Goal juga harus “diukur” dan dinilai
Setiap tindakan yang dilakukan secara sadar pasti memiliki tujuan. Manusia melakukan sesuatu karena menginginkan hasil yang didapat dari tindakannya itu. Bila saya bertanya, mengapa Anda sarapan? Apakah jawaban Anda?
- Agar bisa lebih konsentrasi dalam melakukan kegiatan
- Agar tidak lemas saat beraktivitas
- Untuk menghilangkan rasa lapar saya di pagi hari
- Untuk menghilangkan rasa khawatir orang tua, dan sebagainya.
Jawaban-jawaban di atas adalah jawaban yang mungkin muncul saat Anda ditanya dengan pertanyaan tersebut. Tentunya, masih banyak jawaban lain yang mungkin muncul. Apapun jawaban Anda, pastinya, ada tujuan dari tindakan “sarapan”.
Analogi dari tindakan manusia ini bisa diterapkan dalam website. Website dibuat pasti memiliki tujuan tertentu. Perusahaan Anda mungkin membuat website agar konsumen lebih aware dengan produk mereka, atau dengan kata lain untuk meningkatkan brand awareness. Ada juga perusahaan yang membuat website dengan tujuan mengumpulkan member. Apapun itu, tujuan ditetapkan untuk membuat arah website lebih jelas.
Ada dua kategori goals (tujuan), yaitu nonfinancial dan financial goals (Sostre & LeClaire, 2007). Nonfinancial goals beberapa contoh tujuannya adalah memasuki wilayah territorial baru, menambah produk, layanan, konten, atau customer support features dalam website. Financial goals contohnya antara lain ingin meningkatkan penjualan sebanyak 25 juta rupiah dibanding tahun lalu. Tujuan-tujuan semacam ini disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan dalam membuat website.
Sebagai orang yang memiliki tujuan, tentunya Anda menginginkan titik akhir “tercapainya tujuan”. Lalu, bagaimana caranya agar tujuan yang telah ditetapkan dapat dipantau perkembangannya? Bagaimana memastikan tujuan Anda sudah tercapai atau belum?
Nah, berbahagialah Anda yang telah memiliki account Google Analytics (GA). Mengapa? Karena GA menyediakan feature yang membantu Anda mengetahui sejauh mana jarak yang terbentang antara keadaan Anda saat ini dengan keadaan yang Anda harapkan atau tujuan Anda. Feature yang dimaksud adalah goal conversion. Pada prinsipnya, goal conversion merupakan pecahan-pecahan kecil dari tujuan utama Anda atau bisa dikatakan sebagai operasionalisasi dari tujuan utama. Saya akan memberikan contoh untuk mempermudah pemahaman tentang hal ini.
Misalkan tujuan utama Anda adalah menambah member menjadi dua kali lipat di akhir bulan. Lalu, Anda melakukan setting goal conversion di GA, dengan menjadikan jumlah user yang sign in sebagai goal. Nah, setiap user yang melakukan sign in di website Anda, itulah yang disebut sebagai conversion. Anda bisa memberikan value pada tiap conversion yang terjadi. Tujuan diberikannya value adalah untuk mengubah goal Anda yang awalnya categorical variable menjadi continues variable. Hal ini dilakukan untuk memberikan penilaian pada tiap conversion yang terjadi.
Oke, bila Anda sudah mengaktifkan goal conversion di website Anda, Anda akan mengetahui sejauh mana tujuan Anda tercapai. Anda juga dapat mengetahui nilai dari masing-masing goal yang telah Anda buat. Goal mana yang “lebih mahal” dibanding goal lainnya. Goal yang “lebih mahal” tentu memiliki tingkat urgensi yang lebih tinggi dibandingkan goal lainnya. Jadi, silahkan berkreasi membuat goal. Tentukan mana yang lebih penting, beri nilai yang lebih tinggi, dan lihat perkembangannya di akhir bulan.
Referensi:
Sostre, P. & LeClaire, J. (2007). Web Analytics for Dummies. United States of Amerika: Wiley Publishing, Inc.
Photos

