<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Think.Numb3rs Blog</title>
	<atom:link href="http://think.web.id/numb3rs/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://think.web.id/numb3rs</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 13 Jan 2012 10:10:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Bisakah Percaya Angka Share Button?</title>
		<link>http://think.web.id/numb3rs/2012/01/bisakah-percaya-angka-share-button/</link>
		<comments>http://think.web.id/numb3rs/2012/01/bisakah-percaya-angka-share-button/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 10:10:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alit Mahendra Bramantya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analytics Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[Social Media Measurement]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/numb3rs/?p=452</guid>
		<description><![CDATA[sejak awal minggu ini Think.Web menguji coba siaran online radio yang beralamat di http://thinkweb.listen2myradio.com/ dan yang ingin saya bahas kali ini adalah fitur share button (facebook like button dan tweet button) yang disediakan oleh listen2myradio. fitur share button ini sekarang sudah menjadi hal yang biasa untuk ditambahkan di berbagai halaman website. dan tentu akhirnya menambah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>sejak awal minggu ini <a title="Think.Web" href="http://think.web.id">Think.Web</a> menguji coba siaran online radio yang beralamat di <a title="#ThinkWebRadio" href="http://thinkweb.listen2myradio.com/">http://thinkweb.listen2myradio.com/</a> dan yang ingin saya bahas kali ini adalah fitur <em>share button</em> (<strong>facebook like button</strong> dan <strong>tweet button</strong>) yang disediakan oleh <strong>listen2myradio</strong>. fitur <em>share button</em> ini sekarang sudah menjadi hal yang biasa untuk ditambahkan di berbagai halaman website. dan tentu akhirnya menambah bahan baru bagi para <em><strong>analyst</strong></em> untuk menganalisa performa halaman tersebut dan bukan tidak mungkin akhirnya menganalisa data yang diberikan oleh<em> share button</em> tersebut.</p>
<div id="attachment_455" class="wp-caption aligncenter" style="width: 210px"><a href="http://think.web.id/numb3rs/wp-content/uploads/2012/01/facebook-twitter-share-button.png"><img class="size-full wp-image-455" title="facebook and twitter share button" src="http://think.web.id/numb3rs/wp-content/uploads/2012/01/facebook-twitter-share-button.png" alt="facebook and twitter share button" width="200" height="70" /></a><p class="wp-caption-text">facebook and twitter share button</p></div>
<p><span id="more-452"></span><em>share button</em> ini sendiri fungsi utamanya adalah untuk mempermudah pengunjung website untuk membagikan halaman website tersebut ke jejaring media sosial yang digunakan, dan dalam kasus ini tentu facebook dan twitter tentunya. yang di lain pihak, juga menguntungkan pengelola website karena pada akhirnya akan meningkatkan jumlah promosi &#8216;gratis&#8217; yang tentunya akan meningkatkan peluang bertambahnya pengunjung yang berasal dari masing-masing media sosial. yang menarik adalah, saat ini hampir semua<em> share button</em> tersebut memberikan panduan angka yang berisi jumlah akun yang membagikan halaman website tersebut di masing-masing media sosial.</p>
<p><strong>bisakah kita percaya pada angka pada share button?</strong></p>
<blockquote><p>angka hanyalah angka ketika kita tidak tau dari mana ia berasal..</p></blockquote>
<p>untuk pertanyaan diatas, jawaban saya adalah <span style="text-decoration: underline;">belum tentu</span>, mengapa? sederhana saja. karena saya belum tahu darimana angka itu berasal.</p>
<p><em>&#8216;angka itu dari twitter! kan itu official button&#8217;</em><br />
<em>&#8216;ohya memang, ada angka berarti ada akun, apakah jumlah akun twitter-nya sama?&#8217;</em></p>
<p>tapi alangkah baiknya apabila bisa diperiksa lebih dalam agar kita bisa lebih memahami maksud dari angka tersebut, <em>nah</em>.. pada saat saya membuat postingan ini, angka  pada <em>tweet button</em> pada halaman Think.Web Radio menunjukkan angka 16.</p>
<div id="attachment_453" class="wp-caption aligncenter" style="width: 360px"><a href="http://think.web.id/numb3rs/wp-content/uploads/2012/01/twitter-count.jpg"><img class="size-full wp-image-453" title="tweet button counter say 16" src="http://think.web.id/numb3rs/wp-content/uploads/2012/01/twitter-count.jpg" alt="tweet button counter say 16" width="350" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">tweet button counter say 16</p></div>
<p><em>&#8216;wah banyak juga ya?&#8217;</em><br />
<em>&#8216;oh jangan senang dulu, kita belum tau angka itu siapa saja&#8217;</em></p>
<p>angka pada<em> tweet button</em> tersebut bisa di-klik yang akan membawa kita ke halaman hasil pencarian twitter, dimana kata kunci pencarian-nya adalah <em>URL</em> website tempat <em>tweet button</em> dipasang. mari kita coba, dan hasilnya adalah sebagai berikut :</p>
<div id="attachment_454" class="wp-caption aligncenter" style="width: 360px"><a href="http://think.web.id/numb3rs/wp-content/uploads/2012/01/twitter-search.jpg"><img class="size-full wp-image-454" title="twitter search say 8" src="http://think.web.id/numb3rs/wp-content/uploads/2012/01/twitter-search.jpg" alt="twitter search say 8" width="350" height="464" /></a><p class="wp-caption-text">twitter search say 8</p></div>
<p><em>&#8216;only 8 from 16? where&#8217;s the rest?&#8217;</em><br />
<em>&#8216;nah, itu dia makanya jangan percaya dulu&#8217;</em></p>
<p><em>nah</em> kebetulan ada beberapa teman yang kembali membagian link halaman tersebut di twitternya, so mari kita lihat lagi halaman tersebut ketika <em>counter</em> pada <em>tweet button</em> sudah bertambah. dan hasilnya pun menjadi 11 dari 22. 11 dari hasil pencarian twitter, dan 22 adalah angka yang ditunjukkan pada<em> tweet button</em>.</p>
<div id="attachment_456" class="wp-caption aligncenter" style="width: 287px"><a href="http://think.web.id/numb3rs/wp-content/uploads/2012/01/tweet-count-22.jpg"><img class="size-medium wp-image-456" title="tweet button say 22, search say 11" src="http://think.web.id/numb3rs/wp-content/uploads/2012/01/tweet-count-22-277x300.jpg" alt="tweet button say 22, search say 11" width="277" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">tweet button say 22, search say 11</p></div>
<p><em>&#8216;mengapa bedanya sama-sama 50%?&#8217;<br />
&#8216; <em>a lost? a share from private account? or a false count?</em>&#8216;<br />
</em></p>
