<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Brain of Think.Web &#187; advertorial</title>
	<atom:link href="http://think.web.id/brain/tag/advertorial/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://think.web.id/brain</link>
	<description>Think to give, Not to ask</description>
	<lastBuildDate>Fri, 04 May 2012 15:07:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Advertorial</title>
		<link>http://think.web.id/brain/2008/09/04/buavita/</link>
		<comments>http://think.web.id/brain/2008/09/04/buavita/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Sep 2008 17:26:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[advertorial]]></category>
		<category><![CDATA[Buavita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/brain/?p=313</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Banyak Jalan Menuju Roma&#8221; Sebuah kampanye marketing cocok banget disandingkan dengan petuah bijak diatas. Karena memang beragam jalan dapat dilalui untuk akhirnya mencapai objective yang diinginkan. Strategi marketing communication mix bisa jadi adalah salah satu contohnya. Dalam strategi ini, terdapat beberapa karakteristik kontak (atau jalan). Biasanya karakteristik kontak akan dibagi dalam 2 bagian besar yaitu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>&#8220;Banyak Jalan Menuju Roma&#8221;</p></blockquote>
<p>Sebuah kampanye marketing cocok banget disandingkan dengan petuah bijak diatas. Karena memang beragam jalan dapat dilalui untuk akhirnya mencapai objective yang diinginkan. Strategi marketing communication mix bisa jadi adalah salah satu contohnya. Dalam strategi ini, terdapat beberapa karakteristik kontak (atau jalan). Biasanya karakteristik kontak akan dibagi dalam 2 bagian besar yaitu One Way Communication Contact (iklan mass media, public relation, sales promotion, packaging, etc) dan Two Way Communication Contact (personal sales, e-commerse, events, etc).</p>
<p style="text-align: center"><a href="http://think.web.id/brain/files/2008/09/011.jpg"><img class="size-medium wp-image-316 aligncenter" src="http://think.web.id/brain/files/2008/09/011-300x263.jpg" alt="" width="300" height="263" /></a></p>
<p style="text-align: left">Kemampuan dalam me-mix kedua jenis kontak komunikasi inilah yang membantu proses marketing berjalan dengan baik. Nah, salah satu yang berhasil menarik perhatian gue adalah mass media publication. Kenapa menarik? Ini karena kebetulan saja, gue tertarik mengikuti rangkaian publikasi dari salah satu client.</p>
<p style="text-align: left">Untuk kampanye barunya, mereka sedang gencar berpromosi. Mulai dari communication terang-terangan melalui Billboard, Iklan TV, Iklan cetak dan juga melalui cara yang lebih <em>subtle </em>melalui advertorial belakangan sering muncul. Salah satunya yang hadir di majalan Menshealth, dengan judul advertorial &#8220;The Frutarian Way&#8221;.</p>
<p>Dari beberapa saluran komunikasi yang sudah gue lihat, tidak ada yang bikin saya bisa ketawa kecil sampai di hari Sabtu kemarin. Nah, weekend kemarin saya sempat tertegun karena mata saya menemukan salah satu brand ambasador brand tersebut dalam halaman Nama dan Peristiwa di Kompas. Apa yang membuat saya tertegun, sebenarnya wawancara antara Brand Ambassador dengan Kompas sama sekali tidak membawa brand. Karena yang diobrolkan lebih banyak soal aktifitas film dan sinetron dari brand ambassador. Bukan bukan itu yang menarik hati gue. <strong>Clue: perhatikan imagenya!</strong></p>
<p style="text-align: center"><a href="http://think.web.id/brain/files/2008/09/021.jpg"><img class="size-medium wp-image-317 aligncenter" style="margin-top: 10px;margin-bottom: 10px" src="http://think.web.id/brain/files/2008/09/021-300x255.jpg" alt="" width="300" height="255" /></a></p>
<p style="text-align: left">Sudah tahu? Yukk mari kalo lo perhatiin bener-bener baju yang dipakai sama Nirina. Lo akan tahu apa yang gue maksud, yak the brand having one of it&#8217;s publication moment. Dan entah disengaja atau tidak, dibawah Nirina adalah Darius, yang juga menjadi brand ambassador dari brand yang tampil di baju Nirina. Walau memang bukan membahas mengenai keberadaannya sebagai duta brand, namun gue jadi mikir. Suatu kebetulankah? Atau memang sebuah soft advertorial yang memang sudah dirancang keberadaannya.</p>
<p>Dugaan gue sejauh ini adalah: kebetulan. Karena kebetulan gue lihat list media plan dan entah gue lupa atau memang spot di bagian ini tidak dihadirkan. Memang,  mungkin juga ini adalah bonus yang dikasi oleh Kompas, karena memang sang brand memasang beberapa iklannya di media ini. Tapi kalau memang bonus, harusnya biar keliatan banget Nirina n Darius dua-duanya pake baju yang sama, atau paling ngga menyinggung mengenai pola hidup sehat.</p>
<p>Anyway&#8230;sepertinya sih ini kebetulan. Sebuah kebetulan yang bisa dijadikan contoh bagaimana &#8220;hadir&#8221; secara sangat subtle dalam sebuah media. Buat para ibu yang lagi baca, kadang apa yang dipakai si bintang ngaruh soalnya. Siapa tahu diluar sana ada ibu-ibu yang bilang:</p>
<blockquote><p>&#8220;ihh bajunya Nirina lucu banget&#8221;<br />
&#8220;Be&#8230;Buavita&#8221;</p></blockquote>
<p>Nah paling ngga branding Buavitanya udah dapet kan?</p>
<blockquote><p>Rama&#8217;s think:</p>
