Maksimalkan Modal

Tuesday, September 23rd, 2008, By
Filed under: Featured General Personal Rama Think.Web

Suatu malam terjadi perdebatan seru dengan sahabat saya. Tidak ingat mulainya dari mana, tetapi teman saya langsung ‘panas’ waktu kami sedang membahas tentang lulusan universitas luar negri. Persisnya ketika gue bilang “wah susah tuh lulusan luar negri kalo masuk Think.Web“. Teman itu langsung bertanya “why???”. Gue jawab “ya dia musti bisa nunjukin sesuatu yang lebih dibanding para lulusan dalam negri”.

Dan kemudian terjadi banyak perdebatan dan teman itu terus-terusan berkata “you can’t do double standard!! Pikiran lo sempit banget kalo melakukan itu. Lo nggak bisa judging seperti itu, mereka musti punya kesempatan yang sama”.

Bwehhh….  whose giving the judgement now?? hehehe…

Tapi ini alesan-alesan gue dibalik pendapat gue mengenai lulusan luar negri:

  1. Maksimalkan modal
    Punya kesempatan sekolah di luar artinya punya pengalaman yang berbeda dengan orang lain. Lebih-lebih, seharusnya punya pengalaman dan pengetahuan yang lebih dibanding mereka yang hanya sekolah di dalam negri.  Jadi seharusnya orang tersebut bisa menghasilkan sesuatu yang lebih. Kalau tidak, artinya dia tidak menghasilkan sesuatu yang memaksimal dari modal yang dia miliki. Kalo memang seperti itu berarti he or she doesn’t fit with us.
  2. Just being fair
    Apa jadinya kalau olimpiade penyandang cacat dengan mereka yang normal dijadikan satu? Setiap hal punya tolak ukur yang berbeda, dan harus bisa dinilai secara fair ketika dibandingkan dengan yang lain. (mungkin akan ada yang bilang, kita nggak bicara soal cacat fisik… well it’s just analogy. Tapi intinya different competition, different people, different values). Selama penilaiannya masih bisa dipisahkan dan dinilai secara adil, ya sebaiknya dipisahkan. Being fair itu tidak selalu 50-50 kok, bukan selalu sama rata. Tapi memang mampu menilai secara adil & bijak.
    Dan kembali lagi, sudahkah modal yang dimiliki menjadi maksimal? 
  3. Bangun bangsa mu
    Gue nggak habis pikir dengan mereka yang S1 di luar negri, kemudian/atau S2 diluar negri, balik-balik cari kerja sebagai manager/director. Geeezzz…. Bangsa mu sudah cukup sulit dengan lapangan pekerjaan, kenapa orang-orang yang punya kesempatan untuk lebih maju dan kembali hanya untuk bersaing dengan yang tidak punya kesempatan yang sama. Kenapa bukan BIKIN LAPANGAN KERJA itu.
    Nggak punya modal (uang), nggak punya network, nggak punya pengalaman, itu cuman alesan. Yang dibutuhin cuman guts! keberanian! Dan kalo mereka yang udah berani hidup sendiri di negri orang dan balik-balik kesini nggak punya keberanian?! Malu dong sama mereka yang mampu bikin usaha sendiri disebuah desa, dan mengkaryakan orang-orang sekitarnya.
  4. Apa yang didapat tidak akan sama
    Hal ini jelas lah ya. Pengalaman dalam dan luar negri pasti tidak akan sama. Tapi menurut gue bagi mereka yang menghabiskan S1 nya diluar negri kehilangan banyak hal yang secara nyata ada di Indonesia. Hal ini yang disayangkan. Mungkin ini karena gue sejauh ini baru berhasil menyelesaikan S1 dan didalam negri. Tapi masa kuliah gue itu bener-bener menjadi proses pembentukan diri gue yang sekarang. Cukup tahu masalah yang terjadi di bangsa ini, punya wawasan cukup akan bangsa dan segala kekayaannya, dan punya kecintaan terhadap bangsa.
    Jadi menurut gue memang punya dasar yang kuat dulu mengenai bangsa nya, kemudian lakukan sesuatu baru setelah itu putuskan mencari ilmu pengalaman diluar atau tidak. Tentunya dengan tujuan untuk kemudian kembali lagi dan memajukan bangsa.