<p>saya pun tak tahu jawabannya, berkaca pada <em>policy</em> twitter yang tidak akan mencantumkan tweet dari akun <em>protected</em>, masih ada kemungkinan angka 22 itu memang benar adanya, akan tetapi.. konsistensi di <em>50% lost</em> yang membuat saya bisa memiliki kesimpulan awal bahwa mungkin saat ini saya belum bisa mempercayai dengan begitu saja angka yang tertera pada <em>tweet button</em>, masih ada beberapa <em>cross check</em> yang harus dilakukan, agar kita bisa meyakinkan diri kita sendiri dan mungkin klien &#8211;<em>nantinya</em>&#8211; bahwa angka yang ada memang valid dan sesuai dengan asli-nya.</p>
<p>mungkinkah perbedaan ini berhubungan dengan <a title="Links and Twitter: Length Shouldn’t Matter" href="http://blog.twitter.com/2010/06/links-and-twitter-length-shouldnt.html"><strong>t.co wrapping</strong></a> yang dilakukan oleh twitter terhadap setiap eksternal link yang dibagikan melalui sebuah tweet? bisa saja. saya tentu berharap ini hanya sebuah <em>bug</em> yang belum terselesaikan.</p>
<p>sebetulnya hingga saat ini saya masih menunggu apa yang akan disajikan twitter pada aplikasi <a title="Introducing Twitter Web Analytics" href="https://dev.twitter.com/blog/introducing-twitter-web-analytics">twitter analytics</a> yang sedang mereka kerjakan, mengingat salah satu teaser yang dikeluarkan adalah mengenai perhitungan efektifitas link yang dibagikan di twitter yang &#8216;katanya&#8217; dimudahkan oleh sistem <a title="Twitter Opens The Kimono On Web Analytics; 3 Million Sites Now Using Tweet Button" href="http://techcrunch.com/2011/09/13/twitter-analytics/">t.co wrapping</a>.</p>
<p>selanjutnya bagaimana? mari kita tunggu saja. dan tentang angka pada <em>tweet button</em>? menurut saya pribadi sih, percaya boleh.. tapi lebih baik mempersenjatai diri dengan alasan yang tepat untuk mempercayainya. selamat menganalisa <img src='http://think.web.id/numb3rs/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/numb3rs/2012/01/bisakah-percaya-angka-share-button/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berhasilkah Ads yang Saya Pasang?</title>
		<link>http://think.web.id/numb3rs/2011/07/berhasilkah-ads-yang-saya-pasang/</link>
		<comments>http://think.web.id/numb3rs/2011/07/berhasilkah-ads-yang-saya-pasang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jul 2011 04:59:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mega</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analytics Opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/numb3rs/?p=421</guid>
		<description><![CDATA[(Banner ditemukan pada http://duniawebid.com; jika di-click akan mengarah ke website Nokia)


Sebagian besar dari Anda yang sudah bergelut di dunia maya, pasti sudah familiar dengan hadirnya Ads saat mengunjungi web tertentu. Salah satu contohnya, Ads Nokia pada duniawebid.com. Sebagaimana layaknya Ads, keefektifannya akan dilihat berdasarkan mampu/tidaknya Ads tersebut mengantar visitor ke web yang dituju. Selain itu, dilihat juga bagaimana kualitas kunjungan yang datang dari Ads, apakah visitor yang masuk melakukan konversi atau tidak.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(<em>Banner ditemukan pada http://duniawebid.com; jika di-click akan mengarah ke website Nokia</em>)</p>
<p><a href="http://think.web.id/numb3rs/wp-content/uploads/2011/04/gambar.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-422" src="http://think.web.id/numb3rs/wp-content/uploads/2011/04/gambar-300x37.jpg" alt="" width="300" height="37" /></a></p>
<p>Sebagian besar dari Anda yang sudah bergelut di dunia maya, pasti sudah familiar dengan hadirnya Ads saat mengunjungi web tertentu. Salah satu contohnya, Ads Nokia pada duniawebid.com. Sebagaimana layaknya Ads, keefektifannya akan dilihat berdasarkan mampu/tidaknya Ads tersebut mengantar visitor ke web yang dituju. Selain itu, dilihat juga bagaimana kualitas kunjungan yang datang dari Ads, apakah visitor yang masuk melakukan konversi atau tidak.</p>
<p><span id="more-421"></span></p>
<p>Dalam pembahasan sebelumnya, sudah sering disebut-sebut tentang Google Analytics. Mungkin beberapa dari Anda sudah pernah mendengarnya. Secara singkat, <a href="http://www.google.com/analytics/">Google Analytics</a> merupakan tools yang dikeluarkan Google untuk melihat efektivitas campaign online. Nah, ternyata, dengan sedikit penambahan kode, kita dapat memeroleh data-data yang dapat mengukur keefektifitasan Ads. Bagaimana caranya?</p>
<ul>
<li><strong>Pastikan web yang dituju sudah ditanam kode GA<br />
</strong></li>
<li><strong>Tambah kode pada link yang dipasang di banner</strong></li>
</ul>
<p style="padding-left: 30px"><em>Kode yang harus ditambahkan dibagi menjadi:</em><br />
<em>Source </em>- nama website tempat pemasangan banner/Ads (Google, Facebook, etc)<br />
<em>Medium</em> &#8211; media yang digunakan untuk Ads (cpc, banner, email, text, etc)<br />
<em>Campaign</em> &#8211; nama campaign dalam Ads tersebut (Video Competition, Writing Contest 2011)<br />
Selain ketiga jenis kode yang harus diisi, ada dua kode tambahan bila diperlukan:<br />
<em>Keyword</em> &#8211; biasanya digunakan saat kita menggunakan keyword berbayar dalam search engine<br />
<em>Ad content</em> &#8211; identitas selengkapnya tentang Ads (homepage banner, headline banner, etc3.</p>
<ul>
<li><strong>Buat link dengan menggunakan <a href="http://www.google.com/support/analytics/bin/answer.py?hl=en&amp;answer=55578">URL Tool Builder</a>.</strong></li>
</ul>
<p>Dengan adanya tagging yang dipasang di tiap Ads, kita dapat melihat dan menganalisis habit visitor yang masuk ke website kita, yang pada akhirnya melakukan konversi.</p>
<p>Voila!! Anda sekarang memiliki data tentang campaign Anda. Tugas Anda selanjutnya adalah melakukan analisis tambahan untuk menjawab pertanyaan besarnya. Berapa banyak visitor yang dihasilkan campaign, bagaimana kualitas kunjungan visitor tersebut, dan sejauh mana visitor yang masuk via campaign melakukan konversi.</p>
<p><strong><em>Selamat menganalisis! ^^</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/numb3rs/2011/07/berhasilkah-ads-yang-saya-pasang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menghitung Kuantitas atau Kualitas?</title>
		<link>http://think.web.id/numb3rs/2011/06/menghitung-kuantitas-atau-kualitas/</link>
		<comments>http://think.web.id/numb3rs/2011/06/menghitung-kuantitas-atau-kualitas/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Jun 2011 03:26:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alit Mahendra Bramantya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analytics Opinion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/numb3rs/?p=437</guid>