<p>Hal lain, gue suka bingung sama brand-brand yang sudah memiliki website dan menggunakan website juga sebagai media informasi campaign mereka. Mereka selalu seperti malu-malu ketika menampilkan URL nya. Kalo di TVC font size nya kecil dan cepet banget, kalo di iklan majalah/koran/media cetak lain font nya kecil, paling cuman iklan radio yang biasanya cukup jelas.</p>
<p>Hal ini gue sampein sih ke client nya, dia bilang &#8220;ya udah nanti digedein&#8221;. Hehehe.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/brain/2008/09/04/buavita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kandang Burung</title>
		<link>http://think.web.id/brain/2008/06/15/kandang-burung/</link>
		<comments>http://think.web.id/brain/2008/06/15/kandang-burung/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jun 2008 04:11:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[advertorial]]></category>
		<category><![CDATA[birdcage]]></category>
		<category><![CDATA[female magazine]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.think.web.id/brain/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[Apa menariknya sebuah kandang burung? Saya juga kurang bisa menangkapnya. Kecuali mungkin bagi para burung aficionado (hum kalimat ini konotasinya agak aneh ya?). Nah saya masih tidak menangkap mengapa sebuah kandang burung punya arti yang sangat besar, apalagi ketika saya membalik-balik halaman sebuah majalah franchise ibukota dan menemukan si kandang burung ini muncul di beberapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://think.web.id/brain/files/2008/06/female.jpg"><img class="alignright alignnone size-medium wp-image-183" style="float: right;margin-left: 20px;margin-right: 20px" src="http://www.think.web.id/brain/wp-content/uploads/2008/06/female-300x205.jpg" alt="" width="203" height="139" /></a>Apa menariknya sebuah kandang burung? Saya juga kurang bisa menangkapnya. Kecuali mungkin bagi para burung aficionado (hum kalimat ini konotasinya agak aneh ya?). Nah saya masih tidak menangkap mengapa sebuah kandang burung punya arti yang sangat besar, apalagi ketika saya membalik-balik halaman sebuah majalah franchise ibukota dan menemukan si kandang burung ini muncul di beberapa halaman dalam satu edisi.</p>
<p>Kandang burung yang dalam bahasa inggrisnya dinamakan bird cage yang sedang saya bahas disini adalah salah satu tempat makan yang mungkin akan jadi tempat yang hip dalam beberapa saat lagi (gimana ngga, promonya gila-gilaan). Di salah satu majalah franchise ibukota yang tadi saya sebut diatas, pada edisi Juni 2008, coba deh buka halaman 196. Saya mulai dari paling belakang yah, karena saya suka membaca majalah dari belakang.</p>
<p><strong>Review 1</strong><br />
Si bird cage ini hadir di bagian buzz nightspot (halaman 196). Dalam review pertamanya ini, promosinya memang tidak terlalu bombastis, namun imagenya mendukung. Dikisahkan bahwa interior bird cage didominasi kayu dengan jendela super besar untuk memaksimalkan pencahayaan. Kemudian diterangkan juga kalau tempat ini menawarkan koleksi wine beragam (dan murah) serta koleksi martini yang katanya &#8220;juara&#8221;.<br />
&#8230;dari imagenya saya lumayan tertarik untuk hadir mencoba duduk di posisi paling dekat kaca yang menghadap ke luar, sepertinya akan menyenangkan</p>
<p><strong>Review 2</strong><br />
Secara spektakuler si bird cage ini hadir di 1 halaman sebelum buzz nightspot, yaitu di buzz dining (halaman 195!). Karena gak percaya saya sampai membaca ulang lokasi Bird Cage: Wijaya 9 no 23, yap sama persis. Ga salah ini restoran yang sama. Untungnya foto yang ditampilkan berbeda, kalau sama sih namanya copy paste yah. Apa yang dibahas sih kurang lebih sama, tapi penggunaan katanya agak sedikit berbeda. Tapi ya itu intinya sama sih, dominasi kayu, disekelilingi pepohonan dan jendela besar.<br />
&#8230;dari penggambaran dan kalimat-kalimat ajakannya saya belum terlalu tertarik. Saya jadi bertanya-tanya keputusan dari review 1 tadi</p>
<p><strong>Review 3</strong><br />
Daaan ini review penutup di halaman 14 bagian mens special edition. Ok secara struktur dia ada di sisipan sebenarnya. Tapi tetep lah, muncul 3 kali dalam 1 edisi. Pencapaian yang spektakuler. Yang ini gaya penyampaiannya juga paling beda diantara 2 artikel sebelumnya. Penggambarannya lebih menarik, mulai dari saran untuk memilih tempat outdoor untuk mereka yang ingin santai karena disana ada sofa bed atau mengarahkan kaki ke lantai 2 untuk mereka yang suka dengan gaya vintage sekaligus menikmati kandang burung yang diletakkan di langit-langit.<br />
&#8230;yak akhirnya saya tertarik lagi untuk datang ke Kandang Burung ini.</p>
<p>Weekend ke Bird Cage ahh&#8230;haha terkena promosi 3x berturut-turut dalam majalah. Seperti iklan murah yang diulang 3 kali yah.</p>
<blockquote><p>Rama&#8217;s Think:</p>
<p>Bisa ada 2 kemungkinan sih. Disengaja atau tidak.<br />
Disengaja karena si tempat itu minta dipromosikan di majalah secara soft sale (jangan-jangan ada kesamaan secara kepemilikan hehehe).<br />
Tidak disengaja, kalo ini sih lebih kepada kelalaian editor-in-chief nya. Dalam 1 edisi mengulang topic yang sama (lebih-lebih dengan tulisan yang mirip) kan bukan sesuatu yang baik.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/brain/2008/06/15/kandang-burung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

