Kisah Si Landing Page (#2)
Seperti sebuah kencan pertama, mantra yang perlu diingat disini adalah, kesan pertama sangatlah penting. Bagaimana kesan pertama situs Anda?
Landing page merupakan kesan pertama visitor terhadap situs Anda. Mengapa? Karena landing page merupakan halaman yang pertama kali dimasuki visitor dalam website Anda. Disini, hal yang penting adalah:
1. “apakah landing page sesuai dengan pesan yang diterima oleh visitor sebelum mereka masuk ke dalam situs Anda?”
2. “apakah pesan dan landing page sudah sesuai dengan website/tujuan website Anda atau tidak?”
Sebelum memulai pembahasan mengenai landing page, untuk yang belum membaca Kisah Si Landing Page (#1), silahkan anda ikuti sesi berandai-andai saya ya.
Landing page yang baik adalah landing page yang dapat mengarahkan visitor untuk melakukan conversion. Pertanyaan berikutnya, bagaimana menentukan landing page yang baik? Sebelum menjawabnya, saya ingin berbagi pengalaman tentang hal ini.
Dulu, saya beranggapan bahwa landing page yang baik adalah landing page yang memiliki bounce rate yang rendah. Dan, dengan mudahnya menilai landing page yang memiliki bounce rate tinggi itu tidak baik.
Pemikiran itu timbul dari asumsi bahwa landing page yang baik adalah landing page yang mengarahkan visitor untuk membuka halaman lain dalam website. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda juga berpendapat sama dengan saya?
Pada dasarnya, sebagian pemikiran itu benar. Karena, landing page yang dapat mengarahkan visitor untuk membuka halaman berikutnya (bounce rate rendah) memiliki kesan yang baik dimata visitor. Bila dalam kasus sebelumnya Anda melanjutkan melihat-lihat barang selain jas, tentunya toko “Business Style” memiliki kesan baik di mata Anda bukan? Namun, apakah cukup berhenti sampai disitu? Jawabannya tidak.
Bounce rate rendah tidak selamanya menjamin efektif atau tidaknya landing page. Lalu, apa yang menjadi ukuran efektif atau tidaknya landing page? Jawabannya adalah, ada atau tidaknya conversion yang dilakukan visitor yang masuk melalui landing page tersebut. Toko “Business Style” akan memperoleh keuntungan bila banyak pengunjung yang datang dan membeli, bukan hanya melihat-lihat saja. Begitu juga dengan website Anda. Anda tidak akan memperoleh keuntungan selama visitor tidak melakukan conversion.
Bagaimana mengaitkan landing page dan conversion? Saya akan membahasnya di Kisah Si Landing Page (#3)
Lihat Juga:
Kisah si landing page (#1)

Ia bener awalnya selalu menilai kesana. Padahal
Tolak ukur harusnya di conversion.
Contoh populer lain misalnya, sebuah web yg di fokuskan dengan maksud adsense
Tentu berharap klik yg banyak, nah ini tentu diperlukan bouncerate yg tinggi berbeda dengan web ecommerce.
Masih ada juga blog personal, yg ini lebih seger diliat tuk post yg terupdate tentu beda dengan model magazine yg mengharapkan bolak balik halaman.
Cuman yg saya masih penasaran, visitor bisa dikatakan bounce jika hanya stay berapa lama yah?
Dear Arham,
Visitor dikatakan bounce apabila ia langsung keluar dari website setelah mengunjungi hanya satu halaman, tidak peduli berapa lama ia stay dalam halaman tersebut.
Semoga jawabannya membantu