		<description><![CDATA[banyak tidak selalu baik, dan yang baik tidak harus banyak. ada banyak perspektif ketika kita berbicara tentang mengukur tingkat keberhasilan dari promosi sebuah website, bagaimana mengukur efektifitas promosi dan konten website yang bersangkutan terhadap kepuasan hati &#8211;bahkan finansial&#8211; dari sang pemilik website. tentang sebuah pencapaian untuk menjadi yang terbaik, dan sebagai apa website ini ingin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>banyak tidak selalu baik, dan yang baik tidak harus banyak.</p></blockquote>
<p>ada banyak perspektif ketika kita berbicara tentang mengukur tingkat keberhasilan dari promosi sebuah website, bagaimana mengukur efektifitas promosi dan konten website yang bersangkutan terhadap kepuasan hati &#8211;<em>bahkan finansial</em>&#8211; dari sang pemilik website. tentang sebuah pencapaian untuk menjadi yang terbaik, dan sebagai apa website ini ingin dikenal.</p>
<p>kenapa website perlu promosi?</p>
<p><span id="more-437"></span></p>
<p>jawaban saya mudah saja, karena manusia yang satu memiliki kecenderungan untuk ingin menjadi lebih dari manusia yang lainnya. &#8211;<em>berbeda? tentu boleh saja</em>&#8211;</p>
<p>apabila kita kembali berbicara tentang pengukuran performa promosi website, argumen sederhana yang saya miliki adalah dengan mengukur seberapa banyak website itu dikunjungi, bagaimana website tersebut ditemukan di website mesin pencari &#8211;<em>tentang posisi, ranking, dst</em>&#8211;, dan seberapa banyak website tersebut di-<em>&#8216;promosi&#8217;</em>-kan di website-website yang lain.</p>
<p><strong>semakin tinggi tentu semakin bagus performanya, benarkah?</strong></p>
<p>untuk mengetahui seberapa tinggi tentu kita harus memiliki datanya, dari mana? tentu kita bisa memanfaatkan servis pencatatan statistik yang banyak beredar di internet. mulai dari yang gratis sampai yang berbayar, dan pada dasarnya masing-masing penyedia hosting telah menyediakan servis pencatatan statistik secara default. data statistik inilah yang akan menjadi rujukan untuk pengukuran performa.</p>
<p style="text-align: center;">
<div id="attachment_438" class="wp-caption aligncenter" style="width: 540px"><a href="http://think.web.id/numb3rs/wp-content/uploads/2011/06/graph.gif"><img class="size-full wp-image-438 " title="graph" src="http://think.web.id/numb3rs/wp-content/uploads/2011/06/graph.gif" alt="" width="530" height="113" /></a><p class="wp-caption-text">Grafik pertumbuhan Visits pada Google Analytics</p></div>
<p>data statistik tidak bisa digunakan sendirian, pengolahan diperlukan untuk menunjukkan apakah performa dari website tersebut telah sesuai dengan target atau indikator keberhasilan yang diinginkan atau tidak, targetnya dari mana? tentu dari kita sebagai pemilik website, tentang cita-cita bagaimana kita ingin website ini dikenal sebagai apa, dicari dengan <em>keyword</em> apa, berkembang menjadi apa, dan kearah mana.</p>
<p>target capaian atau indikator performa ini biasanya ditentukan sebelum diadakan promosi ke berbagai <em>channel. </em>indikator performa itu yang seperti apa? menurut saya, ini sangat bergantung kepada apa yang ingin dicapai, bisa jadi berbentuk <em>keyword</em>, bisa juga berupa angka. misalkan tujuannya adalah finansial, apakah item finansial ini diperoleh dengan kualitas kunjungan, atau hanya dengan kuantitas kunjungan pada website.</p>
<p>penentuan indikator performa/keberhasilan menjadi penting untuk  memberikan kita panduan yang jelas dalam menentukan proses  <em>campaign</em>/promosi yang telah, sedang, atau akan dilakukan untuk  menjadikan website ini yang terbaik di kelasnya.</p>
<p>beberapa situs pencatat ranking website yang telah menjadi standar internasional, kadang masih menggunakan metode konvensional  yaitu jumlah traffic yang masuk untuk menentukan peringkat sebuah website, namun beberapa website lain mulai  bergerak mengukur tidak hanya traffic, tapi juga kualitas dan relevansi  konten.</p>
<p><strong>lalu promonya melalui apa?</strong></p>
<p>promosi website sendiri dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, mulai dengan menerapkan metode <em>Search Engine Optimization</em>, melakukan cross-posting di social media &#8211;seperti facebook, twitter, google buzz dst&#8211;, saling bertukar backlink dengan website-website yang lain, dan yang terpenting menurut saya adalah menuliskan konten yang memiliki relevansi dengan target keyword atau indikator performa yang kita inginkan.</p>
<p>aplikasi pengukuran statistik website secara umum, memiliki banyak sekali metric yang dapat digunakan sebagai kisi indikator utama pengukuran performa. metric-metric ini &#8211;apabila digabungkan atau dibandingkan&#8211; tidak hanya dapat menginformasikan tentang kuantitas pengunjung website, namun juga menunjukkan kualitas kunjungan.</p>
<p>dan aplikasi pencatatan statistik website pun seringkali menjebak mindset kita dengan  deretan metric dan angka saja, tanpa informasi lebih lanjut tentang bagaimana angka-angka tersebut dapat bermanfaat, tanpa informasi dan analisa yang tepat,  angka tersebut hanya akan berupa angka yang tidak berarti apa-apa. &#8211;<em>kadang kala kita perlu bantuan analis untuk membaca data tersebut</em>&#8211;</p>
<p>mengambil beberapa istilah pada Google Analytics, jumlah visitors atau pageview misalnya &#8211;ketika berdiri sendiri&#8211;, tidak akan merepresentasikan apapun selain kuantitas kunjugan, mengapa? karena deretan-deretan angka tersebut tidak bisa memberikan informasi lanjutan tentang siapa dan bagaimana perilaku pengunjung website, apa yang mereka cari, bagian mana yang mereka suka, bagian mana yang tidak, dan masih banyak hal lainnya.</p>
<p>namun ketika data tersebut digabungkan menjadi seperti page/visit, page performance, dst. pemilik website dapat menemukan informasi baru yang dapat digunakan untuk membantu lebih mengenal pengunjung websitenya. dan informasi inilah yang kemudian memberikan gambaran lebih jelas mengenai konten atau metode promosi apa yang akan dilakukan berikutnya untuk semakin menaikkan peringkat dan tingkat keberhasilan dari promo websitenya.</p>
<blockquote><p>menurut saya ini bukan tentang jumlahnya, tapi nominalnya. 10 lembar uang 100000 rupiah tentu bernilai lebih tinggi ketimbang 100 keping uang 100 rupiah.</p></blockquote>
<p>sebuah contoh kasus, ketika pada bulan pertama kita melakukan promo terhadap sebuah website, kita mendapatkan 100 pageview  dan pada bulan berikutnya kita mendapatkan 500 pageview. apakah kemudian ini bukti bahwa promo yang kita lakukan berhasil? jawaban saya belum tentu, mari coba kita perdalam.</p>
