Pusingnya Konsumen Jaman Sekarang
Sewaktu keluar rumah
Ketemu neon box, papan reklame, spanduk kampanye, umbul-umbul partai
Sewaktu siang
Ketemu banner, skyscraper, adsense, rich media ad
Sewaktu macet
Ketemu adlips dan jingle
Itu tadi kegiatan sehari-hari saya. Cukup memusingkan? Iya dan dengan ini saya resmi menjadi salah satu bagian dari mereka yang menderita kondisi information overload. Kalau mau dihitung, berapa banyak iklan dan logo brand yang Anda lihat setiap hari? Saya berani bertaruh pasti lebih banyak dari umur saya saat ini. Karena berada dalam kondisi information overload, saya jadi cenderung cuek dengan iklan. Bagai sebuah gelas penuh yang kalau diisi akan tumpah. Informasi iklan yang saya dapatkan juga sudah bisa dibilang tumpah. Oleh karena itu saya akan cepat-cepat mengganti channel TV jika kebetulan ada iklan (hal ini menjadikan saya si ratu remote di rumah), memasang pop up blocker, dan memilih mendengar iPod dalam mobil ketimbang mendengar radio.
Kondisi yang cukup parah? Sepertinya tidak sih, karena saya yakin diluar sana masih banyak saya-saya yang lain yang merasa agak pusing dengan hebohnya gaya para brand beriklan. Pertanyaan yg kemudian menggelitik saya adalah ‘kalau setiap hari saya, anda dan mereka harus berhadapan dengan ratusan iklan, bagaimana caranya untuk bisa make an impression?’
Mereka yang bekerja di online media pasti akan mengeluarkan jawaban: interactivity dan engaging message. Dari kedua jawaban itu, masalah engagement ini menjadi sesuatu yang menarik karena belakangan kata engagement jadi salah satu kata populer, setidaknya dalam dunia marketing. ‘Engaging the customer‘ ini yang sering dikumandangkan, sebuah kegiatan yang mencoba membuat konsumen merasa dekat dan menganggap bahwa brand yang berbicara relevan dengan hidup mereka.
Engagement sendiri mengedepankan rasa involvement dan experience. Kondisi engage didapat dari kegiatan merasakan/mengalami sesuatu. Misalnya karena kita membaca majalah dalam keadaan tertentu, kemudian sibuk membicarakan sebuah artikel dalam majalah tersebut yang memang relevan dengan kehidupan sehari-hari dengan teman, secara tak sadar kemudian kita akan merasa sangat dekat dengan majalah tersebut. Dalam hal ini pengalaman yang dapat menghasilkan engagement adalah pengalaman yang motivasional.
![]()
Pentingnya pengalaman seseorang sewaktu yang bersangkutan melihat sebuah iklan sudah ditangkap dan ditranslasikan dalam beberapa cara. Ambience ad adalah salah satunya, iklan luar ruang yang dibuat semenarik mungkin dan didorong untuk menyelesaikan tugasnya untuk engaging calon konsumennya. Karena hasil akhir yang diharapkan sebuah ambience ad bukan hanya like the ad tapi juga mendorong mereka yang melihat iklan untuk termotivasi melakukan sesuatu. Hasil ambience ad memang bisa membuahkan rasa kedekatan dan kadang juga berbuah penghargaan.
Di dunia online masalah engagement ini juga disadari oleh para pengiklan dan menghasilkan apa yang dikenal dengan rich media. Iklan online dengan kreatifitas tanpa batas. Untuk yang masih penasaran apa itu rich media, intip saja yah penjelasannya.
Berlomba menghasilkan program komunikasi yang berusaha untuk engage para konsumen adalah sesuatu yang baik. Tapi hati-hati, karena bila semua pengiklan sudah berbicara dengan bahasa yang sama, memakai baju yang sama dan warna yang sama, para konsumen pasti akan kembali merasa pusing tujuh keliling.
Rama think:
Tujuan sebuah program komunikasi pasti beda-beda, dengan demikian target dari engagement nya pun pasti berbeda. Justru yang harus dihasilkan pengiklan adalah tidak ‘menggunakan baju dan warna’ yang sama agar tujuan engage nya tercapai. Makanya kalo gue bilang mah (terutama untuk online media) yang penting untuk engage adalah Add Value nya.