Tuatara

Thursday, September 25th, 2008, By
Filed under: General

Tuatara?
Ini sejenis situs web 2.0 barukah? Sejenis jurus strategi online marketing mutakhirkah? Apa? Apa?

Ah ternyata, Tuatara ini hanyalah sejenis binatang! Iya binatang yang konon termasuk binatang purba. Lebih tepatnya reptil purba.  Ini semua gue ketahui ketika sedang asik baca e-zine (I’m too lazy to buy the real stuff, so I read the online version instead).

Ada sepenggal berita di majalah Femina:

  • Konon, sebuah museum di Selandia Baru sedang menanti kelahiran 12 ekor tuatara dari pasangan Tuatara Henry dan Mildred. Usia mereka? Kalau dibanding dengan usia manusia, bisa dikatakan lansia karena Henry diperkirakan berusia 111 tahun dan Mildred berusia 70-80 tahun. Kabarnya juga Henry sudah menghuni Museum Southland sejak tahun 1970 dan baru tertarik untuk menghasilkan keturunan baru-baru ini saja. Selain dari Mildred, Henry juga sedang menanti anak dari pasangan lainnya yang akan bertelur di Maret 2009. Tuatara ini adalah salah satu spesies reptil yang hidup bersama dinosaurus 225 juta tahun yang lalu.

 

 

 

Potongan berita ini, walaupun hanya secuil berita kecil ternyata tetap menarik untuk disinggung dan dicerna. Karena:
  1. Nama reptil purba itu menarik Tuatara. Sebuah nama yang menurut gue tepat banget untuk reptil yang pernah hidup bersama dinosaurus 225 juta tahun yang lalu: TUA! Karena penasaran saya coba cari tahu lebih banyak soal Tuatara. Salah satu sumber online (yup its Wikipedia) menyebutkan bahwa Tuatara itu adalah reptil endemic di New Zealand, jadi hampir mirip seperti komodo yang cuma ada di Pulau Komodo. Ukurannya lebih kecil dari komodo, karena biasanya cuma berukuran 80cm dari ujung kepala hingga ujung ekornya. Dan nama Tuatara itu ternyata diambil dari bahasa Maori, penduduk asli New Zealand, yang artinya peaks on the back, mungkin karena punggungnya yang bergerigi.
  2. “Konon, sebuah museum di Selandia Baru sedang menanti kelahiran 12 ekor tuatara”. Here’s the question, selama ini yang gue tau sebuah museum hanya mengabadikan benda-benda peninggalan prasejarah or benda bersejarah, bukan actual living creature. Kalau misalnya beritanya diawali dengan sebuah kebun binatang di Selandia Baru, gue gak akan terlalu bertanya-tanya, karena kalau ada binatang (karena yang lahir 12 ekor) lahir di kebun binatang itu sih wajar. Back to the museum, ternyata museum yang namanya adalah Southland Museum ini memang punya sebuah Tuatara gallery, untuk sebuah program yang namanya “captive Tuatara breeding programme”, sejenis penangkaran gitu. 
  3. Henry Age is 111 and Mildred Age is 80,  bahkan mereka lebih tua dari my grandparents! Dan mereka masih menantikan kehadiran anak. Buat gue ini mencengangkan! Tuatara punya average lifespan sekitar 60 tahun dan bisa hidup hingga 100 tahun atau lebih.  Perkembangbiakan Tuatara termasuk yang paling lambat. Mereka baru dewasa (akil balik) di umur 10 tahun dan sang betina hanya akan bertelur 1x dalam 4 tahun. 
  4. One more thing, sepertinya untuk memastikan kalau populasi Tuatara tidak punah, Henry sang Tuatara Jantan mengorbankan diri dengan memiliki 2 istri dan memiliki lebih dari satu anak. Sepertinya kalau sudah diambang kepunahan poligami kadang menjadi pilihan ya.
  5. Mau lihat penampakannya si Henry? Tuatara yang tinggal di Southland Museum and Art Gallery, yang masih aktif bereproduksi di usianya yang sudah menginjak 111 tahun?
Rama‘s Think:
Nggak heran lifespan nya sangat panjang, namanya juga Tuatara… mungkin beda kalo Mudatara. Hehehehe.

brain.think.web.id is a
blog of ramya & anantya

Powered by Wordpress.
All rights is now also lefts. 2010