<div id="attachment_439" class="wp-caption aligncenter" style="width: 540px"><a href="http://think.web.id/numb3rs/wp-content/uploads/2011/06/graph2.gif"><img class="size-full wp-image-439 " title="graph2" src="http://think.web.id/numb3rs/wp-content/uploads/2011/06/graph2.gif" alt="" width="530" height="113" /></a><p class="wp-caption-text">Visits vs Pageviews</p></div>
<p>pada contoh kasus diatas, kita tidak bisa hanya berpatokan pada satu metric saja. kita masih harus membandingkan beberapa metrics yang lain. pageview memang mengalami peningkatan yang signifikan, tapi apakah demikian dengan metric yang lain? contoh beberapa yang harus diperiksa antara lain:</p>
<ol>
<li>berapa visit yang dihasilkan per-bulan, dan presentase kenaikannya.</li>
<li>berapa unique visitor per-bulan, dan presentase kenaikannya.</li>
<li>presentase kenaikan referral link, dan tabel referral link tertinggi.</li>
<li>grafik persebaran traffic source.</li>
</ol>
<p>dengan tambahan pemeriksaan diatas,  apabila hasil pemeriksaan juga menghasilkan peningkatan yang signifikan, maka bisa jadi promo yang dilakukan dapat dikatakan berhasil, dan apabila sebaliknya, maka bisa dikatakan bahwa promonya tidak berhasil.</p>
<p>berhasil atau tidak berhasil akan menjadi pemikiran dan asumsi yang subyektif ketika tidak ada indikator performa yang tepat dan berkualitas.</p>
<p>bagaimana menurut anda? mari belajar menganalisa bersama <img src='http://think.web.id/numb3rs/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>*) tulisan ini juga dimuat di blog pribadi saya di <a title="http://alitmahendra.com" href="http://alitmahendra.com" target="_blank">http://alitmahendra.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/numb3rs/2011/06/menghitung-kuantitas-atau-kualitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Si Mister[ius] Twitter &amp; Angka Penting?</title>
		<link>http://think.web.id/numb3rs/2010/11/si-misterius-twitter-angka-penting/</link>
		<comments>http://think.web.id/numb3rs/2010/11/si-misterius-twitter-angka-penting/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Nov 2010 02:39:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mega</dc:creator>
				<category><![CDATA[Social Media Measurement]]></category>
		<category><![CDATA[activity on Twitter]]></category>
		<category><![CDATA[follower]]></category>
		<category><![CDATA[interaction on Twitter]]></category>
		<category><![CDATA[reply]]></category>
		<category><![CDATA[RT]]></category>
		<category><![CDATA[tweet]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/numb3rs/?p=359</guid>
		<description><![CDATA[Pada posting sebelumnya (baca: Si Mister[ius] Twitter), saya sempat menyinggung manfaat Twitter dalam dunia bisnis online. Apakah ada diantara Anda yang sudah menggunakan manfaat tersebut? Posting kali ini lebih ditujukan pada Anda yang menggunakan Twitter sebagai media bisnis Anda. Ternyata, Si Mister[ius] Twitter memiliki  angka-angka penting yang harus diperhatikan oleh Anda pebisnis online. Angka apa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada posting sebelumnya (baca: <a href="http://think.web.id/numb3rs/2010/11/si-misterius-twitter/">Si Mister[ius] Twitter</a>), saya sempat menyinggung manfaat Twitter dalam dunia bisnis online. Apakah ada diantara Anda yang sudah menggunakan manfaat tersebut? Posting kali ini lebih ditujukan pada Anda yang menggunakan Twitter sebagai media bisnis Anda.</p>
<p>Ternyata, <a href="http://think.web.id/numb3rs/2010/11/si-misterius-twitter/">Si Mister[ius] Twitter</a> memiliki  angka-angka penting yang harus diperhatikan oleh Anda pebisnis online. Angka apa sajakah itu?</p>
<p><span id="more-359"></span></p>
<p><strong>1. Jumlah Follower</strong></p>
<p><a href="http://think.web.id/numb3rs/wp-content/uploads/2010/11/followe-me3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-398" src="http://think.web.id/numb3rs/wp-content/uploads/2010/11/followe-me3.jpg" alt="" width="225" height="225" /></a></p>
<p>Dalam posting sebelumnya, saya sempat mengatakan bahwa penting bagi Anda  untuk meningkatkan follower. Angka ini menunjukkan seberapa luas  promosi Anda akan tersebar.</p>
<p><strong>2. Interaction with Follower</strong></p>
<p><a href="http://think.web.id/numb3rs/wp-content/uploads/2010/11/twitter-comic1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-399" src="http://think.web.id/numb3rs/wp-content/uploads/2010/11/twitter-comic1-300x246.jpg" alt="" width="300" height="246" /></a></p>
<p>Jumlah follower Anda banyak, puluhan ribu, tapi berapakah dari puluhan ribu follower tersebut yang merespon tweet Anda? Angka ini penting diketahui. Mengapa? Angka ini menunjukkan berapa banyak follower yang tertarik pada informasi yang Anda berikan. Semakin banyak respon dari follower, semakin efektif promosi Anda. Interaction with follower diketahui dari jumlah mention, yang mencakup jumlah retweet dan reply.</p>
<p><strong>3. Your Account Activity</strong></p>
<p><a href="http://think.web.id/numb3rs/wp-content/uploads/2010/11/twitter-activity1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-400" src="http://think.web.id/numb3rs/wp-content/uploads/2010/11/twitter-activity1.jpg" alt="" width="225" height="225" /></a></p>
<p>Angka lain yang perlu diketahui adalah angka yang menunjukkan aktivitas akun Anda. Berapa banyak akun Anda melakukan promosi (tweets) per bulan dan berapa banyak akun Anda memberikan respon pada tweets follower (RT dan reply) dapat mempengaruhi efektivitas promosi online Anda. Saya menemukan tools untuk menghitung aktivitas akun Twitter Anda. Silahkan kunjungi tweetstats (link:http://tweetstats.com).</p>
<p>Ketiga penghitungan angka yang dimiliki Twitter berguna untuk melihat efektivitas promosi online Anda dari bulan ke bulan. Perhatikan angka trend yang terjadi seperti pada bulan manakah promosi Anda lebih efektif dan apa saja yang Anda lakukan di bulan tersebut. Ketiga angka ini dapat dijadikan pembelajaran untuk meningkatkan efektivitas promosi online Anda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/numb3rs/2010/11/si-misterius-twitter-angka-penting/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Si Mister[ius] Twitter</title>
		<link>http://think.web.id/numb3rs/2010/11/si-misterius-twitter/</link>
		<comments>http://think.web.id/numb3rs/2010/11/si-misterius-twitter/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Nov 2010 11:23:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mega</dc:creator>
				<category><![CDATA[Social Media Measurement]]></category>
		<category><![CDATA[follower]]></category>
