang artinya semakin banyak juga channel distribution nya (pinjem istilah nya ya).
Artinya kan semakin banyak hal-hal yang bisa di share dengan mereka.
Harapan gue, 2 populasi itu entah ada garis tengah nya apa nggak, bisa bener-bener memaksimalkan seed atau modal nya. Sehingga setiap individu nya jadi maju & besar dan ujung akhir dari imbas nya adalah bangsa yang maju dan besar.
Sama gue juga anti…
hahahahaha.
Gue juga anti malaysia
Gue juga anti kekerasan.
Dulu gue bikin Kampanye Anti Kekerasan.
Rama pasti ingat.
Kenapa gue jadi mau ketawa ya?
Antara mengingat jaman kampanye dulu, atau, membayangkan wajah rama yang sumringah karena blognya rame.
Well my dear friend Rama, this is the difference between me and you
You got your blog crowdy on this post. I do it on every post
(aseeeeeek, arogansinya muncul..)
Because the Great Aristotle once said
“You are not define by a singular act. You are what you repeadetely do”
Have fun provoking people man
Dondi, gue ada komen soal blog elo yg menurut gue ide-nya keren… kemana ya gue musti ngasi tau?
Dji, gak fair dong loe membandingkan blog Rama dan gue sama blog elo
Kita kan gak bisa ngiklanin blog tiap pagi ke milyaran pendengar GMHR itu
Kita orang biasa2 saja
Elo kan sekuter
HAHAHA
point 3 gw setuju bgt;)