24 August 2010 ~ 0 Comments ~ By

Kisah Si Landing Page (#1)

Halo, apa kabar?
Seperti biasa, sebelum masuk ke topik inti, saya akan mengajak Anda untuk berandai-andai. Silahkan regangkan otot Anda sebelum memulainya. Satu.. dua.. tiga..

Yup, apakah Anda sudah siap? Mari kita mulai berandai-andai. Bayangkan, Anda berada di sebuah kota pusat perbelanjaan yang ramai. Anda sedang berjalan di trotoar, dimana di samping trotoar tersebut berjejer berbagai macam toko.Anda lalu melihat sebuah toko bernama “Business Style”. Bila saya bertanya kepada Anda: “apa yang Anda asumsikan tentang isi toko tersebut?”

Kalau menurut asumsi saya, toko tersebut adalah toko yang menjual perlengkapan kantor, baik itu pakaian, tas, sepatu, dasi, dan perlengkapan kantor lainnya. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda memikirkan hal yang sama dengan saya? Saya berani bertaruh, sebagian besar dari Anda sepandangan dengan saya. Asumsi itu timbul ketika saya mengetahui nama dari toko tersebut.

Bayangkan saat ini, Anda membutuhkan dua atau tiga setelan jas karena dalam beberapa minggu terakhir Anda harus menghadiri beberapa meeting yang mewajibkan Anda memakai jas. Oleh karena itu, based on kebutuhan Anda akan jas dan based on asumsi Anda terhadap toko tersebut, Anda memutuskan untuk melangkahkan kaki dan memasuki area toko “Business Style”.

Ternyata, ketika Anda sudah berada didalam toko, kebanyakan, barang-barang yang dijual adalah pakaian remaja, yang tentunya terkesan informal dan bukan barang-barang yang Anda harapkan. Apakah yang akan Anda lakukan? Apakah Anda merasa kesal? Apakah Anda langsung keluar dari toko tersebut karena tidak menemukan barang yang Anda cari? Sekali lagi, saya berani bertaruh, sebagian besar dari Anda akan pergi meninggalkan toko tersebut.

Yup, hal inilah yang mungkin terjadi bila pemilihan judul atau mungkin pesan promosi yang kita lakukan tidak tepat. Mungkin banyak pengunjung yang akan datang akibat pesan promosi tadi, namun apakah tujuan promosi “hanya untuk dilihat atau dikunjungi”? Tentu saja tidak. Hal yang diinginkan adalah mengarahkan audience untuk “mengonsumsi” produk kita, atau yang biasa disebut sebagai melakukan conversion.

Lalu, bagaimana caranya mengarahkan audience untuk melakukan conversion? Bila disambungkan dengan situasi toko di atas, apakah yang akan terjadi jika barang-barang yang dijual di “Business Style” adalah pakaian, tas, sepatu, atau perlengkapan kantor lainnya? Tentunya, probability Anda untuk membeli barang di toko tersebut lebih besar bukan? Dengan kata lain, kemungkinan Anda untuk melakukan conversion lebih besar.

Pesan yang diterima diawal dengan kenyataan penting dalam mengarahkan audience melakukan conversion. Sinkronisasi yang tepat antara keduanya mendorong terjadinya proses conversion. Saat menerima pesan dari nama toko “Business Style” dan melihat pakaian dan perlengkapan kantor di dalamnya, Anda tentunya akan melanjutkan melihat-lihat toko tersebut. Sehingga, mungkin saja lebih dari dua atau tiga setelan jas yang Anda beli, mungkin ditambah dengan sepatu atau barang lainnya.

Dari pengandaian toko “Business Style”, saya akan membawa Anda ngobrol soal keberadaan Landing Page! Simak lanjutan uraiannya dalam Kisah Si Landing Page (#2).

Lihat Juga:
Kisah Si Landing Page (#3)

Leave a Reply