		<category><![CDATA[following]]></category>
		<category><![CDATA[reply]]></category>
		<category><![CDATA[RT]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/numb3rs/?p=352</guid>
		<description><![CDATA[“Follow gue di twitter ya!” “eh jangan lewat sana, macet, gue baru dapet infonya di twitter!” “Asik follower gue nambah, sekarang gue punya 30.000 twitter follower” Sebenarnya apa sih Twitter itu? Apakah Anda juga punya Twitter? Sejak kapan Anda memiliki Twitter? Mengapa Anda tertarik untuk “twitteran”? Menurut sharpened.net (link: http://www.sharpened.net/glossary/definition.php?twitter) Twitter merupakan sebuah media dimana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>“Follow gue di twitter ya!”<br />
“eh jangan lewat sana, macet, gue baru dapet infonya di twitter!”<br />
“Asik follower gue nambah, sekarang gue punya 30.000 twitter follower”</em></p>
<p>Sebenarnya apa sih Twitter itu? Apakah Anda juga punya Twitter? Sejak kapan Anda memiliki Twitter? Mengapa Anda tertarik untuk “twitteran”?<span id="more-352"></span></p>
<p><a href="http://think.web.id/numb3rs/wp-content/uploads/2010/10/twitter11.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-353" src="http://think.web.id/numb3rs/wp-content/uploads/2010/10/twitter11.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a></p>
<p>Menurut sharpened.net (link: <a href="http://www.sharpened.net/glossary/definition.php?twitter">http://www.sharpened.net/glossary/definition.php?twitter</a>) Twitter merupakan sebuah media dimana Anda bisa berhubungan dengan teman-teman Anda melalui satu pertanyaan sederhana “Apa yang sedang Anda lakukan?”. Saat akun Anda aktif, Anda bisa menerima berita apa saja dari orang-orang yang Anda follow (following). Sebaliknya, Anda juga bisa menyebarkan berita apa saja pada orang-orang yang follow Anda (follower).</p>
<p>Sebuah konsep mekanisme yang sederhana. Anda hanya perlu update status – tweets –  menuliskan apa yang sedang Anda lakukan, rasakan, atau pikirkan saat itu. Setelah itu, buka list mention untuk melihat apakah ada tanggapan dari teman Anda tentang status tersebut. Pada menu home, Anda juga bisa melihat status dari teman-teman Anda, dan klik RT (untuk menyebarkan info) atau reply bila ingin menanggapinya.  Mudah bukan?</p>
<p>Tapi tunggu dulu, ternyata tidak semua orang menganggap Twitter itu mudah. Bahkan ada yang mengatakan Twitter itu “ribet”. Pendapat itu muncul dari beberapa teman dan saudara saya. Umumnya, mereka tidak mengetahui prinsip dasar Twitter. Mereka sudah terbiasa dengan prinsip dasar Facebook yang serupa dengan Friendster. Padahal seandainya mereka memahami prinsip “following” dan “follower, tentunya Twitter akan terkesan mudah.</p>
<p>Lalu, apa manfaat Twitter?</p>
<ol>
<li>Sama seperti Facebook,      Friendster, Plurk, dan social media lainnya, Twitter merupakan ajang untuk      “stay connected with others”. Ini merupakan fungsi utama Twitter sebagi      social media.</li>
<li>Selain “stay connected      function”, ternyata twitter juga efektif digunakan dalam marketing.      Melalui Twitter promosi akan lebih mudah dilakukan dari “mulut ke mulut”.      Karena, dengan “nge-tweet” Anda bisa membagikan info mengenai produk Anda      ke semua follower Anda. Dengan demikian, yang diperlukan adalah perbesar      follower dan buat tweets yang menarik sehingga follower Anda      me-ReTweet-nya. Info yang di RT follower Anda akan tersebar ke semua      follower Anda dan follower dari follower Anda. Menakjubkan bukan?</li>
</ol>
<p>Nah, setelah melihat manfaatnya, apakah Anda tertarik untuk menggunakan Twitter sebagai penunjang bisnis Anda? Baca posting berikutnya <a href="http://think.web.id/numb3rs/2010/11/si-misterius-twitter-angka-penting/">Si Mister[ius] Twitter &amp; Angka Penting?</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/numb3rs/2010/11/si-misterius-twitter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Klinting…Klinting…Klinting</title>
		<link>http://think.web.id/numb3rs/2010/10/klinting%e2%80%a6klinting%e2%80%a6klinting/</link>
		<comments>http://think.web.id/numb3rs/2010/10/klinting%e2%80%a6klinting%e2%80%a6klinting/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Oct 2010 02:40:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anantya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analytics Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[tracking]]></category>
		<category><![CDATA[traffic]]></category>
		<category><![CDATA[visitor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/numb3rs/?p=342</guid>
		<description><![CDATA[Untuk yang pernah belajar marketing pasti cukup familiar dengan prinsip 3P atau bahkan 7P. Namun diantara semua deret kata yang diawali dengan huruf P tersebut, 2 kata yang berhasil menembus dinding kepala saya adalah Place dan Promotion. Satuan kata yang bila diingat kembali memang sangat penting. Kenapa? Karena &#8220;place&#8221; inilah yang menjadi tempat awal penarik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://think.web.id/numb3rs/wp-content/uploads/2010/10/07-nashville.gov_.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-349" style="margin: 10px;" title="Store Front" src="http://think.web.id/numb3rs/wp-content/uploads/2010/10/07-nashville.gov_-300x204.jpg" alt="" width="300" height="204" /></a></strong>Untuk yang pernah belajar marketing pasti cukup familiar dengan prinsip 3P atau bahkan 7P. Namun diantara semua deret kata yang diawali dengan huruf P tersebut, 2 kata yang berhasil menembus dinding kepala saya adalah Place dan Promotion. Satuan kata yang bila diingat kembali memang sangat penting. Kenapa? Karena &#8220;place&#8221; inilah yang menjadi tempat awal penarik tamu (traffic) masuk ke toko/tempat jualan/etalase yang kita punya. Demikian juga dengan promotion, salah satu fitrah promosi adalah untuk mendatangkan tamu (traffic).</p>
<p>Tinggi rendahnya kunjungan tamu ke toko/etalase/tempat jualan yang kita miliki menentukan laku/tidaknya barang yang sedang kita jual. Lalu, apa hubungannya konsep marketing dengan posisi kita sebagai publisher yang ingin memasang iklan?<span id="more-342"></span></p>
<p>Jangan pindah window dulu, karena jawabannya sebenarnya sangat sederhana. Semakin banyak traffic/visitor yang kita miliki, yang datang ke etalase online (blog) kita, maka secara teori management kita memiliki kesempatan yang lebih besar dalam mendapatkan konversi/pembeli, atau dalam kasus sebagai publisher, orang yang melihat dan melakukan klik pada iklan kita.</p>