Seinget gue, sejauh ini pernah ada 3-4 orang S1 lulusan LN yang apply ke Think.Web. Dalam proses recruitment kemampuan dan potensi seseorang memang hanya bisa diketahui dari portofolio/CV dan hasil interview. Dan dari proses itu orang-orang tersebut memang tidak menunjukkan hasil yang seharusnya dihasilkan berdasar point-point gue diatas.   

Surprising buat gue… gue selalu kemudian berpikir, “trus ngapain lo jauh-jauh sekolah?”.
Mungkin akan ada yang bilang “yah itu kan nggak mempresentasikan lulusan LN yang lain”. Well… begini deh… gue percaya mereka yang lulus dari sekolah di LN pasti lebih banyak dari mereka yang muncul di majalah-majalah sebagai enteprenuer, tapi kan kenyataannya yang muncul sedikit sekali.

We’re proudly to say kalau saat ini Think.Web berisi kami-kami yang menjalankan sekolah nya di dalam negri. Dan kami juga mampu bersaing dengan mereka yang lulusan LN atau bahkan orang/perusahaan asing pun. 100% adalah dari dalam negri, tapi dengan internet pengetahuan dan ‘pengalaman’ kami bisa dikatakan sama dengan mereka di dan dari manapun. Tanpa menutup kesempatan bagi mereka yang kebetulan lulusan luar atau bahkan orang asing pun, tapi mereka musti bisa memberikan nilai tambah buat kita.

Gue pribadi, tujuan utama bikin usaha adalah untuk membantu sesama. Memberikan lapangan kerja dan penghidupan buat bangsa gue, Indonesia. Jadi wajar sepertinya kalau gue berusaha berlaku adil buat mereka yang mungkin tidak punya kesempatan untuk menuntut ilmu di LN. 

Dengan hal-hal itu gue tidak merasa narrow-minded, stereotyped or judging to something.
Gimana menurut lo?

Anan‘s Mind
   
Too be honest menurut gue yang penting sebenarnya adalah outcomenya. What kinds of person have you become setelah lo sekolah. Mau di dalam or di luar negeri or di luar planet sekalipun. Karena in the end itu yang terpenting, the person matters dan bukannya dia sekolahnya dimana. Kenapa sebuah sekolah kemudian punya standar yang bagus dan lulusannya dianggap bagus? >Let me tell you this, because good school menuntut good seeds. When they have good seeds, mereka akan memanen hasil yang tentunya juga bagus (yah kesampingkanlah beberapa anomali bibit yang kemudian mutasi). Soal sekolah di dalam ataupun di luar negeri, it’s all about the chances you’ve got.  Kesempatan pertama datangnya dari kondisi ekonomi, kalau memang mampu berarti orang tua akan mampu menyekolahkan sang anak, sehingga mendapatkan pendidikan terbaik (sesuai dengan kemampuan ekonomi). Kalau bisa sekolah di dalam negeri ya cari yang terbaik dan kalau memang punya kesempatan melihat dunia dan bersekolah di luar negeri juga cari yang terbaik. Don’t just settle for second best.    

Kesempatan kedua datangnya dari kemampuan dan keinginan sang anak. Kalau memang anaknya diberikan kelebihan di bidang pendidikan dan mampu mengejar beasiswa, dia bisa mendapat pendidikan terbaik (entah di dalam maupun di luar). Ini yang gue bilang tadi good seed akan bisa masuk ke sekolah terbaik dan memang dicari oleh good school. 

 

 

Jadi I really think what’s Rama trying to say is, Think.Web has the privilege of working with the good seeds from local university therefore we except the same outcome from those who have the opportunity to study abroad.

brain.think.web.id is a
blog of ramya & anantya

Powered by Wordpress.
All rights is now also lefts. 2010