24 May 2010 ~ 2 Comments ~ By

Time on Site vs Bounce Rate

Ada dua metriks yang penting untuk diperhatikan dalam Google Analytics, yaitu Time on Site dan Bounce Rate. Kedua metriks ini berguna untuk mengukur kualitas performa website. Time on site adalah waktu rata-rata yang dihabiskan user dalam suatu halaman. Bounce rate adalah prosentase user yang langsung keluar setelah mengunjungi suatu halaman.

Mengapa Time on Site penting?
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, time on site mengukur seberapa lama seseorang berada dalam sebuah halaman. Cara pengukurannya adalah akumulasi waktu saat user berpindah ke halaman lain. Dengan kata lain, user yang tidak pindah ke halaman lain maka time on site-nya 0 (nol), walaupun user menghabiskan waktu lama di halaman tersebut. Dari sini terlihat apabila time on site makin besar, tentunya makin baik, karena selain user menghabiskan waktu lama di satu halaman, sudah dapat dipastikan user juga membuka halaman lain.

Mengapa Bounce Rate penting?

Bounce rate menggambarkan prosentase user yang langsung keluar setelah mengunjungi satu halaman. Metriks ini penting karena memberi informasi sejauh mana user tertarik dengan website kita. Jika user hanya membuka satu halaman kemudian langsung keluar, tentunya kita tidak berpikir bahwa user tertarik untuk berada di website, bukan? Bounce rate yang baik adalah yang nilainya terus mengecil. Hal ini menandakan user lebih tertarik untuk membuka halaman lain ketimbang langsung keluar.

Time on Site vs Bounce Rate

Dari kedua penjelasan tersebut terlihat bahwa konsep time on site dan bounce rate hampir serupa. Yaitu menghitung mereka yang membuka lebih dari satu halaman. Dengan demikian, jika time on site besar, maka seharusnya bounce rate makin kecil.

Benar begitu?

Idealnya memang demikian, namun pada kenyataannya dalam satu halaman muncul angka time on site yang besar, namun prosentase bounce rate juga besar. Bagaimana mungkin ini terjadi? Seharusnya tidak demikian bukan? Hal ini sempat membuat saya pusing juga, namun akhirnya tim mendapatkan penjelasan.

Begini penjelasannya.

Misalkan pengunjung X mengawali kunjungan di halaman A dan langsung keluar di halaman A juga, dengan demikian pada halaman A tercatat prosentase bounce rate 100% dan time on site 0.

Kemudian pengunjung Y mengawali kunjungan di halaman home kemudian pindah ke halamanĀ  A, mengahabiskan waktu 15 menit dan keluar. Bagaimana metriks mencatat aktivitas hi halaman A? Benar, bounce rate 100% dan time on site 0. Ingat bahwa time on site akan dihitung ketika user berpindah ke halaman lain.

Ada lagi pengunjung Z mengawali kunjungan di halaman home, lanjut ke halaman A, menghabiskan waktu selama 15 menit untuk membaca artikel dan play lagu yang kebetulan ada disana, kemudian mengakhiri kunjungan di halaman B. Bagaimana metriks mencatat hal ini? Ternyata metriks akan mencatat time on site 20 menit dan bounce rate 100%.

Begitulah penjelasan terjadinya bounce rate dan time on site yang sama-sama besar. Dengan memahami hal ini, tentunya kita tidak lagi terburu-buru menyimpulkan eror yang terjadi dalam satu halaman karena bounce rate yang besar. Bounce rate besar memang menjadi salah satu indikasi bahwa ada sesuatu dengan website kita, namunĀ  perlu dianalisa lagi lebih dalam kenapa bounce rate dapat terjadi.

Misal munculnya angka bounce 0% dengan time on site 0 pada statistik suatu halaman, dapat diartikan bahwa halaman itu memang lebih tepat dijadikan halaman ending atau closing, misalnya pada halaman conversion.

Mengetahui penyebab munculnya angka pada website tentunya akan menghasilkan treatment yang berbeda dalam mengatasinya.

Selamat menganalisa…

2 Responses to “Time on Site vs Bounce Rate”

  1. kikuk 2 September 2010 at 7:58 pm Permalink

    hohoho… seperti itu ya bos…!!!

  2. fiki 8 April 2012 at 5:46 pm Permalink

    cool!!


Leave a Reply