<p>Permasalahan paling umum adalah, bagaimana memastikan bahwa etalase kita didatangi banyak orang? Etalase bisa ramai, tapi berapakah yang beneran masuk ke dalam toko? Jawabannya cuma satu: pantau etalase kita! Pernah kan masuk ke sebuah toko, dan sebuah bel kecil berbunyi &#8220;klinting&#8230;klinting&#8230;klinting&#8221;? Logika yang sama sebenarnya berlaku juga bagi etalase online kita. Yang perlu kita lakukan adalah memasang/mempergunakan traffic tracking code. Sehingga setiap kali ada orang yang masuk ke blog kita, bel kecil berbunyi dan mencatat kunjungan yang terjadi.</p>
<p>Gampang kan? Semakin sering bel kita berbunyi, semakin besar kesempatan jualan kita laris manis. Tapi bila bel kecil kita tiba-tiba memutuskan untuk &#8220;mute&#8221;, kita bisa berjaga-jaga dan mengusahakan agar bel kecil tersebut tetap berdenting. Bagaimanapun, Kita tetap butuh traffic agar barang jualan Kita “dilirik” atau bahkan “dibeli” orang.</p>
<p>Tugas yang sedikit lebih berat setelah pemasangan bel kecil tadi sebenarnya adalah melihat sejauh mana orang yang berkunjung pada akhirnya melakukan pembelian terhadap apapun yang ditawarkan dalam etalase kita. Penasaran? Sabar, dalam pembahasan selanjutnya kita akan masuk ke bagaimana serunya analogi kamera cctv atau barcode dalam pengukuran analytics untuk etalase online kita.</p>
<p>Tapi sebelum melangkah lebih jauh, pastikan etalase kita sudah memiliki bel kecil penghitung traffic. Klinting&#8230; klinting&#8230; klinting&#8230; Selamat! Satu orang tercatat melakukan visit ke etalase kita!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/numb3rs/2010/10/klinting%e2%80%a6klinting%e2%80%a6klinting/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Si Landing Page (#3)</title>
		<link>http://think.web.id/numb3rs/2010/08/kisah-si-landing-page-3/</link>
		<comments>http://think.web.id/numb3rs/2010/08/kisah-si-landing-page-3/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Aug 2010 10:47:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mega</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analytics Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[conversion]]></category>
		<category><![CDATA[goal]]></category>
		<category><![CDATA[landing page]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/numb3rs/?p=293</guid>
		<description><![CDATA[Diskusi saya seputar Landing Page, sudah mirip dengan sinetron “Cinta Fitri” yang diperpanjang musim penayangannya. Dari pengandaian, kesan pertama dari landing page, sekarang kita masuk ke diskusi seputar hubungan erat landing page dan conversion. Conversion adalah tindakan yang dilakukan visitor yang menunjang tercapainya tujuan (goal) website Anda. Jadi, efektivitas landing page dalam hal ini, bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Diskusi saya seputar Landing Page, sudah mirip dengan sinetron “Cinta Fitri” yang diperpanjang musim penayangannya. Dari pengandaian, kesan pertama dari landing page, sekarang kita masuk ke diskusi seputar hubungan erat <em>landing page</em> dan <em>conversion</em>.</p>
<p><em>Conversion</em> adalah tindakan yang dilakukan <em>visitor</em> yang menunjang tercapainya tujuan (<em>goal</em>) website Anda. Jadi, efektivitas<em> landing page </em>dalam hal ini, bisa diukur dari berbagai sudut pandang (tidak hanya bounce rate), yang disesuaikan dengan conversion-nya.</p>
<p><span id="more-293"></span>Based on salah satu posting dalam blog Google Analytics yang berjudul “The Value of Landing Page” (<a href="http://analytics.blogspot.com/search/label/Business%20Insights">http://analytics.blogspot.com/search/label/Business%20Insights</a>), saya akan mencoba memaparkan bagaimana cara mengukur efektivitas landing page.</p>
<ol>
<li>Tentukan goal dari website (bila website bersifat non e-commerce, tentukan goal value). Goal value bertujuan untuk memberikan nilai pada goal yang tidak dapat diukur.</li>
<li>Gunakan custom reporting . Buat custom reporting dengan cara<br />
Dimension &#8211;&gt; landing page<br />
Metrics &#8211;&gt; Entrances, Abandonment Rate, Goal Completed and Value per visitor</li>
</ol>
<p>Nah, jika sudah, Anda bisa melihat landing page mana yang paling berperan dalam mengarahkan visitor melakukan conversion dengan melihat “<em>Value per visitor”</em>.</p>
<p>Namun,hasil yang didapatkan dalam <em>custom reporting </em>baru sampai pada efektivitas <em>landing page </em>per halaman. Belum diketahui “landing page” yang diukur termasuk kategori apa, apakah kategori “home”, kategori “menu”, atau kategori “produk”. Untuk memaksimalkan promosi atau campaign yang dilakukan, perlu diketahui landing page kategori apakah yang paling efektif dalam mendatangkan <em>conversion</em>.</p>
<p>Bagaimana caranya?<br />
Melalui Advanced segment. Berikut langkah yang saya kutip dalam blog Google Analytics:</p>
<ul>
<li>Create the &#8220;menu &#8221; Advanced Segment?</li>
<li>Go to Advanced Segments&gt;Create New.</li>
<li>Dimension: Landing Page</li>
<li>Contains &#8220;menu.html&#8221; (jika semua halaman “menu” terdiri dari kata-kata “menu.html”)</li>
<li>Name it &#8220;Visits that land on menu.&#8221;</li>
<li>Save and Apply to report</li>
</ul>
<p>Lalu, buat advanced segment yang sama untuk kategori “home” dan “produk”. Yup, dengan membuat tiga advanced segments ini, Anda bisa membandingkan, dari ketiganya, mana yang menghasilkan “value per visitor” tertinggi. Nah, dari sini, Anda dapat menentukan halaman yang layak atau dapat Anda promosikan sebagai landing page utama.</p>
<p>Bagaimana dengan website Anda? Silahkan terapkan strategi ini dalam situs Anda, dan mulailah menghitung berapa conversion yang bisa Anda dapatkan <img src='http://think.web.id/numb3rs/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Lihat Juga:</strong><br />
<a href="http://think.web.id/numb3rs/2010/08/kisah-si-landing-page-1/" target="_blank">Kisah si landing page (#1)</a><br />
<a href="http://think.web.id/numb3rs/2010/08/kisah-si-landing-page-2/">Kisah si landing page (#2)</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/numb3rs/2010/08/kisah-si-landing-page-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Si Landing Page (#2)</title>
		<link>http://think.web.id/numb3rs/2010/08/kisah-si-landing-page-2/</link>
		<comments>http://think.web.id/numb3rs/2010/08/kisah-si-landing-page-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Aug 2010 10:47:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mega</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analytics Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[bounce rate]]></category>
		<category><![CDATA[conversion]]></category>
		<category><![CDATA[landing page]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/numb3rs/?p=290</guid>
