<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Brain of Think.web &#187; communication</title>
	<atom:link href="http://think.web.id/brain/tag/communication/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://think.web.id/brain</link>
	<description>this Brain continously Think about Web, and sometime other things too</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 19:23:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Hindari Bad Press</title>
		<link>http://think.web.id/brain/hindari-bad-press/</link>
		<comments>http://think.web.id/brain/hindari-bad-press/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Sep 2008 09:44:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anantya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Online Media]]></category>
		<category><![CDATA[communication]]></category>
		<category><![CDATA[online branding]]></category>
		<category><![CDATA[public relation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/brain/?p=346</guid>
		<description><![CDATA[Pemberitaan buruk alias bad press tidak hanya terjadi di surat kabar atau TV saja, belakangan bad press lebih cepat menyebar melalui online publicity. Berterimakasihlah pada user generated content atau juga maraknya citizen journalism online. Nah ketika masalah ini terjadi, apa yang harus dilakukan? Cobalah untuk melakukan Search Engine Optimization (SEO).   Kenapa SEO? Mari, let [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div class="O"><span>Pemberitaan buruk alias bad press tidak hanya terjadi di surat kabar atau TV saja, belakangan bad press lebih cepat menyebar melalui online publicity. Berterimakasihlah pada user generated content atau juga maraknya citizen journalism online. Nah k</span><span>etika masalah ini terjadi, apa yang harus dilakukan? Cobalah untuk melakukan </span><span><em>Search Engine Optimization</em></span><span> (SEO).<br />
  </span></div>
<div class="O"><span> </span></div>
<div class="O"><span>Kenapa SEO? Mari, </span><span><em>let us share you a fact: </em></span></div>
<div class="O1">
<ul>
<li><span><em>bad or good publicity</em></span><span> mengenai brand akan hadir dalam versi online. Dan hampir 50% dari traffic yang datang ke sebuah situs biasanya </span><span>dihasilkan oleh Searh Engine dan sisanya masuk melalui direct URL ataupun refferal (link) dari situs lain.</span></li>
<li><span>85% pengguna internet menggunakan Search Engines untuk menemukan situs/produk yang dicari</span></li>
</ul>
<p>Nah dilihat dari dua fakta tersebut, limitasi bad press memang dapat dilakukan dengan SEO. Caranya ada dua:<br />
<span> </span></div>
<div class="O"><span> </span></div>
<div class="O"><span><strong>1. Fokuskan pada keyword yang akan memberikan image positive pada brand </strong></span></div>
<div class="O"><span>Biasanya user akan mengetikkan nama brand atau nama perusahaan sebagai keyword untuk mencari sesuatu yang terkait dengan brand.  </span><span>Cobalah untuk mengoptimasi keyword ini, agar hasil pencarian menghasilkan link yang brand-friendly.</span></div>
<div class="O">
<div><span><br />
</span><span>Dengan melakukan hal ini, berarti Anda juga telah mengoptimasi produk untuk membangun image baik brand. Dengan demikian link brand-friendly akan </span><span>mendorong bad press dari posisi halaman pertama atau kedua di search engine, dan memperbesar peluang user untuk menemukan berita baik mengenai </span><span>brand<br />
</span><span><br />
</span><span><strong>2. Link building </strong></span></div>
<div><span>Bad press biasanya masuk dalam peringkat atas karena adanya link building. Komunitas online dapat menyebarkan gosip dan link dan ini akan </span><span>menyebabkan naiknya posisi bad press dalam search engine. Sebagai penangkalnya, cobalah untuk membuat strategi penyebaran yang sama (melalui link </span><span>building) dengan positive press.<br />
  </span></div>
<div><span> </span></div>
<div><span><em>&#8220;Bad publicity is a good publicity&#8221;.</em> Ini bisa jadi apa yang dikatakan oleh PR person Anda, apalagi bila <em>bad publicity</em> kemudian bisa di-twist sehingga </span><span>menghasilkan <em>happy ending</em> untuk semua pihak. </span></div>
<blockquote>
<div><span><strong><a href="http://think.web.id/brain/ramya-prajna-s/" class="kblinker" title="More about Rama &raquo;">Rama</a>&#8216;s Think:</strong></span></div>
<div><span>Permasalahannya dibeberapa kasus justru yang mendapat Bad Publicity malah trauma dengan online media. Saat mereka search nama brand mereka, yang ditemukan adalah website-website yang memberikan bad comment terhadap brand mereka.</span></div>
<h3>&#8220;Bad publicity is good publicity&#8221;</h3>
<p>Kalimat itu sangat tepat tapi perlu diikuti dengan 3 hal ini: <br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Wise</strong><br />
Bijak lah dalam menerima tanggapan. Jangan panik atau bahkan trauma kemudian malah meninggalkan online media. Karena tanggapan itu akan terus ada dan bahkan mungkin terus berkembang. Meninggalkannya hanya bikin semakin tidak terkendali.</p>
<p><strong>Open hearted</strong><br />