		<description><![CDATA[Seperti sebuah kencan pertama, mantra yang perlu diingat disini adalah, kesan pertama sangatlah penting. Bagaimana kesan pertama situs Anda? Landing page merupakan kesan pertama visitor terhadap situs Anda. Mengapa? Karena landing page merupakan halaman yang pertama kali dimasuki visitor dalam website Anda. Disini, hal yang penting adalah: 1. “apakah landing page sesuai dengan pesan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti sebuah kencan pertama, mantra yang perlu diingat disini adalah, kesan pertama sangatlah penting. Bagaimana kesan pertama situs Anda?</p>
<p><em>Landing page</em> merupakan kesan pertama <em>visitor</em> terhadap situs Anda. Mengapa? Karena <em>landing page</em> merupakan halaman yang pertama kali dimasuki <em>visitor</em> dalam website Anda. Disini, hal yang penting adalah:<br />
1. <em>“apakah landing page sesuai dengan pesan yang diterima oleh visitor sebelum mereka masuk ke dalam situs Anda?”</em><br />
2. <em>“apakah pesan dan landing page sudah sesuai dengan website/tujuan website Anda atau tidak?”</em></p>
<blockquote><p><em>Sebelum memulai pembahasan mengenai landing page, untuk yang belum membaca Kisah Si Landing Page (#1), silahkan anda ikuti sesi berandai-andai saya ya. </em></p></blockquote>
<p>Landing page yang baik adalah <em>landing page</em> yang dapat mengarahkan visitor untuk melakukan <em>conversion</em>. Pertanyaan berikutnya, bagaimana menentukan landing page yang baik? Sebelum menjawabnya, saya ingin berbagi pengalaman tentang hal ini.</p>
<p><span id="more-290"></span>Dulu, saya beranggapan bahwa <em>landing page</em> yang baik adalah <em>landing page </em>yang memiliki <em><a href="http://think.web.id/numb3rs/2010/07/perkenalan-metrics/" target="_blank">bounce rate</a></em> yang rendah. Dan, dengan mudahnya menilai landing page yang memiliki <em>bounce rate</em> tinggi itu tidak baik.</p>
<p>Pemikiran itu timbul dari asumsi bahwa <em>landing page </em>yang baik adalah <em>landing page</em> yang mengarahkan <em>visitor</em> untuk membuka halaman lain dalam website. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda juga berpendapat sama dengan saya?</p>
<p>Pada dasarnya, sebagian pemikiran itu benar. Karena, <em>landing page </em>yang dapat mengarahkan visitor untuk membuka halaman berikutnya (<em>bounce rate </em>rendah) memiliki kesan yang baik dimata visitor. Bila dalam kasus sebelumnya Anda melanjutkan melihat-lihat barang selain jas, tentunya toko “Business Style” memiliki kesan baik di mata Anda bukan? Namun, apakah cukup berhenti sampai disitu? Jawabannya tidak.</p>
<p><em>Bounce rate </em>rendah tidak selamanya menjamin efektif atau tidaknya<em> landing page</em>. Lalu, apa yang menjadi ukuran efektif atau tidaknya landing page? Jawabannya adalah, ada atau tidaknya <em>conversion</em> yang dilakukan visitor yang masuk melalui landing page tersebut. Toko “Business Style” akan memperoleh keuntungan bila banyak pengunjung yang datang dan membeli, bukan hanya melihat-lihat saja. Begitu juga dengan website Anda. Anda tidak akan memperoleh keuntungan selama visitor tidak melakukan <em>conversion</em>.</p>
<p>Bagaimana mengaitkan <em>landing page </em>dan <em>conversion</em>? Saya akan membahasnya di Kisah Si Landing Page (#3)</p>
<p><strong>Lihat Juga:</strong><br />
<a href="http://think.web.id/numb3rs/2010/08/kisah-si-landing-page-1/" target="_blank">Kisah si landing page (#1)</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/numb3rs/2010/08/kisah-si-landing-page-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Si Landing Page (#1)</title>
		<link>http://think.web.id/numb3rs/2010/08/kisah-si-landing-page-1/</link>
		<comments>http://think.web.id/numb3rs/2010/08/kisah-si-landing-page-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Aug 2010 10:46:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mega</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analytics Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[Basic Metrics]]></category>
		<category><![CDATA[conversion]]></category>
		<category><![CDATA[landing page]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/numb3rs/?p=284</guid>
		<description><![CDATA[Halo, apa kabar? Seperti biasa, sebelum masuk ke topik inti, saya akan mengajak Anda untuk berandai-andai. Silahkan regangkan otot Anda sebelum memulainya. Satu.. dua.. tiga.. Yup, apakah Anda sudah siap? Mari kita mulai berandai-andai. Bayangkan, Anda berada di sebuah kota pusat perbelanjaan yang ramai. Anda sedang berjalan di trotoar, dimana di samping trotoar tersebut berjejer [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Halo, apa kabar?<br />
Seperti biasa, sebelum masuk ke topik inti, saya akan mengajak Anda untuk berandai-andai. Silahkan regangkan otot Anda sebelum memulainya. Satu.. dua.. tiga..</p>
<p>Yup, apakah Anda sudah siap? Mari kita mulai berandai-andai. <a href="http://think.web.id/numb3rs/wp-content/uploads/2010/08/Henri_Bendel_Gossip_Girl_Upper_East2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-313" src="http://think.web.id/numb3rs/wp-content/uploads/2010/08/Henri_Bendel_Gossip_Girl_Upper_East2-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a>Bayangkan, Anda berada di sebuah kota pusat perbelanjaan yang ramai. Anda sedang berjalan di trotoar, dimana di samping trotoar tersebut berjejer berbagai macam toko.Anda lalu melihat sebuah toko bernama <strong>“Business Style”</strong>. Bila saya bertanya kepada Anda: <em>“apa yang Anda asumsikan tentang isi toko tersebut?” </em></p>
<p>Kalau menurut asumsi saya, toko tersebut adalah toko yang menjual perlengkapan kantor, baik itu pakaian, tas, sepatu, dasi, dan perlengkapan kantor lainnya. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda memikirkan hal yang sama dengan saya? Saya berani bertaruh, sebagian besar dari Anda sepandangan dengan saya. Asumsi itu timbul ketika saya mengetahui nama dari toko tersebut.</p>
<p><span id="more-284"></span>Bayangkan saat ini, Anda membutuhkan dua atau tiga setelan jas karena dalam beberapa minggu terakhir Anda harus menghadiri beberapa meeting yang mewajibkan Anda memakai jas. Oleh karena itu, <em>based on</em> kebutuhan Anda akan jas dan<em> based on</em> asumsi Anda terhadap toko tersebut, Anda memutuskan untuk melangkahkan kaki dan memasuki area toko “Business Style”.</p>
<p>Ternyata, ketika Anda sudah berada didalam toko, kebanyakan, barang-barang yang dijual adalah pakaian remaja, yang tentunya terkesan informal dan bukan barang-barang yang Anda harapkan. Apakah yang akan Anda lakukan? Apakah Anda merasa kesal? Apakah Anda langsung keluar dari toko tersebut karena tidak menemukan barang yang Anda cari? Sekali lagi, saya berani bertaruh, sebagian besar dari Anda akan pergi meninggalkan toko tersebut.</p>
<p>Yup, hal inilah yang mungkin terjadi bila pemilihan judul atau mungkin pesan promosi yang kita lakukan tidak tepat. Mungkin banyak pengunjung yang akan datang akibat pesan promosi tadi, namun apakah tujuan promosi “hanya untuk dilihat atau dikunjungi”? Tentu saja tidak. Hal yang diinginkan adalah mengarahkan audience untuk “mengonsumsi” produk kita, atau yang biasa disebut sebagai melakukan <strong><em>conversion</em></strong>.</p>
<p>Lalu, bagaimana caranya mengarahkan audience untuk melakukan <em>conversion</em>?  Bila disambungkan dengan situasi toko di atas, apakah yang akan terjadi jika barang-barang yang dijual di “Business Style” adalah pakaian, tas, sepatu, atau perlengkapan kantor lainnya? Tentunya, probability Anda untuk membeli barang di toko tersebut lebih besar bukan? Dengan kata lain, kemungkinan Anda untuk melakukan conversion lebih besar.</p>
<p>Pesan yang diterima diawal dengan kenyataan penting dalam mengarahkan audience melakukan conversion. Sinkronisasi yang tepat antara keduanya mendorong terjadinya proses <em>conversion</em>. Saat menerima pesan dari nama toko “Business Style” dan melihat pakaian dan perlengkapan kantor di dalamnya, Anda tentunya akan melanjutkan melihat-lihat toko tersebut. Sehingga, mungkin saja lebih dari dua atau tiga setelan jas yang Anda beli, mungkin ditambah dengan sepatu atau barang lainnya.</p>
<p>Dari pengandaian toko “Business Style”, saya akan membawa Anda ngobrol soal keberadaan Landing Page! Simak lanjutan uraiannya dalam <a href="http://think.web.id/numb3rs/2010/08/kisah-si-landing-page-2/" target="_blank">Kisah Si Landing Page (#2).</a></p>
<p><strong>Lihat Juga:<br />
<span style="font-weight: normal"> <a href="http://think.web.id/numb3rs/2010/08/kisah-si-landing-page-3/" target="_blank">Kisah Si Landing Page (#3) </a></span></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/numb3rs/2010/08/kisah-si-landing-page-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perkenalan Metrics</title>
		<link>http://think.web.id/numb3rs/2010/07/perkenalan-metrics/</link>
		<comments>http://think.web.id/numb3rs/2010/07/perkenalan-metrics/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jul 2010 08:13:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anantya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Basic Metrics]]></category>
		<category><![CDATA[google analytics]]></category>
		<category><![CDATA[metrics]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://think.web.id/numb3rs/?p=246</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum mulai membaca report bulanan yang diberikan oleh agency Anda, pastikan Anda mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. visit, visitor, unique visitor, page view&#8230;.mungkin terdengar seperti sebuah bahasa eksotis yang diperbincangkan oleh mereka yang datang dari luar angkasa. Untuk mengerti apakah si mahluk ruang angkasa berujar &#8220;we came in peace&#8221; atau &#8220;we intend to distroy [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelum mulai membaca report bulanan yang diberikan oleh agency Anda, pastikan Anda mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. visit, visitor, unique visitor, page view&#8230;.mungkin terdengar seperti sebuah bahasa eksotis yang diperbincangkan oleh mereka yang datang dari luar angkasa.</p>
<p>Untuk mengerti apakah si mahluk ruang angkasa berujar &#8220;we came in peace&#8221; atau &#8220;we intend to distroy your planet, sepertinya ada baiknya Anda buka kamus mengenai analytics metrics berikut ini.</p>
<p><strong><span id="more-246"></span>Visits vs. Visitors</strong></p>
<blockquote><p>Mari bedakan visits dan visitor. Secara gamblang, visitor adalah &#8220;si orang&#8221; dan visit adalah &#8220;tindakannya&#8221;.  Kalau penjelasan agak njelimentnya:  <em>Visits</em> represent the number of per sessions initiated by all the visitors to your site. Biasanya sebuah session dibatasi oleh ukuran waktu in-active (biasanya 30 menit). Jadi ketika user membuka site, kemudian makan siang dan tidak balik lagi selama 30 menit, ketika orang tersebut balik kembali maka ia akan dihitung melakukan visit baru. Namun ketika ia makan cuma dalam waktu 10 menit dan kemudian kembali lagi, ia tidak akan dihitung sebagai new visit.</p></blockquote>
<p><strong>Pageviews<br />
</strong></p>
<blockquote><p><em>Pageview</em> pada dasarnya adalah perhitngan berapa banyak sebuah halaman dibuka oleh user. Ini termasuk dengan; refresh, kembali lagi ke halaman setelah masuk ke halaman lain dan back button. Dalam bahasa yang lebih njelimet: <em>defined as a view of a page on your site that is being tracked by the Analytics tracking code.</em></p></blockquote>
<p><strong>Absolute Unique Visitors</strong></p>
<blockquote><p>Dihitung dalam batasan waktu tertentu yang diatur oleh analyst. Absolut visitor menghitung visitor hanya sekali dalam jangka waktu tertentu (misalnya dipilih tanggal 1 &#8211; 30 per bulan, maka data akan menghitung masing-masing visitor hanya 1x). Bila 1 orang masuk ke sebuah website selama 4 kali dalam jangka satu bulan, maka absolut unique visitor dalam jangka 1 bulan tersebut akan tetap 1.</p></blockquote>
<p><strong>New vs. Returning</strong></p>
<blockquote><p>Metrics ini menghitung jenis visit  (baru atau returning).  So when somebody visits your site for the first time, the visit is categorized as &#8216;Visit from a new visitor.&#8217; If this user has browsed your website before, the visit is categorized as &#8216;Visit from a returning visitor&#8217;, dalam jangka waktu tertentu (yang ditetapkan analyst)</p></blockquote>
<p><strong>Bounce Rate</strong></p>
<blockquote><p>Bounce rate adalah persentase dari perhitungan mereka yang masuk dan hanya membuka satu halaman dan tidak melakukan browse terhadap halaman lain.  Metrics ini dipergunakan untuk mengukur visit quality &#8211; a high bounce rate generally indicates that site entrance pages aren&#8217;t relevant to your visitors. The more compelling your landing pages, the more visitors will stay on your site and convert. You can minimize bounce rates by tailoring landing pages to each keyword and ad that you run.</p></blockquote>
<p>Kamus metrics ini akan terus bertambah. So have fun speaking analytics language!!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://think.web.id/numb3rs/2010/07/perkenalan-metrics/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