Dalam dunia internet yang tanpa batas orang ber hak untuk melakukan apapun. Berhati terbuka lah untuk menerima segala sesuatu tanggapan yang ada.</p>
<p><strong>Smart<br />
</strong>Bukan berarti semua tanggapan itu diterima saja dan tidak dibalas, tentunya semua harus juga ditanggapi. Tapi kita tetap harus smart dalam menanggapinya. Jangan terjebak malah memperdalam bad publicity tadi. </p></blockquote>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/brain/hindari-bad-press/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Trialogue</title>
		<link>http://think.web.id/brain/trialogue/</link>
		<comments>http://think.web.id/brain/trialogue/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Sep 2008 23:37:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anantya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[Online Media]]></category>
		<category><![CDATA[Social Media Marketing]]></category>
		<category><![CDATA[communication]]></category>
		<category><![CDATA[Internet Marketing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/brain/?p=335</guid>
		<description><![CDATA[Membacakan puisi, berdeklamasi atau membacakan cerita adalah beberapa dari kegiatan Monologue. Dimana ada seseorang yang bertugas menjadi source dan ada beberapa orang yang dengan setia mendengarkan dan mengambil peran sebagai receiver.  Jadi pola komunikasinya adalah: source -&#62; receiver Kalau bosan bermonologue, para pecinta sastra kemudian menghadirkan percakapan timbal balik dalam drama. Para aktorpun mulai berdialog. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Membacakan puisi, berdeklamasi atau membacakan cerita adalah beberapa dari kegiatan Monologue. Dimana ada seseorang yang bertugas menjadi <em>source </em>dan ada beberapa orang yang dengan setia mendengarkan dan mengambil peran sebagai <em>receiver</em>. <em> </em><em><strong>Jadi pola komunikasinya adalah: source -&gt; receiver</strong></em></p>
<p>Kalau bosan bermonologue, para pecinta sastra kemudian menghadirkan percakapan timbal balik dalam drama. Para aktorpun mulai berdialog. Terjadi timbal balik gagasan dan ide antara satu orang <em>source </em>dan satu orang <em>receiver</em>. Ingat kata kuncinya ada di masalah timbal balik tadi.<em> </em><em><strong>Jadi pola komunikasinya adalah: source &lt;-&gt; receiver</strong></em></p>
<p>Kalau monologue dan dialogue di dunia sastra diambil untuk dunia online marketing. Campuran monologue dan dialogue terjadi silih berganti. Sebuah news di sebuah portal adalah monologue gaya online, sebuah chat room atau instant messenger adalah sebuah dialogue.</p>
<p> </p>
<p><a href="http://think.web.id/brain/wp-content/uploads/2008/09/03.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-336" title="03" src="http://think.web.id/brain/wp-content/uploads/2008/09/03-300x174.jpg" alt="" width="300" height="174" /></a></p>
<p> </p>
<p>Uniknya, dunia baru satu ini juga memungkinkan satu lagi jenis komunikasi baru. <em>Word of mouth</em> yang terjadi dalam dunia online. Peluncuran sebuah film misalnya, sebelum diluncurkan, sang pemilik film bermonolog, memperkenalkan filmnya. Para penerima pesan karena tertarik dengan monologue sang source kemudian berdialog, namun dialog disini terjadi diantara sesama <em>receiver</em>.  Dan yang menarik pada akhirnya <em>source </em>hanya perlu berkomunikasi pada beberapa <em>receiver </em>dan para <em>receiver </em>akan melakukan amplifikasi pesan terhadap sesama <em>receiver</em>.  <em><strong>Jadi pola komunikasinya adalah: seource -&gt; receiver dan receiver &lt;-&gt; receiver</strong></em>. Pola trialogue ini sebenarnya bisa diaplikasikan untuk bermacam brand, terutama ketika mereka melakukan promosi (produk baru, kemasan baru, servis baru, anything). </p>
<p>Bagaimana cara komunikasi seperti ini memberi manfaat kepada para pemasar online? Gampang, cobalah untuk melakukan online monitoring di social media, tempat user biasa berada. Kemudian lihat:</p>
<ul>
<li>Semakin positif komentar yang didapat dari amplifikasi pesan yang digaungkan oleh para <em>receiver</em>, maka semakin besar kemungkinan brand atau apapun yang dikomunikasikan oleh source akan sukses. </li>
<li>Selain itu semakin besar amplifikasi (dalam artian semakin banyak receiver yang membicarakan, diluar hasil positif atau negatif yang didapatkan), maka kemungkinan pesan yang dikomunikasikan sukses akan semakin besar lagi. </li>
</ul>
<p>Kalau belum terpanggil hatinya untuk bisa menciptakan trialogue dalam komunikasi online yang dipunya, wah sepertinya better start now. Karena terus terang, monologue sangat membosankan! Dialog bagus cuma terjadi di film karya segelintir sutradara bagus! Yang dibutuhkan adalah gosip terkini dari sekumpulan ibu-ibu penggosip! Be aware of this:</p>
<blockquote><p>&#8220;<em>consumers will always talk about brand, you&#8217;d better tap into the hottest gossip and get them talking (about your brand offcourse).</em>&#8220;</p></blockquote>
<p> </p>
<p><em>Source: courtessy of 360 digital influence</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/brain/trialogue/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

